Melayu tak Usah Dikotak-kotak ~ sebuah blog yang tahu diri

Sabtu, November 17, 2007

Melayu tak Usah Dikotak-kotak

Maaf, judulnya serius. Ini pasal berkaitan dengan kolom data kependudukan Kota Batam yang disebar ke masyarakat. Hari ini, baru saya ''tersadar'' ada yang serius ditanggapi. Ya itu, yang serius, jangan kotak-kotakkan Melayu.

Saya pun jadi malu pada warga yang mengajak saya berdiskusi itu. ''Kemarin nulis apa di kotak melayunya itu?'' Wah, saya lupa. Saat mengisi itu, saya lagi nemani anak belajar. ''Entah apa diisi istri saya pak?'' (Saya pun menyetop nulis, untuk menelpon istri. Katanya, dia hanya isi pilihan Melayu saja, tanpa embel-embel lain).

(Jadi ingat sekarang, saya suruh istri cepat isi dan serahkan formulir itu, karena saya mendengar ceramah Wakil Walikota Batam Ria Saptarika saat safari Ramadan di masjid kami di Tiban. Saat itu beliau mengingatkan formulir itu penting untuk menerapkan sistem SIAK. Pulang dari tarawih itu, saya langsung ingatkan istri untuk segera isi dan serahkan ke Pak RT. Dan saya tak ada mengecek lagi...)

Kembali ke diskusi dengan bapak tadi, katanya;''tak seharusnya di formulir itu Melayu dibeda-bedakan. Masak, ditulis ada pilihan Melayu Bangka dan Melayu lainnya. Sebenarnya cukup satu saja, Melayu, titik. Jangan-jangan kau isi Melayu Riau tak?''

Saya pun manggut-manggut malu. Malu tak memperhatikan kolom itu. Dan kini pun punya pandangan baru, mengapa beberapa waktu lalu, ada juga berita memprotes ''pembagian'' Melayu itu.

Si bapak mencontohkan mudah saja (ini pun saya yang menafsirkan). Seperti kalimat ini; kita orang Melayu, kita punya adat istiadat, tidak seperti orang barat sana. Kalimat ini nyaris sama dengan yang ini; kita orang timur, adat kita beda dengan orang barat.

Bagi si bapak ini, Melayu tidak sekedar hanya salah satu suku. Tapi Melayu sudah jadi budaya. (Maaf, dibagian ini, saya susah sekali menjelaskannya. Tapi saya paham maksudnya). Pahamnya itu, Melayu tak kenal mengkotak-kotak orang lain. Siapapun boleh masuk dan diterima di tanah Melayu ini. Lihat sajalah, apa yang terjadi di Kepri dan Riau saat ini. Di Kepri, orang dari seluruh Indonesia datang dan berkiprah membangun Kepri. Begitu juga di Riau -- apalagi Pekanbaru -- isinya mala dominan warga Minang.

Dan pertanyaan penting dari si bapak, jika memang tiap suku diperinci lagi, mengapa dalam formulir itu hanya Melayu yang begitu? Mengapa tidak ditanya juga, Suku Jawa, misalnya. ''Kan, ada Jawa yang Jawa Timur-nya, Tengah dan Yogya? Atau, Sunda, itu banyak juga macamnya. Kok tidak?''

Bagi si Bapak, hanya ada dua faktor saja mengapa ini terjadi. Pertama, pasti ada maksud-maksud tertentu. Yang kedua, yang tukang buat formulir ini bodoh.

Dianalisisnya yang pertama, dia tak melihat apa gunanya ini. Tak sampai juga pikirannya ini data bakal dimanfaatkan untuk pilkada. ''Kalau benar mau mencari melayu yang kepri, pasti sedikit. Entah apa gunanya ini,'' katanya.

Tapi kalau yang kedua. Dia menduga yang ini. ''Mungkin orang ini sok-sok pintar. Jadi dia perinci lagi Melayu itu dari mana saja.''

Hmm...saya pun hanya merenung (benar-benar merenung, kalau sudah diingatkan posisi saya ada darah melayu-nya dan asli lagi). Bagaimana ya, dengan anak saya? Ibunya dari suku Batak, yang mungkin kalau ada kolom di formulir jadi dicentang Mandailing-nya. Yang satu lahir di Kisaran, Sumatera Utara sana. Yang satu lagi lahir di Batam. Yang lahir di Batam ini, yang selalu saya ajarkan menyebutkan asalnya sebagai orang Melayu. ''Adek orang Melayu, kakak Taya orang Batak. We...''***

NB: Setelah posting ini, saya menemukan formulir itu setelah search ke google. Ternyata ada juga kolom Melayu Ambon, Melayu Deli, Melayu Siak/Riau. Kalau yang disebut di atas, itu hanya sebatas ingatan saat ngobrol ya...Klik di sini; http://www.riasaptarika.web.id/index.php/2007/09/22/informasi-siak-plus-2/

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Saya pun bingung atas keanehan pilihan melayu yang banyak gitu di formulir SIAK.

Smapai saat ini pun, dari dari Pemko Batam setahu saya belum ada penjelasan ilmiah atas pemilah-milahan tersebut.

untuk info tambahan tentang definisi Melayu pun saya banyak tau lewat situs ini http://ms.wikipedia.org/wiki/Melayu"

ade adran syahlan mengatakan...

ade untuk farhan: kabarnya, sebaiknya Anda tanya pada bos Anda, Ria Saptarika, dia yang pegang proyek ini kan? Dia Melayu juga kan? Sama dengan saya, dia asal Inhil saya Inhu. he..he...

Anonim mengatakan...

Bos saya tu melayu banjar...hahaha,...kalo saye melayu pulau terong....ade tak ye form melayu pulau terong??!!

Anonim mengatakan...

Bolehlah bile2 mase kite diskusi tentang SIAK tu, tadi malam tak sempat di YM Conference, sebab lagi bahas topic laen.
Thanks & Wassalam
Ria