Selasa, September 30, 2008

Ternyata, Blog Berbahasa Indonesia Sudah Bisa Dipasang Lagi Google Adsense

Ternyata, Google sudah menerima kembali blog berbahasa Indonesia untuk dipasang iklan berbayar. Anehnya, sepertinya pada blog-blog tertentu. Blog saya ini, tidak, tapi blog saya satu lagi kursus-traffic.blogspot.com bisa. Coba lihat sendiri ya..., jika Anda melihatnya justru dengan iklan layanan masyarakat, komplen ya...

Selengkapnya...

Senin, September 29, 2008

Nunggu Google Bayar Satu Utangnya Lagi

''Ultah Google memberikan kado buat bangsa Indonesia, Yaitu Google Translate
Bisa menterjemahkan Bahasa lain ke Bahasa Indonesia.
mau coba kunjungi http://translate.google.com/translate_t#
Skalian tuk kawan2 yg lg ada tugas di class bahasanya''

Saya dapat pesan tersebut, saat chating siang ini dengan seorang teman di Bandung. Info yang berharga sekali, di tengah saya tiap hari menggunakan tools itu. Tiap hari saya menterjemahkan bahasa Spanyol ke English, tapi saya tak tahu sudah ada Bahasa Indonesia masuk di situ.

Nah, bagi yang selama ini ingin cepat ''menterjemahkan'' isi dari web/blog yang dilihatnya, mbak Google memudahkan kita. Memang masih tetap harus kita ''menambah wawasan'', karena tentu saja tak langsung tokcer hasil terjemahnya. Tapi ini sangat membantu, karena kita tak perlu lagi beli software.

Tapi, menurut saya, Google masih tetap punya utang kepada Bangsa Indonesia. Apa itu? Sebelumnya sempat, Google menyetujui setiap blog atau web berbahasa Indonesia diisi mereka dengan Google Adsense. Tapi sekarang tidak lagi. Jadi, pemain internet marketing yang mencari dolar dari Adsense, harus bertungkus lumus membuat blog yang berbahasa internasional.

Nah, kutunggu, mbah Google membayar utangnya satu lagi. Hi..hi...

Selengkapnya...

Minggu, September 28, 2008

Laskar Pelangi yang Bikin Iri


''Nangis tak abang nonton film itu?''

Seseorang yang saya telepon seusai menonton Laskar Pelangi menyeletuk hal di atas. Saya jawab malu-malu dan mengambang. Padahal, dari awal sampai akhir, fim ini memang bikin iri, kok bisa mengeluarkan air mata, kami berempat beranak saat menontonnya di Mega XXI, Mega Mall, Batam Center, Sabtu, 27 September lalu.

Anak gadis saya paling kecil, usia 5 tahun lebih, tumben tak ngantuk jika nonton yang dimulai pukul 13.15 WIB itu. Cita-citanya memang jadi guru, karena itu mungkin dia tahan melek melihat ibu Muslimah -- diperankan -- Cut Mini, mengajar demi 10 muridnya, yang disebut Laskar Pelangi.

Anak gadis tertua saya, 8 tahun, selalu malu-malu mengusap air matanya. ''Bagus, bagus filmnya, Yah. Nanti hari raya, nonton lagi.''

Bagaimana dengan istri? Hmm...apatah lagi. Suara menarik ingusnya, terdengar terus sepanjang film itu.

Apa nak saya ceritakan lagi tentang film ini, jika kami dibuatnya menangis?

''Cuma, mengapa di akhir cerita, tidak disebutkan, 10 orang itu jadi apa sekarang ini? Kan cuma si Ikal saja yang kita tahu..''

Benar juga kata istri saya ini. Tapi, jangan-jangan ini strategi duo Riri Reza sang sutradara dan Mira Lesmana, produser, agar ada jilid dua film ini, seperti juga kabarnya untuk bukunya. Entahlah, namun ini menurut saya strategi marketing yang unik juga. Memutar film yang bakal box office justru di bulan puasa, dan mungkin berharap, benar-benar meledak di saat libur Lebaran.

Tapi, jadi seperti apakah sembilan teman si Ikal lainnya? Nah, lain kali saya baca bukunyalah, meskipun terlambat dibanding jutaan orang yang malah telah menjadi fansnya Laskar Pelangi. Hi..hi...


Selengkapnya...

Selasa, September 23, 2008

Semuanya ''Dilokalkan''

Sudah tiga bulan terakhir ini, saya jadi ''pengamat'' media luar negeri. Utamanya, yang fokus pada berita sepak bola. Ternyata, ilmunya sama saja dengan yang pernah saya dapatkan baik langsung atau tidak langsung dari Dahlan Iskan dan Rida K Liamsi.

Apa itu? Kelokalan. Tegasnya, berita lokal. Atau, yang dekat, ''rasa'' lokalnya. Maaf, saya tak menemukan (atau memang saya tak menguasai) istilah ''resminya'' di pers. Setinggi atau sehebat apapun oplah koran itu, dia tetap ''melokalkan'' diri.

Ada satu koran Spanyol yang setiap hari nyaris saya pelototi. Namanya Elmundo. Berita bolanya, lokal sekali. Jadi, walaupun ada berita selain Liga Spanyol, misalnya Liga Inggris, tetap dilokalkan. Mereka fokuskan berita itu, pada sosok Fernando Torres yang bermain di Liverpool. Atau Rafa Benitez yang jadi pelatih klub yang sama. Kedua nama itu, adalah asli orang Spanyol.

Dan jika pun, tak ada yang ''asli'', mereka fokuskan beritanya, pada pemain-pemain atau pelatih yang pernah bermain di Spanyol. Seperti untuk Liga Italia, mereka fokus pada Ronaldinho (AC Milan) yang pernah bermain di Barcelona. Jadi, mereka terasa sangat melokalkan seluruh beritanya.

Namun, saya yang ''melirik'' dan tentu saja berkat bantuan mbah Google diterjemahkan ke English, tertawa geli sendiri. Pekan lalu, begitu panasnya orang menanti partai Chelsea versus MU, tapi Elmundo tetap menyuguhkan berita HL-nya, bagaimana kondisi terakhir si Torres dan berbagai komentar Rafa. Hmm....

Bagaimana dengan koran Inggris? Wow, jangan ditanya lagi, mereka malah kayak tak menggangap perlu berita Liga Italia apalagi Liga Spanyol. He..he.., tapi kalau yang ini jangan dikaitkan dengan teori ''melokalkan berita'' ya. Ini lebih, karena memang Liga Inggris lebih ngetop dan banyak intrik-intriknya. He..he...***



NB: Maaf, artikel ini didedikasikan untuk Rikson Situmeang, yang ''menyindir'' di blog ini, tak ada sama sekali postingan tentang jurnalistik. Semoga Rikson tak ''kecewa'' lagi, walaupun postingan ini, sederhana sekali. Hi..hi...

Selengkapnya...

Kursus Online Meningkatkan Traffic Web/Blog


Visit www.kursus-traffic.blogspot.com for more info.

Selengkapnya...

Minggu, September 21, 2008

Hang Tuah yang Menghilang (Lagi?)

Hari ini, dimulai dari pagi saya tiba-tiba teringat Hang Tuah. Baik sebagai nama seorang hero di zaman kerajaan Melayu dulu, maupun sudah berbentuk nama stadion dan jalan di Pekanbaru. Tapi anehnya, saya punya kesimpulan sama, Hang Tuah, ''berbentuk'' apapun, akan menghilang. Mengapa?

Entahlah, saya sendiri tak paham. Maka ketika agak siangan, saya jumpa file Hang Tuah di wikipedia, hati saya makin ''meredam''. Hang Tuah, memang dikisahkan di situ, menghilang setelah membunuh sahabatnya Hang Nadim. Ini pun tersebab, karena Hang Tuah, telah ''diperdaya'' raja.

Di kalimat terakhir di wiki itu, tersebut, nama Hang Tuah juga pernah dilekatkan pada nama kapal perang. Dan ketika saya klik, ternyata dapatlah data, kapal perang itu telah tenggelam di tahun 1958 dalam sebuah serangan pemberontak.

Saat saya ketik, kalimat Stadion Hang Tuah, tak ada datanya di wikipedia. Tapi saat diketik di google, muncul yang tak sesuai ''keinginan rindu'' saya. Tersebab, yang muncul malah Stadium Hang Tuah di Malaka, Malaysia. Baru saat sekarang saya tahu, ada nama stadion yang sama, dengan di Pekanbaru, tempat saya dibesarkan. Maka, teringat pula saya ''bual-bual orang tua'', bahwa nama Hang Tuah, memang diperebutkan orang Riau dan Malaysia.

Lalu saya ketikkan lagi di google, Stadion Hang Tuah Pekanbaru, maka muncullah yang ''sebenarnya''. Tapi yang telah berwujud dengan kata, ''telah dirubuhkan'', ''telah diratakan'', atau kalimat lain, yang menghilangkan Stadion Hang Tuah Pekanbaru, dari wujudnya. Teringatlah saya lagi, ternyata itu sudah mulai diratakan sejak tahun 2001, ketika saya sudah berpindah tugas di Batam selama satu tahun.

Ya, mungkin, kehilangan Hang Tuah versi saya, adalah kehilangan tempat di mana saya pertama kali meniti karir sebagai reporter olahraga Riau Pos. Stadion itulah, yang membuat saya ''dikenal'' pedagang kaki lima, calo-calo tiket, tukang parkir, pengurus bola se-Pekanbaru beserta pemain bolanya. Stadion yang membuat saya mudah mencari berita, hingga honor gaji saya di tahun 1992 mencapai Rp60.000 per bulannya. Honor yang bikin bangga anak kampung yang bisa kuliah sambil kerja. Meskipun, honor itu, tak pernah membantu orang tua untuk meringankan biaya kuliah, karena biaya kuliah tetap dibayar orang tua, he..he...

Stadion yang saya kenal sejak masih TK, ketika ibu guru membawa kami mengenal tempat-tempat publik. Masih ingat saat makan di bangku stadionnya yang kayu. Atau memori teringat lagi, saat mencuri masuk stadion dengan memanjatnya, untuk menonton pemain nasional bermain. Atau ketika, saya memberanikan diri berjalan di pinggir lapangan untuk membawa fotograper Riau Pos yang ''pemalu'' agar berdiri dekat tiang gawang, hingga bisa didapatkan gambar yang bagus.

Stadion bernama Hang Tuah itulah, yang bikin saya tersenyum tersipu, ketika pelatih bola saya wawancarai lari ketakutan. Padahal, klubnya menang. Beberapa tahun kemudian, tahulah saya, rupanya pelatih itu memang anti dengan wartawan, maklum, sang pelatih adalah karyawan Bea Cukai, yang selalu diperas wartawan bodong.

Kini stadion itu telah diratakan, malah sejak tahun 2001. Tapi jika pulang kampung ke Pekanbaru, rasanya, saya sendirilah ''yang merindukan''. ''Kok dibiarkan terbuka begitu saja Mak, lapangan itu.'' Emak saya tak bisa menjawab. Tapi, dia tahu, saya masih ''merindukan'' sosok lama stadion itu.

Lantas, mengapa saya teringat Hang Tuah lagi? Bukankah, kota Pekanbaru saja sudah sejak tahun 2000 saya tinggalkan? Bahkan saya pun pernah mengunjungi rumah dan sumur yang katanya milik Hang Tuah, di Malaka sana?

Mungkin pengharapan saya berlebih pada sosok nama Hang Tuah yang ada di Batam. Di sini ada sebuah yayasan yang mengelola lembaga pendidikan dari TK hingga SMA dan SMK bernama Hang Tuah. Yayasan ini juga memiliki unit usaha, mulai dari mini market, warnet, travel hingga klinik kesehatan. Bahkan sekolah ini pun, mampu berbiaya murah, tapi tidak murahan. Semoga sekolah ini mampu terus hidup, dan tidak ''menghilang'' sebagaimana Hang Tuah, yang sebenarnya.

Hmm...sepertinya, apakah benar, saya merindukan Hang Tuah karena itu ya? Sudahlah, tak pandai lagi saya mendeskripsikannya...

Selengkapnya...

Rabu, September 10, 2008

Nabi Muhammad Dimata Ippho Santosa


Untuk kesekian kalinya, saya dapat hadiah dari Ippho Santosa. Biasa, buku baru karangannya yang masih diterbitkan grup Gramedia. Kali ini judulnya, Muhammad sebagai Pedagang.

Masih tetap dengan gaya Ippho, yakni semangat untuk ''mengajak'' jadi enterpreneur. Yang di buku ini, dikisahkannya bagaimana nabi adalah pedagang yang terbaik. Karena itu, ketika Ippho yang ''getol'' mengajak untuk menggunakan otak kanan, maka dicari jugalah, bagaimana Nabi Muhammad menggunakan otak kanannya.

Bahasa yang disajikan pun menarik, hingga mudah kita mencerna, bagaimana pertautan teori marketing zaman sekarang, dengan apa yang dilakukan Nabi. Namun satu hal yang pantas diperhatikan Ippho, bagaimanapun sebuah wahyu, hadist atau pun kutipan apapun, layaklah ditulis dengan lengkapnya. Misalnya Alquran ayat berapa, atau hadist itu disarikan (benarkah kata ini?) oleh siapa.

Selebihnya, buku ini pantas dibeli untuk dibaca, dan dipraktekkan seperti di Pelajaran 3, halaman 17, ''Berdaganglah Engkau, karena dari 10 Bagian Kehidupan adalah Perdagangan.''

NB; ralat; ''karena 9 dari 10 bagian kehidupan adalah perdagangan''. Angka 9 nya ketinggalan

Selengkapnya...

Senin, September 08, 2008

AFGAN atau RAN yang Mau Didengar?


''Nomor 81, Yah.''
''Iya, Pandangan Pertama.''

Nomor 81 itu, urutan track CD. ''Pandangan Pertama'' bukan judul lagu miliknya A Rafik, tapi milik grup baru ABG, RAN. Dua permintaan dari dua anak gadis kecil saya (usia 8 tahun dan 5 tahun) yang sama, di saat perjalanan menuju Mega Mall, Batam Center, Minggu (7/9).

''Ayah mau nomor 6 saja. Ada Afgan''
''Hu...gak enaklah...''

Saat diputar, ''Terima Kasih Cinta'', dua buah hati itu terdiam. Biasanya mereka suka juga lagu ini. Saat CD memutar lagi ke ''Sadis''. ''Wow...ada juga lagu Sadis.'' Si sulung agak bersuara.

''Tapi setelah itu nomor 81 ya.'' Dia tetap meminta, meski ''Sadis''-nya Afgan, tetap diakuinya enak didengar.

Afgan terus ''bersuara'' sehingga sampai di parkiran Mega Mall. Si sulung masih terus ''protes'', tangannya tak mau dipegang saat masuk mall. Istri mau ke Hypermart, saya langsung nolak, melihat begitu ramainya di tengah hari jam 14.30 itu. Saya tak suka Hypermart, beli satu sama beli banyak, sama saja lambat keluar dari kasir.

Anak-anak ikut ibunya. Saya menuju lantai atas. Celingak-celinguk dikit ke Toko Buku Kharisma. Tak ada buku internet sebagus di Gramedia yang saya beli pagi harinya (saya lagi senang buku membahas internet, lain kali saya postingkan). Seterusnya naik satu lantai lagi, jadi ingat si Afgan dan RAN.

Ada dua gadis ABG, dengan pacarnya, ''bermanja-manja'' dengan pelayan Disc Tarra. Dia melantunkan satu bait, agar si pelayan ingat, itu lagu dari grup mana. Hemm...saya malu bertanya, ketuaan rasanya, menanyakan lagu RAN. Susah juga menemukan, tapi terlihat lebih dulu Afgan dengan album Confession No. 1 (he..he..., emang ini baru albumnya si Afgan). Harganya 35 ribu. Mahal kali pikir saya. Tapi terlihat CD lain, malah 40 ribu.

Tadi anak gadis minta RAN? ''Mas, ada RAN?'' Dengan pede saya bertanya pada pelayan (maaf istilahnya ini ya) yang sudah agak menjauh dari dua gadis ABG -- yang malah mungkin tak jadi beli--. Si mas dengan cepat mengambil dideretan yang justru saya lewati. Wah, 40 ribu, lebih mahal pula dari si Afgan.

Menimbang-nimbang, mau kesukaan anak atau siapa? Hmm...jadinya...''CD ya pak? 75 ribu. Uangnya 100 ya?'' Ha..ha..., keduanya akhirnya dibeli.

Saat jumpa lagi dengan si sulung di bawah, dia langsung heboh lihat plastik Disc Tarra. Penasaran, apa yang dibeli. Saat dibuka di mobil, ketawa rianglah dia, karena keduanya dibeli.

Jadilah, sepanjang jalan menuju Mega Mall ke tempat beli perbukaan paling terkenal di Batam, Tanjunguma, Afgan yang beraksi. Dan sepulangnya dari Tanjunguma ke Tiban, rumah kami, barulah RAN beraksi. Dan kedua gadis saya pun setuju. Hu..huu....***

NB: Salut untuk Afgan yang ber-thanks to kepada Allah SWT, dan RAN yang ber-thanks to ke Allah SWT dan Muhammad SAW. Thanks to-nya tertulis jelas di kertas album CD dan kasetnya, makanya beli yang asli jangan bajakan ya.... Sedangkan CD awal yang diputar di mobil kami, itu kopian dari mp3 yang ada di internet. Bajakan juga ya....?


NB: Terima kasih untuk ''ide'' dari Pak Imbalo, yang mengingatkan, anak gadis kita, akan makin lama makin ''menjauh'' karena sudah punya gank dan ayahnya yang makin tua hingga tak ''ngepas'' lagi jalan-jalan ke mall sama-sama. Hi..hi...

Selengkapnya...