Cita-cita sebenarnya ingin jadi Insinyur Pertanian. Pulang kampung, jadi penyuluh pertanian. Membangun kampung. Tapi langkah lain, malah masuk SMEA. Kemudian terseret kuliah, eh, jadi orang kantoran.
Tapi sudah empat hari ini, saya malah jadi tukang bengkel sepeda dadakan. Si sulung Taya, yang baru sekitar dua bulan beli sepeda, eh mulai ngadat. Sebelum kini rantainya sering longgar dan copot, pernak-pernik lain telah rusak. Mulai dari rem, tempat air di depan dan lainnya.
Pagi-pagi baru bangun tidur -- tentunya telah sholat subuh tapi tidur lagi-- sudah mempreteli sepeda. Saya buka murnya satu per satu. Menarik rodanya ke belakang, agar rantainya tegang. Tapi keesokannya lagi, itu juga dilakukan. Sebabnya, rantai sepedanya memang kendor ditambah pula jari-jari roda telah longgar. Pokoknya, disebabkan beban sepeda yang keberatan karena anak saya sudah beratnya 32 kg.
Sepedanya itu sendiri terlihat kekecilan. Emang, sepeda itu dibeli dengan maksud supaya Taya bisa cepat bisa langsung pakai roda dua. Sebelumnya, sepedanya itu beroda empat. ''Harganya empat ratus ribuan,'' ujar pemilik bengkel
sepeda di Jodoh. Saya datang ke sana, karena ''ilmu'' bengkel saya, sudah kewalahan.
Saya lihat sendiri bagaimana dia menarik rantai. Memasang dudukan sepeda dan standarnya. Dari ilmu melirik itu, saya kini berani ''buka bengkel'' sendiri.
Teringat dulu, saat bapak saya masih pakai sepeda. Kalau rusak, saya yang membawa ke bengkel. Atau bapak yang bawa langsung sepulang dari kantor dengan menggereknya. Dan saya yang mendatangi bengkel itu menjemputnya.
''Bilang sama bapak kamu, ini sepeda akan terus rusak karena yang duduknya gajah.'' Saya tersenyum geli saat itu, karena bapaknya saya memang gemuk juga sedangkan sepedanya sepeda Sanky (udah jarang di zaman ini).
Kini saya ''mengomel'' sendiri saat mempreteli sepeda Taya. ''Emang sepedanya tak pas lagi, karena yang makainya, anak gajah!''
Taya hanya tersenyum. Hemmm...saya sendiri tentu saja mengaku ayah gajah! ***
Rabu, Agustus 23, 2006
Datuk Gajah, Anak Gajah dan Cucu Gajah
Senin, Juli 31, 2006
Debaran Pertama Lagi
Hari ini saya berdebar lagi. Meski niat yang direalisasikan sama dengan 6 November 2005 lalu, tapi hari ini, 31 Juli 2006, lain rasa debarannya. Dulu, saya berada di Kisaran, liburan Lebaran. Kini, niat itu ada di dekat saya, Batam, tapi saya sendiri tetap memantaunya dengan SMS. Berdebar.
Tak nak saya sebutkan apa niatan yang direalisasikan itu. Saya singkat saja PRH. Kelak, suatu saat saya buka juga. PRH jadi harapan baru dari niat-niat entrepreneur saya. Makin jadi tergugah lagi, karena seorang Himawan Mashuri, bos JTV menyampaikan kepada kami peserta rapat Jawa Pos Grup, 22 Juli lalu,''kita beruntung di grup ini, diajarkan jiwa entrepreneur.''
Hari ini debaran itu, mungkin tak seperti kisah mereka yang sekarang sudah sukses. Debaran itu, saya simpan sendiri dalam ruangan lantai 8. Saya tuliskan di sini pun, hanya untuk memperkecilnya. Harapannya, suatu saat, saya baca lagi, saya tahu sejarah PRH.
Nah...
Selasa, Juli 18, 2006
Kesunyian di Pagi Hari
Sudah dua hari ini sejak 17 Juli 2006, pada pukul 07.30 hingga 08.00 WIB saya sunyi sendirian di rumah. Si sulung sudah berangkat ke sekolah. Ibunya ngantar, eh, si bungsu pun ikut. Padahal, biasanya saat masih TK, berangkat sama dengan saya, atau sendiri, si sulung jalan kaki mulai pukul 08.00 WIB itu.
Ya, ini hari-hari pertama sekolah dengan ''naik tingkat'', SD, membuat sulung saya bisa bangun pagi lebih cepat. Biasanya, jam 7, eh sekarang jam 6 sudah bangun sendiri. Dulu, eh saya yang harus membolak-balik tubuhnya yang sudah mencapai berat 30 kg tapi baru 5 Juli lalu berusia 6 tahun.
''Adek mau sekolah juga. Adek langsung SD.'' Eh, si bungsu nyelutuk. Dua hari ini, dia menyiapkan keperluannya juga. Tas yang dibelikan neneknya, diisinya juga dengan buku, roti dan air. Bukunya, buku cerita barbie.
''Kakak boleh pergi dengan Kak Dibi aja?'' Yang sulung nyelutuk. Ibunya menggelengkan kepala. ''Beberapa hari ini, ibu yang ngantar dahulu,'' katanya.
Kak Dibi itu tetangga depan rumah yang sudah duduk di kelas lima. Anak saya memfavoritkan dia. Hingga dia pun ingin ke sekolah sekarang ini, SD 002 Sekupang yang hanya berjarak sekitar 250 meter dari rumah kami.
Tepat pukul 07.15 WIB mereka berangkat, saya tak mendengar atau terlibat langsung dengan keriuhan menyiapkan anak sekolah itu lagi. Jadilah menunggu mobil jemputan ke kantor hingga pukul 08.00. Hanya 15 menit saya merasa masih
''enjoi'' memindah-mindahkan chanel tv atau mandi. Pas 7.30 hingga 08.00 itu saya merasa sunyi. Mobil-mobil yang banyak di depan rumah pun, tak bersiliweran lagi. Seandainya, anak-anak makin besar akan lebih terasa sunyi? ***
Kamis, Juni 29, 2006
Alumni ESQ
''Aku percaya saja sama alumni ESQ'' Begitu ucapan seorang teman, ketika saya ajak kerjasama. Semoga Allah, men-deal-kan kerjasama kami.
''Apa mungkin kau berani? Kau alumni ESQ!'' Yang ini ucapan big bos saya. Ketika saya sodorkan kenyataan, mungkin akan memberlakukan PHK atau tidak memperpanjang kontrak karyawan.
''Udah bagaimana action dari networking alumni ESQ-nya?'' Ini jauh hari sudah diduga oleh sohib kental saya.
Wuih...hebat nian alumni ESQ? Entahlah, semua terpulang masing-masing. Saya yang ikut sekitar Agustus 2005 lalu (baca juga tulisan Ketidakpastian Adalah Rahmat) dan menjadi alumni angkatan pertama program ESQ Eksekutif Batam, cukup senang saja saat ini. Apalagi saya menemukan ''jalan'' untuk menyatukan apa-apa yang pernah saya dapatkan. ''Jalan'' yang bisa jadi sangat sulit benar-benar saya realisasikan.
Masih terngiang omongan pemimpin ESQ Leadership Centre, Ary Ginanjar, bahwa yang berat adalah action sesudah ikut ESQ. Karenanya, ketika ada alumni ESQ di Batam jadi tersangka korupsi, saya terus terang ''malu'' juga. Meski akhirnya, status tersangka itu kini telah divonis bebas. Tapi di sisi lain saya berpikir, mungkin disitu pula cobaan dari Allah untuk setiap alumni ESQ. ***
Kamis, Juni 15, 2006
Maaf, Saya Jagokan Inggris!
Maaf, pembaca! Seharusnya tulisan ini telah terbit sebelum tendangan pertama Piala Dunia 2006 dimulai. Tapi tak apalah, pertandingan masih banyak. Saya coba beranikan prediksi siapa yang juara kali ini. Maaf, saya jagokan Inggris!
Di buku Panduan Piala Dunia 2006 miliknya Bung Chris saya telah tuliskan itu, di sedikit kata pengantarnya. Alasannya sederhana saja, sekarang klub-klub Inggris sudah mengerti cara main ‘’sebenarnya’’ untuk kembali menjayakan tim nasional (timnas). Tak lagi murni kick and rush, melain bola-bola datar. Bola-bola datar itu, istilah ‘’ringan’’ saya, lho!
Lihatlah Chelsea yang mampu juara Liga Inggris. Lalu Arsenal yang tahun ini tembus final Champions. Atau jauh hari sudah lama dilakoni Manchester United dan Liverpool, bola-bola datar kan? Bukan melambung-lambung lagi dari kiper ke kiper?
Sungguh saya sangat senang, ketika David Beckham ‘’mengamini’’ asumsi saya. Beckham menyatakan, Inggris bisa juara bila mampu kembali ke jati diri. Ya benar, jati diri mereka permainan cepat ala kick and rush. Tapi si Beckham mengingatkan pula, ditambah dengan ‘’ilmu-ilmu’’ yang sudah didapat seluruh pemain.
Beckham mengakui, dirinya dapat ilmu baru karena mau merantau ke Real Madrid. Pemain lain, menurut pengamatan saya, dapat ilmu baru dari pelatih asing Arsene Wenger (Arsenal) atau pelatih timnas sendiri Sven Goran Eriksson (Swedia). Perpaduan itulah yang akan membuat Inggris kali ini berjaya.
Ingat, gaya kehidupan rakyat Inggris biasanya sangat klasik. Kalau tidak dikatakan terlalu formil. Pendamlah di benak Anda, gaya Pangeran Charles. Tapi anaknya Pangeran William, bergaya lebih funky. William pun menyenangi Beckham dkk sekarang. Dia mendatangi markas pemain dan ikut bercanda untuk memberikan semangat. Terutama untuk generasi muda seperti dirinya, Rooney, Crouch dan Walcott.
Wuih…saya tak bisa menjelaskan lebih detil mengapa harus Inggris saya pilih untuk juara. Bertahun-tahun sebelumnya, saya justru ‘’menyalahkan’’ pelatih timnas Inggris yang tak tahu jati diri pemainnya. Yang sangat lekat dengan gaya bola melambung-lambung itu. Ternyata waktu berjalan, klub-klubnya justru ‘’tahu diri’’ karena telah dimasuki banyak pemain dan pelatih rantauan. Justru klub yang mengerti untuk ‘’membina’’ pemain yang harus ngepas dengan timnas.
Memang, saat jumpa pertama Paraguay, Inggris beruntung dengan gol bunuh diri Gamara. Tapi moga-moga malam nanti saat jumpa Trinidad & Tobago, bisa berubah. Tanpa Rooney pun sebenarnya Inggris bisa lebih baik. Ada kampiun-kampiun lain yang bikin kita ngiler untuk merekrutnya bila punya klub dan kaya. Bayangkan saja, Lampard, Terry, dan Gerrard yang punya semangat juga untuk mencetak gol.
Pastilah Anda akan bosan bila saya sebut nama-nama lain, karena akan dipuja-puja juga. Tapi yakinlah, dan maafkanlah, saya tetap jagokan Inggris.(terbit di Posmetro Batam, 15 Juni 2006 di rubrik Cakap Bola)
Rabu, Juni 14, 2006
Batam Lepas dari Kota Terkotor
Walikota Batam, Ahmad Dahlan sekarang lagi senang. Batam bebas sebagai predikat kota terkotor seperti tahun 2005. Tapi saya justru memandangnya sinis. Karena bebas dari kota terkotor, bukan berarti Batam bersih, melainkan kota lain saja yang makin kotor.
Ibaratnya, pada tahun 2005 katakanlah nilai Batam 5, tahun ini sebenarnya bisa jadi 4. Tapi karena ada kota lain lebih kotor, katakanlah 2, ya, jadi kota itulah yang ''melemparkan'' Batam dari predikat terkotor. Saya berkeyakinan, Batam ''dibantu'' Bandung.
Tahukan, Bandung jadi lautan sampah? Sampai-sampai Presiden SBY sendiri harus ''memperingatkan'' Walikota Bandung untuk menyingkirkan sampah dari jalanan.
Tak ada yang bisa dibanggakan dengan lepas dari kota terkotor. Lihatlah hari ini, bukan hanya sampah di depan rumah saya belum diangkut, tapi juga jalanan yang banyak becek. Bukan oleh sampah memang, tapi pasir merah dan tanah liat yang terbuang dibawa air. Maklum, got alias pembuangan airnya belum lancar.
Karenanya, jika di kota Anda saat ini walikotanya lagi senang meraih Adipura, walikota kami lagi senang dahulu terhindar dari kota terkotor. Warganya? Mengeluh, tetap kotor, kok!**
Gemuk Sehat, Gemuk Sejahtera
Hari ini baru ada waktu lapang. Sejak Sabtu (10/6) hingga Selasa (13/6) waktu begitu sempitnya. Maklum, barusan siap mengikuti prosesi pernikahan adik bungsu di Pekanbaru. Kata orang, panitia lebih sibuk dan capek, sedangkan pengantinnya, keenakan. He..he..he..
Sebenarnya sejak Senin siang sudah berada lagi di Batam. Tapi kepenatan pesta pernikahan di Pekanbaru itu tetap merasuk ke tulang. Hingga masih loyo untuk kerja lagi. Bayangkan saja, tidur di ruang tamu, ramai-ramai. Dua gadis kecil saya dan istri harus rela selama dua hari tidur tanpa AC. Karenanya, ketika balik ke Batam, yang dikejar tidur dengan hembusan AC tersebut.
‘’Memang betulah. Kecil-kecil rumah kita, tapi enak juga di sini,’’ tutur istri saya. Yang dikomentari rumah type 36 yang masih KPR BTN itu.
Tapi saya protes ke istri, mengapa selalu susah bila tidur bukan di rumah sendiri. Sedangkan saya, tidur di manapun, termasuk rumah mertua selama dua minggu, oke-oke saja. ‘’Jangan banyak pikiran,’’ kata saya menasehati.
Eh, tadi siang, saya mengucapkan lagi hal sama ketika ada yang menanyakan, mengapa tubuh saya bisa tinggi besar dan beratnya bertambah terus. ‘’Ya, orang tak banyak pikiran.’’
Mungkin memang banyak orang di tahun 2006 ini ‘’menginginkan’’ saya kurus. Tersebab, banyak yang ‘’menganggap’’ saya lagi jatuh. Tapi saya tak merasa begitu. Saya hanya meyakini, amanah itu kadang datang dengan banyak, kadang sedikit. Dan tiap kali dititipi amanah, kita harus yakin, dia akan pergi dan berlalu saja.
Tapi syukurlah, amanah yang telah pergi dari saya, Insya Allah tak membuat orang-orang yang tetap ‘’menganggap saya biasa’’ akan berpaling. Sama seperti 2005, saya masih bisa antri bayar rekening PLN, ATB (air PAM) dan kini malah saya tambah dengan rekening telepon. Biasanya rekening telepon bisa via ATM, tapi karena ngadat, saya biasakan antrian di loket pembayaran.
Hanya KPR BTN saja yang saya tak antri. Tapi menarik uang gajian dari NISP tetap saya lakukan sendiri, sekaligus mentransfernya ke BTN. Juga transfer langsung ke Bank Riau atau bank-bank lain, di mana utang-utang uang plastik saya beredar.
‘’Eh bapak. Lagi ngapain? Sehat kan?’’ Itu yang selalu saya dapatkan bila bertemu teman-teman. Atau yang begini,’’Makin sehat saja. Gemuk badannya bertambah. Makin sejahtera, ya?’’
Saya tersenyum geli. Padahal, waktu di Pekanbaru, ibu saya justru menyatakan,’’kok agak kurusan?’’
Yang pasti, saya mengamini semua tentang gemuk yang sehat dan yang sejahtera. Semoga doa-doa mereka terkabul. Amien.***
Selasa, Juni 06, 2006
Berkat Yahoo! dan Milist EU
Kemarin dan hari ini saya sungguh senang. Yahoo! telah membantu saya untuk membuat tempat saya masih gajian, bisa dapatkan sesuatu yang lain terkait Piala Dunia 2006.
Bermula dari milist Entreperenur University yang saya ikuti. Ada salah satu anggota mengingatkan untuk santai sejenak pada Piala Dunia nanti. Namanya Mohamad Haris Vater. Dia lagi sekolah di Jerman. Saya kontak, via Yahoo Messenger (YM), eh, kami sepakat, Mas Haris nulis untuk koran tempat saya kerja, Batam News.
Saya kira, saya hanya akan dapatkan ide-ide untuk bisnis di luar kerjaan saya sekarang. Rupanya lebih dari itu. Makasih Milist EU, makasih Yahoo!.
Minggu, Juni 04, 2006
Gemuk Digemesin
Sebagai orang Melayu dari Riau Daratan, saya sering menolak atas pilihan kata-kata anak saya. Seperti Kamis (1/6) dia menyatakan, digemesin gurunya. ‘’Kakak digemesin guru kakak. Berat kakak, udah 30 kilo,’’ ujar Taya, gadis kecil sulung saya yang sudah TK.
Tapi untuk kali ini saya ‘’anggap’’ lalu saja pilihan kata gemes dan digemesin. Biasanya, saya protes bila dia menyebutkan ‘’sampai’’ dengan ‘’sampe’’, atau ‘’ramai’’ dengan ‘’rame’’. Dan satu lagi ‘’pandai’’ dengan ‘’pande’’. Memang ‘’e’’ juga diakhir kata, tapi bukan ‘’e’’ lemah seperti gaya Bahasa Melayu melainkan ‘’e’’ ke-jawaan.
Saya lebih fokus ke berat badan 30 kg tersebut. Gadis kecil saya ini baru 5 Juli 2006 nanti berusia 6 tahun. Sebelumnya berat badannya ‘’bermain’’ antara 25 dan 27 kg. Tapi ini sudah 30 kg, nyaris sama besar dengan ibu gurunya yang bertubuh mungil atau dengan ibu kandungnya sendiri.
‘’Bagaimana cara gemesnya, ibu guru itu,’’ kata saya.
Lalu dipanggilnya adeknya, Rifa. ‘’Dek sini dek. Kakak ditimbang kayak gini. Ibu guru lihat angkanya. Tiga puluh. Lalu dipeluknya kakak dari belakang. He…he…’’ Taya memperagakan dengan memeluk Rifa dari belakang.
Ibu guru itu juga pantas gemes, karena mungkin tak akan lihat Taya lagi di lingkup yayasan SD lanjutan dari TK-nya. Taya akan bersekolah ke SD Negeri saja. ‘’Capek kakak sekolah,’’ katanya.
Meski TK, Taya masuk jam 8 pagi pulang jam 12 siang. Biasanya kan TK, rata-rata dua jam saja kan? Karena itu, saya, istri dan ibu kandung saya (nenek Taya) punya kesimpulan, pilih SD yang pulangnya tak lama. Cukup SD Negeri saja. Kalau ikutan SD lanjutan TK-nya sekarang, bisa pulang jam 3 sore. Kasihannya, kami membayangkan dia capek sekolahnya.
‘’Ya, kakak SD 007 atau 002 aja. Nanti pergi sekolahnya jalan kaki aja, biar kurus,’’ katanya.
Eh, bagaimana mau kurus. Makannya saja banyak. Belum lagi tetangga yang beraneka ragam asalnya. Saban hari, gantian menu yang datang. Kemarin, pempek, yang lain hari soto medan, lalu tekwan, pecel, gado-gado dan lain-lain. Belum lagi yang instant, mie instant baik yang goreng maupun rebus atau memanggil Bakso Juventus kesukaannya. Itu pun nanti akan ditambah dengan nasi di malam hari. ‘’Laper kakak, ni,’’ katanya.
‘’Bukan laper, tapi lapar,’’ kata saya.***


