Pemerkosaan ~ sebuah blog yang tahu diri

Kamis, Desember 13, 2007

Pemerkosaan

Maaf, memang kata itulah, pemerkosaan, menjadi tema kegiatan saya siang hingga sore hari kemarin. Maaf bukan saya pelakunya. Juga bukan pengecer koran yang ''minta'' berita pemerkosaan itu selalu ada, atau juga nelayan yang belum juga nyaman nak berjalan ke kota.

Saat tur makan siang kemarin bagi pengecer koran Posmetro Batam di Batuaji, kata pemerkosaan dan perselingkuhan menjadi tema sentral. Berulang-ulang itu disebut. ''Pokoknya pak, kalau ada berita itu, laku koran kita. Pembeli saya selalu bertanya tentang itu. Kalau saya bilang ada, mereka langsung beli.''

Hm...tawa pun pecah. Bahkan mereka pun bisa menjelaskan analisisnya, mengapa itu disenangi. ''Orang dah bosan berita politik, atau berita korupsi pak. Tak ngaruh ke mereka. Lagi pula, kan sudah ada di koran Batam Pos atau Tribun, untuk apa sama dengan mereka.''

Terkadang malah, ada juga ''mendalam'' sekali analisa mereka. Bahwa mereka sendiri juga ''diperkosa'' oleh keadaan untuk mencari sesuap nasi. Karena itu, mereka pun belajar mempercepat lakunya koran. Atau mengetahui dengan tanggap apa yang dimaui pembaca. Bahkan, mereka juga siap menjadi pemberitahu pertama apapun kejadian yang ''laku'' dijual. ''Ini baru enak, dapat nomor telepon wartawannya.''

Hm..kebetulan, makan siang kemarin berbeda dengan tiga tempat sebelumnya karena dihadiri juga oleh dua petinggi redaksi Posmetro Batam, Haryanto (Redpel) dan Said Sirajuddin (Koordinator Liputan). Dan tempatnya pun lebih enak meski lesehan, di ruko biro kami, Komplek Batuaji Centre Park, Basecamp.

Lalu, di mana pula ''pemerkosaan'' pada nelayan? Nah, ini opini saya karena berbau rasa ketidakadilan saja dari penguasa terhadap penduduk sekitar Kampung Bagan atau Sei Daun. Jelang masuk ke kampung mereka, masih ada yang tersisa sekitar satu kilometer belum diaspal. Wow...tapi parahnya bukan ampun di musim hujan ini. Adakah, niat pemerintah mengaspal setengah hati?

Tapi masyarakat Kampung Bagan sendiri tetap saja bisa tersenyum. Apalagi Pak Atan, lelaki yang kami datangi rumahnya, karena telah mendapatkan ikan pari yang berjari tiga. Saat ditanya Said sudah berapa lama jadi nelayan, dia sempat gelagapan menjawab. Memang dia, tak pernah kerja lain kok. ''Sejak saya kecillah...,'' katanya.

Di akhir perjumpaan, dia berkata ini. Dan entah maksudnya apa, lalu ditimpali pula oleh kerabatnya.

''Semoga Pak Wali mau datang melihat ikan pari saya...''
''Manalah sempat Pak Wali ke sini, dia sibuk ngurus banjir...''


NB: Saat berjalan menuju rumah Pak Atan, pemandu kami menyebutkan, laut sekitar rumah mereka sudah berwarna lain, karena ada lumpur penggalian waduh duriangkang yang dialirkan ke sana. Dan itu, akan membuat susah mendapatkan ikan.

Tidak ada komentar: