Pendiam Ketulusan ~ sebuah blog yang tahu diri

Senin, Mei 29, 2006

Pendiam Ketulusan

''Malam Bang. Skrng jadi pendiam, kenapa ya Bang?

Ini pertanyaan kedua, dalam satu pekan terakhir. Yang pertama, ditanya secara lisan. Yang kedua, via SMS tadi. Yang lisan telah dijawab lisan. Mungkin membingungkan yang bertanya. Yang SMS, hanya dijawab, ''hm…''

Bicara soal pendiam, saya sudah hidup dalam lingkup sama tua dengan usia sendiri. Betapa tidak, saya menemukan hal tersebut dalam sosok ayah. Beliau begitu pendiamnya.

Terkadang kami adik beradik sulit menebak jalan pikirannya. Tapi yang pasti kami tahu, diam itu membuat ayah yang pegawai negeri sipil (PNS) tak ''kaya-kaya'' hingga saya pun tak berminat berprofesi sama.
Meski saya tahu, ayah bekerja lebih keras dibanding PNS yang bisa kaya.

Namun sekarang, kalau hanya sekedar diam, tak ''bicara'' sepertinya kita akan diinjak-injak. Banyak yang memanfaatkan ''diamnya'' seseorang, untuk terus menggali-gali sesuatu. Berharap didiamkan terus, dan bila perlu, yang diam justru akan kena getahnya.

Di sebalik itu, terkadang diam juga sebenarnya punya makna besar. Ini tentu bila kita punya visi dan aksi brilian yang mampu dijalankan dengan penuh keteguhan.
Ada mungkin pertentangan batin yang bakal menyelimuti hingga akhir perjuangan itu. Atau malah, mungkin kita akan jadi orang yang aneh. Berorkestra sendiri dalam lautan musik rock campur dangdut.

Ada yang memberikan benang merah bagi saya untuk diam tersebut. SMS-nya dikirim 11 Juli 2005 pukul 23.02 WIB,''ketulusan memberikan sentuhan kecil dalam perbedaan besar.'' Puitis sekali ya? Dikirim tengah malam pula.
Cari orang yang tulus itu susahnya bukan main. Dan mungkin sangat sulit menemukan orang yang tulus itu dibarengi dengan diam. Semula kelihatan tulus, tapi karena ada ''kepentingan'' akhirnya harus dikoar-koarkan.

Tegasnya, tak lagi jadi pendiam. Semua publik harus tahu, meski itu tetap diselimuti kata-kata tulus.
Dah banyak hal tersebut kita temui. Apalagi itu menyangkut hajat besar untuk sesuatu perebutan kekuasaan. Yang tulus terkesan tak ada lagi. Yang tulus tak lagi ditutupi diam, melainkan ''keterbukaan.''
Terkadang, kita semua jadi ragu sendiri. Ini benar-benar tulus atau tidak.

Malah kita yang menerima ''ketulusan'' tersebut, justru berharap akan banyak yang ''tulus-tulus'' lagi. Bila perlu tiap hari, karena kita tetap menyadari kekurangan dana untuk bikin ini dan itu.

Walau demikian, tetap saja selayaknya ada usaha untuk membangkitkan ketulusan dalam diri masing-masing.
Meski itu amat berat dilakoni. Termasuk bagi saya, yang harus tulus mengakui ada benarnya juga yang ''memprotes'' kolom terdahulu bertema meniru.

Simak saja kiriman SMS-nya yang saya kopi habis titik komanya. ’’Bila qta ingin dikenang maka jangan jadikan diri seorang pengekor namun berusahalah untuk menjadi seorang pelopor dan jangan pula jadikan diri seorang peniru namun berusahalah untuk menjadi seorang penemu, sekalipun temuan itu sederhana (setuju?). tetap berkarya & tq.

Ini kritisi yang tulus, karena saya tetap dibangkitkan dalam aroma kata-kata yang juga tulus, ''tetap berkarya''.

Dan lebih tulus lagi pengirim SMS-nya karena menginformasikan di mana gado-gado yang enak bisa saya dapatkan.

Sekaligus juga sindiran, ketika saya menyebut ''gado-gado gaya tulisan.'' ''Oh, ya, gado2 di jln Tengku Angkasa Bandung/dkat Unpad, dijamin enak!'' Hmm…mungkin memang saya harus cuti jauh menuju Bandung, tersebab banyak diam saat ini justru karena sulit melepas diri dari ''hingar bingarnya'' aktivitas dan tanggungjawab.

Saya harus belajar banyak lagi ketulusan dalam campuran gado-gado yang serasa sudah di lidah. Apatah lagi, Universitas Padjajaran (Unpad) adalah pilihan utama saat mengikuti tes UMPTN 15 tahun silam. Sayang, tak dibolehkan memilih karena gaji ayah yang PNS tak cukup untuk membiayai kuliah dan hidup seandainya lulus… *** (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 17-Juli-2005, 200 Klik)

Tidak ada komentar: