Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 27, 2008

Semuanya Jadi Orang Marketing


Pagi tadi saya dapat pelajaran marketing berharga. Tak sekedar teori dari buku, atau majalah marketing yang saya langgani. Tapi isu buku dan majalah itu saya temui di Bank BNI, Gedung SPC, Batam Center.

Benar-benar seluruh karyawan dijadikan orang marketing. Mulai dari Satpam hingga karyawan lainnya. Saat buka pintu, Satpam langsung bertanya, saya jawab mau buka rekening baru. Lalu disuruhnya saya duduk di ruang antri, tapi kemudian diberikannya formulir isian. ''Wah, kok tak langsung ke meja CS.'' Pikiran saya begitu. Di konter CS, cuma ada satu tamu dilayani, sedangkan di kursi antri, tak ada yang lain, saya saja.

Ternyata, sebelum selesai semua isian, Satpam itu (maaf, tak sempat saya lihat badge namanya), lalu menyuruh saya ke meja CS. Wah...wah, ini maksudnya. Supaya saya jangan kelamaan nunggu, dan dalam penungguan, juga bisa mengangsur isi formulir.

Saat di CS, baru makin tahu saya, cepat pelayanannya. Tadi sempat ngutuk di hati juga, payah juga isi formulirnya nih. Banyak tanya, dan ada empat lembar lagi. Saat di CS, petugasnya, ini namanya sempat saya lihat badge-nya, Erwin, langsung memandu, yang mana diisi dan tidak.

Malah keramahannya pun jadi panjang. Sehingga saya bisa tanya, bagaimana cara bagus menabung atau investasi di tengah situasi jelang krisis ini. Pak Erwin, memilihkan saya tiga pilihan setelah diuraikan beberapa hal. Tiga itu, satu beli dolar Singapura, beli emas, atau bisnis rental mobil.

Saat saya tanya soal dinar Irak. ''Pak Ade kan tak buru-buru ke kantor kan?'' katanya. Saya yang malah balik bertanya,''He..he.., bapak punya waktu tak berlama-lama saya di sini.'' Pak Erwin melirik ke belakang punggung saya. ''Belum ada nasabah lain,'' katanya.

Berlanjutlah. Hingga saat membereskan agar bisa SMS Banking dan Internet Banking pun dipandu hingga ke ATM. Bahkan malah saya sempat salah pencet, ketika ganti PIN. Juga terbantu. Dan sebelum pulang, ilmu marketing yang ''bertujuan'' datang. ''Pak Ade di Posmetro permanen? Sudah punya kartu kredit BNI?''

Ha...ha..., saya sebutkan kartu kredit saya sudah terlalu banyak. Tapi jumlahnya empat tak saya sampaikan. ''Okelah, nanti kalau perlu hubungi saja saya. Ini saya tulis nomor telepon...''

Inilah ujung dari marketing itu, ''nembak'' prospek. Dan saya pernah baca di majalah marketing, bahwa BNI menetapkan bahwa seluruh karyawannya ''berhak'' jadi orang marketing dan bisa dapat komisi, bila mampu merekrut nasabah untuk memiliki kartu kredit. Dan saya sudah menemukan itu, pagi tadi.

Tapi, apakah jika saya sebutkan jabatan saya, Pak Erwin, akan melayani saya seperti seorang nasabah yang paling berpotensial? Ataukah, dia segan karena saya orang koran? Ini percakapan saya saat ditanya jabatan.

''Bapak di Posmetro di bagian apa? Wartawan?''
''Tidak pak. Saya di divisi usahanya''
(Pak Erwin langsung menuliskan di komputernya ''divisi usaha''. Juga dia lirik formulir yang saya isi, juga tertulis ''divisi usaha'')


Nah, Anda bisa menyimpulkan sendiri ya...apakah dia benar-benar bertindak marketing bukan karena saya siapa-siapa atau karena saya siapa-siapa. Wah, pusing juga kalimat ini ya...maaf...

Selengkapnya...

Senin, Mei 19, 2008

Pintarnya Timezone Membaca Pelanggannya



Hari minggu atau hari yang bertepatan dengan liburan nasional alias tanggal merah, akan menambah tugas baru saya. Mengantar dua gadis kecil saya, ke Timezone. Betapa tidak, tempat permainan itu makin dekat saja dengan rumah. Bisa ke sana, naik motor, tanpa helm pula dan tak perlu takut dirazia, karena masih di kawasan komplek rumah.

Maka, datanglah kami bertiga sore kemarin. Sudah dua kali datang, dua kali gagal, karena Timezone di Star Trade Center (alias STC Mall) di Sekupang itu, masih belum opening. Tapi kemarin, malah, sudah terlewat tiga hari dari openingnya. Wow, yang datang ke sana membludak.

Sayang, saya dan anak saya kecewa. Karena ternyata, Timezone di sini, alat permainannya pakai koin semua. Tak ada yang pakai gesek. Sehingga, bagi kami tidak efisien, yang memiliki kartu dan masih ada saldo saat isi di konter lain. ''Karena jauh dari kota, makanya di sini lebih cocok pakai koin mas. Sudah perintah dari pusat,'' ucap karyawan laki-laki, saat saya tanya.

Hmm...kadang tersingggung juga, jika Tiban atau kawasan Sekupang, sering disebut jauh dari kota. Tapi tak apalah, toh kami yang bermukim di sana tetap merasa dekat ke kota, dan lebih alami lagi alamnya. Namun yang mengusik saya, ternyata memang tepat pilihan Timezone untuk berkoin di STC.

Maaf, pasarnya terlihat menengah ke bawah. Bayangkan saja, banyak orang tua terkesan baru pertama kali ke Timezone. Mereka duduk di kursi tempat bermain game, padahal dia atau anaknya tidak memainkan mesin. Bahkan, ada juga ibu yang mendudukan anaknya di mobil-mobilan, tapi justru sengaja tak memasukkan koin, karena dilihatnya, tak ada orang lain yang bermain. Sehingga jika mereka yang ada duit, alias orang tua yang tak pelit, dengan duit Rp2.500, anak-anaknya sudah bisa bermain. Karena satu koin Rp1.250. Bandingkan dengan jika pakai kartu gesek. Pilihan isinya, kan mulai Rp10.000.

Kemarin terlihat, malah banyak anak-anak yang datang sendiri, tidak ditemani orang tua. Jadi, bakal cepat dah, tingkat perputaran duit di Timezone ini. Pintar...sungguh pintar...para pimpinan Timezone...***


NB: Sebelum di STC, Timezone juga sudah buka di Sagulung Mall, Batuaji. Di kawasan ini, sering dianggap remeh oleh para marketing karena banyak tinggal karyawan pabrik. Baru merek dunia Timezone yang berani masuk ke sana. KFC, Texas atau McDonal misalnya, belum berani masuk.

Selengkapnya...

Rabu, Mei 14, 2008

Pesan Nasi Padang Via Chating?


Saat hujan lebat mengguyur Batam, perut pun kelaparan. Padahal jam di komputer kantor baru pukul 11. Chating pun jadi pelarian penantian nunggu jadwal istirahat. Nah, timbul ide iseng. Bagaimana kalau pesan nasi padang via chating ya? He..he..ditanggapi serius oleh teman chating yang lagi berada di Hotel 89.

''Sudah ada di jakarta saya pernah baca artikel onlinenya pak tolong dicari'' Begitu teman chat itu menjawab. Katanya McD sudah melakukan cara distribusi baru itu.

Hmm...jadi ingat juga, isi Majalah Marketing, Mei ini. Majalah itu membahas soal banyaknya jalur untuk mendistribusikan barang. Saya tak bisa jelaskan di sini ya, beli aja majalahnya.

Maaf, tak bisa diperpanjang ya postingan ini. Sudah lapar kali, mau go home aja dulu. Belum ada rumah makan padang di Batam yang bisa pesan via chating...

Selengkapnya...

Minggu, April 06, 2008

Operator Mana yang Paling Murah?

Gebrakan operator seluler makin menjadi-jadi April ini. Terima kasih juga untuk Menkominfo baru yang bisa ''menggertak'' operator untuk turun tarif. Tapi, benarkah murah atau malah kita diakali trik marketing? Simak hitung-hitungannya di bawah ini

1.Indosat ( IM3)
telepon ke operator lain = Rp.25/detik untuk 90 menit pertama,
Rp.0.00000….1 = gratis untuk 90 menit berikutnya,
skema berulang untuk menit berikutnya. sebagai contoh hitungan menelepon selama 1 jam.
1 jam = 3600 detik dibagi 90 = 40 artinya selama 3600
detik, 1800 detik Rp.25 & 1800 detik Rp.0.0000….1 sama saja
terhitung Rp.25 X 1800 = Rp. 45.000. (dalam 1 jam)

2.XL ( Bebas )
telepon ke operator lain = terbagi dua perhitungan (
Jawa,Sumatera,Kalimantan,Papua,NTT,Ambon,Papua,Bali,Lombok) tarif
hingga menit ke 2 Rp.25/detik = 2 menit 120 detik = Rp.3000 setelahmenit ke 2 hingga menit 10 = 0.0000…1 = Gratis, tetapi setelah 10 menit
tarif Rp.10/detik dst. contoh hitungan dalam 1 jam = 3600 ( 2 menit
terpakai = 120 detik , 8 menit terpakai = 480 detik ) sisa 3000 detik.
yg tarif dihitung Rp.10/detik = Rp.30.000 belum ditambah 2 menit
pertama Rp. 3.000 total dalam 1 jam = Rp. 33.000.

3.Telkomsel ( PeDe )
telepon sesama & ke operator lain sama
tarifnya (Trik/Strategi yang menarik dengan jumlah pelanggan yg paling
besar) hitungannya. menit ke 1 = 25/detik, menit ke 2-5 Rp. 0.5/detik,
menit ke 6 Rp. 25/detik, menit ke 7-10 Rp.0.5/detik. skema lanjut
seperti itu (berulang-ulang). hitungannya dalam 1 jam yang Rp.25/detik
ada 12 kali ( benar dalam hitungan Pak Hendri ) 12 kali = 720 detik =
Rp. 18.000. sedangkan untuk yang hitungan Rp. 0.5/detik sisa 2.880
detik = Rp. 1.440 secara Total telepon 1 jam Rp. 18.000 + Rp. 1.440 =
Rp. 19.440

Dari ketiga tersebut silahkan dilihat tarifnya untuk hitungan PER JAM….

itu paling transparan….!!

sumber; blog.spotpulsa.com

Selengkapnya...

Selasa, Maret 18, 2008

Mbah Google ''Teken MOU'' dengan Blog Saya

Akhirnya, Mbah Google mempercayai blog saya ini untuk jadi tempat iklan yang mereka dapatkan. Biasanya, si mbah ogah dengan blog saya yang berbahasa Indonesia ini. Tapi dua hari lalu ketika iseng-iseng nempatkan HTML-nya lagi, oke, meski sempat tertulis ''kategori ini tak ada iklan yang cocok''.

Namun tadi subh, sudah terlihat iklan komersilnya. Dan tentu saja saya makin bersemangat menempatkannya ke sisi lain blog ini. Seolah-olah Google sudah menyetujui apa yang ingin saya kerjakan di blog ini. Kayak teken MOU. Hi...hi.. Malah bisa jadi Anda terganggu saat membaca blog ini kan? Tapi cobalah nikmati iklannya. Ternyata sudah banyak perusahaan-perusahaan Indonesia beriklan di Google. Ini tentu saja akan menjadi ladang baru bagi yang suka ngeblog. Apalagi yang isi blognya, berbahasa Indonesia.

Saya sendiri sempat iri, karena ada blog teman di Malaysia yang berbahasa Melayu, sangat mudahnya mendapatkan iklan Google. Lalu pernah juga terbetik kabar, Google akan buka kantor di Kuala Lumpur. Wuih...ngiler gua.

Tapi semoga dunia luar makin melihat Indonesia. Dan kita bangsa Indonesia, makin bisa ''menjual'' produk-produk unik milik kita di internet. Masa depan, perdagangan akan lebih banyak melalui internet. Internet malah mempercepat bisnis orang kampung tanpa perlu dia harus keluar dari kampungnya.

Ca ile...sok pintar saya ya. Udah aja ya postingan ini. Anda silakan saja bersama saya menikmati iklan-iklan otomatis dari Google yang tampil di blog saya ini.

Selengkapnya...

Sabtu, Maret 15, 2008

Tak Mau Jadi Monyet Lagi?

Photobucket

Entah di blog mana saya baca, tulisan tentang monyet. Katanya, monyet itu sering tidak fokus. Mudah dipengaruhi, terutama dengan makanan. Tapi monyet juga senang belajar sekalian praktek, hingga dia bisa fokus pada pekerjaannya. Misalnya, jadi topeng monyet, ngambil buah kelapa atau jadi pajangan di kebun binatang. Nah, saya pilih yang mana?

Pertanyaan itu mengemuka ketika saya bertemu cewek cantik. Namanya Anne Ahira. Saya jumpa dia di konter koran/majalah Cholas Media, di lantai basement Nagoya Hill Selasa atau Rabu lalu ya (maaf lupa). Dia kelihatan makin gendut kalau melihat wajahnya yang makin bongsor (aneh ya, cara penggambaran saya). Penghasilannya sudah ratusan dolar AS per bulan. Masih single lagi. Usianya pun, mungkin baru 20-an.

Siapa laki-laki yang tak ngiler? Hmm...tapi Anda jangan ngeres dulu pada saya (bagi yang belum tahu siapa itu Ahira). Bagi yang sudah tahu, eh Bang Ade, sok kenal. Iya. Karena sok kenal melalui Majalah WK (yang saya beli di Cholas itulah), maka saya akhirnya ikutan masuk dalam rayuan Ahira. Saya ikut kuliahnya. Karena sudah beberapa hari ini pun, dia sering kirim email. Hi...hi....

Ya, si Ahira itu internet marketer dunia asal Indonesia. Dia tinggal di sebuah kampung di Bandung. Saya sudah lama dapat informasi dia. Tapi baru kali ini saya benar-benar masuk dalam komunitasnya. Dan saya seperti orang yang memang lagi kasmaran. Semangat sekali untuk belajar.

Tadi malam, istri sudah melirik-lirik ketika saya asyik membuka pdf, kiriman Ahira. ''Ayah kuliah lagi nih,'' celutuk saya. Tapi ketika jam sudah pukul 23.30 WIB, saya tak tahan dan masuk peraduan.

Paginya, saya dengarkan suara Ahira memberi kuliahnya. Saya dapat kiriman mp3 dan video kuliahnya. Sambil manaskan motor dan mobil pun, saya tetap bisa kuliah. Hingga akhirnya terhenti, ketika dua gadis kecil saya ingin nonton kartun, dan terpaksalah laptop butut harus di shut down. Kuliah pun selesai.

Tapi sambil postingan ini, saya mendengarkan lagi kuliah Ahira, ketika saya bersiap-siap pula untuk meeting Sabtu di kantor ini. Lalu apa kaitannya dengan monyet? Ternyata pesan pertama kuliah Ahira itu adalah; praktek, praktek, praktek, praktek, praktek. Lalu, fokus, fokus, fokus, fokus, fokus. Nah, monyet aja gitu, dan bisa. Mengapa saya tidak? (hmmm...berarti saya ingin seperti monyet?)***

NB: Anda ingin tahu Anne Ahira klik www.asianbrain.notlong.com

Selengkapnya...