Senin, Desember 31, 2007

Ngeblog Terakhir 2007

Hingga postingan ini ditulis, istri saya masih sibuk memasak untuk menyambut malam tahun baru di lingkungan RT kami. Kedengarannya soto. Tapi ada juga saya dengar, ada ungkep ayam. Jadi, istri saya sering bolak balik ke rumah kami, atau ke lapangan belakang, tempat memasak.

Si sulung saya, Taya, asyik ikutan lomba. Ada lomba sepeda lambat dan sepeda hias. Dia bisa menghiasi sendiri sepedanya dengan kertas warna warni. Teriakannya agar saya membantu, tak saya indahkan. Saya hanya beri ide, warna apa yang cocok. Hmm..untuk ukuran anak seusia tujuh tahun, lumayan menurut saya cara dia menghiasnya.

Sedangkan si bungsu, akhirnya dibelikan sepeda baru. Tapi saya kasih tantangan, sepedanya lebih tinggi, agar dia tak kecepatan menjadikan sepeda itu kekecilan. Dan sepeda kali ini, memang tak seken loh. Benar-benar baru. Malah bungkus plastiknya masih ada. He..he...

Nah, karena agak tinggi ini, si bungsu minta ditemani belajarnya. Padahal, sepeda lamanya yang lebih kecil, dengan entengnya dia bawa. Bahkan, dia termasuk anak usia empat tahun di lingkungan kami yang paling cepat bisa pakai sepeda roda dua. Pegal juga mengikutinya lagi bersepeda baru. ''Pegang terus Yah. Adek gak bisa kalau tak dipegang...''

Hmm...malam nanti, saya tetap berniat nonton pesta kembang api di kantor walikota dan beberapa tempat di Batam. Meski acara di lingkungan rumah tetap ada. Bagaimana membagi waktunya ya? he..he...tapi si bungsu yang makin kompak dengan saya, kepengin jalan-jalan bukan di sekitar rumah saja. Hmm....


NB: Semoga ngeblog terakhir 2007 ini, bisa jadi batu loncatan utk ngeblog 2008.

Selengkapnya...

Sabtu, Desember 29, 2007

Sebuah Trik Makan Sepuasnya

''Makan sepuasnya dan nikmati aneka menu BBQ & seteamboat Buffeet Dinner; mulai dari Salad, sup, sotong, udang Kipas, ikan, kepiting/ketam, lamb chop, daging unggas & aneka Dessert yang menggugah selera. Dapatkan HANYA Rp89.000+++/orang di TAMAN SERINDIT Novotel Batam, setiap Sabtu malam feat, LIVE QUARTET''
Photobucket
Saat menerima pesan SMS seperti itu pertama kali, ada juga rasa senang. Wow, apa saya pernah didaftarkan jadi member Novotel? Tidak. Lalu saat datang kedua, ketiga dan keempat serta entah ke berapa lainnya, bosan juga menerpa. Tapi jika seandainya Rp89.000+++/orang diganti untuk sekeluarga (minimal 4 orang seperti keluarga saya), baru menggungah. Betul tidak?

Inilah hebatnya trik marketing. Pertama, ternyata mereka tahu nomor HP saya setelah bekerjasama dengan Telkomsel. Sepertinya, pemakai kartu Halo yang tinggal di Batam, bakal kena tembak SMS ini. Lalu trik kedua, ya itu, sebera kuat orang Indonesia memakan semuanya dalam satu kesempatan mulai dari ikan laut hingga bebek? Jadi, biaya yang dikeluarkan hotel, tidak akan termakan sebesar 89 ribu itu. Jangan-jangan hanya lima ribuan. Karena setelah banyak ngambil nasi, dan sepotong sotong sudah kekenyangan. Hi..hi...

Tapi saat saya dan keluarga mengalami ''makan sepuasnya'' di Genting Higland tahun 2005 memang unik lagi. Per orang Rp45 ribu. Tapi satu anak saya yang kecil tak dihitung. Wow...nikmat sekali. Bayangkan saja, siapa yang bisa menahan lapar selaparnya di cuaca dingin? Bahkan es krim pun kami lahap setelah menyatap sup, nasi, buah-buahan, dan dessert. Yang paling enak, tentu saja es krim. Cobalah Anda rasakan makan es krim di saat kedinginan. Hi...hi...

Lalu bagaimana dengan akhir tahun ini? Akankah makan sepuasnya, memenuhi ''undangan'' Novotel itu? Hmm...istri saya sudah konfirm dengan ibu-ibu tetangga akan ikutan merayakan tahun baru. Biayanya Rp50.000. Biasanya ada bakar ikan juga dan lain-lain. Bisa juga makan sepuasnya di sini, tapi tetap tahu diri. Karena 50 ribu itu untuk satu keluarga. Namun sayang, saya rasanya kurang suka, karena saya ingin bertahun baru mengunjungi keliling kota Batam naik mobil (lihat pesta kembang api di lapangan Engku Puteri dan pelabuhan Harbour Bay. Maklum, saya lagi suka bawa mobil, setelah dua tahun berada dalam trauma. Tapi, rencana ini belum deal dengan istri. Hmm....

Selengkapnya...

Jumat, Desember 28, 2007

Seandainya Boleh Memilih

Sebelum jam 10 tadi, ketegangan akhir tahun tetap melanda saya. Apakah saya dipindah tugas lagi, atau tidak. Memang sinyalnya tidak dipindah saat rapat terakhir beberapa waktu lalu. Tapi tadi, sudah diumumkan secara positif. Alhamdulillah, masih bertahan di tempat sekarang.

Namun tetap saja jantung berdegup kencang, saat bos menyebutkan nama satu persatu. Apalagi, isu ''pengumuman kabinet'' ini, sepertinya saya ''tak dibawa'' lagi untuk bermusyawarah. Saya ''agak tahu'' ketika detik-detik terakhir. Jadi, apa jabatan jelasnya saya sendiri atau orang-orang yang pernah jadi ''pasukan'' saya, saya tak tahu.

Tapi apa hendak dikata, beginilah nasib kalau masih TDB (alias tangan di bawah). Jika masih ada orang menentukan kita berposisi di mana, dan tim kita, masih ditentukan oleh yang berkuasa (TDA), maka terima saja. Sebagai prajurit, akhirnya harus diterima apa yang dikehendaki komandan.

Oh ya, namun beberapa saat sebelum jam 10 itu, saya sempat chating dengan mbak anie. Salah satu blogger paling ngetop di Batam. Uniknya, kami membicarakan masalah pesangon jika PHK. Hmm...saya tertarik ini jika ada pilihan mau berhenti, atau terus kerja. Saya mungkin bakal pilih berhenti, asal pesangonnya besar. Ha...ha...simaklah chatingannya;


pondok pulsa: asalamualaikum
pondok pulsa: terima kasih ya mbak annie, blog saya sudah dilink
ani_antoni: wa'alaikumsalam wrwb
ani_antoni: sama-sama mas Ade
ani_antoni: mas, gawe di posmetro ya?
pondok pulsa: he..he...
pondok pulsa: apa maksudnya gawe?
ani_antoni: kerja
pondok pulsa: betul
pondok pulsa: tapi satu jam kurang lagi, belum tahu kerja di mana nih..
pondok pulsa: jam 10 nanti, akan ada pengumuman dari CEO
ani_antoni: maksudnya?
pondok pulsa: ya, bisa jadi saya tak di posmetro lagi..
pondok pulsa: mau dipindah ke mana...
pondok pulsa: atau malah tak dipakai lagi...
pondok pulsa:
pondok pulsa: sebagai prajurit siap saja...Insya Allah...
ani_antoni: mo ganti pemilik saham? atau bgm?
pondok pulsa: tidak, mau ganti para pengurus perusahaan...
ani_antoni: tempatku kan juga baru ganti nama prsh, ganti pemilik
pondok pulsa:
ani_antoni: kita kmr dikasih 2 pilihan, mo terus atau phk
pondok pulsa: kalau yang saya ini tidak...
pondok pulsa: biasa akhir tahun ada mutasi atau promosi
ani_antoni: IC
pondok pulsa: kalau saya, jika ada pilihan, mau terus atau di phk, mungkin saya lebih milih PHK
pondok pulsa: asal pesangonnya besar
pondok pulsa:
ani_antoni: yup, kemarin kalau phk nya dapat 2N + 1 tentu saya ambil, tapi krn prsh nggak tutup, jadi pesangon cuma 1N, saya nggak mau
ani_antoni: mending terus aja deh, dapat bonus dan dapat pinjaman tanpa bunga
pondok pulsa: maaf mbak, 2N atau 1 N itu maksudnya apa?
ani_antoni: kan ada peraturan depnaker atau apa itu
ani_antoni: N = masa kerja
ani_antoni: tapi ada ketentuan maksimalnya, entah 7 atau 9
pondok pulsa: ooo itu...
ani_antoni: jadi kalau batasannya 9, walau dah kerja 11th ya N nya tetep 9
pondok pulsa: berarti 2 x 9 gitu ya...
ani_antoni: jadi kalau 2 N + 1 berarti pesangonnya dapat 2 x masa kerja + 1 plus 15% dari semua itu
ani_antoni: iya
pondok pulsa: berarti kalau gaji 5 juta...
pondok pulsa: 10 juta x masa kerja + 1...gitu mbak
pondok pulsa: ?
ani_antoni: bukan
pondok pulsa: jadi bgm? (maaf, saya dah lama tak baca buku peraturan kerja bersama nih...)
ani_antoni: kalau gaji 5jt, masa kerja misal 9 tahun, ya dapetnya 2 x9 kan 18, dikalikan dgn 5 jt
pondok pulsa: ooo gitu
ani_antoni: yup

Selengkapnya...

Kamis, Desember 27, 2007

Apa Lagi yang Mau Dicari?

Ya, apalagi yang mau dicari? Rasanya seperti itu kesan yang saya tanggap, dari beberapa teman lama yang berjumpa belakangan ini. ''Kan abang sudah mapan. Apalagi yang mau dicari?''

Berdebat soal mapan ini, rasanya bisa panjang. Tapi ya syukurlah, bila teman tersebut menganggap saya mapan. Dan dia pun makin ''menggoyang'' ketika saya sudah ada pula ide-ide baru untuk bisnis. Meski dia tahu, bisnis-bisnis pribadi yang coba saya bangung, sudah pada berjatuhan. He..he...

Tapi kadang kalau dipikirkan, emang betul juga, apalagi yang dicari? Masih bisa pulang kantor sorean (persis seperti orang kantoran). Lalu bisa agak malas-malas ke kantor, dan keliling kota Batam dengan alasan melihat pengecer koran. Atau malah, bisa tak masuk kantor sama sekali, walau dengan alasan bawa anak ke dokter, padahal jumpa dokternya hanya sebentar.

Karenanya, saya pun terkadang cepat sadar, ketika jumpa teman chating, yang ''ngiler'' mendengar saya bisa pulang ke rumah untuk makan siang, lalu sesudah itu balik ke kantor lagi. Atau malah, nikmat juga menikmati tayangan Liga Inggris di ESPN, padahal banyak orang tak bisa melihatnya meskipun sudah pakai Indovision. Saya malah menikmatinya tanpa pakai Astro, tapi ada tv kabel yang dikelola tetangga dan dibayar Rp55.000 per bulan. Karena itu pula, sayang rasanya harus keluar rumah di malam hari, hanya karena ada yang ngajak futsal atau malah pertemuan bisnis. Sayang, sudah bayar, kok gak bisa menikmati televisi?

Nah, soal menikmati inilah, terkadang saya berbeda persepsi dengan istri. Sudah bayar Rp55.000 per bulan, eh, dia dan dua gadis kecil saya malah lebih suka nonton RCTI sepanjang malam. ''Kalau hanya nonton RCTI, mendingan kita tak usah pakai tv kabel.'' Itu gerutu saya. Untunglah, tayangan sinetron Soleha dan Cahaya sudah habis. Sedangkan Candy, istri saya kurang suka.

Karenanya, meski istri lagi asyik, ''menggoda'' saya dengan kalimat ini ''kapan ya, punya tv layar datar...'', saya berusaha tak ikut tergoda. Mau datar atau tidak, eh, istri saya saja jarang nonton tv kecuali malam hari. Saya setuju tv diganti, bila harga yang layar datarnya bisa di bawah dua jutaan. He..he...

Akhirnya, saya punya kesimpulan sendiri, yang saya cari sebenarnya, ''saat menikmati''. Menikmati nonton televisi di rumah dengan acara yang disenangi (saya suka Liga Indonesia, kadang pulang cepat ke rumah, karena ingin nonton itu). Menikmati membawa mobil, dan bisa ke mana saja (saya sudah berani bawa mobil sendiri tapi yang otomatis. Mau belajar yang manual. Jadi, ketika di Pekanbaru atau Kisaran, bisa bawa mobil di sana yang lebih banyak manual). Lalu menikmati makanan apa saja tanpa takut dihalangi kolesterol atau kebanyakan karbohidrat agar terhindar dari penyakit.

Itu di atas, dua kenikmatan jasmani yang utama. Tapi tentu saya juga harus sadar, bagaimana menikmati beribadah. Maaf, ibadah saya selalu terkesan dinikmati terburu-buru, terutama solat. Hm....

NB: Maaf, harus disudahi postingannya. Saya mau menikmati nasi bungkus. Tadi saya pesan minta dibelikan dengan lauk telur dadar. Ternyata, telur dadar sudah habis dan diganti dengan gulai ikan salai. Hm...bisa diprotes istri nih nanti (banyak kolesterol). Hm...saya akan jawab, mengapa hari ini disuruh makan di luar...ha..ha...

Selengkapnya...

Selasa, Desember 25, 2007

Bodi Ibunya, Sikap Ayahnya

Photobucket
Capek juga banyak liburan ini. Sebelumnya tanggal 20 Desember, nyambut Idul Adha. Berdekatan pula dengan Sabtu dan Minggu. Lalu hari ini Natalan. Selain capek, duit juga deras mengalir keluar.

Capeknya, karena bawa anak lebih banyak ke mall. Mau ke pantai udah bosan. Belum lagi cuaca yang sering berubah-ubah, utamanya hujan. Tapi kalau ke mall, selain keluar duit karena makan-makan, juga karena ada benda yang ''terpandang''. Bukan saja karena anak istri yang minta, kadang saya sendiri ikut terpengaruh pula. Apalagi bila diskon.

Eh, sesampai di rumah, ada pula yang bakal menguras duit. Rata-rata anak-anak tetangga sudah beli sepeda baru. Hm..si Rifa yang baru pandai bersepeda, sudah mulai merengek pula menanyakan sepeda baru. Tapi tak terlalu deras rengekannhya, sebelum melihat teman-temannya bersepeda baru.

Belum pula, si tetangga paling dekat, dekatan rumah, juga dekat dengan istri saya, mulai menyelutuk. ''Beli sepeda barulah Rifa. Minta pada ayahnya...'' Hmm...si Rifa, Alhamdulillah tak terlalu terpengaruh untuk ukuran dia yang baru berumur 4 tahun.

''Ya, mau dibelikan sepeda seken.''

Saya menyambut celutukan itu dengan cepat. Dan memang sudah niat, mau beli sepeda seken. Toh, nanti bakal sama saja. Kalau dibeli baru, pasti nanti akan beli lagi, karena sepedanya akan terasa mengecil, sedangkan si Rifa akan terus meninggi. (hi...hi...atau bisa jadi ayahnya pelit...)

Anak saya satu ini, memang lain. Wajah dan bodi mirip ibunya (kurus), tapi sikapnya seperti saya. Pemalu (benarkah saya pemalu?), orang rumahan, hmm...Uniknya, dia kadang cepat tahu apa di pikiran saya. ''Mahal ya yah?'' Itu selalu ditebaknya, bila wajah saya ''agak lain'' saat dia memegang mainan di mall, atau saya tak setuju membelikannya sesuatu.

Tapi kalau keteguhan sikapnya akan sesuatu yang diinginkannya, hmm yang ini, sikap ibunya, bukan saya. Ha...ha...

Selengkapnya...

Senin, Desember 24, 2007

INI IKLAN YA....

Photobucket

Dijual rumah di MUTIARA VIEW BLOK B5 NO.14, BATAM, TYPE 36/90 harga Rp85 juta nego.Hubungi 0778-7232327

Selengkapnya...

Insya Allah Tak Ngutang Lagi

Apa keingingan ayah 2008? Hmm..kemarin istri menanyakan itu. ''Udah ayah tulis tuh di blog. Tetap sehat, agar bisa jalan-jalan dan makan-makan.'' Istri saya tersenyum.

Bisa diartikan banyak senyum itu. Tapi setelah saya jelaskan, satu persatu, terutama ''tetap sehat''. Karena yang ini, bukan hanya sehat jasmani dan rohani, tapi juga sehat dalam keuangan.

''Kalau habis utang kita, kita ngutang lagi gak?''

Hah...ini pertanyaan rada aneh juga dari istri saya. Kadang capek juga ngutang ini. Bahkan istri, dia yang paling protes. Karena jatahnya sering terpotong. Malah saat lihat slip gaji, dia lupa sendiri, ini potongan untuk apa. Tapi kok, kalau habis seperti ngajak mau ngutang lagi ya?

''Kita tak usah ngutang lagi. Kan nanti pendapatan ayah atau kita sekeluarga sudah bisa cukup beli sesuatu tanpa perlu ngutang lagi.''

Jawaban saya begitu. Sebab, dibalik resolusi 2008 ''tetap sehat, agar bisa jalan-jalan dan makan-makan'' itu, saya juga sudah menetapkan berapa target pendapatan per bulan saya. Ingat, pendapatan itu bukan gaji saya saja ya. Tapi ada dari usaha bisnis sampingan yang saya jalankan. Atau juga dari rumah yang kami kontrakkan.

Saya terus mencoba alam bawah sadar saya, untuk tetap yakin mewujudkan itu semua. Salah satunya, ya itu, tak akan menambah utang lagi. Tekad saya, bisa nyicil utang dengan aman. Bila perlu, lebih cepat sampai pada level balance Rp 0. Amien. Insya Allah!

NB: Ada dua orang yang masih berutang pada saya, belum dibayar juga. Kadang mau dibantu lagi, untuk mempermudah dia bayar utang. Eh..., malah jadi numpuk lagi utangnya. Uniknya, keduanya beristri dua. Haruskah....?

Selengkapnya...

Kamis, Desember 20, 2007

Tahun Ini Tak Ikutan Qurban

Ada perasaan lain juga di hari Idul Adha 2007 ini. Kami sekeluarga tak ada satu pun ikut qurban. Biasanya, kalau tidak istri, saya sendiri. Kami berbagi tiap tahun. Hmm...tahun depan, harus dimulai dari sekarang menabung, agar tak kepepet saat cari dana qurban.

Itu akhirnya tekad saya dan istri. Harga satu ekor kambing, atau satu peserta untuk satu ekor sapi, di Batam sudah Rp1 hingga 1,1 juta. Berarti tahun 2008 nanti, bisa jadi Rp1,2 juta. Kalau ditabung tiap bulan Rp100 ribu, berarti kan sudah Rp1,2 juta nantinya. Hm...niscaya tak akan kasak-kusuk seperti sekarang, dan habis tegat waktu, karena dana banyak terpakai untuk yang lain.

Terbersit juga sih, sedih. Masak, di saat kedua ibu (ibu saya dan ibu istri) menunaikan haji, justru kami tidak bisa beribadah lebih dengan berqurban di Batam. Namun semoga Allah bisa mengerti keadaan kami sekarang ini. Amien.

NB: Istri juga tak bikin lontong atau rendang, hingga ''membatalkan'' niat Pak Teguh Iman Santoso datang ke rumah. Bisa jadi, juga karena hujan seharian. Bahkan saat solat saja hujan sudah rintik, dan deras saat khatib berkutbah. Pulang solat pun, harus nunggu agak reda.

Selengkapnya...

Selasa, Desember 18, 2007

Jadi Pengurus Organisasi Juga

Photobucket
''Pakai dasi dah dari subuh. Tampil di panggung, tak sampai satu menit. Nunggunya aja yang lama. Dasar pejabat. Besok..besok...kalau bikin acara tak usah lagi undang pejabat.''

Dah lupa saya, siapa yang becakap seperti di atas. Adakah diri saya, atau teman-teman pengurus lain dari Serikat Penerbit Surakatkabar (SPS) Cabang Provinsi Kepri yang dilantik tadi siang di Hotel Goodway, Batam. Hmm...saya di situ jadi Bendahara. Ketua-nya, bos saya di Batam, Marganas Nainggolan.

''Bendahara posisi mantap. Paling diminati orang, dan juga paling dicari orang. Untuk bayar semua tagihan,'' kata Hoesnizar Hood, seniman Kepri yang juga Ketua Partai Demokrat Tanjungpinang, berbisik ke saya saat sudah kembali ke kursi.

Ya itulah. Baru kali ini saya jadi pengurus sebuah organisasi, dalam posisi yang ''wah keren''. Dulu (tak ingat lagi tahun berapa), pernah jadi pengurus PSPS (Persatuan Sepakbola Pekanbaru dan Sekitarnya). Biasalah, diletakkan jadi humas, karena saat itu saya reporter olahraga Riau Pos. Juga selanjutnya jadi Humas PSSI Riau. Dan kemudian di Batam, jadi wakil ketua perkumpulan kampung saya (he..he..lupa pula namanya).

Yang pakai pelantikan, ya, saat jadi pengurus PSSI Riau itu. Zaman Agum Gumelar atau siapa ya, Ketua PSSI Pusatnya, lupa pula. Dan terakhir, ya, siang tadi, juga pakai pelantikan. Tapi bukan Ketua Umum SPS Pusat, Dahlan Iskan yang lantik tapi ketua hariannya. Padahal, Dahlan ada di situ. Beliau juga tanpa berpidato sambutan. Begitulah gaya dia.

Tapi kali inilah yang memang berkesan. Karena, bisa jadi ini organisasi serius yang harus saya jalani serius tugasnya. Juga teringat pantunnya Dahlan Iskan, yang kalimat ujung-ujungnya, ''kalau kerja jangan setengah-setengah...''


NB: Sesudah acara pelantikan, Dahlan Iskan membedah isi bukunya, Ganti Hati. Menarik apa yang dikemukakan beliau. Sepertinya tak ada yang merubah dari tindak tanduk dan ucapannya setelah berganti liver (alias hati itu). Bahkan saat saya mau antar menunjukkan tempat toilet pun tak mau. Masih seperti dulu, tak mau bikin repot orang untuk disambut bak pejabat. Tapi saya cukup senang. Bila yang lain (selain istrinya yang hanya boleh bersentuh), saya tadi disentuhnya. Pundak saya ditepuk-tepuk, agar jangan mengantarnya ke toilet (Dahlan tak boleh bersentuhan kulit dengan orang lain, agar jangan tertular virus). Pundak saya tadi berlapiskan blazer jadi belum bersentuh kulit juga...he..he..

NB: Baca resensi Ganti Hati, klik ini

NB: Acara pelantikan dihadiri oleh Wakil Gubernur Kepri HM Sani sekaligus membuka Lokakarya Manajemen Pers. Rencananya dihadiri Gubernur Ismeth Abdullah. Pak Ismeth tak datang karena ada acara di Jakarta, tapi Pak Sani lambat datang satu jam, karena membuka acara Hari Ibu. He...he...

NB: Foto diambil dari blognya mas Febry (Pemred Tribun Batam) karena hanya di foto inilah wajah saya kelihatan (ketiga dari kiri). Foto teman-teman Posmetro dan Batam Pos, tak ada terlihat wajah saya. Moment ini hanya sekilas. Tapi lumayan untuk kenangan.

Selengkapnya...

Senin, Desember 17, 2007

Dinas Sambil Jumpa Katon Bagaskara

Hmm..rindu juga ingin mengisi blog. Tapi karena sejak Jumat pagi (14/12) sudah menuju Tanjungbalai Karimun, lalu balik Batam, Sabtu sore (15/12), badan dah penat. Melayang-layang di pikiran untuk menulis perjumpaan yang tak terkira bahagianya dengan Katon Bagaskara.

Tapi jangan disangka, saya bak fans yang tergila-gila pada penyanyi idolanya ya? Saya sengaja biarkan Katon datang ke kursi belakang Gedung Nasional, tapi tak sampai. Fotograper dan tentu saja warga Karimun yang memotretnya telah menghalangi langkah ke Katon ke kursi saya. Namun saya bahagia, begitu dekat menikmati alunan nadanya yang sudah saya sukai sejak remaja.

''Senang saya malam minggu ini. Berada di kota yang cantik dan dekat dengan negara tetangga Singapura. Dan lebih senang lagi, ini masih milik Indonesia...''

Begitu yang saya dengar saat diselingan musik, Katon berucap. Yang malam minggu itu salah, karena acaranya Jumat malam. Tapi rasa nasionalismenya sungguh terlihat. Bukan hanya karena ada lagu Yogyakarta, melainkan juga kebanggaan akan Indonesia khususnya Karimun. ''Saya tadi motret bangunan tua dekat SMA 1 itu. Fotonya nanti akan saya tampilkan di website fotografi.''

Salut juga pada Katon, yang mau tampil yang diiringi hanya oleh band lokal Karimun. Juga di gedung yang rasanya pas untuk acara kawinan saja. Bisa jadi, kalau bukan Telkomsel yang bikin acara itu, belum tentu Katon mau datang. Atau malah, dia tak tahu sama sekali seperti apa Tanjungbalai Karimun sebelumnya. He..he...

***

Tapi di Karimun, memang kita harus menikmati saja apa yang ada. Seperti saya, menikmati keliling kota dengan bermotor, karena fasilitas mobil dari kantor belum ada di sini. Dinas keliling kota, menjumpai pengecer koran, mengecek tempat penitipan, bahkan turut mengantarkan koran untuk dibaca pejabat-pejabat Pemkab Karimun di gedung baru mereka (kawasan Poros) dilakukan menggunakan motor.

Tanpa perlu menemui pejabatnya, apalagi berjumpa Bupati dan wakilnya, saya hanya memohon, semoga pejabat di sana, tahu kondisi bagaimana proyek-proyek dijalankan. Betapa tidak, jalan di komplek gedung Bupati itu, sudah banyak bergelombang. Mungkin tak lama lagi bakal berlobang. Bagaimana proyek untuk masyarakat bisa bagus, bila di kantor mereka sendiri seperti itu.

Hm...seperti dalam lirik lagu Katon, kita hanya bisa membayangkan negeri yang bagus, yakni Negeri di Awan.

Selengkapnya...

Kamis, Desember 13, 2007

Pemerkosaan

Maaf, memang kata itulah, pemerkosaan, menjadi tema kegiatan saya siang hingga sore hari kemarin. Maaf bukan saya pelakunya. Juga bukan pengecer koran yang ''minta'' berita pemerkosaan itu selalu ada, atau juga nelayan yang belum juga nyaman nak berjalan ke kota.

Saat tur makan siang kemarin bagi pengecer koran Posmetro Batam di Batuaji, kata pemerkosaan dan perselingkuhan menjadi tema sentral. Berulang-ulang itu disebut. ''Pokoknya pak, kalau ada berita itu, laku koran kita. Pembeli saya selalu bertanya tentang itu. Kalau saya bilang ada, mereka langsung beli.''

Hm...tawa pun pecah. Bahkan mereka pun bisa menjelaskan analisisnya, mengapa itu disenangi. ''Orang dah bosan berita politik, atau berita korupsi pak. Tak ngaruh ke mereka. Lagi pula, kan sudah ada di koran Batam Pos atau Tribun, untuk apa sama dengan mereka.''

Terkadang malah, ada juga ''mendalam'' sekali analisa mereka. Bahwa mereka sendiri juga ''diperkosa'' oleh keadaan untuk mencari sesuap nasi. Karena itu, mereka pun belajar mempercepat lakunya koran. Atau mengetahui dengan tanggap apa yang dimaui pembaca. Bahkan, mereka juga siap menjadi pemberitahu pertama apapun kejadian yang ''laku'' dijual. ''Ini baru enak, dapat nomor telepon wartawannya.''

Hm..kebetulan, makan siang kemarin berbeda dengan tiga tempat sebelumnya karena dihadiri juga oleh dua petinggi redaksi Posmetro Batam, Haryanto (Redpel) dan Said Sirajuddin (Koordinator Liputan). Dan tempatnya pun lebih enak meski lesehan, di ruko biro kami, Komplek Batuaji Centre Park, Basecamp.

Lalu, di mana pula ''pemerkosaan'' pada nelayan? Nah, ini opini saya karena berbau rasa ketidakadilan saja dari penguasa terhadap penduduk sekitar Kampung Bagan atau Sei Daun. Jelang masuk ke kampung mereka, masih ada yang tersisa sekitar satu kilometer belum diaspal. Wow...tapi parahnya bukan ampun di musim hujan ini. Adakah, niat pemerintah mengaspal setengah hati?

Tapi masyarakat Kampung Bagan sendiri tetap saja bisa tersenyum. Apalagi Pak Atan, lelaki yang kami datangi rumahnya, karena telah mendapatkan ikan pari yang berjari tiga. Saat ditanya Said sudah berapa lama jadi nelayan, dia sempat gelagapan menjawab. Memang dia, tak pernah kerja lain kok. ''Sejak saya kecillah...,'' katanya.

Di akhir perjumpaan, dia berkata ini. Dan entah maksudnya apa, lalu ditimpali pula oleh kerabatnya.

''Semoga Pak Wali mau datang melihat ikan pari saya...''
''Manalah sempat Pak Wali ke sini, dia sibuk ngurus banjir...''


NB: Saat berjalan menuju rumah Pak Atan, pemandu kami menyebutkan, laut sekitar rumah mereka sudah berwarna lain, karena ada lumpur penggalian waduh duriangkang yang dialirkan ke sana. Dan itu, akan membuat susah mendapatkan ikan.

Selengkapnya...

Rabu, Desember 12, 2007

Tetap Sehat, Agar Bisa Jalan-jalan dan Makan-makan

Akhirnya saya menemukan resolusi apa untuk 2008 nanti. Ini terinspirasi setelah ngobrol dengan supir kantor sambil membicarakan tentang makanan. Ya, teringat langsung kata terakhir dari Bondan Winarno, pembawa acara Wisata Kuliner di Trans TV. ''Tetap sehat, supaya bisa terus jalan-jalan dan makan-makan.''
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Tetap sehat >>> ya, mau tak mau saya harus menyisihkan waktu berolahraga. Badan makin tambun dan berat. Teman-teman di Posmetro Batam sudah pada komplen, saya jarang nyisihkan waktu untuk bertenis meja ria lagi. Istri juga komplen, karena sudah jarang puasa senin kamis lagi. Apalagi komplennya yang ini;''jangan banyak makan nasi lagi, kurangi dong yah. Nanti diabet...''

Tetap sehat >>> juga bisa diartikan ''sehat'' kantongnya. Kalau tidak mana bisa jalan-jalan (berwisata) dan makan-makan ya kan?

Jalan-jalan >>> ya, ini harus dilakukan di 2008 nanti. Jika ''sehat'' uang, seharusnya kita tidak berpersepsi ''menabung persiapan kalau sakit''. Selayaknya, menabung untuk bisa jalan-jalan. Mungkin ke Jawa sana. Apa Bandung, Yogya atau malah ke Bali. Bosan ke Singapura dan Malaysia terus (apalagi kedua bangsa itu sudah dan terus ''melecehkan'' kita). He..he...

Jalan-jalan >>> juga bisa berpengertian, saya harus pandai membagi waktu antara kerja dan keluarga. Ini sepanjang tahun 2007, untuk jalan-jalan di Batam saja pada hari Sabtu, susahnya bukan main. Asyik kuliah...terus...

Makan-makan >>> ini tetap saja berkaitan dengan duit. Hmm...istri sudah nyindir, sudah lama tak dibawa makan ke tepi pantai Pulau Rempang, biasa disebut Pantai Sembulang, nama rumah makannya Pak Long. Suasananya asyik sekali, makanannya enak, harganya bukan harga Batam. Apalagi si istri Pak Long, masaknya seperti masakan rumah, setelah kami datang, baru sibuk beraksi, jadi bisa nunggu satu jam lebih untuk melahapnya. Ha..ha...

Makan-makan >>> tapi tetap saja ini harus ingat dengan yang di atas ''tetap sehat''. Jadi, harus sewajarnya saja makan lagi. Agar bisa menghindari atau malah bisa tidak memperparah diabet, asam urat, atau kolesterol (hii...hi...sampai sekarang saya takut diperiksa...).

Jadi, tetap sehat agar bisa jalan-jalan dan makan-makan, saya saling berkait. Nah, inilah resolusi saya menghadapi 2008. Tak hendak muluk-muluk lagi. Biar saja Allah yang tahu secara teknis, apa di balik ketiga itu. Hmm...tolong ya Alllah wujudkan. Amien!

NB: Saya penggemar Bondan Winarno (sama dengan ibu-ibu di foto atas). Saya jatuh cinta pada tulisannya, terutama saat dia menulis tentang Bukittinggi. Dia seide dengan saya, Bukittinggi katanya cocok untuk hidup di hari tua. He...he...saya ketemu istri di Bukittinggi, tapi bukan orang sana melainkan orang Sumatera Utara. Sayang, kami belum bisa ke sana lagi justru setelah menikah delapan tahun dan telah dikarunia dua anak.

Selengkapnya...

Selasa, Desember 11, 2007

Wow...

Ya, wow...sibuk sekali hari ini. Banyak acara. Pagi-pagi sudah disibukkan ''handle'' SMS yang masuk. Lalu makan siang yang dipercepat (jam 11) di perempatan Simpang Kabil, Batam. Jam 1 teng, jadi pembicara lokakarya tentang hari piutang pula. Hm..wow...dapat pengalaman berharga.

Wow...menyangkut ''handle'' SMS, ternyata menghasilkan jumlah omset yang rekor untuk Desember ini. Malah ini yang bikin gangguan saat di lokakarya. Tapi barusan selesai, menjelang ngetik postingan ini (mulai pukul 15.50). Alhamdulillah.

Wow...makan siang dengan pengecer koran Simpang Kabil, menghasilkan fakta lain. ''Pengecer koran di simpang ini, keren-keren pak. Jam 11 aja rata-rata sudah pulang ke rumah. Malahan ada pengecer koran yang tinggal di perumahan, sedangkan kami masih di ruli.'' Wow...ternyata tak sesulit yang dibayangkan bila mau berusaha untuk mencari rezeki ya.

Wow...saya dan tim pemasaran Posmetro Batam makin dapat bahan usulan yang berbeda pula dengan tiga persimpangan lain di Batam, tempat utama jualan koran kami. Yang di Simpang Kabil, mereka menyatakan yang ini;''kalau berita HL-nya pemerkosaan, laku pak.''


Wow...terakhir, acara lokakarya tentang piutang yang diikuti peserta dari Riau Pos Grup (Aceh, Sumut, Sumbar, Riau dan Kepri), menjadikan saya yang belajar bagaimana mengelola hari piutang agar pendek. Memang nama saya yang disebut panitia jadi pembicaranya, tapi yang saya tugaskan untuk menyampaikannya adalah manajer pemasaran Posmetro, Mulyadi Nasution. Saya malah jadi moderatornya. He...he..., tapi saya boleh nyombong dikit kepada peserta lokakarya, pendeknya hari piutang juga disebabkan, pimpinan berani memecat karyawan penagih utang yang justru ''memakan'' uangnya. Hi..hi...wow...

Selengkapnya...

Senin, Desember 10, 2007

Pengecer Koran Paling Atraktif

Wow...bau rendang masih lengket di tangan. Sambil ngetik postingan ini, sesekali saya menciumnya. Padahal sudah dicuci dengan sabun. Hmm...rendang enak ini, membuat saya melahap dua bungkus nasi, saat makan siang bersama pengecer koran di Simpang Baloi Center, Batam.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Selain senang (ditandai dengan nasi dua bungkus), juga saya menemukan pengecer koran favorit saya. Ada Dewi, satu-satunya perempuan penjual koran di simpang tersebut. Lalu ada si Aritonang. Yang ini, pengecer paling atraktif. Gayanya yang tak pandang bulu (bisa jadi tak pantang malu) saat menyerocos ke pengendara mobil, sambil koran tetap diselipkan, membuat dia termasuk paling banyak menjual Posmetro.

Sudah lama melihat tingkahnya, baru tahu saya namanya Aritonang. ''Dia Lae saya pak. Dia juga dikenal Pak Kapoltabes,'' kata Gultom, agen yang menaungi pengecer di Simpang Baloi Center.

''Iya, udah tahu pun kita orang Posmetro, dia seperti tak tahu, tetap aja terus menawarkan Posmetro,'' ungkap Mulyadi, Manajer Pemasaran Posmetro.

Tapi karena gayanya yang ''pantang menyerah'' (Anda bisa saksikan sendiri jika ke sana), membuat Aritonang lebih cepat melejit. Dia sekarang sudah punya motor sendiri. Tapi saat makan siang tadi, dia kelihatan lebih kalem. Dan ternyata jauh lebih muda wajahnya, ketimbang memakai topi (lihatlah fotonya; paling kiri).

Satu hal lagi yang paling beda acara kali ini dibanding dua tempat terdahulu (Simpang Jam dan Rosedale), kami makan di lobi hotel yang belum jadi di Simpang Baloi itu. Jadi, sebelum diresmikan gubernur atau siapa saja suatu saat nanti, tadi sudah saya resmikan, meskipun para ''undangan'' hanya duduk di lantai semen yang beralaskan koran. Hmm...hmm...

Selengkapnya...

Minggu, Desember 09, 2007

Quickie Express: Pizza yang Biasa Aja

Resensi terpercaya untuk nonton film bagi saya dan istri adalah Majalah Tempo. Bila disebut bagus atau disinyalkan bagus, maka kami datang menonton. Bila disebut tidak bagus, malah disinyalkan dihujat, kami juga datang ke Bioskop 21 karena penasaran. Nah yang diresensi terakhir ini, yang kami datangi sore tadi. Hmm...komentar istri: biasa aja.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Saya bertanya itu malah justru saat sudah tiba di rumah pukul 18.30 WIB, berarti ada dua jam setelah usai menonton Quickie Express (QE). Pertanyaannya pun, adalah awal ide untuk menuliskan postingan ini. Saat dalam mobil yang membawa pulang, malah kami banyak terdiam (padahal nontonnya berdua saja tanpa anak). Tak seperti ketika nonton Nagabonar Jadi 2 atau Get Married. Heboh mengisahkan isi film itu lagi.

Memang ada tawa saat nonton aksi Tora (merankan Jojo), Aming (Marley) dan Lukman Sardi (Piktor) ditraining oleh manajemen Quickie Express (perusahaan penjual pizza) untuk menjadi gigolo, bukan pengantar pizza. Atau ketika ''burung'' Marley ''dimakan'' ikan hingga harus dibawa ke rumah sakit. Tapi dari keseluruhan film hingga akhir, terkesan tak ada yang bisa dibawa pulang seperti yang selalu ''dipesankan'' rekan saya, Hasan Aspahani bila menyebut film itu bagus atau tidak. Karenanya, bisa jadi, kami berdua terdiam dalam mobil menuju pulang.

Yang menjadi sesalan, mengapa karyawan atau manajemen Bioskop 21 Nagoya Hill tidak melarang anak-anak untuk masuk. Padahal, film ini disebutkan komedi dewasa untuk usia 16 tahun. Tapi, jika mau dilihat lagi, QE memang sudah banyak lembaga sensor bekerja. Malahan, yang ''dewasanya'', sama sekali tak ada untuk ukuran memperlihatkan belahan dada seperti yang dilakukan Dewi Persik di acara Empat Mata, yang live.

Tapi tentu ukuran dewasa dan tak pantas dilihat anak-anak berbeda tiap orang. Dan kami berdua pun senang, bisa nonton berdua saja dengan kedua anak dititip pada adik sepupu saya. Namun sayang, ya, itu tak ada keceriaan seperti seusai nonton Nagabonar Jadi 2 atau Get Married. Kami senyap, seperti ada penyesalan menikmati pizza yang mahal, tapi salah pilih karena tak tahu isi sebenarnya saat membaca menunya.


NB: Saat ini Nagabonar Jadi 2 dan Get Married masing-masing masuk 10 nominasi untuk peraih Piala Citra 2007 yang bakal digelar di Pekanbaru.

Selengkapnya...

Sabtu, Desember 08, 2007

Ngeblog di Lucky Plaza

Sempat-sempatnya juga saya ngeblog sambil menemani istri dan anak shoping di Lucky Plaza, Batam. Ada konter speedy yang baru buka di plaza ini. Saya nyempatkan ngetes sendiri. he..he...

Pidato pembukaan pameran yang digelar Posmetro Batam pukul 14.30 WIB tadi di Mitra Mall teramat singkat. Istri pun nyindir. Tapi kegugupan telah hilang.

Selengkapnya...

Mengapa Kalah Justru di Saat Bermain Bagus?

Hanya itu yang bisa saya ungkapkan untuk menanggapi hasil akhir timnas Indonesia versus Thailand. Kekalahan 1-2 sore kemarin, telah mendepak tim sepakbola Indonesia dari semifinal SEA Games 2007. Tragis, justru di saat Eka Ramdani dkk mampu memainkan sepak bola ala ''tango''.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Nasib jelekkah? Apa masih ada pengaruh tendangan Arif Suyono yang membentur tiang gawang saat jumpa Myanmar, masih membenarkan mitos, tim kita kalah? Padahal, Thailand juga kemarin ada tendangan bebasnya yang nyaris gol, juga mengenai tiang? Ataukah karena kita kehilangan tiga pemain utama karena cedera? Yakni, Immanuel Wanggai, Ricardo Salampessy dan Ardan Aras?

Entahlah. Saya juga sedih hingga pagi ini saat ngeblog ini. Tidur pun tak nyenyak, masih dibayangi mimpi merebut emas SEA Games seperti tahun 1991. Dan saat itu, tim tersebut pernah berujicoba di Pekanbaru melawan PSPS Pekanbaru. Saya berada di Stadion Hang Tuah ketika itu, menjadi anak gawang. Huu...merinding bulu kuduk.

Karena itu, nikmati sajalah bagaimana media cetak di Indonesia mengulas kegagalan tim asuhan Ivan Kolev tersebut seperti di bawah ini:

KOMPAS menuliskan ini:

Indonesia Gagal Total
Episode Terburuk Cabang Sepak Bola


Nakhon Ratchasima, Kompas - Kesebelasan Thailand yang mengandalkan semangat "yellow power" memastikan kegagalan gaya "tango" Indonesia pada ajang SEA Games 2007. Belajar sepak bola selama satu bulan ke Argentina nyatanya tak berguna bagi tim Merah-Putih yang harus tersingkir di babak penyisihan SEA Games setelah takluk 1-2 dari Thailand, Jumat (7/12).

Di Stadion Peringatan HUT Ke-80 Raja Bhumibol Adulyadej, Nakhon Ratchasima, Thailand memang satu kelas di atas tim asuhan Ivan Venkov Kolev. Dengan dukungan sekitar 20.000 penonton yang mayoritas berpakaian warna kuning, Thailand mengajari Indonesia bagaimana kearifan lokal bisa menjadi sangat berguna bagi mereka. Kuning, yang merupakan warna ulang tahun Raja, menjadi sumber inspirasi bagi para pemain tim Negara Gajah Putih tersebut.

Indonesia sebenarnya hanya membutuhkan hasil imbang pada laga ini. Akan tetapi, buruknya pertahanan dan lemahnya penyelesaian akhir mengakhiri mimpi Indonesia untuk meraih medali emas pertama sepak bola sejak tahun 1991.


* Tak pernah Kompas menulis sekeras ini. Sejak Nurdin Halid ''disuruh'' mengundurkan diri dari PSSI oleh FIFA, tapi Nurdin ogah-ogahan, Kompas selalu menulis ''nada keras'' untuk PSSI dan timnya.

JAWA POS menulis:

Indonesia Tamat
Kalah Selisih Gol dari Myanmar
NAKHON RATCHASIMA - Terkubur sudah ambisi Indonesia menembus final cabang sepak bola. Kekalahan 1-2 (1-2) dari Thailand dalam laga terakhir Grup A di His Masjesty The King 80th Birthday Anniversary membuat Merah Putih hanya mampu berada di posisi ketiga.

Sebenarnya, nilai yang dikumpulkan anak asuh Ivan Venkov Kolev itu sama dengan Myammar, yang duduk sebagai runner-up Grup A. Hanya, Myanmar, yang tadi malam menang telak 6-2 atas Kamboja, unggul dalam selisih gol. Indonesia dan Myanmar sama-sama mengoleksi nilai 4.

angle Jawa Pos yang lain:

Sabtu, 08 Des 2007,
Eka Bantah Kolev

Pelatih Ivan Kolev menyebut Indonesia gagal karena tim Merah Putih tak memiliki striker handal. Tapi, para pemain memberikan penilaian yang berbeda atas kegagalan mereka. Menurut, kapten timnas Eka Ramdani, kemenangan Thailand lebih disebabkan buruknya strategi yang dipilih pelatih asal Bulgaria tersebut.

Menurut pemain Persib Bandung tersebut, keputusan Kolev memasang dua gelandang serang merupakan blunder. "Selama ini, serangan kita memang sering dari sayap. Dan, itu mungkin sudah dibaca oleh tuan rumah," kata Eka.

Ketika Thailand sukses mematikan dua sayap Indonesia, Ian Kabes dan Arif Suyono, praktis serangan tim Merah Putih buntu. "Seharusnya ada variasi. Itu yang tak dilakukan oleh Kolev," tandasnya.


* Jawa Pos seperti biasa selalu menulis lebih ''emosional'', apalagi dibuat tidak dengan satu berita, tapi beberapa angel. Termasuk, satu angel lagi, pernyataan Kolev siap mengundurkan diri.

Hmm...kita nikmati saja kekalahan dan kegagalan ini...


NB: Jam 09.00 WIB ini rapat gabungan grup. Biasanya hanya rapat khusus tempat perusahaan saya bekerja saja digelar Sabtu. Ini rapat grup. Bosan juga sih. Tapi namanya prajurit...

NB: Jam 14.00 WIB, wow...membuka acara pameran properti dan mobil. Kayak pejabat saja. Ini yang selalu saya takuti; berpidato. Apa yang nak saya ucapkan nanti ya...?

Selengkapnya...

Jumat, Desember 07, 2007

Beraninya AA Gym, Penakutnya Saya

Mau jatuh juga air mata saat bersama istri melihat penampilan AA Gym tadi malam di Kick Andy, Metro TV mulai pukul 22.10 WIB. Ini adalah penampilan perdananya dalam sebuah talk show setelah dihujat karena berpoligami. Tutur katanya masih runut dan santun. Apalagi saat mengungkapkan dua titik balik kehidupannya.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Titik balik pertama itu, saat beliau menyadari, bahwa adiknya yang cacat ternyata lebih dekat dengan Allah dan Nabi Muhammad ketimbang dirinya yang sehat. Titik balik kedua, ketika dia mengambil hikmah dari hujatan dan aksi-aksi yang berubah dari pengagumnya setelah berpoligami. Dan Aa Gym tetap pada pendiriannya bahwa berpoligami adalah keputusan yang tidak menyalahi agama dan prinsip hidupnya.

Menjawab soal bisnisnya yang juga terguncang, AA Gym juga memberikan analisa yang benar secara teori ekonomi dan manajemen. '' ''Sejak awal saya juga merasakan semua kegiatan bisnis yang bertumpu pada pengultusan individu tidak akan sehat dan tidak akan bertahan lama,'' ujarnya.

Tapi kini, kata AA Gym, pengelola manajemen beberapa perusahaannya makin kreatif. Dicontohkannya MQ TV. Dulu sangat tergantung pada acara yang dia lakukan, sekarang membuat program-program lain, yang dinilainya mengeluarkan ide-ide yang selama ini terpendam. Ide-ide yang tanpa perlu ada dia di situ.

Sungguh berani AA Gym tampil malam itu. Berani mengungkapkan apa yang telah dilakoninya dalam hidup. Berani juga mengungkapkan realita, bahwa dirinya tetaplah manusia biasa. Dan satu hal yang paling berani, saat dia menyatakan ternyata ''tidak bahagia'' saat di masa tenarnya. Dia merasa kehidupannya bagaikan sebuah mesin yang sedang berjalan dan tidak bisa dihentikan. ''Saya begitu sibuk. Dari satu acara ke acara lain. Dari satu daerah ke daerah lain. Sudah seperti mesin. Tak bisa mengantar anak sekolah. Bahkan saya tak bisa menjumpai orang tua, untuk waktu yang saya suka.''

Lalu di mana penakutnya saya? Hmm...jangankan dibanding dengan kehidupan AA Gym, ''ditantang'' untuk mendiskusikan buku Quantum Ikhlas bersama pimpinan dan karyawan Rumah Zakat Batam saja, saya sudah menolak. Tapi, Insya Allah, saya berani mengambil hikmah apa yang diterima AA Gym. Kita harus mensyukuri apa yang kita punya dan bisa dilakukan saat ini dan tak perlu memandang dengki pada kesuksesan orang lain. ''Ingat teori cecak. Apakah cecak protes karena nyamuk punya sayap, sedangkan dia tidak?'' Hm....

Selengkapnya...

Kamis, Desember 06, 2007

Brewok yang Dinanti

Hari kedua makan siang di pinggir jalan. Kali ini makin enak nasi bungkusnya. Dan juga dapat meraup aspirasi bagus dari pengecer koran Posmetro Batam yang ada di persimpangan jalan Rosedale.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
''Pokoknya, Brewok yang dinanti pembaca, Pak. Aku tak mau koran lain, tak ada Brewok nya. Begitu kata pembeli,'' itu ucapan yang meluncur dari ibu (maaf saya lupa namanya, tapi ingat kisahnya yang jarinya putus karena diabetes). Beliau kemarin satu-satunya pengecer koran yang wanita di simpang itu. Ada satu lagi, tapi tidak datang.

Sitepu, si agen yang tentu saja bos dari para pengecer di persimpangan tersebut, mengangguk setuju soal si Brewok. ''Apalagi kalau tahun depan memang tak jadi naik harga. Posmetro akan bersaing dengan koran lain,'' kilah bapak yang tinggal satu kakinya saja berfungsi normal itu.

Lahapan saya pada nasi bungkus (kali ini yang masak, tetangganya Soleh -- karyawan divisi pemasaran Posmetro) cepat. Ayam bakarnya maknyus. Belum lagi pedasnya cabe hijau yang oke. Sayurnya pun paduan toge dan wortel. Wow...jadinya, hujan yang masih membasahi Batam, dan makan di pangkalan ojek lagi (menghadap ruko Gelael), membikin pandangan pengendara mobil tertuju pada kami.

Mulyadi (ini manajer pemasaran), rupanya kali ini tak tahan pedas. ''Enak, enak bang. Tapi aku termakan cabenya yang pedas.''

''Begini yang kami tunggu pak. Meskipun tidak sebulan sekali.'' Sitepu mewakili aspirasi pasukannya.

Saya pun menunjuk ke depan, tepat di atas ruko Gelael, ada restoran KFC. ''Suatu saat kita semua makan di sana pak.'' Hm...


NB: Mak saya SMS, menceritakan kondisi Mekkah yang sudah ramai. Tapi dia tadi malam sudah langsung melakukan tawaf umrah. Jauh hotel mereka sekarang dari masjid, katanya. Dan saya pun membalas SMS-nya dengan mengisahkan, baru saja makan siang dengan pengecer koran.

NB: Saat mengetik postingan ini, dimulai pukul 12.35 WIB, setelah balik ke kantor dan solat Zuhur. Perut terasa sesak kekenyangan.

NB: Oh ya, ada yang lupa. Pengecer itu juga minta si Brewok tampil juga di koran terbitan Minggu.

Selengkapnya...

Mengapa Tatik Menang, Rini Kalah?

Sama-sama perempuan dalam satu ajang pemilihan. Yang satu, Pemilihan Walikota Tanjungpinang periode 2007-2011. Nama lengkapknya Dra Hj Suryatati Manan. Yang satu, dalam Asian Idol untuk Pilihan Indonesia. Namanya Rini. Tapi mengapa Rini kalah, Tatik menang?
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kemarin dari hasil quick quont LSI, Tatik sudah dinyatakan menang 84,22 persen. Mungkin ini yang pertama di Indonesia, rekor kemenangan yang mencapai angka segitu. Sehingga tiga pasangan kandidat lain, terdepak habis, tanpa ''bebunyi''. Tapi mengapa begitu hebatnya Tatik, yang malah, ''isunya'' tanpa diduetkan dengan Edward Musali pun malah bisa menang?
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ya, bagi saya, jawabannya mudah saja. Tatik sudah lama di Tanjungpinang. Baik masih bergelar kota administratit maupun sudah Kota sekarang. Apalagi dia walikota sebelumnya, yang dipilih saat oleh DPRD. Dan sekarang, untuk pertama kali pula dipilih melalui Pilkada. Proses yang membuat Tatik, lebih cepat dikenal, ketimbang untuk pasangan lain.

Namun di sebalik itu, kita tak boleh lupa, bahwa kemenangan Tatik tetap saja diawali oleh ''kesusahan'' berbungkus ''penghinaan'' terhadap dirinya. Baik yang menyangkut soal dia Melayu atau tidak atau hal-hal lain. Dan sudah jadi kebiasaan di Indonesia, orang yang ''dilemahkan'' maka akan mendapat simpati.

Satu hal lagi yang terpenting, jangan lupakan pula suara ibu-ibu. Nah, di sinilah kelebihan Tatik. Figurnya yang lemah lembut tapi tegar (suaminya belum setahun meninggal dunia) telah membuat ibu-ibu di Tanjungpinang, apalagi kaum perempuan terus bersimpati padanya.

Simpati yang berkepanjangan inilah, yang saya kira belum dimiliki Rini Idol. Memang dia menang Indonesian Idol 2007 pada Juli lalu, yang malah seharusnya mendongkrak popularitasnya ketika bersaing untuk menjadi pilihan Indonesia ke Asian Idol. Tapi nyatanya tidak. Malah, Mike, Indonesia Idol 2005 yang menang melalui SMS.

Emangnya simpati pada Rini tidak bisa diteruskan dari Juli 2007 ke Desember 2007 hanya lima bulan, sedangkan Mike dua tahun? Rini yang tampil sepekan lalu, agak beda. Cara berpakaiannya sudah mirip penyanyi AS, Beyonce, yang seksi sekali. Seksi yang dewasa. Saya sudah ngomong sama istri,''bahaya tuh pakaian Rini. Bisa-bisa tak menang seperti dulu ada cewek yang tampil di AFI.''

Nah sekarang terbuktikan? Malah perolehan suara Rini yang langsung drop, padahal dewan juri selalu memujinya, kecuali saat berlagak seperti Beyonce itu. Ihsan yang saat 2006, orang simpati karena ''kesederhanaannya'', tapi sekarang kaya, telah merubah rasa simpati itu. Sedangkan Rini, seharusnya bisa dipertahankannya, ternyata tidak.

Lalu mengapa Delon tetap bisa bersaing di dua besar. Ya itu, karena masih saja dewan juri ''merendahkannya'' (dan memang, kalau Delon menang, maka kita dimakan peserta negara lain). Tapi itulah Indonesia, akhirnya memilih yang aman. Tetap terjaga konsistensi figurnya (termasuk cara berpakaian), ya, akhirnya memilih Mike.

Lantas, seandainya saat ini digelar pemilihan Presiden, yakinkah Anda Megawati akan menang? Saya kira tetap SBY. Karena Megawati sudah tak kalem lagi, dan agak ''menyerang'' SBY. Dan saat diserang SBY tetap kalem, maka ibu-ibu pun tetap memilih dia.

Walah....memangnya yang ikutan pilkada, pilpres dan Indonesian Idol hanya ibu-ibu? Perlu diteliti juga pendapat saya ini...sile..

Selengkapnya...

Rabu, Desember 05, 2007

Menjemput Aspirasi dengan Makan Nasi

Alhamdulillah, barusan selesai makan siang bersama 20-an pengecer koran Posmetro Batam di Simpang Jam. Di tengah hujan deras, di bawah tenda (dekat pangkalan ojek) yang bocor, nikmat juga nasi bungkusnya dan terjemput juga aspirasi mereka.

Nasi bungkusnya dimasak oleh istri si Agen Amat yang menguasai Simpang Jam. Sebenarnya saya usulkan nasi dipesan di RM Salero Basamo saja. Tapi tak apalah, dari pada tak dapat omset pula istri si Amat. Ternyata enak juga. Lauknya rendang dengan sayur tumis buncis campur wortel. Mak nyus..

Sayang, hujan agak merubah bentuk acara. Rencana, makannya di tengah jalur hijau dan di bawah pohon (benar-benar di simpang jalan utama di Batam itu). Saya sudah mengkhayalkannya jauh hari (dan bisa jadi bakal banyak SMS masuk ke HP saya, karena akan banyak dilihat teman-teman). Nyatanya, harus dipindah ke dekat pangkalan ojek di mana istri si Amat berjualan. Dan saya makannya, tepat di meja yang biasa mereka buat untuk main domino...

Apa aspirasi yang bisa didapat? Hmm...mereka minta diberi baju seperti yang saya dan tim Pemasaran Posmetro pakai. Tidak lagi baju kaos. Selain ada juga yang minta dikasih kamera, agar mereka bisa bantu wartawan Posmetro memotret kejadian di simpang itu. Dan mereka pun bersyukur, Posmetro tak jadi naik harga dari seribu perak menjadi Rp1.500 di tahun 2008 nanti (tentu saja ada aspirasi lain, tapi rahasia perusahaan dong...)

Jawaban saya? Hmm...itu tugas Mulyadi (manajer pemasaran Posmetro) untuk hitung-hitungan dengan biaya. Mungkin bisa dicarikan sponsor untuk baju. Sedangkan kamera, entar dulu deh...

''Hoi...kata Ketua..., kita makan seperti ini sebulan sekali.'' Saya tersenyum mendengarnya dan tanpa komentar. Tapi Insya Allah, kalau laba Posmetro makin besar, mengapa tidak.

Tapi yang paling saya syukuri, ada nada resolusi atau afirmasi positif dari si Amat untuk menghadapi 2008. ''Itu dulu. Sekarang lain, kita sudah berubah.'' Begitu katanya. Kalimat yang mengingatkan pada bagaimana ''penguasa koran'' Simpang Jam terdahulu yang tak pandai pandai mengelola duit dan membina pengecernya. Apalagi, sang mantan ''penguasa'' itu, adalah ayahnya yang sekarang sudah balik ke Medan sana.

Selengkapnya...

Selasa, Desember 04, 2007

Kena Tiang Pertanda Kalah?

Mitos yang selalu saya pegang dalam mengamati pertandingan bola, akhirnya kena juga ke timnas Indonesia. Saya dari dulu tetap yakin, jika ada salah satu tim sudah nyaris mencetak gol tapi kena tiang gawang dan bola keluar, maka alamat tim itu kalah. Timnas tak kalah, tapi bakal susah menghadapi Thailand, 7 Desember mendatang.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Anda yang pecinta bola Indonesia, pasti tahu apa cerita saya ini. Ya tentu saja perjuangan timnas Indonesia untuk meraih emas SEA GAMES. Nilai 4 yang didapat, 3 saat menang atas Kamboja 3-1 dan nilai 1 karena ditahan imbang Myanmar tadi sore, sangat sulit untuk mencoba mengalahkan tuan rumah tiga hari lagi.

Padahal jika menang dengan satu gol saja, termasuk yang kena tiang itu oleh Arif Suyono (lihat foto) di menit ke-30, langkah Indonesia ke semifinal tak ada lagi yang bisa menahan. Bahkan saat jumpa Thailand kita bisa menurunkan pemain cadangan saja. (saat postingan ini diketik, Thailand lagi bertarung dengan Kamboja dan diyakini menang).

Lalu soal kena tiang bagaimana? Saya lupa data-data partai-partai penting yang kena tumbal tiang itu. Tapi selalu terekam di alam bawah sadar saya, tim yang begituan sering kalah. Jadi, saat timnas kita tidak kalah juga tidak menang, ya, alhamdulillah.

Bagaimana menghadapi Thailand nanti? Hmm...rasa nasionalisme saya yakin menang. Namun rasa keyakinan saya pada teknis bola juga yakin timnas kita menang. Asal, semangat juang Eka Ramdani dkk ada. Dan kembali sadar bahwa kita bermain bola lebih layak bola-bola datar dari kaki ke kaki bukan bola lambung. Dengan gaya itulah timnas senior bisa mengalahkan Bahrain dan merepotkan Korsel dan Arab Saudi waktu Piala Asia lalu.

Semoga, timnas kita tak akan kalah atau gagal, hanya karena kesialan kena tiang. Bisa jadi, tim yang selalu kalah karena urusan kena tiang itu, adalah tim yang frustasi saja dan itu tidak berlaku untuk timnas sekarang...

Selengkapnya...

Dalam Timbunan Afirmasi, Resolusi dan NLP

Ada teman yang memiliki blog friendster telah menuliskan resolusinya untuk 2008 dengan unik. Salah satunya, akan bangun lebih pagi dan tidak untuk tidur lagi. Saya mau menuliskan apa pula?

Mungkin saya terlalu banyak malah. Bahkan, sering ''bingung'' sendiri. Karena di sesi pelatihan motivasi usaha, trainernya menanyakan usdah NLP? Sudah declration? Atau di saat mempraktekkan buku Quantum Ikhlas akan ditunjukkan afirmasi. Lalu, saat nonton infotainment, maka para artis itu menyebutkan resolusi dirinya menghadapi 2008.

Tapi sebenarnya saya tak bingung sangat sih dengan bejibun nama untuk pengharapan di 2008 itu. Nah, itulah kesimpulan saya. Cuma yang bingung itu, mana yang nak dulu diutamakan?

Kalau dalam sesi pelatihan motivasi usaha (biasanya saya sebut lagi kuliah, jika ada yang nelpon tapi tak saya angkat, namun saya kirimkan sms ''lagi kuliah, ada apa?''), sering ditanyakan sudah berapa kali jalankan NLP. Ada yang mengaku lima kali sehari sesuai jadwal solat. Ada yang mengaku satu kali saja, sebelum tidur. Ada juga yang mengaku, kadang lakukan kadang tidak.

Tapi untuk saya (dan telah dapat 20 point dalam sesi kuliah itu) adalah, pengakuan saya karena telah berhasil menerapkan NLP. Yakni, sudah berani bawa mobil sendiri dan anak saya menyenangi sekolah. Yang berani bawa mobil sendiri (setelah mengalami 2 kali kecelakaan), sambil mendengarkan lagu Pikirkan Boleh (lagu milik Malaysia, tapi bukan diakui milik saya ya) dan selalu mengucapkan ini baik dalam hati maupun agak keras ''saya bisa bawa mobil, saya bisa bawa mobil''. Cukup sukses, karena tak berdesir lagi terasa darah ke kepala saat mengendarai mobil kesayangan keluarga saya. Tapi baru bisa mobil otomatis, yang manual belum ya...

Sedangkan NLP untuk anak saya yang bungsu, karena Juli 2007 lalu dia agak malas sekolah di TK A (karena tak ditunggu ibunya lagi). Setiap mau tidur malam, dia mengucapkan ini ''Saya senang sekolah, saya senang sekolah. Yes...yess'' Pakai acara mengepal tangannya juga. Sukses, dia ingin sekolah terus. Tapi sempat agak malas lagi, karena 10 hari tak sekolah karena mengunjungi neneknya di Kisaran, Sumatera Utara yang mau naik haji. Tapi lalu menyebutkan kalimat yang tadi, bangkit lagi semangatnya.

Eiits....jadinya setelah nuliskan ini, saya ketemu pula jawaban apa itu afirmasi, resolusi dan NLP. Selain pengharapan kita yang lebih baik, juga sebenarnya, perubahan sikap dan tingkah kita. Tapi....he...he...saya belum memutuskan apa afirmasi, resolusi dan NLP utama saya di 2008 nanti.

Apa bangun lebih subuh, lalu ngeblog atau malah seperti sekarang ini, bangun agak subuh tapi tidur lagi sambil nonton TV menjelang mobil jemputan kantor datang?


NB: Mak saya yang naik haji, rencananya hari Rabu besok bergerak menuju Mekkah. Dari SMSnya dikabarkan, Madinah makin padat saja. Oh ya, sepertinya teman satu kamarnya lagi rindu orang tuanya, hingga kepikiran untuk membelikan kursi kecil bulat yang bisa dilipat. Saya ditugaskan mencari kursi itu di Batam. Pernah saya lihat ada di Hypermart. Tapi kayaknya itu kursi untuk mancing. Atau ada yang bisa bantu, saya bisa beli di mana?

Selengkapnya...