Senin, Mei 29, 2006

Rahmat Pikiran Terbuka

‘’Banyak org menganggap manusia sbg alat manajemen mencapai tujuan. Akibatnya, perusahaan bagai bus, banyak orgnya tp tdk trjd keterikatan batin di dlmnya.”
MALU muka saat menerima SMS di atas Jumat (2/9) pukul 9.17 WIB. Bukan hanya karena saya telah masuk dalam ‘’perangkap” rutinitas yang salah. Melainkan juga, saya sendiri turut melakoninya. Astagfirullah.

Tapi di manakah bisa memulai keterikatan batin, bila kita selalu dimasuki asumsi negatif setiap melihat, mendengar dan mengomentari sesuatu? Adakah jalan untuk merubah persepsi kembali ke positif? Atau bisakah setidaknya, memberi kesempatan kepada ide-ide baru yang disampaikan wajah-wajah baru?

Hari-hari saya belakangan ini selalu menerima SMS di atas. Bukan karena telah mengikuti komunitas ESQ. Tapi juga kiriman hadist-hadist dari Alquran Seluler juga sama. Nada-nadanya seperti hal di atas. Bahkan seminar-seminar yang saya ikuti juga ‘’menyindir” hal sama.

Sekitar Juli lalu – maaf saya lupa tanggalnya—Kafi Kurnia, jagoan marketing tapi punya buku berjudul Anti-Marketing mengungkapkan begini, terima dahulu pemaparan saya dengan open minded. Pikiran terbuka gitu, lho, maksudnya. Apa yang disampaikannya sejauh pengamatan saya, justru lebih banyak peserta tertawa dalam kecamuk wajah yang saya terjemahkan begini,”mah, itu marketing juga, malah marketing sebenarnya, bukan anti-marketing.”

Jika kita menyadari, Kafi telah mengingatkan open minded tadi. Memang yang dipaparkannya adalah orang-orang yang tak sekolahan tapi justru menerapkan ilmu marketing sebenarnya. Tak berpura-pura. Tanpa banyak teori. Tapi action. Contoh-contoh itu diambil Kafi. Contoh-contoh di dunia nyata juga dipelajari oleh Harvard dan dijadikan bahan bahasan di kuliahan. Akhirnya lahirnya jagoan marketing untuk tersebar di seluruh dunia. Jika pikiran terbuka kita jalan, maka memang sebenarnyalah kehidupan nyata, marketing sebenarnya.

Hal sama juga seingat saya saat mengikuti seminar AA Gym, Rhenald Kasali atau malah mungkin sesi-sesi rapat evaluasi dengan bos-bos tempat saya bekerja yakni Dahlan Iskan atau anaknya Asrul Ananda. Mirip-mirip apa yang disebut di awal pembuka kata Kafi Kurnia. Cuma caranya saja berbeda-beda.

AA Gym tentu dengan hadist dan ilmu kesejukan qolbunya, Rhenald sudah jelas dengan teori-teori perubahannya. Sedangkan Dahlan atau Asrul, mengingatkan, hanya kita sendirilah yang tahu apa yang ada di lingkungan kita. Jadikan cara orang lain melakukan hal sama di tempat lain, sebagai bahan dasar pijakan saja. Untuk tempat kita sendiri, lakukan sesuai selera masyarakat sekitar kita.

Nah, tak berepot-repot kan? Tapi saat kita berada dalam ruang suara mereka, seakan kita ingin ‘’mengubah” dunia ini secepatnya. Sayang, setelah hawa ruang ber-AC seminar kita tinggalkan, maka hilanglah semua itu. Banyak kita termasuk saya, hanya jadi bagian ‘’perenungan” yang dalam dari apa yang diucapkan bijak oleh orang-orang yang tepat tersebut. Tak pernah kita beranjak untuk benar-benar melaksanakannya tersebab kita sendiri akhirnya ragu dengan lingkungan kita sendiri, atau diri sendiri mampu atau tidak melakukannya.

Apatah lagi bila kita menemukan pemimpin bahkan bukan pemimpin tertinggi pula banyak juga mengikuti seminar ini dan itu. Malah dia pula jadi panitianya, namun tak berubah juga cara berpikirnya. Anak buah ditekan terus dalam pengambilan keputusan yang mengambang. Atau memperlihatkan kekuasan ‘’tertinggi” hingga katanya menjadi ‘’raja”.

Dan bisa juga begini, kita dibiarkan melarutkan masalah, dalam penyelesaian yang terselesai sendiri saja. Tapi bila kita jumpa lagi masalah sama, kita tak tahu standar apa yang harus diambil. Kembali lagi, ke standar yang salah juga, selesai saja sendiri.
‘’Anda hrs berani berkata bhw perusahaan adlh tempat utk berjuang sbg fungsi rahmatan lil aalamiin” Mungkin, SMS kiriman ESQ ini pantas dengan pikiran terbuka kita coba. Utamanya saya. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 04-September-2005, 187 Klik)

Selengkapnya...

Ketidakpastian adalah Rahmat

‘’Manajer yg well organized sll bodoh. Ia seringkali terlalu bodoh utk melakukan rasionalisasi atau mencari-cari alasan.”

INI SMS pertama yang saya terima sejak bergabung dalam komunitas ESQ pimpinan Ary Ginanjar Agustian. Pesan tersebut sampai 13.47 WIB, Senin (22/8), hari ketiga saya bersama 339 orang lainnya di training tentang kecerdasan emosi dan spiritual di Hotel Planet Holiday, Batam. Mungkin ini seminar dan training terbesar di Batam pesertanya dan termahal bayarannya, Rp2,7 jt per orang.

Suara hati saya menyatakan, inilah untuk pertama kali dalam hidup saya tak pernah kabur satu sesi mata kuliah pun. Saya hanya sempat ‘’menghilang” di hari pertama, itu pun pas jam istirahat makan siang. Ada orang yang sejak jam 10 sudah janji berjumpa, tapi baru dicapai dua setengah jam kemudian. Saya benar-benar ‘’takut” meninggalkan training ESQ itu. Padahal dimulai pukul 7 pagi dan berakhir tepat jam 6 sore selama empat hari dari 20 hingga 23 Agustus 2005.

‘’Aku tahu rezekiku tak mungkin diambil orang lain, karenanya hatiku tenang.” Yang ini juga SMS dari ESQ, namun pada hari terakhir training. Seterusnya di hari pertama sesudah training,”Aku tahu, amal2ku tak mungkin dilakukan org lain, maka aku sibukkan diriku bekerja dan beramal.” SMS hari kedua seusai training,”Aku tahu, Allah sll melihatku, krnya aku malu jk Allah mendptiku melakukan maksiat.”

Di tengah-tengah saya menerima SMS tersebut, masuk juga SMS lain. ‘’Trimakasih, sy msh terngiang2 suaranya Pak Ary.” Beliau salah satu peserta. Sama dengan saya, termasuk di antara yang muda, masih di bawah 40-an dan sedikit nangisnya. Dan sepanjang pengamatan, di antara yang muda itu, sayalah yang mungkin paling sedikit mengeluarkan air mata.

Entah mengapa, saya berani mengaitkan yang muda, dengan sedikit menangis. Padahal selama empat hari tersebut, tangisan menderu saat suara gemetar Ary membahana dari ballroom dan ditambah visualisasi yang menggerakkan otak, mendirikan bulu kuduk dan menggetarkan hati tentang apa yang kita perbuat selama ini. Tersebab hanya dua tangisan yang bisa saya tumpahkan, saat diingatkan soal dosa pada kedua orang tua dan dosa kepada istri.

Peserta lain mungkin akan terngiang soal dosa pada anak yang sudah dewasa tapi belum diingatkan juga akan kebesaran Allah dan berjasanya Nabi Muhammad SAW yang mampu menerima wahyu Allah dan terpelihara dengan sempurna hingga kini yaitu Alquran. Bagi saya, karena anak masih kecil, saya justru terpacu untuk berusaha tak mengulang kesalahan sama dalam perilaku. Perilaku berani bertindak apa saja, bukan karena siapa-siapa melainkan semuanya lillahitaala.

‘’Kabarnya, bang Ade paling banyak nangisnya.” Seseorang yang saya jadikan orang tua di Batam ini, nyelutuk pertanyaan itu. Dah saya akui, saya paling sedikit tangisnya. Namun saya juga diingatkan, bisa jadi saya yang akan paling banyak menangis beberapa tahun kemudian, karena sudah diberi berkah bisa melihat ‘’kebenaran” dengan nyata, namun tetap juga berbuat ‘’keonaran” di muka bumi.

‘’Bagus itu De. Bapak juga pernah ikut.” Yang ini saya dapatkan di hari pertama training dari Ismeth Abdullah, yang baru saja dilantik sebagai Gubernur Kepri. Saya memohon maaf, karena ajudannya susah menghubungi saya tersebab handphone dimatikan saat acara dan didiamkan ketika istirahat. Tak ada nada dengar dan getar.
Namun selain ‘’pengakuan dosa” yang saya perbuat, juga ada satu kalimat yang terngiang-ngiang setelah empat hari tersebut. Kata yang saya bantu juga untuk diulas Ippho Santosa saat dia tampil di Batam TV, Selasa malam (23/8) dalam acara wirausaha. Kata Ary Ginanjar,”Ketidakpastian adalah rahmat.”

Ippho yang ikut juga dalam ESQ, mengulang lagi kepada seluruh pemirsa apa yang diucapkan Ary. Kalau pasti rezeki, jodoh dan kematian, maka tak serulah hidup ini. Orang bisa malas-malasan dahulu karena pasti tahu kapan jadwal kaya. Tak mulai mengamati siapa yang bakal jadi suami atau istri, karena pasti tahu siapa jodohnya. Dan jika sudah pasti tahu tanggal kapan mati, pastilah berpesta surga dunia dahulu, dan menjelang dua hari terakhir, baru bertobat. Keenakan sekali, tak mungkinkan?

Seperti kata Ary, perjuangan paling berat dari peserta seminar atau training apapun adalah hari-hari sesudah acara tersebut. Termasuk juga yang bakal dihadapi istri-istri para menteri kabinet SBY yang satu minggu lebih dahulu menerima ilmu dari Ary ketimbang kami. Hingga saat menulis ini, aktivitas kerja saya sudah mulai berubah, lebih cepat satu jam meninggalkan rumah menuju kantor, meski juga tahu, belum tentu mencapai hasil maksimal. Tapi entah sampai kapan dilakoni, karena kerja adalah ibadah.

‘’Aku tahu, kematian menantiku, maka kupersiapkan bekal utk berjumpa dg Rabbku.”
(Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 28-Agustus-2005, 247 Klik)

Selengkapnya...

Memaknai Merdeka dan Tidak Merdeka

‘’Dirgahayu Republik Indonesia 17/8/05-ke 60 th, jayalah negeriku, jaya bangsaku, jayalahku dunia akhirat, amin…!”

SAAT masih asyik bermalas-malasan di ranjang bersama dua mata hati, SMS di atas masuk. Tepat pukul 06.22 WIB lewat 18 detik. Baru saya tersentak, 17 Agustus rupanya. Hebat, ada juga yang mau ‘’membuang” pulsa untuk mengucapkannya. Saya lihat lagi mail box handphone. Eh ternyata sehari sebelumnya pukul 14.35 lewat 56 detik, ada juga SMS serupa. Singkat saja, ”merdeka…?” Sepertinya pengirim ingin ‘’tak memerdekakan” saya, karena harus membahasnya untuk yang satu ini. Bertepatan pula memang secara pribadi saya belum merasa merdeka. Seorang sohib, bahkan adik saya juga bernasib sama beberapa hari ini. Pas, di hari kemerdekaan, adik bungsu saya yang mencoba merantau di Batam, lagi kepayahan cari rumah sewa. Maklum, dia harus tahu diri untuk tak terlalu ‘’merdeka” menggunakan sesuatu bukan miliknya, juga bukan milik saya.

Seterusnya, kolega sejati saya yang selalu memberi semangat untuk berjiwa berani menantang arus, juga tidak merdeka dalam bahtera rumah tangganya. Tapi pas di hari kemerdekaan, eh, ada sesuatu yang lain datang. Dia bahkan, bingung menentukan apakah meninggalkan Batam atau tetap bertahan. Merdeka karena sudah dipercaya mertua, tapi harus bertahan di Batam. Adakah kemerdekaan sebagai sepasang suami istri bakal diraihnya?

Itu yang dipikirnya. Dan pada kesempatan telepon beberapa detik, saya ‘’dipaksa” mengeluarkan pendapat yang rasanya saya sendiri tetap memberikan alternatif yang tidak memerdekakan mereka. Tepat seusai Presiden SBY menyelesaikan seremoni mengheningkan cipta, saya melaksanakan sholat dhuha. Inilah dhuha pertama dalam hidup saya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan. Ya, karena berbagai persoalan di atas, dan lain-lain dalam hidup, saya melakukan itu. Semua saya doakan terutama tentu diri saya yang belum juga berani mengeluarkan pikiran-pikiran merdeka.

***
‘’Aktivitas pelaksanaan HUT RI ke 60 di ruli lesu gejala apa kak?” Yang ini saya terima pukul 12.14 WIB lewat 32 detik. Rasanya ini mudah saja jawabnya. Kita sekarang kebanyakan tak merdeka lagi dengan uang. Uang kita habis untuk biaya sekolah, harga BBM yang naik, lalu listrik segera dan diikuti latah air ATB. Apa yang nak disumbangkan lagi untuk anak-anak kita agar dapat berlomba makan kerupuk, tarik tambang dan panjat pinang? Bahkan bukan hanya yang di ruli, yang di perumahan resmi pun terasa gregetnya kurang. Ataukah ini, justru pertanda kita boleh merdeka dalam arti tak meramaikannya sama sekali? Tapi terus terang, bulan yang paling tak saya suka dalam hidup adalah Agustus.

Itu berlaku sejak saya ‘’mengerti memaknainya”. Terlalu banyak kegiatan, hingga ayah saya harus lembur menjaga stand pameran pembangunan. Lalu terlalu banyak pertandingan olahraga, sehingga terkadang saya lihat jadi permusuhan antar-kelas, sekolah dan antar-RT. Malah jadi ajang curiga-curigaan kepada panitia karena ‘’memakan” dana yang terkumpul.

Eh, di saat sudah menikah seperti lima tahun ini, untuk soal ngasih dana ke panitia, selalu saja ada perbedaan persepsi dengan istri. Belum lagi saat di kantor untuk memutuskan, apakah proposal dari berbagai panitia HUT RI diterima atau ditolak. Diterima, yang lain bagaimana? Ditolak, eh, ini kita kenal panitianya?

Justru tak merdekakan? Saya jadi ingat, cakap seorang tua dalam sebuah oplet sebelum memasuki Terminal Aur di Bukittinggi tahun 1996 lalu. Sepertinya beliau seorang veteran perang. ‘’Justru sekarang di zaman merdeka kita tak merdeka. Lihatlah, mau masuk ke terminal ini saja, supir oplet harus bayar retribusi. Zaman perang dahulu mana ada begini.”

Saat itu saya langsung tertegun. Benar juga, pikir saya. ‘’Bahkan mau masuk WC saja kita bayar, dulu tidak . Padahal itu fasilitas umum terminal ini.” Rasanya, kita punya persepsi masing-masing untuk memaknai merdeka. Namun yang pasti merdeka itu ada, tapi tetap bersebelahan dengan kemerdekaan orang lain. Menjaganya jangan tersenggol badan, tersinggung hati hingga menjadi dendam untuk selanjutnya menggerakkan perlawanan. ***(Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 21-Agustus-2005, 143 Klik)

Selengkapnya...

Hidup Menceritakan atau Cerita Menghidupkan

”Thanks. I will check. You got time today?”
WALAH, gara-gara SMS di atas, pening kepala menterjemahkannya. Bukan nak sok ber-Indonesia saja, tapi waktu yang makin sulit diatur kini. Terlebih lagi menyangkut pertemuan yang harus diembeli membawa ‘’sesuatu”.

”Sory pak telat balas. Nanti kalau dah siap, sy akan temui bpk. hr ini sy puasa.” Itu jawabannya. Padahal, saya kalau telah ketemu orang, yang direncanakan mau becakap begini, bisa jadi begitu. Yang mau disodor ini, bisa disodor itu. Tak kloplah!

Karenanya, terkadang saya sering berbuat tanpa rencana. Terpikir ide ini, langsung disampaikan. Bila ada yang bisa menangkapnya. Maka tertangkaplah. Bila selesai ditangkap, dilaksanakan, maka terlaksanalah. Bila tidak ditangkap apalagi dilaksanakan, maka saya yang harus ‘’meloyo” sendiri.

Belakangan ini saya mengalami hal tersebut. Hingga malah, ide-ide yang biasanya muncul tiba-tiba, tak mau lagi hinggap. Kamar mandi yang biasanya selalu jadi tempat ‘’pencerahan” juga tak memberikan kejutan lagi. Yang ada tetap pikiran-pikiran netral, mencari aman dan bisa dikatakan tanpa progresif.

”Udah, begini saja dah oke.” Seperti itu aliran pikiran yang keluar. Atau seperti ini,”lantaklah. Selamat juga nanti, kok”. Tak ada lagi ”keberanian” melawan arus. Yang ada hanya pasrah. Padahal, dunia di depan sudah menghadang dengan menyiapkan palang-palang yang harus dilompati atau dicari jalan lain untuk menghindarinya.

Karenanya saya tersentak saat nonton Chris John dengan gagah perkasa mempertahankan gelar juara. Staminanya bukan main hebat. Rasanya belum pernah saya lihat petinju Indonesia setelah ronde ketiga masih bisa berdiri tegak dengan nyantai sekali. Dan saya tahu pula, ada pendukung fanatiknya di Batam ini. ‘’Ya, bang. Stamina kuat berkat …, bukan …. Jadi cintailah produk lokal, bang. He…he…”

Sengaja titik-titik tersebut tak saya isi. Takut berpromosi. Tapi kayaknya ada benarnya juga soal produk lokal tersebut. Namun hebat lagi, Chris John. Lebih berani melawan pakem. Mempertahankan gelar di negeri lawan, Australia. Kebiasaan yang jarang dimiliki atlet lain Indonesia.

Bahkan dia juga rela masuk ke sasana di Sydney, dan menjadi bagian dunia tinju yang benar-benar profesional. Melawan ‘’protes” mantan pelatihnya Sutan Rambing yang terus membawa kasusnya ke pengadilan. Nyatanya, hingga kini mental baja masih dimilik Chris John.

Sebelum itu, kita semua dikejutkan dengan ‘’prestasi” lain Elyas Pical. Juara dunia tinju pertama dimiliki Indonesia itu berbuat ulah dengan diduga menjual narkoba. Kita tersentak. Kok mantan juara dunia, bisa hanya jadi satpam saat pensiunnya dan diduga pula nyambi menjual narkoba?

Sepertinya buntu, tak tahu jalan lain lagi mau ke mana untuk meniti hidup ini. Bukan lagi berpikiran mencari aman untuk benar-benar aman. Melainkan mencari aman untuk hitungan hari per hari, malah bisa jadi detik per detik. Nama besar pun seakan dilupakan untuk mempertahankannya.

Atau memang kita yang susah menghargai prestasi orang yang mengharumkan nama bangsa, negara atau daerah kita? ‘’Maaf, bang. Lamaran untuk anak takraw itu sudah saya serahkan. Moga-moga diterima. Di tempat saya sulit.” Walah mak. Saya sendiri hanya bisa ‘’berbual”. Ada mantan pemain takraw nasional, minta kerja apa saja akan dilakoninya. Sayang, tak bisa saya penuhi. Saya hanya bisa ‘’melemparkan” surat lamarannya ke teman-teman yang saya kenal.

Ah, kembali pada kisah sendiri. Saya ini tak berani jua lari dari kebuntuan. ‘’Hidup menceritakan kita atau cerita menghidupkan kita.” Sindir salah satu pengirim SMS yang sangat memperhatikan setiap tulisan saya.
Saya pilih yang mana? Entahlah. Mungkin lagi proses menuju keduanya. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 15-Agustus-2005, 186 Klik)

Selengkapnya...

Menggigil Kematian, Membahagiakan Kelahiran

‘’Alhamdulillah, telah lahir anak kedua kami…” Saya biasa menerima SMS demikian. Bahagia larut dalam relung hati. Uniknya, selalu jadi orang yang sangat spesial. Betapa tidak, SMS-nya datang hanya berselang beberapa detik saat tangisan bayi terdengar.

Tapi menerima SMS seperti ini, ”Innalillahi telah berpulang ke rahmatullah…”, rasanya jarang. Ada debaran-debaran ketakutan mengalir dalam darah saya. Mungkin kata ketakutan itu, akan banyak ‘’diprotes”. Namun saya merasakannya. Tersebab, saya belum memberikan apa-apa pada istri, anak dan seluruh keluarga. Apatah lagi bakti pada Allah.
Seperti dalam pekan lalu, tanggal 24 Juli saya menerima SMS kelahiran. Eh, empat hari kemudian SMS kabar kematian. Satu generasi lahir, satu generasi lagi menyelesaikan tugas dunianya.

Di lain pihak, saya juga terus merenung, kelahiran dan kematian memang adalah hak Allah untuk memutuskan kapan. Sama saat saya tersentak ketika 18 hingga 20 Juli lalu pulang sendirian saja ke rumah orang tua di Pekanbaru, sekaligus melihat rumah RSS tipe 21 yang saya beli saat bujangan. ‘’Tak nak anak lelaki, kau? Tambahlah.” Ibu yang tiba-tiba nyelutuk begitu.

Beberapa detik saya sempat terkesima. Lalu bayangan dua gadis kecil saya (5 tahun dan 2,5 tahun) berkelebat. Gurauannya yang bak lelaki. Tiap malam ayahnya habis di smackdown. Pandai juga manjat. Suka nemani ayahnya nonton bola atau main PS-nya. Saya jadi ‘’lupa” untuk punya anak laki-laki.

‘’Sama aja mak, anak perempuan atau lelaki.” Itu jawaban mudah saya. Padahal, setiap sholat Jumat – saya jarang di Masjid Raya, padahal hanya sejauh lemparan dari ruang kantor – baru terpikir soal anak lelaki dan perempuan. Melihat tetangga membawa anaknya sholat di salah satu masjid di Tiban BTN, baru getaran ‘’rugi” itu terasa.

Setiap ditanya orang, selalu saya katakan begitu. Saya selalu terus menyamakan lelaki dan perempuan. Saya selalu mengingatkan berbagai fakta-fakta hal demikian di lingkungan sekitar. Dah banyak kan, pejabat perempuan? Malah Indonesia jauh lebih hebat dari negara manapun di dunia. Presidennya saja pernah perempuan. Bahkan ada juga jadi bupati dan walikota.

Lalu kematian? ‘’Bapak si A meninggal udah mamak kabar kan tak?” Wajah bapak yang dimaksud, sering saya lupa. Tapi memori saya mengingat-ingat, rasa-rasanya kenal. Eh, baru kelihatan sehat-sehat saja, kini telah tiada.
Hal sama juga ketika Jumat (29/7) saya keduluan datang ke masjid. Selain melihat tetangga membawa anak lelakinya, sedangkan saya sendirian, tiba-tiba melintas bayangan keluarga di Banda Aceh. Keluarga sebelah istri saya yang kena tsunami Desember 2004 lalu dan hingga kini belum tahu kabarnya. Diyakini, habis sudah lima beranak tersebut.

Padahal, masih terbayang sekitar akhir 2002 saat membawa mereka jalan-jalan ke Barelang dan Tanjungpinang. Kenangan ikan bilis yang tinggal ambil tanpa bayar karena didanai mantan bos mereka yang saat itu lagi tugas di Tanjungpinang, sulit dilupakan.

Apalagi, mereka yang orang berada itu mau tiduran di rumah tipe 36 milik saya dan di ruang tamu pula.
Kiriman VCD hasil handycam yang dibeli mereka di Singapura baru beberapa hari ini pula diputar istri. Tampak keluarga yang sangat bahagia. Sering didatangi tamu dan disungguhi kopi Aceh. Dua anak lelaki yang ganteng-ganteng. Dan satu gadis yang mirip sekali dengan artis Luna Maya.

Saya masih ingat, bagaimana dengan mudahnya istri meng-SMS keluarga Aceh tersebut untuk ‘’minta” kado ultah anak kami. Eh, tak berapa lama datanglah kirimannya. Baju stelan lengkap dengan celana jins kesukaan dua buah hati kami. Kini sejak peristiwa tersebut 26 Desember 2004, tak ada lagi SMS-an. Telepon rumah dan handphone yang kami hubungi tak lagi menyahut…
Wuih, saya menggigil. Bulu kuduk berdiri. Tumben, dalam waktu 24 jam dua kali baca yasin, malam jumat dan sesaat sebelum azan jumat. Entah pertanda apa.

Yang pasti, seusai jumatan, saya tahulah semua tentang makna kehilangan meski hanya kecil. Kehilangan sepatu kesayangan yang baru dibeli 10 hari lalu…
‘’Semoga Allah SWT menerimanya, memaafkan salah silafnya, melipatgandakan pahala amal ibadahnya. Innalillah.” (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 31-Juli-2005, 210 Klik)

Selengkapnya...

Kota Kerisauan

Kota ketiga dalam hidup saya, Batam. Kedua, Bukittinggi. Yang pertama, Pekanbaru dan pekan lalu saya sempat tiga hari di sini. Mencari inspirasi dengan menelusuri gang, jalan, dan mall-mall yang pernah dilewati. Apa yang didapat? Kerisauan!


Bayangkan saja, ternyata kota yang lima tahun lalu saya tinggalkan kini jadi sangat sibuknya. Di mana-mana jalanan macet. Di hari kedua sekolah, 19 Juli 2005, tetap saja kendaraan merayap. Tapi uniknya, tak terlalu heboh seperti kalau di Batam. Bunyi klakson bertalu-talu tak terdengar. Yang ada kesabaran pengendaranya.

Lah, di mana kerisauan saya? Ya, kalau terjadi di Batam, macet sedikit saja bunyi klakson minta ampun. Mobil pun jadi malang melintang di tengah jalan, menambah kekacauan. Apatah lagi kalau polisi lalu lintas tak ada. Wuih, kerisauan saya bisa jadi benar-benar nyata. Bayangkan saja, saat hari pertama sekolah 18 Juli pagi, dari Tiban via Simpang Jam menuju Graha Pena saja perlu waktu 30 menit yang biasanya hanya 15 menit.

Kerisauan saya yang lain, menyangkut sekolah. Pekanbaru yang begitu banyak sekolah negeri berkualitas saja, perlu susah untuk mendapatkannya. Apalagi di Batam yang sepertinya ‘’ada yang lain” lebih berkuasa. Saya jadi berfikir bagaimana gadis kecil saya tahun depan mau masuk SD, umurnya nanti pas enam tahun, tahun ini saja, banyak anak seumur segitu tak tertampung. Apakah pendidikan TK-nya harus tiga tahun?

Dalam cucuran kerisauan itu, saya menasehati keponakan laki-laki yang pulang tersedu-sedu ke rumah neneknya (ibu saya). Dia naik ke kelas 2 SMP, tapi tidak dapat kelas unggulan, 2 A hingga 2 C melainkan 2 K, alias kelas nomor 11, paling bontot yang katanya berisi ‘’preman-preman”. Padahal dia di kelas 1 juara pertama, dan ikut tes pula untuk penentuan kelas unggulan tersebut. Saya berfikir, justru bagus di bukan kelas unggulan, agar lempang jalan kita untuk juara. Orang-orang terkaya di dunia dan Indonesia saat ini pun, bukanlah yang juara kelas, malah drop out. Sebut saja Bill Gates dan Bob Sadino. Begitu nasehat saya.

Ayahnya pun saya ‘’peringatkan”, jangan bikin makin stres anak. Tapi neneknya, tak bisa saya begitukan. Takut kualat. Malah neneknya mendatangi para pimpinan sekolah (kebetulan teman-teman beliau semua), minta penjelasan mengapa bisa terjadi demikian. Setelah dapat informasi, bahwa sekarang ada penyebaran bagi yang juara di berbagai kelas, barulah tersadar.

Adik saya yang di Batam juga dikabari ibu tentang situasi keponakan tersebut. Jawaban SMS-nya begini. ‘’Tak apalah, dulu om juga tak kelas unggulan, enak lagi bisa dapat ranking. Tak stres pula.” Nah, bukan saya saja yang merasa lebih nikmat berada di luar orang-orang hebat. Saya hanya sempat berada ‘’dilingkup stres” itu waktu kelas 6 SD. Wuih, orang-orang pintar semua – para juara sejak kelas 1— mau rangking 10 saja, rasanya seperti juara pertama.

Ternyata, saya hanya pandai ‘’menasehati”, diri sendiri lain pula pengalamannya. Saat saya telepon ke Batam, gadis kecil saya yang angkat. Dia baru pulang sekolah, tapi tak tahu ibunya ke mana. Saya rasakan itu dahulu. Kalau pulang ke rumah, ibu tak ada, capek itu memuncak bukan hilang. Rupanya baru tahu ketika ada kiriman SMS begini,”kami ke rumah sebelah, dengan ibu-ibu wali murid TK.” O…, semuanya membicarakan sekolah juga rupanya.

Malam harinya, nasehat untuk menghilangkan stres keponakan berlanjut. Kali ini di sebuah mall baru, Mall Ciputra Seraya. Keluarga yang di Pekanbaru pun belum pernah ke sana, termasuk keponakan yang ‘’bermasalah” dengan kelas unggulan tersebut. Ini baru konsep mall sesungguhnya menurut saya, tak bikin stres mengelilinginya. Dari lantai paling atas, kita bisa melihat aktivitas di lantai paling bawah. Satu lantai itu pun mudah untuk cuci mata, karena kalau satu lantai jual sepatu ya, sepatu saja. Satu lantai jual baju dalam wanita, ya…itu semua.

Pekanbaru juga tak terlalu gelap gulita seperti keinginan SBY agar berhemat energi. Lampu-lampu hiasnya, jauh lebih bagus mereka ketimbang Batam. Padahal, kita mudah saja menyeberangi Singapura. Kabarnya, lampu di Pekanbaru itu dibeli di sana. Yang kita dibeli di mana? Kok, jauh sebelum anjuran SBY, justru sering tak hidup?

Di salah satu lampu hias Jalan Sudirman, mata tertumbuk pada papan sebuah biro perjalanan. Mobil travel istilah di sana, yang dulu selalu mengangkut saya ke Bukittinggi. Kota yang mempertemukan saya dan istri, dan setelah menikah, tak sekalipun pernah kami singgahi lagi. Karena, kota pertama bagi istri saya Kisaran, tempat kelahirannya. Jadi kalau pulang Lebaran, Pekanbaru dan Kisaran yang kami datangi.

”Apa kabar pku, pak? Kpn pulang, tak ada teman diskusi nih.” Ini yang bikin rindu balik ke Batam. Masuk lagi dalam komunitas ‘’pemimpi” untuk sebuah kota yang disebut paling dinamis. Saya pejamkan mata, meyakini kota ini adalah harapan. Meski harapan itu tetap akan dibayangi banyak kerisauan… (Batam Pos danwww.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu 24-Juli-2005, 197 Klik )

Selengkapnya...

Pendiam Ketulusan

''Malam Bang. Skrng jadi pendiam, kenapa ya Bang?

Ini pertanyaan kedua, dalam satu pekan terakhir. Yang pertama, ditanya secara lisan. Yang kedua, via SMS tadi. Yang lisan telah dijawab lisan. Mungkin membingungkan yang bertanya. Yang SMS, hanya dijawab, ''hm…''

Bicara soal pendiam, saya sudah hidup dalam lingkup sama tua dengan usia sendiri. Betapa tidak, saya menemukan hal tersebut dalam sosok ayah. Beliau begitu pendiamnya.

Terkadang kami adik beradik sulit menebak jalan pikirannya. Tapi yang pasti kami tahu, diam itu membuat ayah yang pegawai negeri sipil (PNS) tak ''kaya-kaya'' hingga saya pun tak berminat berprofesi sama.
Meski saya tahu, ayah bekerja lebih keras dibanding PNS yang bisa kaya.

Namun sekarang, kalau hanya sekedar diam, tak ''bicara'' sepertinya kita akan diinjak-injak. Banyak yang memanfaatkan ''diamnya'' seseorang, untuk terus menggali-gali sesuatu. Berharap didiamkan terus, dan bila perlu, yang diam justru akan kena getahnya.

Di sebalik itu, terkadang diam juga sebenarnya punya makna besar. Ini tentu bila kita punya visi dan aksi brilian yang mampu dijalankan dengan penuh keteguhan.
Ada mungkin pertentangan batin yang bakal menyelimuti hingga akhir perjuangan itu. Atau malah, mungkin kita akan jadi orang yang aneh. Berorkestra sendiri dalam lautan musik rock campur dangdut.

Ada yang memberikan benang merah bagi saya untuk diam tersebut. SMS-nya dikirim 11 Juli 2005 pukul 23.02 WIB,''ketulusan memberikan sentuhan kecil dalam perbedaan besar.'' Puitis sekali ya? Dikirim tengah malam pula.
Cari orang yang tulus itu susahnya bukan main. Dan mungkin sangat sulit menemukan orang yang tulus itu dibarengi dengan diam. Semula kelihatan tulus, tapi karena ada ''kepentingan'' akhirnya harus dikoar-koarkan.

Tegasnya, tak lagi jadi pendiam. Semua publik harus tahu, meski itu tetap diselimuti kata-kata tulus.
Dah banyak hal tersebut kita temui. Apalagi itu menyangkut hajat besar untuk sesuatu perebutan kekuasaan. Yang tulus terkesan tak ada lagi. Yang tulus tak lagi ditutupi diam, melainkan ''keterbukaan.''
Terkadang, kita semua jadi ragu sendiri. Ini benar-benar tulus atau tidak.

Malah kita yang menerima ''ketulusan'' tersebut, justru berharap akan banyak yang ''tulus-tulus'' lagi. Bila perlu tiap hari, karena kita tetap menyadari kekurangan dana untuk bikin ini dan itu.

Walau demikian, tetap saja selayaknya ada usaha untuk membangkitkan ketulusan dalam diri masing-masing.
Meski itu amat berat dilakoni. Termasuk bagi saya, yang harus tulus mengakui ada benarnya juga yang ''memprotes'' kolom terdahulu bertema meniru.

Simak saja kiriman SMS-nya yang saya kopi habis titik komanya. ’’Bila qta ingin dikenang maka jangan jadikan diri seorang pengekor namun berusahalah untuk menjadi seorang pelopor dan jangan pula jadikan diri seorang peniru namun berusahalah untuk menjadi seorang penemu, sekalipun temuan itu sederhana (setuju?). tetap berkarya & tq.

Ini kritisi yang tulus, karena saya tetap dibangkitkan dalam aroma kata-kata yang juga tulus, ''tetap berkarya''.

Dan lebih tulus lagi pengirim SMS-nya karena menginformasikan di mana gado-gado yang enak bisa saya dapatkan.

Sekaligus juga sindiran, ketika saya menyebut ''gado-gado gaya tulisan.'' ''Oh, ya, gado2 di jln Tengku Angkasa Bandung/dkat Unpad, dijamin enak!'' Hmm…mungkin memang saya harus cuti jauh menuju Bandung, tersebab banyak diam saat ini justru karena sulit melepas diri dari ''hingar bingarnya'' aktivitas dan tanggungjawab.

Saya harus belajar banyak lagi ketulusan dalam campuran gado-gado yang serasa sudah di lidah. Apatah lagi, Universitas Padjajaran (Unpad) adalah pilihan utama saat mengikuti tes UMPTN 15 tahun silam. Sayang, tak dibolehkan memilih karena gaji ayah yang PNS tak cukup untuk membiayai kuliah dan hidup seandainya lulus… *** (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 17-Juli-2005, 200 Klik)

Selengkapnya...

Salah 1, Salah 2, Salah 3

Belakangan ini saya sering kesal. Kadang tanpa alasan kuat. Mungkin bisa jadi tak pantas. Salah satunya terkait SMS ini,”Batam Pos edisi hari ini tgl 5 Juli terdapat kesalahan ganda…”.

MENGAPA saya kesal? Ya itu, saya baru tahunya malam hari untuk tak ada sambungan. ‘’Di halaman 2 berita copot…kayak CD bajakan, diulang-ulang. Sambungan kain 10 kuintal di halm 2 tdk ada.”

Sebenarnya SMS ini dikirim pukul 11.34 WIB, berhubung HP kedua ini tak dibawa, setelah pulang ke rumah baru tahu ada dua kesalahan besar tersebut. Saya makin kesal, istri yang biasanya pengkritik setia, kini adem saja. Apa karena dah terbiasa melihat kesalahan hingga dianggap betul saja? Atau dia malah menahan kesal, karena tiap hari mengkritik saya? Apa juga karena saya sudah bosan baca koran, hingga tak tahu kesalahan sendiri dan menunggu pembaca mengkritisi?

Sama dengan cerita banyak teman dan juga saya alami sendiri, ada hal-hal yang biasa salah, kini tak salah lagi. Ada hal-hal biasa betul, bisa jadi dianggap salah. Karenanya ketika mulai ada yang mencoba memperbaiki ‘’salah”, maka dianggap ‘’salah” sebenarnya. Atau, yang coba memperbaiki ‘’salah” tadi, larut pula dalam ‘’salah” yang sama.

Ah, pasti pusing juga menterjemahkan alinea di atas. Namun kalau kita merenungi banyak sisi kehidupan ini, masing-masing kita akan menemui apa yang dimaksud. Termasuk juga salah satu dari pembaca setia kolom ini. ‘’Tolong lain waktu turunkan tentang emosi yg selalu meledak-ledak, karena barusan saya kelepasan cakap yg tak seharusnya diucapkan.”

SMS tadi dikirim 15 Mei 2005 pukul 12.24. Saya buka kembali karena, ya, beberapa minggu ini saya juga mengalami banyak ledakan emosi, termasuk kesal tadi. Malah, itu kelihatannya menimpa beberapa teman hingga saya pula harus berurusan ‘’memperbaikinya”. Karenanya, jawaban yang paling pantas untuk SMS tersebut, tetap instrospeksi. Yang penting, ada kemauan kita untuk memperbaiki.

Tersebab itu, pantas pula dibaca khalayak kiriman SMS dari seseorang di Karimun ini. ‘’Manusia yg buta mata, butuh tongkat utk meraba, manusia yg buta hati, butuh tuntunan mengenal sikap diri selama ini.” Tapi bila kita skeptis, tuntunan mana yang pantas kita lihat dari realita sekitar? Yang katanya pakar ternyata berpihak. Yang katanya bersih dan pengkritik, tak tahunya mau ‘’disuap” juga. Yang katanya…ah, banyak lagi.

Kita gamang sendiri melangkah. Tak terkira pula banyak salah dilakukan. Salah yang pertama, akan diulang salah kedua, lalu ketiga. Kita hanya punya interval ‘’penyadaran” di antara kedatangan salah berikutnya. Begitu seterusnya hingga mungkin kita menemukan hidayah masing-masing.

Namun bila ada orang yang selalu ‘’tersalah” padahal dia sudah bertobat atau memang hanya dikambing-hitamkan, bisa disebut teraniaya? Atau dizalimi? Entahlah! Kita terutama saya hanya pantas merenungi hadis nabi kiriman SMS alquran seluler berikut, ‘’Mu’azd ra: Sabda Rasul: Takutlah thdp doa orang yg teraniaya, karena antara dia dgn Allah tidak ada penghalang (doanya terkabul).”

Ah, saya menyanyah jauh! Dari kesalahan ‘’teknis” di Batam Pos menjadi sok-sok menggurui. Padahal, sebenarnya pusing juga menuangkan ide kolom kali ini, tersebab laptop rusak dan belum ditemukan juga, bagaimana cara mengatasinya hingga diketik huruf demi huruf ini. Saya berada di lingkup ‘’kebingungan” di antara hardware dan software. Mungkin yang salah saya sendiri, karena tak betul memencet tuts. Jadi se­perti kata banyak alim ulama sampaikan bolehlah saya mengakhiri alinea penutup ini de­mikian,”kalau yang salah itu dari saya, kalau yang benar itu dari Tuhan.” ***(Batam Pos dan www.harianbatampos.com, Minggu, 10-Juli-2005, kolom SMS Hati, 196 Klik)

Selengkapnya...

Cinta Kepri, Bawa Mati!

Seharian Kamis (30/6) benar-benar terjadi apa yang saya inginkan seperti tulisan saya pekan lalu (26/6). Banyak yang kirim SMS mengenai hasil pencoblosan Pilkada Gubernur Kepri. Saat Anda membaca ini, tahu sudah siapa yang menang. Saya justru sudah memastikannya, ketika bertubi-tubi SMS itu datang.

KETIKA mengetik kolom ini, satu per satu SMS tersebut dihapus. Rata-rata angkanya menyebutkan menang mutlak. Terus terang, tak ada pertarungan seru seperti yang saya inginkan seperti pertandingan bola. Sama juga hasilnya dengan final Piala Konfederasi yang saya tonton sebelum mencoblos. Tak ada perlawanan, Brazil menang mudah 4-1 atas Argentina.

Bersamaan dengan penghapusan SMS tersebut, hanya satu yang belum saya hapus. Ini SMS berbau kampanye. Uniknya saya terima justru, 21 menit lewat 16 detik sesudah ditutupnya pencoblosan di seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada pukul 13.00 WIB. Namun satu nomor HP saya lagi justru menerimanya malam hari sebelum tanggal 30 Juni tepatnya pukul 18.36 WIB. Isinya juga sama. Memohon mencoblos salah satu calon. Pengirimnya mengatas namakan Cinta Kepri. Itu sudah masuk masa tenang, bukan kampanye lagi.

Ini SMS tanpa nomor pengirim yang benar-benar sama dengan yang dikirim Presiden SBY. Tapi SBY sendiri mengumumkan ke rakyatnya secara resmi. Memang dia yang mengirimkan, bukan diam-diam. ‘’Stop penyalahgunaan dan kejahatan Narkoba sekarang. Mari kita selamatkan dan bangun bangsa kita, menjadi bangsa yang sehat, cerdas dan maju. From: Presiden RI Date: 29/06/2005 Time: 9:56:19 AM.”

Membaca SMS tersebut dan menyimak berita di media massa, Anda tentu tahu apa maksudnya. Ya, itu dalam rangka peringatan Hari Anti Narkoba. Juga sama dengan pengirim SMS Cinta Kepri, SBY juga jauh lebih cinta kepada rakyatnya. Makanya, penuh ide pula mengirim pesan melalui SMS.

Namun, adakah Cinta Kepri kita hanya ditunjukkan untuk meraup untung pada 30 Juni, lalu seterusnya kita cinta mati pada yang lain? Entahlah. Saya susah juga nak jawabnya. Tapi jawaban dari para pemilih kelihatannya sudah menggambarkan, ada ‘’celah” kegamangan.

Lihat saja, ada TPS tempat kandidat mencoblos, justru dia kalah. Ada juga wilayah tempat kandidat berkuasa bertahun-tahun, malah kampung halaman sendiri, juga kalah. Atau malah, ada yang betul-betul kalah, justru karena dirinya tak bisa menentukan kalah atau menang itu. Alias, tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) meski sudah karatan di kampung tersebut dan pada pemilihan caleg serta pilpres sebelumnya justru namanya terdaftar.

Bila mengingat ini semua, saya jadi membuka memori saat tiba di Batam untuk pertama kalinya, 10 Februari 2000. Saya benar-benar ‘’berprasangka negatif” saja atas apa yang ada di Batam. Saya selalu menyatakan lebih baik Pekanbaru, tempat saya dibesarkan selama 29 tahun.
Yang terbaik dari Pekanbaru itu, mulai dari beras yang saya beli. Air yang saya nikmati. Listrik yang menerangi. Nasi padang yang ditelan. Hingga alat transportasi taksi yang saya naiki. Apalagi saat tahun 2000 itu, tak ada Metro Trans – di sana namanya oplet.

Sungguh, jadi pengalaman ‘’aneh” naik taksi, tapi ketengan. Tegasnya, semua lebih baik yang di Pekanbaru.
Tapi apa yang terjadi kini. Saya menemukan beras yang lebih enak dan malah lebih murah saat impor beras masih bisa. Lalu kini berganti beras Solok, yang juga harganya tak jauh lebih mahal. Saya juga telah larut dalam air ATB, bukan air PAM sebutan di Pekanbaru.

Listriknya juga makin jarang mati dan saya selalu koarkan, beda kepanjangan PLN di Batam dengan Pekanbaru. Juga saya bisa nikmati taksi ketengan dengan cara lebih paham, termasuk Damri-nya. Dan yang paling penting, saya telah kehilangan celetukan gaya khas Pekanbaru, do. Meski makin sering jumpa anak Pekanbaru, tapi kata-kata seperti ini, ‘’ndak ada do…” Sudah benar-benar hilang.

Saya tak tahu, apa ini bagian dari penguasaan diri terhadap sesuatu, lalu saya menjadi cinta Batam atau cinta Kepri? Entah juga. Malah saya khawatir, bila sampai nanti pula melebihi angka tujuh atau delapan tahun tinggal di Batam, entah apa pula niat saya ke depan. Saya khawatir akan menjadi-jadi tak jelas lagi juntrungannya. Mungkin terlalu banyak mimpi, dan akan menindas orang-orang yang telah lama berbakti. Astagfirullah!

Ya, sudah! Karena telah ikut seminar Aa Gym Berbisnis dengan Hati, maka selayaknya pula, saya dan siapa saja mencoba menegakkan itu, berprasangka positif saja. Yang kalah, satria. Yang menang, juga lebih satria. Yang tak mencoblos, besok-besok kalau ada Pilkada lagi cepat-cepat ke kantor lurah lihat daftar nama pemilih sementara, ada atau tidak. Jangan andalkan pak RT lagi. Yang terdaftar tapi tak mencoblos, maka mari kita nikmati pilihan orang lain. Tak usah lagi berpikiran, seandainya…seandainya lagi. Yang kirim SMS kampanye di masa tenang, nak diapakan? Terserah pula yang jadi pengawas.

Tegasnya, kita semua cinta Kepri. Mungkin juga akan dibawa sampai mati. Apatah lagi, kalau pemimpinnya seperti makna hadist nabi kiriman SMS Alquran ini. ‘’Abu Hurairah ra: Sabda Rasul: Bila seorang pemimpin suruh takwa pada Allah dan adil, ia dapat pahala. Bila sebaliknya, ia terima akibatnya. (B/M)” ***(Batam Pos dan www.harianbatampos.com, Minggu, 03-Juli-2005, 199 Klik)

Selengkapnya...