Jika Anda ke Batam, jangan tanya nama jalan ketika mencari alamat. Banyak yang tak hapal. Malah bisa dikatakan, nama jalan tak perlu. Orang cukup menyebut alamatnya dengan ini; komplek anu, ruko anu, atau perumahan anu…
Meski sekarang Pemko Batam menggalakkan pemasangan papan nama jalan, tapi warganya sendiri tak hapal. Saat mengetik tulisan ini, saya lupa nama jalan depan komplek perumahan saya. Yang saya ingat, cuma Perumahan Tiban BTN Blok N-43.
Saya coba kontak istri per telepon. Jawabannya begini. ‘’Entah, lupa. Pokoknya nama pulau apa gitu…’’
Penyebutan nama komplek, ruko atau perumahan itu pun harus ditambah pula dengan nama kawasan. Misalnya, perumahan Masyeba. Itu ada di Tiban dan Batuaji. Malah, yang di Tiban pun dua. Begitu juga Perumahan Oma. Ada di Batam Center dan Batuaji. Kalau rumah tempat saya tinggal, udah sekalian dengan nama kawasan. Karenanya, pak pos atau kurir kartu kredit sangat mudah mengirimkan billingnya.
Malah, kalau tak disebut dengan lengkap seperti, Center Point, kita harus tanya begini, ini rumah atau yang mallnya? Kalau perumahannya, ada di Batam Center. Sedangkan yang mallnya di Nagoya.
Nah, itu pun belum cukup untuk dengan mudah menemukan alamat. Terutama untuk perumahan. Karena, akan ada lagi susahnya pencarian blok. Seperti pagi tadi, saya lagi cari rumah Mukakuning Indah I Blok P-10. Yang pertama, Mukakuning Indah I itu punya nama lain pula, Genta I. Eh saat cari Blok P, nyasar ke Blok BQ. Lalu saat sudah ketemui blok Q dan R, eh malah salah masuk ke Blok M.
Lalu putar sekali lagi, akhirnya jumpa Blok P yang berhadapan dengan Blok BQ. Ternyata, blok BQ justru perumahan lain, bukan Mukakuning Indah I. Wuih…saat keluar dari lokasi kami menemukan jalan mudah, ternyata rumah yang kami cari ada di belakang gerbang Perumahan Senawangi.
Oaalah….satu komplek perumahan ini sudah tak ada lagi batas, mana perumahan anu, dan anu….
Jumat, Juni 02, 2006
Jangan Tanya Nama Jalan
Kamis, Juni 01, 2006
Masa Kecil Dipertanyakan
‘’Ibu waktu kecil ada latok?’’
‘’Nggak.’’
‘’Kok gak ada sih.’’
‘’Jadi ibu tak bisa main latok?’’
Saya tersenyum geli, ketika mendengar celotehan si bungsu Rifa dengan ibunya. Latok yang dia sebut, maksudnya laptop. Hari-hari belakangan ini, Rifa yang baru berumur 3 tahun 2 bulan itu sudah pandai mengajari ibunya ‘’memanfaatkan’’ laptop tersebut.
‘’Pencet ini tuk lagu Samson.’’
‘’Coba, kalau bisa!’’
‘’Iya, ya. Pintar adek.’’
Program winamp selalu dipencetnya untuk dengar lagu kesukaannya. Kini Rifa dan kakaknya, Taya lagi senang pada Samsons. Dulu, Radja, tapi sudah ditinggalkannya.
Bosan dengan Winamp, Rifa dan Taya sering bermain game. Super Mario paling sering dimainkannya. Juga berbagai permainan yang berlevel-level. ‘’Adek udah level tiga,’’ begitu selalu soraknya bisa senang.
‘’Ibuk waktu kecil TK?’’
‘’Nggak. Tak ada TK di kampung ibuk.’’
‘’Kalau ayah…?’’
‘’Ayah TK.’’
‘’O..oo.’’
Istri saya tersenyum geli dengan pertanyaan itu. Eh, saya pula tadi pagi dipertanyakan yang besar soal beol di TK, pernah atau tidak. ‘’Ayah pernah gak beol di sekolah, waktu TK?’’
Saya kali ini tersenyum takut, karena pernah merepotkan guru dalam hal ini. Malah bukan hanya di TK tapi juga di SD. He…he…jadi malu nih, sama anak.
Mimpi Saya Sudah Dekat
Minggu sore 21 Mei 2006. Saya menjadi salah satu dari ratusan calon penumpang yang selamat mencapai Bandara Soekarno-Hatta. Hari itu, jutaan massa berdemo mendukung RUU-APP. Di sebagian besar Jakarta, jalanan macet. Tepat jam 11.30 WIB jalan memotong di depan Hotel Ibis Slipi terbuka, di situlah lempang jalan membuat supir yakin setengah jam sampai ke Cengkareng.
Meski jam kepulangan saya yang diburu 16.45 WIB, tapi karena teknologi reservasi online telah menetapkan saya diberi limit hingga pukul 12.00 WIB untuk bayar tiket, maka inilah harus dilakoni. Tepat waktu memang, meski harus ngos-ngosan mencapai loket tiket Garuda. Lalu apa yang bisa dilakukan menunggu empat jam?
Di bandara ini, biasanya saya bisa melihat wajah artis bersileweran. Tapi hari itu tak ada satu pun. Mungkin mereka takut keluar rumah, karena bukan pendukung RUU-APP. Yang saya ‘’temukan’’ hanya suami Moudy Koesnaedi, Erik Meijer yang juga pimpinan Telkomsel itu. Selebihnya tak ada. Hanya bisa ikut antri, membeli Roti Boy, yang kini jadi ngetren di Jakarta.
Tapi saat berada di ruang tunggu F2, saya menemukan lagi adrenalin mimpi-mimpi saya tentang sepak bola. Wuih, ternyata saya satu ruang tunggu dengan tim anggota Divisi Utama. ‘’Meski hanya’’ Persijap Jepara, tapi bagaimanapun ini kelasnya berbeda dengan PS Batam. Bahkan, inilah tim yang pernah ‘’didatangi’’ Yance Manusiwa, mantan pemain PS Batam untuk berlaga di setengah musim kompetisi.
Para pemain tim yang ‘’hanya’’ kita kenal karena ukirannya itu, memakai kostum seragam. Berwarna merah, dengan inisial dua huruf nama mereka masing-masing. Saya membayangkan, Yance pasti pakai YM. Atau saya beranikan bermimpi, kalau PS Batam lolos Divis Utama. M Arnold pakai MA, Suyet Komar pakai SK. Atau yang hanya satu nama seperti kapten Syahlan, pakai Sy. Atau Edi Nurdin sang pelatih pakai EN seperti Rudi Kelces pelatih Persijap dengan RK.
Kemudian saya membayangkan, satu pesawat dengan Persijap itu. Saya akan berdekatan kursi dengan RK yang wajahnya mirip paman saya. Tapi sayang, mereka justru terbang ke Palembang bukan ke Batam.
Buyarlah bayangan dan mimpi saya merasakan terus ‘’aroma’’ bau badan anggota Divisi Utama itu. Yang terbau hanya aroma Roti Boy yang saya tenteng dan ditenteng sebagian besar penumpang yang ada di F2.
Tapi saya yakin, tim PS Batam yang kini berada di Palembang telah merasakan juga aroma Divisi Utama dan Divisi I. Kota pempek itu punya Sriwijaya FC (Divisi Utama), dan PS Palembang (Divisi I). Bahkan mereka juga merasakan lapangan yang dimainkan dua tim tersebut, Stadion Bumi Sriwijaya. Dan juga merasakan ‘’diusir’’ dari stadion itu, karena dipakai tim berlevel tinggi tersebut. Hingga kompetisi Divisi II Wilayah I A harus dimainkan di Stadion Patra Jaya.
Dan aroma Divisi I bisa didapat saat ini, tanpa perlu menunggu tahun depan. Lolos dulu dua besar Wilayah I A yang berarti masuk 16 besar Divisi II nasional. Lalu bertempur pula dengan tim sama PSLS Lhokseumawe – kandidat kuat juara I A—serta dua tim lain dari Wilayah I B yang masih tim Sumatera antara Persih Tembilahan, Persires Rengat atau PSAP Sigli. Jadi dua besar saja di antara mereka, maka tahun depan Stadion Temenggung Abdul Djamal bergetar dengan kompetisi Divisi I Liga Indonesia sekaligus Coppa Indonesia. Mimpi yang nyaris berlaku sama, ketika saya menjadi reporter olahraga Riau Pos Pekanbaru melihat perjuangan PSPS dari Divisi II, Divisi I hingga Divisi Utama.
Wuih….adakah Ahmad Dahlan, Walikota Batam yang juga Ketua Umum Pengcab PSSI Batam bermimpi seperti saya?
(diterbitkan Posmetro Batam, 30 Mei 2006 dalam kolom Cakap Bola)
Senin, Mei 29, 2006
Setiap Langkah Maaf
“Tepis kritik tdk serius,Polda Metro Jaya tangkap dan tetapkan Hercules tmsk 12 anak buahnya sbg tersangka penyerbuan Indopos”
Saya terima SMS di atas tepat pukul 12.00, Jumat (23/12). Kiriman dari HaloGold 555 itu masih dengan bahasa yang menarik. Sekaligus sindiran bagi saya. Tersebab, untuk kasus berita itu sudah dua kali memakai jalur “mohon maaf”.
Pertama tahun 2004 yang akan susah dilupakan karena tujuh hari berturut-turut, full satu halaman lagi. Saat itu saya masih memakai baju “merah” Posmetro Batam. Yang kedua, 2005 ini. “Hanya” seperempat halaman. Baju saya sudah “biru”, Batam Pos. “Dah dua kali, De,kau minta maaf,” bos besar saya menegur. Saya tak takut lagi menghadapinya, apalagi bos menegur dalam ajakan makan malam pula.
Beda dengan setahun sebelumnya, berhalaman laporan harus saya buat. Belum lagi surat pernyataan. Dan seterusnya, menjadi studi kasus setiap pertemuan. Banyak yang bertanya mengapa berani “mohon maaf”? Saya sulit menjawab karena membawa nama institusi. Kalau pribadi, biasanya kiasan jawaban saya, apa repotnya meniru Gus Dur? Berani minta maaf! Mungkin banyak yang tak terima sikap saya.
Tapi dalam batas wewenang, saya berani menanggungjawabnya. Tak terkecuali apapun resiko dihadapi. Itulah pilihan yang harus dihadapi setelah mengeluarkan keputusan. Bagi saya, itu sama saja dengan keputusan untuk berani merantau ke Batam. Ada pertaruhan hidup-mati yang kelak juga akan diminta pertanggungjawabannya. Meskipun ada peluang “mentransfer” tanggungjawab itu pada yang berbuat salah. Namun Insya Allah tak akan dilakukan.
Tapi di sisi lain, saya mengalami perjalanan batin sendiri, tak bisa jugakah saya memaafkan diri sendiri? Belum bisa berbuat lebih untuk kolega, mitra, saudara atau pun orang tua. Maaf saya hanya baru dalam ukuran cari selamat menurut versi saya, bukan orang-orang sekitar saya. Maaf yang ada egonya!
“Labbaika Allahumma Labbaika... dgn Rahmat Allah SWT, Insya Allah kami akan berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Kami mohon maaf lahir dan batin jika selama ini ada kata dan perbuatan yang tidak berkenan di hati Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik. Semoga setiap langkah kita mendapat Ridho Allah SWT. Amin ya Rabbal’alamin.”
Yang ini baru saya menemukan jawab dari setiap pengambilan keputusan. Pada kalimat terakhir dari SMS kolega yang mau naik haji itu. Semoga setiap langkah diridhoi Allah. Juga minta maaf? (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 25-Desember-2005, 209 Klik)
Oleh-olehnya Mana?
‘’lah ado jual ganefo di Batam, mak. di dc mall”
‘’cubolah apo enak.”
‘’renyah jg.”
Itu petikan SMS dengan ibu yang biasa saya panggil mak, Selasa (13/12) sekitar pukul 16.30 WIB. Bukan menggunakan bahasa Minang. Ini gaya dialek orang Pekanbaru. Banyak pakai o, juga. Sering dibumbui, do, untuk beberapa akhir kalimat.
Yang dibicarakan tentang makanan. Ganefo sejenis kue yang rasanya asin. Terbuat dari ubi kayu alias singkong yang dicincang berbentuk dadu. Biasanya direbus dulu sebelum digoreng. Mungkin ada juga yang menjemur sesudah dicincang. Lalu diberi bumbu, seterusnya digoreng.
Ini jadi makanan favorit saya saat masih SMEA dulu. Saya pernah distrap dan ditempeleng kepala sekolah gara-gara cabut dari kelas untuk membelinya. ‘’Kalau di Pekanbaru memang namanya Ganefo,” celutuk si penjual saat saya keheranan sudah ada yang jual kue itu di Batam. Kalau di Padang, tempat asal si penjual, disebut ubi cincang.
Mengapa di Pekanbaru disebut Ganefo, dah lama saya cari jawabannya, tak ketemu. Mungkin bisa terkait dengan peristiwa Ganefo tahun 1962 di zaman Presiden Soekarno dahulu, entahlah jawab ibu. Tapi bila kue ini bisa dilempar-lempar – itu kami lakukan di sekolah makanya ditempeleng—, agak mirip juga dengan nama Ganefo yang sememang pesta olahraga mirip olimpiade.
Apapun namanya, saya bisa menikmatinya kini tanpa perlu lagi dikirim dari Pekanbaru. Sesuatu yang dirindu ketika menjauh dan menghilang, kini bisa hadir di depan mata dengan mudahnya. Saya yakin suatu saat, jauh lebih mudah menemukan Ganefo di Batam, dibanding Pekanbaru.
Betapa tidak, pulau Rempang dan Galang sudah mulai banyak ditanam ubi. Di Pekanbaru, daerah Kulim yang penghasil ubi, kini banyak ‘’ditanami” rumah dan ruko.
Bila melihat itu semua, masih banyak potensi besar yang dimiliki Batam. Bahkan bukan ubi, mangga pun kelihatan banyak ditanam di Barelang sana. Belum lagi sayur mayur. Bahkan tak sekedar di Barelang, di seputaran Tiban rumah saya, para ibu rumah tangga sore hari sudah bisa beli sayur lokal dari penjaja keliling. Mulai dari kangkung, bayam hingga daun singkong.
Makanya, tak heran bila justru di mall-mall, sayuran yang dijual bukan lagi didatangkan dari luar Batam atau luar negeri. Asli Batam itu. Cara pengemasan saja yang membuatnya terkesan seperti buatan luar. Soal harga? Mungkin karena dikemas jadinya sedikit lebih mahal.
***
‘’Nanti dibawakan kopi celup. Kali ini yang 2 in 1. Bukan kayak kemarin.” Ini juga SMS saya dengan ibu. Saya cari oleh-oleh yang ‘’aneh-aneh”. Sebelumnya ini lama disarankan Hasan Aspahani, sahabat diskusi saya. Tapi maaf, yang disarankan bukan kopi celup lokal melainkan luar punya, Singapura.
Semula dibeli dituntun Hasan via handphone di Top 100 Penuin. Selanjutnya saya bisa cari sendiri. Nah itulah, kini yang 2 in 1 pula rasanya. Saat dituntun dulu, belum yang komplit begini. Sebenarnya ada yang 3 in 1 tapi sengaja saya bikin bertahap. Biar ada kejutan dalam tiap oleh-olehnya.
Namun yang jadi pertanyaan saya, di mana ya, ada kebun kopi di Singapura? Mengapa pula saya asyik memburu kopi yang dikemas mereka? Bukankah masih ada kopi-kopi lain yang lebih nikmat? Tak bisa jugakah Batam berbuat sama, malah lebih bisa hebat karena masih banyak lahan?
Saya tak mau memikirkan jawabannya. Saya hanya mau mencari jawaban nyata dari tiap pertanyaan begini saat pulang kampung,”oleh-olehnya mana?”. Suatu saat mungkin Ganefo karena banyak lahan akan ditanami ubi, atau malah kopi Batam? Oleh-oleh tentu yang unik-unik, kan? Tapi kalau yang unik, justru kopi kita sendiri yang diolah dulu oleh orang luar negeri, bagaimana pula itu ceritanya? Jadinya, persis seperti iklannya HSBC yang menyindir kita semua, ‘’mari jelajahi keunikan Indonesia”. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 18-Desember-2005, 151 Klik)
Muda untuk Rakus Harta
‘’Manusia akan menua, tapi dua hal akan tetap muda baginya yaitu rakus pd harta & takut pd umur/takut mati.”
Saya menerima SMS ini pukul 23.23 WIB, Rabu (7/12). Kiriman dari Alquran Seluler yang mengutip hadist nabi itu jadi penyejuk. Setelah dari siangnya menerima SMS yang berbau negatif saja.
Dan saya susah untuk menghentikan cara berpikir pengirimnya. ‘’Mungkin ada udang di balik batu…” Atau yang lain.
‘’Kalau memang begitu, mengapa yang begini tidak bisa juga…” Dan ada pula yang lain. ‘’Datang lagi yang ketiga, kita siap-siaplah dimarahi…”
Sebagai orang yang tak merasa langsung, saya jawab dengan sabar, atau Alhamdulillah. Terkadang kita perlu ditunjukkan oleh Tuhan, hal-hal yang salah untuk bisa jadi berbuat benar dikemudian hari. ‘’Sabar ya. Inilah awal cobaan sesungguhnya bila memang nanti mau jadi besar.” Itu jawaban saya. Tapi dibalas pula. ‘’Yang dipegang janji, bukan hanya sekedar kehebatan kreasi.”
Maka jawaban saya seterusnya mengalir dalam untaian kata dan kalimat yang mengutip banyak pihak.
Mulai dari AA Gym, Ary Ginanjar Agustian, Purdie Chandra dan tokoh-tokoh lain yang saya lupa namanya termasuk pernah datang ke Batam, Krisna Murti dan terakhir ini Andrie Wongso. Entah di buku mana saya baca. Pokoknya, yang berbau-bau motivasi, itu yang terucap untuk menyambung SMS berbalas tadi. Eh, tanpa disengaja soal motivasi ini terkait pula dengan hajatan teman. Ada teman yang gelar seminar motivasi di Batam ini, selalu dihadiri ratusan orang.
Hebatnya, ratusan itu benar-benar bayar. Bahkan wartawan yang meliputnya pun harus pakai tiket (tentu sudah kerjasama dengan korannya). Meski pakai kartu pers, tak ada tiket seminar, tak bisa masuk. Contoh-contoh nama di atas, meski tak semuanya menyatakan motivator ulung negeri ini, yang dicari peserta adalah ilmu motivasinya. Lihatlah ketika AA Gym tampil di hotel, yang datang malah bukan muslim saja. Yang mereka cari, bagaimana AA Gym bisa memotivasi dirinya jadi pengusaha. Lalu yang diangkatnya ‘’Berbisnis dengan Hati” pula. Ruangan penuh sesak, bahkan ada peserta yang duduk.
‘’Orang-orang” AA Gym masuk pakai tiket juga. Belum lagi Ary Ginanjar dengan ESQ-nya. Tiket seminarnya saja berharga Rp1,6 juta hingga 2,7 juta. Peserta membludak hingga 500 orang. Hebatnya, dalam kurun waktu empat bulan terakhir ini, sudah tiga kali angkatan pula. Pesertanya didominasi level-level manajer ke atas.
Bahkan yang benar-benar ‘’bau bisnis” isi seminarnya tapi dengan tiket murah meriah, juga penuh sesak.
Apalagi provokasi judulnya bukan main, ‘’Mau Kaya, ya Jadi Pengusaha” Atau ‘’Cara Gila Jadi Pengusaha”. Yang gini-gini dimainkan Purdi Chandra dan kawan-kawan. Memang seminarnya hanya kelas Rp60 ribu, tapi keesokan harinya mereka buka kelas kuliah untuk jadi pengusaha. Biayanya Rp1,8 juta. Juga diminati.
Karenanya, di Batam banyak yang mengadakan seminar-seminar yang arahnya motivasi, baik untuk agama maupun bisnis, atau gabungan keduanya, benar-benar bayar tiket pesertanya, tetap bisa dijual. Tentu berbeda dengan seminar ‘’berbau” politik atau ‘’orderan” penghabisan anggaran pemerintah. Pakai SPJ pun menghadirinya, tetap tak full, dan banyak mengantuknya. Padahal untuk yang lain, gratis pula lagi.
Lantas kita berpikir. Semakin banyak yang memberi pencerahan motivasi ke Batam ini, mengapa juga tetap kita menemukan aliran pikiran selalu berbau negatif dalam setiap cara pandang kita? Di mana yang salah dalam saraf otak kita masing-masing? Adakah jadinya ini seperti simbol semata? Ketika seminar kita mengiyakannya, tapi keluar dari itu, kita mengiyakan melupakannya?
Atau mungkin kita memang seperti yang disampaikan Rasul, merasa muda bila untuk urusan rakus hartan dan takut mati? Apalagi ini Batam, tempat cari duit kan? Hingga aliran deras pikiran kita lebih dominan negatifnya. Entahlah! (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 11-Desember-2005, 170 Klik)
Bereaksi dan Tak Bereaksi
‘’Dlm HUT PGRI, Kalla tak terima dgn puisi guru yg sebut Negara lebih lindungi komodo. Guru jangan hina bangsa sendiri, ucapnya.”
Saya terima SMS di atas Minggu (27/11) pukul 12.51 WIB beberapa menit seusai menjadi moderator penyampaian resume rapat Ombudsman Riau Pos Grup di Hotel Pusako, Bukitttinggi, Sumatera Barat. Seusai acara, bersama rombongan konvoi menuju Pekanbaru menggunakan jalan darat. Pukul 17.15 WIB kami menyinggahi ‘’Bandrek House” – di pinggir hutan Kabupaten 50 Kota arah ke Pekanbaru – lokasinya mirip hutan Genting Higland.
Sambil menikmati menu bandrek lima dimensi, kami nikmati tayangan berita televisi yang menampilkan Wapres Jusuf Kalla pidato sambil marah-marah. Hmm, ini jadi pembenaran isi SMS tersebut.
‘’Kepala jasad M Salik, bomber Bali II akan dimakamkan di Jakarta. Pasalnya, Pemda Majalengka menolak Salik dikubur di kampungnya.” Yang ini diterima Senin (28/11) pukul 12.38 WIB saat hujan menghalang saya untuk survey ke mal-mal di Pekanbaru. Dua peristiwa yang diinfokan SMS kiriman Hallo Gold itu jadi ‘’modal” pembuka suara saat berjumpa ibunda dan dua teman lama.
Yang cepat direspon ibu soal guru. Ditimpali pula bual saya tentang Jusuf Kalla yang pernah dijumpai beberapa hari menjelang pengumuman kenaikan BBM. Ibu terkesan ‘’setuju” dengan Kalla. Tersebab, banyak para guru yang dikenalnya, rata-rata makmur hidupnya. Bahkan sudah seperti dosen, datang ke sekolah pas jam pelajaran saja. Tak perlu datang jam 7 pagi lagi.
Bagaimana dengan berita bom Bali? Yang ini sepertinya dibawa kesal, kok ada yang tega-tega beridiologi aneh begitu. Tapi peristiwanya menjadikan makin parah perekonomian dan ditambah kenaikan BBM. Yang naik BBM inilah, jadi perbincangan panjang saat bertemu dua teman lama satu almamater. Ya, kenaikan BBM berimbas pada usaha mereka yakni sebagai marketing asuransi dan penjual mie ayam.
Saya salut dengan teman penjual mie ayam. Gelar sarjana S-1 tak ada tampak sedikit pun saat dia meletakkan mie dan potongan-potongan ayam ke mangkok. Dari kaca etalase dia melirik calon pelanggannya. Saat dihidangkan, baru tahu, saya teman lama.
Meski hari hujan lebat, warung mie ayamnya ramai. Memang tak seramai bila hari terang benderang. Namun di situlah kesempatan untuk bertukar pikiran. Bagaimana dia berani memutuskan untuk tak bekerja pada siapa-siapa, melainkan pada dirinya sendiri. Menjadi pemilik, pemimimpin dan karyawan sendiri. Cuma yang bisa saya masuki dalam alam pikiran barunya hanyalah, bagaimana dia mendelegasikan tugasnya hingga ia bisa membuka satu dua cabang mie ayam lagi.
Semula dijawab dengan tak bisa. Takut rasanya beda. Pelayanannya beda. Diceritakannyalah, bagaimana dia punya pelanggan yang harus makan mie ayam di tempatnya, baru puas hati. Bila mie ayam dari tempat lain, maka ditolaknya. Namun setelah saya balik cerita perbandingan teman kuliah kami yang sekarang punya 36 toko mainan anak-anak dengan omset Rp1 miliar per bulan, barulah terbuka pikirannya.
Reaksi terbuka pikiran itu, malah bukan hanya sekedar bisnis mie ayam saja bakal dilakoninya. Juga bisnis pulsa dan bimbingan belajar. Bisnis pulsa karena dia telah lama memantau banyak anak kos sekitar rumahnya yang memiliki handphone, dan di rumah ibunya, masih ada ruang kosong bisa digunakan. Bimbingan belajar, karena calon istrinya, seorang guru dan masih ada ruang kosong lagi di rumah. Tersebab, kini hanya dia dan ibunya yang tinggal.
Lantas apa nasehat saya yang harus dilakukan pertama? Tentu jawabnya mudah, menikah dulu. Alasannya, banyak teman saya, baru niat menikah saja rezeki datang bertubi-tubi. Si teman pengusaha mie ayam itu tertawa ngakak.
Saya tersenyum geli mengingat ini semua. Kalla bereaksi cepat saat di acara formal, dan berani marah-marah pula. Eh, teman saya baru saya ‘’ceramahi” dari mengutip ceramah orang, juga segera bereaksi percaya diri. ‘’Udah tukar cincin aku,” tegasnya setelah menghentikan tawanya. ‘’Besok aku beli cat. Warna merah untuk jual pulsa cocok itu,” katanya pula.
‘’Bang, pa kbr? Kpn ada waktu kita discuss ttg bisnis. Oh ya, sy skrg pake no ini.” SMS ini diterima Rabu (30/11) pukul 14.55 WIB saat baru tiba di Batam lagi. Ya, rutinitas Batam dengan semua yang ‘’berbau” bisnis, masuk lagi. Dan SMS tersebut, baru terjawab di sela-sela menulis kolom ini. Hmm… (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 04-Desember-2005, 163 Klik)
Ragu-ragu Rezeki
'’Bang, kalau ada waktu tengok aja rumahnya hari ini.
Murah kok. Nanti tanggal 5 saya ke Batam, kita
ngobrollah.”
Saya terima SMS tersebut pukul 20.39, Jumat (25/11). Seorang sahabat yang sudah banyak jadi mantan pada berbagai perusahaan. Termasuk mantan mitra saya. Namun untuk silaturahmi antar pribadi, tidak mantan.
Bahkan saat saya ke Jakarta, dia mau menemani makan mie goreng kaki lima di sebelah Hotel Ibis Slipi, Jakarta. Kembali ke Jakarta di kampungnya sendiri, tapi hatinya tetap di Batam. Betapa tidak, rumahnya dikontrakkan. Dan karena ‘’kepepetlah” harus dijual. Sayalah yang ditawari, bahkan dengan penuh cara kekeluargaan. Bisa beberapa kali bayar.
Huh, saya yang dibuat ragu. Ragu itulah yang menjadi ‘’kerja” saya belakangan ini. Ragu memutuskan sesuatu di tempat kerja. Ragu memutuskan sesuatu untuk masa depan, namun harus diputuskan masa sekarang. Atau malah menerima ragu-ragu dari berbagai pihak yang saya diminta untuk memberi saran. Eh, saran saya juga penuh keraguan. Uniknya, keraguan saya dan teman itu selalu banyak menyangkut rezeki. Baik langsung atau pun tidak langsung. Terkadang aneh juga memandang hidup ini. Ketika dapat jabatan enak, eh, kita ragu dengan kemampuan.
Ketika sudah dirasa, eh, kita ragu dengan pendapatannya. Ketika pendapatan oke, kita ragu dengan kemampuan orang yang jadi mitra kita. Begitu seterusnya, ragu muncul terus. Kadang yang ditakutkan keraguan tersebut akan berujung pada prasangka. Saya terkesimak sendiri ketika kiriman SMS Alquran Seluler mengingatkannya. ‘’Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda: Jauhilah prasangka karena prasangka itu informasi/ucapan yang paling dusta.” Malah bisa jadi karena prasangka itu, kita memangragu dengan diri sendiri hingga orang lain.
Malah tak bisa jauh, ragu pun akhirnya terwujud sendiri. Ragu sukses, ya, gagal. Ragu menang, ya, kalah. Ragu untung, ya, rugi. Khusus untuk ragu untung, ragu rugi ini pekan lalu saya dapat pelajaran berharga dari sebuah seminar yang saya ikuti. Kata dua pembicaranya, kalau sebagian besar pikiran kita ragu dapat untung, ya, memang usahanya akan rugi. Karena pikiran, katanya, akan secara bulat mensugesti (ini bahasa saya) dalam kenyataan. Tersebab, pikiran itu akan membuat kita jadi pesimis, yang meloyokan kita untuk optimis.
Yang tergambar dalam gerak kita mencapai untung itu, yang tak dinamis. Yah, begitulah seterusnya, yang pokoknya negatif. Saya mengasumsikan sendiri cara pandang seperti itu dalam melihat orang buta. Pernah suatu kali saat sholat Ashar di Masjid Raya, saya lihat orang buta dengan gagah berani mengambil shaf terdepan.
Dia hanya dituntun tongkatnya karena tongkat dan kakinya tak merasakan lagi ada karpet, disitulah dia berhenti dan tanpa menyenggol jamaah lain. Saya malu sendiri, saya justru mengambil shaf di tengah, padahal ruang kosong di depan bukan main banyaknya. Lalu bagaimana ragu yang terkait langsung dengan rezeki? Uniknya, Kamis dan Jumat (24-25/11) saya menerima SMS yang terkait itu.
Yang pertama ini,”Tuhan melapangkan/menyempitkan rezeki bg siapa yg Ia kehendaki. Tiada apapun yg kamu nafkahkan yg tdk digantiNya. Ia-lah sebaik2 pemberi rezeki.QS.34:39.” Yang kedua panjang mengutip Sabda Rasulullah SAW tapi saya persingkat begini,”…Dan Allah selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. HR Bukhari-Muslim.” Haruskah kita terus ragu dengan diri kita sendiri atau orang lain? Mungkin sulit menjawabnya. Maaf, tak terkecuali saya sendiri. Apalagi masuk SMS yang mirip dengan tawaran rumah di atas. ‘’Jadi beli barangnya? Bisa DP 35 jt, sisanya dua bulan lagi.” Ya, Allah bagaimana menjawabnya? (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 27-November-2005, 203 Klik)
Belajar Mengejar Ilmu Ikhlas
”Coba pak minta bantuan Aripin. Itu bisa cablenya atau didisablekan networknya.”
Saya menerima SMS di atas tepat pukul 8.41 WIB, Sabtu (19/11). Sudah sampai di ruang kerja pukul 8.15 WIB. Terbuang sia-sia waktu 26 menit hanya untuk memulai mengetik tulisan ini, karena jaringan online di komputer ngadat. Uniknya, hanya milik saya.
Tapi syukurlah, SMS tadi justru membuka mata saya untuk menjadikannya alinea pembuka. Kalau tidak, mungkin lebih dari 26 menit untuk mendapatkannya. Sama terkadang, agak sia-sia menunggu pukul 21.30 setiap Ramadan lalu, hanya untuk menyaksikan ‘’Kiamat Sudah Dekat”, tapi nyatanya sering molor 15 hingga 20 menit. Namun apa yang didapat, sungguh tak sia-sia dengan kesabaran tadi. Dan inilah yang hendak dibicarakan, ilmu ikhlas.
Pengalaman pribadi saya memaksa untuk belajar ilmu ikhlas yang ‘’disindirkan” Dedy Miswar dalam sinetronnya itu. Betapa tidak, ketika saya harus menerima berbagai keputusan dan kebijakan dari pimpinan dengan lapang dada, meski sebenarnya pembahasan sebelumnya lain. Atau ketika banyak hal harus saya ketahui, tapi nyatanya tak ada yang menginformasikan. Atau malah, ketika saya harus menyerah mengambil keputusan, minta yang di atas untuk mencari jalan keluarnya.
Sepertinya memang benar selalu diingatkan para alim ulama, satu bulan Ramadan hanyalah arena kawah candradimuka. Yang lebih berat dari itu adalah, 11 bulan berikutnya. Eh, baru beberapa hari lepas dari Ramadan, justru yang dihadapi kita lawan dengan ketidaksabaran dan keikhlasan (utamanya saya).
‘’Udah, nonton aja Kiamat Sudah Dekat, sekarang tiap malam Jumat jam 20.30 WIB.” SMS ini jadi hiburan penyejuk hati. Datangnya pun dari keluarga di Sumatera Utara atau Riau. Sama persis yang sudah saya sampaikan kepada beberapa teman, via lisan bukan SMS. Tapi apakah ilmu ikhlas itu?
Rasanya, kalau yang baru mau niat nonton itu sinetron, tak ngerti-ngerti. Saya sendiri pun kurang memahaminya. Ketika dialog Pak Haji dan Fandy yang menjadi puncak kemenangan Fandy merebut Sarah, tak terekam jelas di otak saya. Padahal adegan itulah diterimanya kebenaran ilmu ikhlas. Padahal juga sebelum disinetronkan, saya sudah menonton film layer lebarnya berkali-kali.
Makanya, ketika nonton terus sinetronnya dan telah melewati dialog Pak Haji dan Fandy itu, maka ‘’hilanglah” ilmu ikhlas tersebut. Yang terekam hanyalah suasana soal bagaimana kedua calon besan berebut ingin anak dan menantunya tinggal di rumah mereka. Atau adegan Saprol dan Kipli yang tak setuju ayah Kipli menikahi ibu Saprol. Mana ilmu ikhlasnya?
Sepertinya adalah, kesungguhan lalu disempurnakan dengan kesabaran yang diliputi kepasrahan Fandy berjuang merebut Sarah. Lalu ketika dia memainkan jurus untuk ‘’membelokkan” cara berfikir orangtuanya agar mendekati cara berfikir calon mertuanya. Atau bagaimana dia mengkombinasikan hal tersebut. Rasanya itu juga dirasakan Pak Haji, yang tak juga memiliki teori tentang ilmu ikhlas. Juga oleh lawan Fandy untuk merebut Sarah meski mahasiswa universitas ternama di Mesir sana.
Hah, benarkah itu ada di dunia nyata? Masing-masing kita akan mengalaminya sendiri. Dalam kadar yang berbeda-beda. Malah mungkin menurut pribadi kita, tidak dalam konteks ikhlas atau tidak, sabar atau tidak, pasrah atau tidak. Karena kita terus menjalani hidup ini hingga batas akhir, dalam gelombang emosi yang terkadang susah dikendali. Hanya orang-orang yang melihat kita di luar gelombang yang bisa mengingatkan.
Saya kutipkan SMS kiriman Aquran seluler ini 13 November lalu. ‘’Sahl bin Sa’d ra: Sabda Nabi: Siapa yg memberikan jaminan kpdku untuk menjaga lisan & kemaluannya, aku akan memberinya jaminan surga.” Astagfirullah! Maaf, saya juga masih belajar dan mengejar ilmu ikhlas. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 20-November-2005, 300 Klik)


