Tampilkan postingan dengan label Acuan Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acuan Pikiran. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 03, 2008

Afirmasi 2009, Apa ya?

Saya menulis postingan ini karena teringat status message seorang teman chating, yang kemarin menuliskan afirmasinya. Tapi hari ini tidak ditulisnya lagi, karenanya saya bertanya padanya. Inilah status messagenya itu; affirmation sentences 2009 goals is set up. Intinya, dia sudah menyiapkan afirmasinya 2009 itu adalah melunasi utang KPR-nya sebesar Rp33 juta.

Saya jarang chating dengan dia, tapi selalu tetap memantau status messagenya. Dia seorang super sibuk. Maklum, dia sekretaris dari seorang direktur utama sebuah perusahaan terkenal di Batam. Banyak saya dapatkan ide-ide segar darinya. Nah, salah satunya ide untuk mengingatkan lagi apa afirmasi saya untuk 2009?

''Saya ucapkan afirmasi saya sebelum tidur dan saat bangun. Yakin bahwa goal saya
di 2009 tercapai. Pelunasan utang rumah yogya, sisa utang saya 33 jt.'' Itu afirmasi teman chating tersebut. Sedari awal dia memang sering membicarakan utangnya itu dengan saya. Apalagi dia tahu, saya orang yang banyak utang juga. He..he...

Lantas apa afirmasi saya? Afirmasi untuk 2008 untuk tidak menambah utang, eh malah berutang juga. Lantas apa sekarang ya?

Sembari postingan ini, saya cari artikel tentang afirmasi. Dan dapat dari www.pembelajar.com yang bagus. Web yang dulu sering saya buka, belakangan ini jarang, memberikan pengertian hakekat sebenarnya afirmasi, dan bagaimana bisa sukses dengannya.

Dan akhirnya, saya memperteguh afirmasi saya untuk 2009 ini adalah; ''Yakin dapat minimal 100 dolar US per hari atau 30 juta sebulan dari gabungan bisnis online yang saya ikuti; google adsense, paid review dan domain parking. Alhamdulillah.''

Tapi benarkah cara penulisannya begitu? Maaf, saya akan pelajari lagi. He..he..

Selengkapnya...

Senin, November 03, 2008

Di Puncak Tangga, Tak Ada Jalan Lain Kecuali Turun

Maaf, sebenarnya saya ingin memberi judul dan tema postingan kali ini dengan pertanyaan, mengapa harus jadi yang pertama? Tapi di detik terakhir, malah terlintas seperti judul di atas.

Itu kalimat dari Pete Sampras, yang diucapkannya saat dia menjadi petenis nomor satu dunia, yang mulai bakal tergeser karena ketatnya persaingan. Kalimat itu jauh saya dengar, sebelum saya memulai karir sebagai reporter olahraga di Riau Pos tahun 1992. Karena itu, saya makin mengingatnya ketika saya selaku pribadi telah mencapai puncak karir untuk seorang jurnalis. Bahkan, kalau mau ''nyombong'' mungkin perlu juga mengingatkan kalimat itu, untuk beberapa pemimpin di negeri ini, mulai dari tingkat kabupaten hingga presiden. Hi..hi...

Makanya, jika ada peluang, saya utarakan ''alur pikiran'' saya itu, pada beberapa sobat. Entah paham dia atau tidak, atau sekedar mengangguk. Misalnya, kalimat seperti ini; ''Untuk apa kita bangga-bangga dengan jabatan sekarang, tapi ketika orang bertanya, adakah anda memiliki *....*?''

Atau ketika, beberapa sobat, sangat salut dengan daya tahan kerja bos-bosnya. Yang mampu rapat berjam-jam dari satu kota ke kota lain. Atau malah, bisa tinggal di hutan, untuk ''mengawasi'' mega proyeknya. Sadarkah sobat saya itu, ketika saya ungkapkan begini; ''Ya, iyalah. Dia sudah memiliki *....*?''

Sama dengan Pete Sampras, dia berjuang untuk menjadi nomor satu dengan latihan super keras, bahkan melebihi takaran latihan yang dibikin pelatihnya, karena dia yakin dan bahkan sudah memiliki *....*. Makanya, ketika dia sudah tahu masanya untuk turun, dia pun sangat pede sekali. Ya, sekali lagi, karena dia sudah memiliki *....*

Tanda *....* antara Pete Sampras, dan orang lain yang menjadi contoh postingan ini, pada itikadnya adalah sama yakni, kemampuan mengendalikan diri sendiri, dan kendali untuk lingkungan sekitarnya, minimal dalam zona aman yang ingin dia nikmati.

Hi..hii....jika Anda yang baca postingan ini bikin pusing, saya juga...ha...ha.... Karena itu, saya pun baru dalam tahap mempelajarinya. He..he....


NB: Postingan ini mulai dikerjakan beberapa menit sebelum jam 7 pagi. Sesudah mandi pagi yang didahului mencuci dan manaskan mobil. Apa kaitannya ya?

Selengkapnya...

Minggu, September 21, 2008

Hang Tuah yang Menghilang (Lagi?)

Hari ini, dimulai dari pagi saya tiba-tiba teringat Hang Tuah. Baik sebagai nama seorang hero di zaman kerajaan Melayu dulu, maupun sudah berbentuk nama stadion dan jalan di Pekanbaru. Tapi anehnya, saya punya kesimpulan sama, Hang Tuah, ''berbentuk'' apapun, akan menghilang. Mengapa?

Entahlah, saya sendiri tak paham. Maka ketika agak siangan, saya jumpa file Hang Tuah di wikipedia, hati saya makin ''meredam''. Hang Tuah, memang dikisahkan di situ, menghilang setelah membunuh sahabatnya Hang Nadim. Ini pun tersebab, karena Hang Tuah, telah ''diperdaya'' raja.

Di kalimat terakhir di wiki itu, tersebut, nama Hang Tuah juga pernah dilekatkan pada nama kapal perang. Dan ketika saya klik, ternyata dapatlah data, kapal perang itu telah tenggelam di tahun 1958 dalam sebuah serangan pemberontak.

Saat saya ketik, kalimat Stadion Hang Tuah, tak ada datanya di wikipedia. Tapi saat diketik di google, muncul yang tak sesuai ''keinginan rindu'' saya. Tersebab, yang muncul malah Stadium Hang Tuah di Malaka, Malaysia. Baru saat sekarang saya tahu, ada nama stadion yang sama, dengan di Pekanbaru, tempat saya dibesarkan. Maka, teringat pula saya ''bual-bual orang tua'', bahwa nama Hang Tuah, memang diperebutkan orang Riau dan Malaysia.

Lalu saya ketikkan lagi di google, Stadion Hang Tuah Pekanbaru, maka muncullah yang ''sebenarnya''. Tapi yang telah berwujud dengan kata, ''telah dirubuhkan'', ''telah diratakan'', atau kalimat lain, yang menghilangkan Stadion Hang Tuah Pekanbaru, dari wujudnya. Teringatlah saya lagi, ternyata itu sudah mulai diratakan sejak tahun 2001, ketika saya sudah berpindah tugas di Batam selama satu tahun.

Ya, mungkin, kehilangan Hang Tuah versi saya, adalah kehilangan tempat di mana saya pertama kali meniti karir sebagai reporter olahraga Riau Pos. Stadion itulah, yang membuat saya ''dikenal'' pedagang kaki lima, calo-calo tiket, tukang parkir, pengurus bola se-Pekanbaru beserta pemain bolanya. Stadion yang membuat saya mudah mencari berita, hingga honor gaji saya di tahun 1992 mencapai Rp60.000 per bulannya. Honor yang bikin bangga anak kampung yang bisa kuliah sambil kerja. Meskipun, honor itu, tak pernah membantu orang tua untuk meringankan biaya kuliah, karena biaya kuliah tetap dibayar orang tua, he..he...

Stadion yang saya kenal sejak masih TK, ketika ibu guru membawa kami mengenal tempat-tempat publik. Masih ingat saat makan di bangku stadionnya yang kayu. Atau memori teringat lagi, saat mencuri masuk stadion dengan memanjatnya, untuk menonton pemain nasional bermain. Atau ketika, saya memberanikan diri berjalan di pinggir lapangan untuk membawa fotograper Riau Pos yang ''pemalu'' agar berdiri dekat tiang gawang, hingga bisa didapatkan gambar yang bagus.

Stadion bernama Hang Tuah itulah, yang bikin saya tersenyum tersipu, ketika pelatih bola saya wawancarai lari ketakutan. Padahal, klubnya menang. Beberapa tahun kemudian, tahulah saya, rupanya pelatih itu memang anti dengan wartawan, maklum, sang pelatih adalah karyawan Bea Cukai, yang selalu diperas wartawan bodong.

Kini stadion itu telah diratakan, malah sejak tahun 2001. Tapi jika pulang kampung ke Pekanbaru, rasanya, saya sendirilah ''yang merindukan''. ''Kok dibiarkan terbuka begitu saja Mak, lapangan itu.'' Emak saya tak bisa menjawab. Tapi, dia tahu, saya masih ''merindukan'' sosok lama stadion itu.

Lantas, mengapa saya teringat Hang Tuah lagi? Bukankah, kota Pekanbaru saja sudah sejak tahun 2000 saya tinggalkan? Bahkan saya pun pernah mengunjungi rumah dan sumur yang katanya milik Hang Tuah, di Malaka sana?

Mungkin pengharapan saya berlebih pada sosok nama Hang Tuah yang ada di Batam. Di sini ada sebuah yayasan yang mengelola lembaga pendidikan dari TK hingga SMA dan SMK bernama Hang Tuah. Yayasan ini juga memiliki unit usaha, mulai dari mini market, warnet, travel hingga klinik kesehatan. Bahkan sekolah ini pun, mampu berbiaya murah, tapi tidak murahan. Semoga sekolah ini mampu terus hidup, dan tidak ''menghilang'' sebagaimana Hang Tuah, yang sebenarnya.

Hmm...sepertinya, apakah benar, saya merindukan Hang Tuah karena itu ya? Sudahlah, tak pandai lagi saya mendeskripsikannya...

Selengkapnya...

Jumat, April 11, 2008

Tak Bertemu Bos, Tapi Tahu Pikirannya

Photobucket
Teknologi telah membuat mudah. Pagi ini sekitar jam 9.30 WIB, saya harusnya ikut rapat dengan bos (yang telah ''mengambil'' saya sejak mahasiswa untuk bekerja di perusahaannya hingga saat ini). Tak jadi, karena beliau harus kembali ke Pekanbaru segera. Tapi saya sudah dapat jalan pikirannya pagi ini, karena baca kegiatannya di Batam Pos.

Teknologi juga telah memberikan kemudahan bagi saya, untuk tahu apa yang dikerjakan big bos besar grup perusahaan kami. Saat saya klik www.jawapos.com, maka saya tahu, prediksi beliau tentang perekonomian Indonesia yang mulai diterpa krisis lagi.

Bos pertama, tentu saja Rida K Liamsi. Dalam laporan di Batam Pos hari ini, dia baru saja mempresentasikan tentang pembentukan BUMD untuk kampung halamannya, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Ini pantas, karena beliau sendiri telah dipercaya Pemprov Riau sebagai Direktur Utama PT Pengembangan Investasi Riau (PIR), semacam perusahaan daerah di Riau daratan sana.

Yang big bos, tentu saja Dahlan Iskan. Beliau pasti tak kenal nama saya. Tapi mungkin ingat-ingat sedikit, bahwa saya adalah salah satu ''bawahannya''. Apalagi saya selalu mewakili perusahaan, ketika dapat penghargaan. Baik sebagai perusahaan yang hari piutang korannya terpendek se-Jawa Pos Grup, maupun sebagai perusahaan yang cepat meroket dan pemimpinnya muda (ini saya dikasih 100 yuan. saat itu beliau mulai hobi ke Cina sekitar 2003).

Apa kata Dahlan? Dunia usaha di dalam negeri tak perlu cemas. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global akibat krisis finansial di AS dan tingginya harga minyak dunia, tak akan menyeret negeri ini ke jurang krisis. Namun ada satu syarat, ciptakan stabilitas.

Nah, dari kedua bos itu, saya tentu berpunya pikiran, berarti Lingga saja yang kabupaten baru berpotenti, apalagi keseluruhan Kepri. Dan makin semangat juga untuk tetap yakin, bahwa Indonesia tak akan terlalu goncang lagi menghadapi krisis seperti tahun 97-98.

Tapi realita yang terjadi di lapangan bagaimana? Ketika pagi tadi saat keluar rumah pukul 7.30 WIB, di sebuah pangkalan minyak, jerigen-jerigen sudah banyak diantri pemiliknya? Atau malah, ketika baca koran, sosialisasi ''penjatahan BBM'', yang berarti Batam akan duluan jadi percontohan?

Hmm...sudahlah, mari saya tunggu saja. Insya Allah tetap dengan nada optimisme.

Selengkapnya...