Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 06, 2009

Kambing Jantan?



Di sela-sela aktifitas dan ''merayakan'' angka 38, kemarin saya dan keluarga nonton pemutaran perdana film Kambing Jantan. Istri menyatakan, tak ada kesan sesudah nonton. Anak yang bungsu, tak bisa komentar. Selain baru berusia 6 tahun, juga agak ngantuk. Yang anak sulung? Dia sekolahnya sore, jadi tak ikut nonton film yang diputar di Mega Mall pukul 13.45 yang jadinya 13.30 itu. Saya? Lumayanlah film ini. Terutama bagi blogger (wah, dah ngaku blooger pulak?), dan orang yang pas ''merayakan''. Bagi Anda? Saksikan saja sendiri. Yang pasti, saya dan sekitar 20-an warga Batam, kemarin, telah menjadi orang pertama yang nonton (seluruh Indonesia serentak diputar 5 Maret, kenapa 5 Maret ya?). Hi..hi...

Selengkapnya...

Senin, Januari 05, 2009

Transporter 3: Sangat Seru, tapi...


Saya yakin sudah banyak yang menuliskan tentang film Transporter 3. Tentu saja dengan segala macam pujian. Apalagi film ini memang seru nian. Sangat seru hingga akhir. Tapi bagi saya ada tapinya...

Tapinya itu adalah, ''lebih seru'' nontonnya dari DVD saja. Hah, DVD nya sudah ada, padahal masih diputar di Bioskop 21? Ya. Saya menontonnya via DVD player Sabtu (3/1) di rumah. Tentu saja setelah membeli DVD -- tak tahu apa bajakan atau asli, karena bagi saya sangat jernih gambarnya. Teks bahasa Indonesia nya pun oke. Apa karena tv saya baru ya?

Saya beli kaset DVD-nya di Top 100 Penuin, Batam seharga Rp10.000. Bayangkan saja, jika nonton nomat yang Rp15.000 untuk satu orang dan satu kali tonton. Tapi menurut saya, harga 10 ribu itu masih mahal. Di Pekanbaru dengan harga lebih murah, sekitar 8 ribu malah bisa dapat dengan kotak DVD-nya. Di Batam, tanpa kotak.

Tapi seseru-serunya nonton DVD, lebih seru di bioskoplah. Seru di DVD, ''bertambah'' karena ribetnya mencari teks Indonesia. Bisa-bisa kalau tak sabaran, ogah nonton, karena harus bolak-balik pencet remote. Atau ini, karena tv saya saja yang baru itu ya? hi..hi...

NB: Anjuran beli DVD bajakan atau copian, atau saat filmnya masih diputar di bioskop, tidak ada dalam postingan ini. Jika Anda melakukannya juga, itu tanggungjawab masing-masing. hm....

Selengkapnya...

Jumat, Januari 02, 2009

Saus Kacang = Penasaran pada BCL-Ashraf yang tak Tuntas


Sudah lama tak nonton berduaan dengan istri, hari ini terlaksana lagi. Pilihan filmnya, Saus Kacang. Istri tertarik pilih itu, karena pemerannya Bunga Citra Lestari (BCL) dan suaminya, Ashraf Sinclair. Tak nyangka, penonton membludak juga di sesi pemutaran 14.55 WIB di Nagoya Hill.

Filmnya mengisahkan apa, bisa Anda saksikan sendiri, atau klik websitenya yang super keren www.sauskacang. Webnya, langsung memunculkan trilernya. Eh, kok ngomongin ini, apa komentar saya, katanya biasanya memetik pelajaran dari sebuah film?

Hm..., Saus Kacang lumayanlah. Lepas penasaran istri dan puluhan penonton lain tadi, utamanya wanita, seperti apa ''keakraban'' BCL dan suaminya (waktu pembuatan film, belum resmi nikah itu). Tapi ya itu, kata istri, mengapa diakhir film, kok tidak ada foto-foto pernikahan asli BCL-Ashraf?

Tapi malahan dalam film itu, tergambarlah kemesraan mereka, bercium bibir (ada berapa kali ya, dan lebih agresif si BCL nya). Atau gambar-gambar BCL berbikini. Gambar-gambar yang dulu hanya ''tercecer'' di internet, dan nyaris disangkal itu adalah bagian dari privasi BCL yang dicuri ''paparazi''.

Ada dua kata yang selalu teringat bagi saya dan selalu disebut oleh Ashraf dan BCL yakni konspirasi dan lubang yang sama. Sepertinya penulis skenario Lintang, dan sutradara Indrayanto Kurniawan, ingin ''memercik'' otak saya, tentang riuh rendahnya politik Malaysia (negaranya si Ashraf) dan kita Indonesia. Kebetulan dalam film itu, Ashraf juga memerankan diri sebagai orang Malaysia.

Sedangkan lubang yang sama, selalu diucapkan oleh BCL, karena dia terlalu berprasangka pada pengalamannya. Pengalaman yang selalu ''kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya amburadul'', takut terulang. Tapi itu langsung dibantah oleh pernyataannya temannya, ''taik kucing dengan lubang''.

Semoga film berseting Bali ini, mampu dijual juga ke Malaysia, sehingga menghasilkan devisa juga (macam kan ahli ekonomi saya ini...). Sedangkan soal lubang yang sama, kita memang harus tetap waspada ''meramalkan'' ujung dari sebuah pengalaman manis dan pahit kita. (wah, dah sok filosofis pula saya ini...).

Maaf ya coi..., eh maaf juga, saya sebenarnya ngiler dengan gaya BCL ngulek kacang, eh, apa kacangnya ya... Saya hobi makan kacang dan juga pecel. he..he...

Selengkapnya...

Minggu, September 28, 2008

Laskar Pelangi yang Bikin Iri


''Nangis tak abang nonton film itu?''

Seseorang yang saya telepon seusai menonton Laskar Pelangi menyeletuk hal di atas. Saya jawab malu-malu dan mengambang. Padahal, dari awal sampai akhir, fim ini memang bikin iri, kok bisa mengeluarkan air mata, kami berempat beranak saat menontonnya di Mega XXI, Mega Mall, Batam Center, Sabtu, 27 September lalu.

Anak gadis saya paling kecil, usia 5 tahun lebih, tumben tak ngantuk jika nonton yang dimulai pukul 13.15 WIB itu. Cita-citanya memang jadi guru, karena itu mungkin dia tahan melek melihat ibu Muslimah -- diperankan -- Cut Mini, mengajar demi 10 muridnya, yang disebut Laskar Pelangi.

Anak gadis tertua saya, 8 tahun, selalu malu-malu mengusap air matanya. ''Bagus, bagus filmnya, Yah. Nanti hari raya, nonton lagi.''

Bagaimana dengan istri? Hmm...apatah lagi. Suara menarik ingusnya, terdengar terus sepanjang film itu.

Apa nak saya ceritakan lagi tentang film ini, jika kami dibuatnya menangis?

''Cuma, mengapa di akhir cerita, tidak disebutkan, 10 orang itu jadi apa sekarang ini? Kan cuma si Ikal saja yang kita tahu..''

Benar juga kata istri saya ini. Tapi, jangan-jangan ini strategi duo Riri Reza sang sutradara dan Mira Lesmana, produser, agar ada jilid dua film ini, seperti juga kabarnya untuk bukunya. Entahlah, namun ini menurut saya strategi marketing yang unik juga. Memutar film yang bakal box office justru di bulan puasa, dan mungkin berharap, benar-benar meledak di saat libur Lebaran.

Tapi, jadi seperti apakah sembilan teman si Ikal lainnya? Nah, lain kali saya baca bukunyalah, meskipun terlambat dibanding jutaan orang yang malah telah menjadi fansnya Laskar Pelangi. Hi..hi...


Selengkapnya...

Rabu, Juni 25, 2008

Rahasia Ilmu Itu= Kekosongan


Ini masih kisah yang telat diposting. Alkisah, 20 Juni lalu, akhirnya bisa menepati janji dengan dua gadis cilik kami untuk nonton. Mereka barusan selesai ujian, tapi belum terima rapor. Nah hari Jumat itulah, saya ada waktu untuk ''mangkir'' dari kerja seusai jumatan.

Kungfu Panda, judul filmnya. Sudah lama tersebut, dan penontonnya membludak, utamanya di bioskop 21 yang baru buka di Mega Mall, Batam Center. Dapat tiketnya pun, untuk kursi nomor tiga paling depan. Istri langsung komplen, sakit mata.

Tapi karena filmnya benar-benar bagus. Komplen istri dan kantuknya mata, dua buah hati, sirna. Kelucuan Po, nama si Panda, yang ingin jadi ahli kungfu, tapi tetap harus hidup dalam naungan kedai mie ayahnya, jadi bahan impian Po.

Po bahkan tahu semua pendekar-pendekar. Bahkan dia tahu semua teori teknik pukulan dan jurus-jurus jitu. Tapi ya itu, nasibnya tetap harus jadi penjual mie. Namun impian yang selalu ''dipikirkan'' memang akan terwujud juga. Bermula karena ada sayembara, dan Po hanya datang untuk berjualan mie, nyatanya bisa menjatuhkan diru jadi ''durian''. Dan tepat pada telunjuk sang guru. Dinobatkanlah dia jadi pendekar naga.

Tapi bagaimana jagoan kungfu tapi gendut? Nah, di sinilah semua ''ilmu'' dari film ini terjadi. Po akhirnya diberikan gulungan dokumen yang disebut-sebut berisikan ilmu tertinggi kungfu. Dan hanya dialah orang terpilih yang menerimanya. Ketika dibuka, ternyata isi dokumen itu kosong melompong. Tak ada satu pun ''ilmu''.

Adalah master Shifu yang paham, ilmu dari kertas kosong itu. Setelah dirinya merenungi kalimat gurunya yang sudah almarhum. Sedangkan Po juga menemukan ilmu kekosongan itu, justru dari ayahnya yang tukang mie. ''Kalau kita yakin, resep mie kita enak, maka enaklah mie itu. Padahal, ayah sendiri tak punya resep rahasia.''

Akhirnya, ya, Po bisa mengalahkan musuh gurunya dan musuh bangsanya. Tentu saja dengan penggambaran yang lucu dan dramatis. Tonton ajalah sendiri lanjutannya ya...

''Nah, kalau kita menyatakan bisa, maka juga akan bisa kan terjadi seperti yang diimpikan Po.''

Dua gadis cilik saya mengangguk. Kini saya mengajari apa yang banyak diajarkan pakar motivasi, melalu sedikit contoh dari ilmu kosongnya Po, si kungfu panda. He..he...

Selengkapnya...

Senin, Maret 03, 2008

Ayat-ayat Cinta Itu Berwujud Ikhlas

Photobucket

Beruntung saya belum baca novel Ayat-ayat Cinta, jadi ketika menonton filmnya kemarin malam, saya menerima apa adanya. Tanpa perlu berpikir, apakah cocok dengan novelnya atau tidak apa yang digambarkan sang sutrada Hanung Bramantyo.

''Beli novelnya, Yah. Ingin pula membacanya,'' tutur istri sesaat keluar dari Theater 1, Bioskop 21, Nagoya Hill, Batam. Mata istri masih berair. Saat film diputar, beberapa kali saya dengar dia menarik nafas yang bernada tangisan.

Malam itu, istri saya telah ''mengubah rencana'' dengan ibu-ibu tetangga sebelah rumah. Rencananya justru Selasa esok, mereka nonton Ayat-ayat Cinta. Tapi karena ada ajakan dari Pemimpin Redaksi Posmetro, Ramon Damora untuk nonton bareng karyawan, maka jadinya ini diprioritaskan. Niat sebenarnya, hanya saya dan istri saja yang ikut. Tapi karena nonton barengnya berubah dari siang menjadi malam hari, terpaksa dua gadis kecil kami dibawa. ''Kalau malam tak ada tempat penitipan. Kalau siang banyak,'' kata saya pada Mala, Sekretaris Redaksi yang mengurus tiket kami sekeluarga.

Mala juga menjelaskan, bagaimana dia susahnya mendapatkan tiket film ini. Padahal dia boking tiketnya pagi hari dan mengantri lagi. ''Selain filmnya bagus, juga ini kan tanggal muda dan hari minggu lagi,'' celutuk istri.

Awak Posmetro terkesan banyak yang jarang nonton, apalagi sekarang Bioskop 21 telah pindah ke Nagoya Hill. Bioskop ini sangat tepat waktu. Malahan, pemutaran 18.45 WIB dipercepat jadi 18.35 WIB, karenannya banyak yang tak tahu hingga telat masuk, padahal sudah lama menunggu di Godiva. Kalau kami sekeluarga, memang ada ritual khusus sebelum masuk studio, ke WC buang hajat. Nah, baru mau melakukan itu saja, sudah ada pengumuman disuruh masuk studio.

Lantas, apa yang bisa dibawa pulang setelah nonton Ayat-ayat Cinta? Hmm...banyak yang harus dibawa, sehingga saking banyaknya saya harus berpikir keras untuk mengingat (maklum sudah niat akan ditulis di blog). Cuma satu kayaknya yang sangat perlu kita renungkan, yakni ikhlas.

Jadinya, film ini sama saja tujuan temanya dengan film Kiamat Mau Dekat (maaf jika salah judul, tapi yang jelas karya Deddy Miswar dan sudah juga ada sinetronnya). Tujuannya mencari ilmu ikhlas (ingatkah Anda ketika si Andre Stinky untuk menikahi anak Deddy Miswar diminta cari ilmu ikhlas dulu. Dia mendapatkannya dengan mengalahkan mahasiswa Alazhar yagn tinggi pengetahuan agamanya. Teman-teman si Andre, sampai-sampai mengangkat semua buku, papan, dan apa saja yang ada tulisan ''ikhlas'' nya).

Lihatlah jugalah di Ayat-ayat Cinta ini, ketika Fahri (diperankan Fedi Nuril) yang kuliah S2 di Alazhar, Mesir justru mendapatkan ilmu ikhlas di dalam penjara. Setelah itu dia dapatkan dari hati istrinya, Aisyah (Rianti Cartwright). Juga dari Maria (Carissa Putri), gadis Kristen yang mencintainya diam-diam.

Hmm...saya tak bisa berpanjang-panjang untuk menjelaskan. Bagi saya, ini film bagus, dan saya beruntung, tidak membaca bukunya terlebih dahulu, melainkan menontonnya. Soal bagaimana Islam dijelaskan di film ini, hmm...Anda nonton saja ya. He..he...

Selengkapnya...

Selasa, Januari 22, 2008

Otomatis Romantis: Wajib Ditonton Jurnalis

Photobucket

''Ini baru bagus. Ada yang bisa dibawa pulang. Beda banget dengan Merah Itu Cinta.''

He..he..istri saya berkomentar dengan nada senang saat keluar dari pintu Studio 4, Studio 21 Nagoya Hill, Batam, sore tadi 16.35 WIB. Jauh lebih senang dan puas, ketimbang tiga hari lalu menonton Kawin Kontrak. Lalu, kok dibandingkan istri dengan Merah Itu Cinta? Hmm...karena pemain utamanya sama, Marsha Timothy. Hii..hii...

''Cantik kali ya, Yah, si Marsha. Permainannya pun lebih hebat di film sekarang ini.''

Saya mengiyakan. Tapi saat di kursi D11 yang saya duduki dan istri D12, saya menyebutkan beberapa hal. Marsha (memerankan tokoh Nadia) bermain seperti Dian Sastrowardoyo di film Ada Apa dengan Cinta. Utamanya, saat Dian kesal karena dicuekin Nicholas Saputra, persis seperti kesalnya Marsha ketika menceritakan kepada kakaknya Nabila (Wulan Guritno) dan adiknya (lupa nama tokoh dan pemerannya nih, maaf) tentang bagaimana dia memaksa mencium Tora Sudiro (memerankan Bambang). ''Malu, malu. Dia mengucapkan astagfirullah.'' Begitu ucap Marsha, nyaris sama dengan ucapan Dian ''Jutek banget tuh cowok...''

Suara Marsha pun, saya pikir nyaris sama dengan Dian (maaf, baru pertama kali ini saya nonton aksi Marsha). ''Tapi cantik banget Marsya ya, Yah.'' Hmm...istri mengulang lagi pertanyaannya. Saya mengangguk lagi. Namun hati masih bertanya, adakah ini kebetulan inspirasi saja?

Tapi yang jelas, secara umum film ini memang bagus. Lebih humanis, setidaknya menurut ukuran saya. Marsha yang Pemimpin Redaksi (Pemred, aneh juga ditulis di pintunya Pimpinan Redaksi), ternyata meskipun punya jabatan tinggi, tak digambarkan tinggal di apartemen mewah sebagaimana film-film Indonesia lain. Dia tetap tinggal dengan ortu di rumahnya. Dan selalu disuruh cepat nikah oleh ayahnya (diperankan Tarzan) dan ibunya (diperankan Chintami Atmanegara). Lalu ada waktu, saat makan bersama (khas Indonesia), dan ada gambar mereka sekeluarga lagi nonton tv dengan kaki berada di atas kursi. Indonesia banget...

Tora eh Bambang pun, memberikan warna tersendiri terutama bagi saya yang masih menganggap berjiwa jurnalis meski tugas kantor sekarang lebih banyak ''mengurus'' usaha. Bambang yang staf administrasi dan telah dapat ''durian runtuh'' jadi model majalah, tetap ingin menjadi reporter. Meskipun Marsha menganggapnya remeh, karena Bambang berasal dari majalah kelompok tani di Yogyakarta.

Karena jiwanya yang jurnalis itu, tetap ingin menulis laporan, dan berfikir sederhana tentang tips-tips kehidupan (bahan utama di majalah pimpinan Marsha) membuat Bambang menarik perhatian Marsha. Termasuk tidak memanfaatkan kesukaan pimpinan, untuk menjadi orang yang tinggi hati. (walah, susah pula menjelaskan sisi ini...)

Lalu di mana si Tukul Arwana yang membuat saya dan istri sudah lama menanti film ini sejak diumumkan akan diputar 18 Januari lalu? He..he...si Tukul memainkan Tukul dirinya yang kita lihat di Empat Mata (Trans 7). Dia pakai nama Dave, tidak Reynaldi. Tapi kehadirannya, tidak sekedar lewat, melainkan menambah lucunya film ini tanpa terganggu cerita utamanya pada Marsha dan Tora.

Hmm...akankah film ini bisa mengulang sukses Ada Apa dengan Cinta yang diputar tahun 2002 lalu? Adakah siklus enam tahunan untuk makin boomingnya film Indonesia? Waktulah yang berbicara. Tapi sang sutradara Guntur Soeharjanto dan penulis skenario Monty Tiwa sepertinya ''berdoa'' film ini sukses besar, karena endingnya hanya teriakan Alhamdulillah oleh Tora, dan senyum manis Marsha saat berjalan di ruang redaksi.

Teriakan Tora bisa diartikan dua. Pertama, bersyukur karena disuruh Marsha menulis artikel. Atau yang kedua ini, teriakan gembira ketika dia tahu, Marsha benar-benar cinta padanya.

Saya pilih yang mana? Terserah penulis skenario dan sutradara, tapi memang film ini pantas ditonton siapa saja, apalagi jurnalis. Wajib kali... ***

Selengkapnya...