Guru-guru yang Mengabaikan Kata Depan ~ sebuah blog yang tahu diri

Kamis, Mei 08, 2008

Guru-guru yang Mengabaikan Kata Depan


Terbersit ingin memposting tema ini, karena lagi mengetik soal ujian Mid Semester II anak saya yang duduk di kelas II SD (tidak sekolah favorit). Saya ketik, lalu nanti diprint, tanpa ada jawaban. Ini ajang latihan bagi dia saat menghadapi ujian naik kelas nanti. Tapi sayang, pertanyaan di kertas ujian itu masih saja mengabaikan penulisan kata depan yang benar.

Hingga postingan ini dibuat, memang saya belum menemukan dari pertanyaan dari SD anak saya yang salah kata depannya. Tapi pertanyaan dari sekolah temannya (sekolah favorit lho...!?), yang banyak salah dalam penulisan kata depan. Misalnya ini; pertanyaan nomor 13 untuk pelajaran PKn; Apabila jujur dirumah, maka kita akan disayangi.... Yang mana salahnya? Kata depan ''di'' seharusnya, di rumah. Begitu juga untuk pertanyaan no 24; Contoh sikap disiplin disekolah adalah.....Yang mana lagi? Kata depan ''di'', seharusnya di sekolah.

Jadi ingat, di masa tahun 2000 ketika saya menegur pelamar kerja untuk reporter Batam Pos (tahun itu, ini nama pertama Posmetro Batam ya. Batam Pos yang sekarang, namanya dulu Sijori Pos). Dia sarjana sastra Inggris dari lulusan universitas ternama pula -- seharusnya tentu saja jago tata bahasa Indonesia, kan?-- ternyata juga lemah, dalam penulisan kata depan itu.

Saya sempat emosi juga waktu mengetesnya. ''Masak udah sarjana, tak tahu juga cara penulisan kata depan. Kalau menunjukkan tempat, di dan ke itu dipisah!''

Ternyata bukan satu dua orang saja pelamar yang begitu. Tapi rata-rata, sama salahnya. Sehingga sangat melemahkan penilaian ke mereka. Kalau tidak karena kebutuhan, dan pertimbangan lain, bisa-bisa tak dapat reporter malah kami saat itu.

Salah siapakah ini? Jadi ingat juga acara di zaman TVRI dulu. Kata nara sumber acara itu, kalau guru-guru salah, berarti guru-guru itu tak mau menambah ilmunya. Tapi kalau kesalahan itu, justru ilmu dasarnya, maka kesalahan itu ada pada dosen-dosennya (guru-guru udah sarjana semua sekarang kan?)

Hmm...tapi saya tak mau menyalahkan siapa-siapa untuk anak saya, jika salah menulis kata depan itu. Saya sudah mengingatkan, meskipun tetap saja dia sering lupa. Sama lupa dengan rumitnya pertanyaan untuk anak kelas dua, ketika pelajaran PKn, yang selalu ditanyakan soal musyawarah dan mufakat. Apa pula itu? Nah, rasakan saja, pada Anda yang sudah punya anak duduk di kelas 2 SD. Ha...ha...

NB: Teks foto: semoga mereka ini juga belajar cara penulisan kata depan, ya...(sumber foto: www.puribahasa.net

Tidak ada komentar: