Senin, Maret 31, 2008

Ketika Kembaran Istri Datang ke Batam

Photobucket

''Pak Ade apa tertukar?. Buk Eli tanya gitu tadi?''

Hmm...saya tersenyum kecil, ketika istri menyampaikan itu (Buk Eli itu, sohib istri saya). Ya, sejak 26 hingga 30 Maret 2008, kakak kembaran istri saya datang dari Jakarta bersama anaknya, dan kakak ipar lain serta ibu mertua. Hmm...untuk kali ini, saya jauh lebih tahu, mana yang istri saya, mana yang bukan. Hi..hi...

''Lebih cantik Ibu Itok, kata Buk Jon.'' Si sulung saya yang gendut, menyampaikan hal itu. Buk Jon sempat lihat istri dan kembarannya. Hmm...tentu saja Buk Jon bergurau. Lebih cantik istri saya dong.

''Kembar ya pak, istrinya?'' Yang ini si Libeng, tetangga samping rumah yang tanya.

Hmm...memang tak banyak waktu lagi bertemu sejak istri saya masih gadis merantau ke Pekanbaru dan Bukittinggi, sedangkan kembarannya ke Jakarta. Apalagi sesudah menikah. Pertemuan, hanya saat ada yang menikah pula saudara kandung mereka di Kisaran, Sumatera Utara. Karenanya, jadilah pertemuan di Batam, tepatnya di Tiban, di rumah kami yang hanya tipe 36, cerita-cerita seru terangkai.

Inilah kehebatan Tuhan. Wajah, suara dan sikap, ternyata istri saya dan kembarannya sama. Keduanya pun memang berbeda, dengan empat saudara kandung lain di atas mereka. Tapi kalau untuk sakit kepala, sepertinya istri saya sudah jarang mengalami. Sedangkan kakak kembarnya masih. ''Aku dah jarang sakit kepala. Beli aja obat di kedai depan.''

Jadi, bagaimana saya bisa membedakan mereka? He..he...tentu saja, karena sudah lama tak tinggal satu kota, potongan rambut mereka sudah berbeda. Apalagi sekarang istri saya sehari-hari (jika keluar rumah, sudah belajar berjilbab). Kakak kembarannya belum. Tapi jika sudah di rumah, dan rambut sama-sama dilepas, memang kalau tak teliti susah juga membedakan.

Nah, ketika datang Mik (baru berusia 10 bulan, tapi sudah pandai jalan), keponakan saya yang juga tinggal di Tiban, dia heran. Kok, mak tuo nya (panggilan untuk istri, sedangkan saya pak tuo), kok tak ''heboh'' menggendong. Saat itu istri lagi mandi, sedangkan kakak kembar lagi menyuapi anaknya makan. Barulah setelah istri saya selesai mandi dan kumpul di ruang tamu, si Mik, melirik ke kiri dan ke kanan. Sore itu, dia baru tahu, mak tuonya ada dua. Ha..ha...

NB: Sabtu (29/3) saya berhasil membawa keluarga beserta kakak ipar dan anak-anaknya serta mertua ke Barelang hingga Pulau Galang tempat pengungsi Vietnam. Ini prestasi saya yang pertama setelah berani lagi nyetir sendiri.

NB: Foto: yang pakai kaca mata istri saya. Hayo, cari yang mana saudara kembarnya?

Selengkapnya...

SBY Menangis karena...

???: as wr wb pak bos
pondok pulsa: waalaikum salam
???: sby nangis bukan karena sedih nonton ayat2 cinta
???: tapi sedih tak bisa kawin dua kali dengan JK tahun 2009

Itu chatingan di atas terjadi sekitar pukul 11.25 WIB tadi. Maaf, saya jadikan inisial ??? YM teman tersebut. Tentu saja dia merespon blog saya yang isinya berita tentang SBY nonton Ayat-ayat Cinta. Tapi benarkah kesedihan SBY seperti di atas, atau karena hal lain?

He..he...jawaban saya, saya juga tak tahu. Tapi sebagai manusia biasa, SBY tentu tak diharamkan menangis. Semoga saja, benar-benar karena skenario dan penggambaran film itu memang mengharukan. Atau malah, SBY menangis karena merasa rugi, baru seumur hidup, baru satu kali ini ke bioskop.

Jadi, biarkan saja banyak orang (nyebut dirinya pakar), bahwa ajang nonton bareng para pejabat ini, hanyalah sekedar mengalihkan perhatian masyarakat, dari isu mahalnya bahan pokok atau sekedar tebar pesona.

Yang penting. Jika ada Pilkada atau Pilpres atau Pemilu legislatif lagi, hati-hati saja. Jangan kita dinina bobok lagi. Memilih mereka-mereka yang justru tak mendukung kemudahan dan kemurahan biaya membikin film, yang tak mendukung dan mewujudkan harga bahan-bahan pokok jadi murah atau hal-hal lain yang seharusnya membuat kita rakyat lebih sejahtera.

Hmm...bisakah ada pemimpin, yang membuat tiket bioskop jadi hanya lima ribuan, tapi tetap pakai AC ya?

Selengkapnya...

Sabtu, Maret 29, 2008

Nonton Ayat-Ayat Cinta, SBY Nangis

Sifat melankolis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali teruji saat menyaksikan film bernuansa Islam 'Ayat-Ayat Cinta' (AAC). Tanpa malu-malu, sang presiden mengaku terharu biru saat menyaksikan film besutan sutradara Hanung Bramantyo itu.

"Tadi saya sempat menyeka air mata saya berkali-kali, apalagi ibu. Film ini sangat bagus, pesannya kena," kata SBY usai menyaksikan film AAC di Studio XXI, EX Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (28/3/2008).

Melihat kesuksesan film yang diangkat dari novel fenomenal karya Habiburrahman El-Shirazy ini, SBY pun menyatakan kekagumannya. SBY berharap karya-karya cemerlang sineas muda Indonesia bisa merajai industri perfilman tanah air.

"Saya berharap muncul lagi karya-karya seperti ini. Semoga film Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan juga ditonton di negara sahabat sekali-sekali," imbuhnya.

Turut hadir mendampingi kepala negara antara lain Ibu Ani Yudhoyono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Aburizal bakrie, Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu.(sumber:okezone

NB; Nantikan tulisan saya tentang mengapa SBY menangis...

Selengkapnya...

Jumat, Maret 28, 2008

SBY Bawa Popcorn

Nonton film akan lebih mantap sambil ngemil. Popcorn akan menjadi 'teman' Presiden SBY saat menonton film 'Ayat-Ayat Cinta' nanti.

Presiden SBY akan menyaksikan film besutan Hanung Bramantyo di Studio XXI, Plaza EX, Jakarta pada Jumat (28/3/2008) pukul 19.00 WIB. "Wartawan nanti nonton Ayat-Ayat Cinta?" kata SBY di saat hendak menerima tamu para mantan gubernur Bank Indonesia dan Bank Nasional di kantor kepresidenan, Jakarta.

"Nonton Pak," sahut wartawan kompak.

"Bareng ya," kata SBY yang mengenakan safari abu-abu ini.

Menurut SBY, nonton itu modalnya popcorn. "Kalau saya popcornnya segini," ujar SBY sambil tangannya membentuk lingkaran kecil.

"Kalau Andi, popcornnya segini," lanjut SBY sambil tangannya membentuk lingkaran jauh lebih besar.

Andi yang mengenakan baju batik warna kuning hanya mesam mesem. Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu seperti Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Seskab Sudi Silalahi yang ada di ruangan pun ikut tertawa. (sumber: detik.com)

Selengkapnya...

Malam Nanti, Giliran SBY Nonton Ayat-ayat Cinta

Dua pemimpin negara kita akan disibukkan dengan hal-hal berbau film, malam nanti. Jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menonton film 'Ayat-Ayat Cinta', Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) hadir dalam acara Indonesia Movie Award (IMA).

Berdasar jadwal kegiatan wakil presiden yang diterima okezone, JK akan menghadiri ajang penganugerahan IMA, di Jakarta Conevention Center (JCC), Jakarta Selatan, pukul 21.00 WIB, Jumat (28/3/2008).

Sementara itu, bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dan duta besar negara-negara sahabat, SBY akan menonton film 'Ayat-Ayat Cinta' besutan sutradara Hanung Bramantyo, pukul 19.00 WIB.

Di studio 21 yang berlokasi di mana? Okezone.com yang saya kutip, tak menyebutkannya. Tapi blog ini akan berusaha terus mengupdate kegiatan SBY ini. Nantikan saja terus ya....

Selengkapnya...

Kamis, Maret 27, 2008

''Ini Salah Jusuf Kalla!''

Photobucket
Sekitar jam 7.30 WIB pagi tadi, saya mendengarkan keluhan ini di Radio Batam FM. Siaran pagi mereka Halo Batam, tempat uneg-uneg segala macam permasalahan. ''Semua harga naik ini salah Jusuf Kalla! Ada keterlibatan keluarga dia. Jangan pilih lagi dia.''

Begitu bunyinya kira-kira. Si penelepon (maaf saya tak tahu nama, karena telat mendengarkan di radio mobil) menyebutkan kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok akibat kebijakan Wapres itu. Hmmm...saya tersenyum saja mendengarkannya. Sambil mengingat-ingat, pernah makan malam bareng dia sekitar tahun 2005 di rumah kediamannya.

Tentu saja saya masih ingat bagaimana lezatnya sup konro dan soto makassar yang dihidangkan. Apalagi ada juga berbagai macam sambal mentah (biasa saya nyebutnya begitu, atau sambal terasi). Ada juga sambal terasinya, pakai mangga muda, wow...mak nyuss. Tapi yang ingin saya bawa pulang, bukan makanan dan minumannya yang lezat itu, melainkan piringnya yang bertuliskan ''Istana Wakil Presiden RI''...hi..hi...

Apa kaitannya dengan kenaikan BBM yang dikeluhkan tadi? Hmmm...seusai makan itu, JK menjelaskanlah rencana dia dan SBY mau menaikkan harga BBM pada bulan apa ya (yang jelas saat puasa Ramadhan). Kenaikannya cukup tinggi untuk ukuran kebiasaan. Dipaparkannyalah, angka-angka besaran subsidi BBM kita itu dihadapan kami peserta makan malam yang pimpinan Jawa Pos Grup se-Indonesia (saya masuk kategori pimpinan ngak ya?). ''Intinya, negara kita ini kalau terus mensubdisi, udah bangkrut. Belum habispun hasil bumi kita dikeruk, udah bangkrut negara ini,'' kata Jusuf Kalla berapi-api.

Tapi saya tak terlalu tertarik omongan bangkrut itu. Saya tertarik, alasan mengapa kenaikan BBM itu akan dilakukan saat orang puasa Ramadhan, ketika malah kebutuhan energi akan naik (karena masak kolak kali ya..) dan tentu saja persiapan Lebaran. ''Ya itu, saya yakin, saat harga BBM itu naik, rakyat tak akan kuat demo. Mereka kan puasa. Puasa kan menahan amarah.''

Kontan saja, suara tawa lepas terdengar di pendopo Istana Wakil Presiden itu. ''Saya belum tahu pasti, berapa finalnya persentase kenaikan. Tapi saya usul saja sama presiden. Kalau setuju oke, kalau tidak, ya terserah. Kan ini keputusan presiden.'' Kali ini, hadirin pun tertawa lagi, meski sudah ada di tangan mereka masing-masing, berapa angka kenaikan premium, pertamax juga minyak tanah.

Seusai makan malam itu, sesampai di hotel, saya telepon istri di Batam. Saya sebutkan berapa harga bensin nantinya. Saya suruh istri isi bensin mobil yang banyak. ''Ah, masak sih,'' begitu katanya. Nyatanya, memang benar. Tak sampai satu atau dua minggu sesudah makan malam itu, BBM naik sangat dahsyatnya. ''Untung sudah diisi full. Tapi mengapa tak beli minyak tanah sekalian ya. Bisa untuk jualan.'' Istri saya menyesalkan, tak percaya info saya. (sepertinya angka-angka BBM itu pernah saya tulis di blog ini, tapi di postingan yang mana ya?)

Apa kaitannya lagi dengan kenaikan BBM yang dikeluhkan pendengar radio tadi lagi? Benarkah memang Jusuf Kalla yang menentukan semua, atau memang perusahaan Jusuf Kalla yang bermain? Terserah persepsinya, tapi kalau bagi saya, tetap tanggungjawab itu pada pimpinan puncak. Kan dia punya banyak staf ahli dan penasehat. Lagipula yang teken kan dia toh?

Selengkapnya...

Selasa, Maret 25, 2008

Banyak Email Tak Terorganisir

Saya punya banyak alamat email. Bahkan ada yang saya lupa nama (apa istilah alamat ya). Tapi ada tiga yang tetap bisa saya buka sehari-hari. Dari tiga itu, semula ada satu yang tak kena gangguan email bulk (massal) kalau tidak dikatakan spam. Tapi kini yang satu itu, pun sudah mendapatkan hal sama.

Karenanya, ketika ada yang menawari bisa buka email di HP, saya tak tertarik. Karena akan lama membukanya, karena begitu banyak email bulk tadi masuk. Saya lebih suka, jika ada yang menawari software untuk chating.

Nah, karena banyak alamat email (yahoo yang banyak, gratisan), makanya tentu saya bisa chating dengan berbagai YM. Tapi kini hanya satu pula yang sering digunakan. Apalagi, ketika bisa kembali chating via HP dengan software agilemessenger. Sebenarnya bisa sih ditukar-tukar lagi YM nya, tapi saya malas repot dengan HP 3230 yang saya barter dengan istri itu. Hi..hi...

Adakah itu bisa membantu kinerja saya? Alhamdulillah bisa. Kalau untuk bisnis saya (sampingan atau istilahnya belajar), sangat membantu. Tapi juga untuk kerja saya sebagai karyawan sangat oke pula. Saya bisa mengetahui apa yang akan terbit judul esok hari, cukup dengan chating via HP itu. Di mana pun saya berada. Asal, HP nya mau login dan tak masalah GPRS-nya.

Ke depan, saya membayangkan memang begitu. Bila perlu, ke manapun saya pergi cukup dengan membawa HP bisa browsing dan chating tapi dengan biaya sangat murah. Atau, ada juga laptop super kecil sebesar minimal Nokia 9500 saya dulu, yang akan mempermudah kerja.

Tapi meskipun secanggih itu semua, rasanya ada yang belum canggih dalam cara organisasi kerja saya. Lihatlah blog ini, blog sahabat, tidak berurutan abjadnya. Itu yang mudah terlihat saya beri contoh. Ada lagi hal-hal lain dari saya yang tak terorganisir. Apakah itu suatu pencarian atau percobaan? Entahlah, saya menikmatinya saja. Meski itu juga bisa membuat saya lupa, misalnya pada suatu pendaftaran (baik online atau offline) email yang mana saya sebutkan dulu ya?

Adakah ketika kecanggihan benar-benar hidup dalam lingkungan kita, kita harus melupakan sisi manusiawi kita yang pelupa? Ini pertanyaan diri saya saja, bukan untuk Anda ya?

Selengkapnya...

Senin, Maret 24, 2008

Susahnya Praktek...Praktek...., Susahnya Fokus...Fokus...

Seharusnya kata praktek di judul itu diketik sebanyak lima kali. Begitu juga kata fokus. Itulah inti dari kuliah online yang saya lakukan beberapa hari ini. Kuliah yang aneh, karena baru buka webnya, sudah diingatkan untuk tanggal 4 April nanti sudah bayar uang kuliah lagi. Capek deh?

Yang penikmat blog saya (he..he..maaf ke-ge-er-an), pasti tahu, saya lagi kuliah apa. Hasil kuliah itu, sedikit demi sedikit juga sudah terlihat di blog ini. Tapi bukan designnya ya? Cari daah..

Kembali ke kata praktek dan fokus tadi, memang itulah inti dari belajar. Saya harus praktek langsung apa yang telah dipelajari. Dan saya harus fokus, untuk membidik sasaran, agar apa yang saya pelajari itu benar-benar saya pahami dan menghasilkan pendapatan.

Makanya, saban hari saya menegaskan pada diri saya untuk praktek...praktek...praktek...praktek...praktek. Juga untuk fokus...fokus...fokus...fokus..fokus...Meskipun saya tahu, ketika lagi online, eh kuliah, ada saja yang masuk ke ruangan kerja. Ada yang keluh kesah soal keluarga dan ekonomi (tapi syukurlah, yang ini sudah jarang, apa karyawan sudah pada makmur ya), atau ada juga yang berkeluh kesah soal koordinasi kerja. Atau malah yang saban hari, minta tanda tangan surat atau cek (macam bos betul...). Atau ini yang paling parah, melayani pihak asuransi yang minta waktu lima menit, tapi nyerocosnya yang lama bisa-bisa 50 menit. Hi..hi...

Di rumah pun saya praktek (5 kali) dan fokus (5 kali). Hingga kuoto speedy pun sudah habis sebelum tanggal 20. Padahal akan mulai dari nol lagi saat tanggal 1. Tentu saja saya harus bayar kelebihan dari 200 ribu jatah. Tapi sebagai murid yang patuh, tentu saja saya harus patuh pada wasiat bu gurunya (eh, belum mati kok ada wasiat ya?).

Doakan ya, saya praktek...praktek...praktek...praktek...praktek...dan fokus...fokus...fokus...fokus...fokus....


NB: Mau tahu apa itu kuliah saya, silakan kunjungi www.asianbrain.notlong.com

Selengkapnya...

Sabtu, Maret 22, 2008

Peluang Bisnis: Jasa Jual Tiket Air Asia dari Rumah

Bagi yang sudah terbiasa, tak ada apa-apanya kisah saya ini. Tapi sore tadi sekitar pukul 17.00 WIB jadi saat-saat paling seru. Istri pun sampai geregetan, kok terus saja tertulis ''sorry''. ''Huh, susah kali sih beli tiket Air Asia ini. Telepon tempat bertanya pun gak diangkat.''

Bukan telepon CS Air Asia ya, melainkan saya menelepon teman-teman yang kira-kira tahu, apa itu isian CCV atau CID di kolom kartu kredit. Empat kartu kredit yang saya miliki, dan satu milik istri, tak ada satu pun tertulis CCV. Istri lantas menghubungi saudara kembarnya di Jakarta, yang sudah sukses beli tiket via internet untuk Jakarta-Batam pp. ''Kemarin teman yang bantu. Itu tiga angka di belakang.''

Nah, saat dimasukkan, tidak juga. Masih tertulis ''sorry''. ''Ini harus telepon Gubernur Bank Indonesia nih,'' tutur saya, dengan nada kesal dan penasaran. Ya itu, teman-teman saya yang orang bank, tak ngangkat, malah istrinya yang terdengar suaranya di gagang telepon. Begitu juga teman kuliah yang jadi kepala cabang sebuah bank di Natuna, sama saja. Apa semuanya liburan?

Akhirnya, teman kantor yang suaminya orang bank, berhasil memberikan solusi. Itupun sudah saya telepon berkali-kali. ''Tiga angka terakhir di belakang kartu kreditnya bang,'' kata si suami teman, yang justru juga tetap saya panggil abang.

Wow berhasil. Meski tak dapat harga murah seperti yang didapat si kembar, sekitar 200 ribu lebih, tapi angka Rp424.900 adalah yang termurah. Ketimbang, ketika saya cek saat login di kantor. Dan kemudian ''lari'' ke Nagoya Hill tempat konter Air Asia berada. ''Tadi bapak lihat berapa harganya? Sekarang 500 ribu.''

Wuih, itu pun harus diisi selengkap-lengkapnya data. Mulai dari tanggal lahir, hingga nomor KTP. Adakah menantu yang ingat tanggal lahir mertuanya? ''Masak iya sih, sampai segitunya?'' Istri saya tak percaya, saat saya kabari via telepon. Dia pun tak hapal tanggal lahir ibunya. Akhirnya sambil nunggu balasan SMS dari kakak ipar, saya pulang. Hujan lebat pun harus membuat saya menahan penasaran, bagaimana bisa beli tiket Air Asia. Dan akhirnya ketika hujan reda, dan tanpa petir lagi, barulah mulai beraksi hingga ketemu ''sandungan'', kolom CCV dan CID tadi.

''Ini jadi pengalaman yang tak akan terlupakan, jika mau beli tiket Air Asia lagi,'' ujar istri saya girang. Dia pun makin girang, ketika saya berhasil memprinkan tiket yang sudah confirm itu di sebuah warnet. (saya punya laptop, tapi tak ada printer. Flash disk juga rusak, jadi saya kopi ke HP. Dari HP baru di bawa ke warnet, dan di print petugas sana, meski si petugas, tak yakin HP saya bisa berfungsi jadi flash disk tanpa perlu diinstal dulu)

''Sepertinya layak juga kita jual tiket Air Asia nih. Kalau tetangga mau beli, kita bisa bantu dari internet ini. Bisa jadi peluang bisnis nih. Kan seperti mama Dava atau ibu Eli suka bepergian dengan membeli tiket jauh-jauh hari.''

Yang terakhir itu kalimat saya. Kalimat dari orang yang pikirannya selalu cari peluang bisnis. Ha..ha...ha...

Selengkapnya...

Jumat, Maret 21, 2008

Demi Nintendo dan Diet

Photobucket

Banyak hari libur nasional, ada asyiknya ada juga tidak. Tapi tetap banyak asyiknya dong. Salah satunya bagi saya, bisa main nintendo dan belajar diet. He...he...yang Nintendo, saya belajar dengan dua gadis kecil saya. Yang diet? Hmm...baru saya belajar baca-baca aja, payah nerapkannya.

Tapi ya, untuk benar-benar mantap menekuni itu, saya bikin blog untuk kedua tema tersebut. Yang Nintendo mynintendods-lite.blogspot.com. Sedangkan diet zonesdiet.blogspot.com. Bikin blognya sih mudah. Belajar main nintendonya susah, apalagi menerapkan diet.

Malah, kedua-duanya bisa membuat tubuh makin gemuk. Nintendo capek-capek mengutak-atik, eh, buka tudung saja atau kulkas juga. Sedangkan saat posting blog diet, sama saja, ujung-ujungnya tudung saja dan kulkas juga.

Jadi, bagaimana? Hmm...nikmati saja, banyak waktu bersama anak.

Selengkapnya...

Rabu, Maret 19, 2008

Gajian? Elu Aja Kali.... Gua Enggak

Saat menulis postingan ini, tv saya matikan. Kebetulan anak istri lagi ke lapangan belakang rumah nonton layar tancap Ayat-ayat Cinta. Tapi kalimar Ruben, presenter Superstar (Indosiar) masih saja terngiang. Kita? Lu aja kali...gua enggak...

Nah, sepertinya itu juga menyindir saya. Saya pernah di tahun 2005 mencanangkan di depan umum sebuah kuliah enterpreneur untuk berhenti kerja. Alias tak gajian lagi, melainkan menggaji orang. Tapi apa nyatanya, hingga saat mengetik postingan ini saja, malah saya berdebar-debar menunggu SK Gaji baru untuk 2008. Hi...hi...hi...

Sudah dua tahun ini malah saya tak pernah naik gaji lagi. Bisa jadi, bila 2008 ini tak naik juga, entah apalah tindakan saya. (hmmm...macam berani betul ke?). Tapi untunglah, saya masih ada keinginan untuk belajar. Tak apalah, saya tak masuk golongan ''kita'' yang telah bisa menggaji orang. Biarlah saya diejek Ruben atau Madam Ivan, ''gajian? Elu aja kali...gua enggak'' Salah satunya seperti yang tertera di bawah ini. Klik lah....hi..hi...



Selengkapnya...

Selasa, Maret 18, 2008

Mbah Google ''Teken MOU'' dengan Blog Saya

Akhirnya, Mbah Google mempercayai blog saya ini untuk jadi tempat iklan yang mereka dapatkan. Biasanya, si mbah ogah dengan blog saya yang berbahasa Indonesia ini. Tapi dua hari lalu ketika iseng-iseng nempatkan HTML-nya lagi, oke, meski sempat tertulis ''kategori ini tak ada iklan yang cocok''.

Namun tadi subh, sudah terlihat iklan komersilnya. Dan tentu saja saya makin bersemangat menempatkannya ke sisi lain blog ini. Seolah-olah Google sudah menyetujui apa yang ingin saya kerjakan di blog ini. Kayak teken MOU. Hi...hi.. Malah bisa jadi Anda terganggu saat membaca blog ini kan? Tapi cobalah nikmati iklannya. Ternyata sudah banyak perusahaan-perusahaan Indonesia beriklan di Google. Ini tentu saja akan menjadi ladang baru bagi yang suka ngeblog. Apalagi yang isi blognya, berbahasa Indonesia.

Saya sendiri sempat iri, karena ada blog teman di Malaysia yang berbahasa Melayu, sangat mudahnya mendapatkan iklan Google. Lalu pernah juga terbetik kabar, Google akan buka kantor di Kuala Lumpur. Wuih...ngiler gua.

Tapi semoga dunia luar makin melihat Indonesia. Dan kita bangsa Indonesia, makin bisa ''menjual'' produk-produk unik milik kita di internet. Masa depan, perdagangan akan lebih banyak melalui internet. Internet malah mempercepat bisnis orang kampung tanpa perlu dia harus keluar dari kampungnya.

Ca ile...sok pintar saya ya. Udah aja ya postingan ini. Anda silakan saja bersama saya menikmati iklan-iklan otomatis dari Google yang tampil di blog saya ini.

Selengkapnya...

Sabtu, Maret 15, 2008

Tak Mau Jadi Monyet Lagi?

Photobucket

Entah di blog mana saya baca, tulisan tentang monyet. Katanya, monyet itu sering tidak fokus. Mudah dipengaruhi, terutama dengan makanan. Tapi monyet juga senang belajar sekalian praktek, hingga dia bisa fokus pada pekerjaannya. Misalnya, jadi topeng monyet, ngambil buah kelapa atau jadi pajangan di kebun binatang. Nah, saya pilih yang mana?

Pertanyaan itu mengemuka ketika saya bertemu cewek cantik. Namanya Anne Ahira. Saya jumpa dia di konter koran/majalah Cholas Media, di lantai basement Nagoya Hill Selasa atau Rabu lalu ya (maaf lupa). Dia kelihatan makin gendut kalau melihat wajahnya yang makin bongsor (aneh ya, cara penggambaran saya). Penghasilannya sudah ratusan dolar AS per bulan. Masih single lagi. Usianya pun, mungkin baru 20-an.

Siapa laki-laki yang tak ngiler? Hmm...tapi Anda jangan ngeres dulu pada saya (bagi yang belum tahu siapa itu Ahira). Bagi yang sudah tahu, eh Bang Ade, sok kenal. Iya. Karena sok kenal melalui Majalah WK (yang saya beli di Cholas itulah), maka saya akhirnya ikutan masuk dalam rayuan Ahira. Saya ikut kuliahnya. Karena sudah beberapa hari ini pun, dia sering kirim email. Hi...hi....

Ya, si Ahira itu internet marketer dunia asal Indonesia. Dia tinggal di sebuah kampung di Bandung. Saya sudah lama dapat informasi dia. Tapi baru kali ini saya benar-benar masuk dalam komunitasnya. Dan saya seperti orang yang memang lagi kasmaran. Semangat sekali untuk belajar.

Tadi malam, istri sudah melirik-lirik ketika saya asyik membuka pdf, kiriman Ahira. ''Ayah kuliah lagi nih,'' celutuk saya. Tapi ketika jam sudah pukul 23.30 WIB, saya tak tahan dan masuk peraduan.

Paginya, saya dengarkan suara Ahira memberi kuliahnya. Saya dapat kiriman mp3 dan video kuliahnya. Sambil manaskan motor dan mobil pun, saya tetap bisa kuliah. Hingga akhirnya terhenti, ketika dua gadis kecil saya ingin nonton kartun, dan terpaksalah laptop butut harus di shut down. Kuliah pun selesai.

Tapi sambil postingan ini, saya mendengarkan lagi kuliah Ahira, ketika saya bersiap-siap pula untuk meeting Sabtu di kantor ini. Lalu apa kaitannya dengan monyet? Ternyata pesan pertama kuliah Ahira itu adalah; praktek, praktek, praktek, praktek, praktek. Lalu, fokus, fokus, fokus, fokus, fokus. Nah, monyet aja gitu, dan bisa. Mengapa saya tidak? (hmmm...berarti saya ingin seperti monyet?)***

NB: Anda ingin tahu Anne Ahira klik www.asianbrain.notlong.com

Selengkapnya...

Selasa, Maret 04, 2008

Mengapa Dilarang Belok? Apakah Ini Perang Antar-Mall?

Photobucket

Hmm...sudah dua hari ini saya tak bisa berbelok kanan, untuk segera menuju Simpang Jam dengan melewati jalan samping BCS dan Kantor Camat Sekupang. Saya sengaja melewati Simpang Baloi Center (lihat foto) agar bisa mengecek pengecer koran di sini yang sangat setia ''mengedepankan'' Posmetro setiap pagi menjelang saya ke kantor.

Tak afdol rasanya bila setiap pagi tak lewat sini, meskipun sebenarnya kalau dari Tiban, bisa berbelok samping SPBU Baloi untuk menuju Simpang Jam hingga lebih cepat sampai ke Batam Center, kantor saya. Dan jika terburu waktu, maka saya belok ke kanan Simpang Baloi Center tadi -- sehingga tak perlu menuju Jodoh dan Nagoya yang juga banyak pengecer koran. Tapi sudah dua hari ini, tak bisa.

''Mungkin ada perang antar-mall, Pak.'' Supir kantor nyelutuk. Bisa jadi juga. Dulu saat BCS dibangun, jalan di depan kantor Polsek Lubuk Baja (samping kantor camat) yang sekarang biasa disebut Simpang Indosat (karena ada pula kantor Indosat), bisa lurus langsung menuju depan Gelael atau Bioskop 21 (lama). Tapi sejak ada BCS, harus berbelok dulu di dekat persimpangan BCS (ini mall ya). Isu itu santer di tengah masyarakat Batam.

Nah, jika dari arah Tiban, tak bisa pula belok kanan untuk menuju BCS, adakah ini, ''balasan'' dari Top 100 Penuin agar kendaraan langsung lurus saja dari Tiban, tak usah belok kanan? ''Bisa jadi itu pak. Agar orang lihat dulu Top 100.''

Tapi anehnya. Dari arah rumah makan Salero Basamo (masih Simpang Baloi Center), tak bisa pula belok ke kanan untuk menuju arah DC Mall. Yang boleh, belok kiri (arah BCS) atau lurus saja (ke Tiban). ''Jangan-jangan kompak pula nih, BCS dan Top 100?'' Saya menyanggah yang ini, karena kasihan dong warga Baloi Center atau Tanjunguma jadi susah berbelok kanan itu?

Lebih aneh lagi, kok belum ada yang komplen di radio ya, terutama Batam FM dengan Halo Batam nya? Jangan-jangan saya sendiri aja ya, yang merasa tak nyaman dengan dilarang berbelok itu?

Selengkapnya...

Senin, Maret 03, 2008

Ayat-ayat Cinta Itu Berwujud Ikhlas

Photobucket

Beruntung saya belum baca novel Ayat-ayat Cinta, jadi ketika menonton filmnya kemarin malam, saya menerima apa adanya. Tanpa perlu berpikir, apakah cocok dengan novelnya atau tidak apa yang digambarkan sang sutrada Hanung Bramantyo.

''Beli novelnya, Yah. Ingin pula membacanya,'' tutur istri sesaat keluar dari Theater 1, Bioskop 21, Nagoya Hill, Batam. Mata istri masih berair. Saat film diputar, beberapa kali saya dengar dia menarik nafas yang bernada tangisan.

Malam itu, istri saya telah ''mengubah rencana'' dengan ibu-ibu tetangga sebelah rumah. Rencananya justru Selasa esok, mereka nonton Ayat-ayat Cinta. Tapi karena ada ajakan dari Pemimpin Redaksi Posmetro, Ramon Damora untuk nonton bareng karyawan, maka jadinya ini diprioritaskan. Niat sebenarnya, hanya saya dan istri saja yang ikut. Tapi karena nonton barengnya berubah dari siang menjadi malam hari, terpaksa dua gadis kecil kami dibawa. ''Kalau malam tak ada tempat penitipan. Kalau siang banyak,'' kata saya pada Mala, Sekretaris Redaksi yang mengurus tiket kami sekeluarga.

Mala juga menjelaskan, bagaimana dia susahnya mendapatkan tiket film ini. Padahal dia boking tiketnya pagi hari dan mengantri lagi. ''Selain filmnya bagus, juga ini kan tanggal muda dan hari minggu lagi,'' celutuk istri.

Awak Posmetro terkesan banyak yang jarang nonton, apalagi sekarang Bioskop 21 telah pindah ke Nagoya Hill. Bioskop ini sangat tepat waktu. Malahan, pemutaran 18.45 WIB dipercepat jadi 18.35 WIB, karenannya banyak yang tak tahu hingga telat masuk, padahal sudah lama menunggu di Godiva. Kalau kami sekeluarga, memang ada ritual khusus sebelum masuk studio, ke WC buang hajat. Nah, baru mau melakukan itu saja, sudah ada pengumuman disuruh masuk studio.

Lantas, apa yang bisa dibawa pulang setelah nonton Ayat-ayat Cinta? Hmm...banyak yang harus dibawa, sehingga saking banyaknya saya harus berpikir keras untuk mengingat (maklum sudah niat akan ditulis di blog). Cuma satu kayaknya yang sangat perlu kita renungkan, yakni ikhlas.

Jadinya, film ini sama saja tujuan temanya dengan film Kiamat Mau Dekat (maaf jika salah judul, tapi yang jelas karya Deddy Miswar dan sudah juga ada sinetronnya). Tujuannya mencari ilmu ikhlas (ingatkah Anda ketika si Andre Stinky untuk menikahi anak Deddy Miswar diminta cari ilmu ikhlas dulu. Dia mendapatkannya dengan mengalahkan mahasiswa Alazhar yagn tinggi pengetahuan agamanya. Teman-teman si Andre, sampai-sampai mengangkat semua buku, papan, dan apa saja yang ada tulisan ''ikhlas'' nya).

Lihatlah jugalah di Ayat-ayat Cinta ini, ketika Fahri (diperankan Fedi Nuril) yang kuliah S2 di Alazhar, Mesir justru mendapatkan ilmu ikhlas di dalam penjara. Setelah itu dia dapatkan dari hati istrinya, Aisyah (Rianti Cartwright). Juga dari Maria (Carissa Putri), gadis Kristen yang mencintainya diam-diam.

Hmm...saya tak bisa berpanjang-panjang untuk menjelaskan. Bagi saya, ini film bagus, dan saya beruntung, tidak membaca bukunya terlebih dahulu, melainkan menontonnya. Soal bagaimana Islam dijelaskan di film ini, hmm...Anda nonton saja ya. He..he...

Selengkapnya...