Senin, Mei 29, 2006

Akal-Akalan yang Milih Pemimpin

‘’Udh berada di mana, bang? Gak jalan2 ke Siantar? Cari roti ganda?’’

Sungguh Lebaran kali ini jadi sesuatu yang lain bagi saya pribadi. Bayangkan saja, mau-maunya ‘’hidup’’ lagi di rumah mertua selama dua pekan cuti di Kisaran, Sumatera Utara.

Melupakan kenikmatan naik mobil dengan supir yang selalu stanby. Diganti dengan motor pinjaman kakak ipar, naik mopen (metro trans di Batam) atau becak motor untuk menuju kota yang berjarak lebih kurang 15 km. Baru dapat sinyal handphone yang oke, dan senangnya memburu makanan kesukaan, mieso bacok.

Saya juga menemukan hal yang sudah saya perkirakan dalam tulisan sebelumnya, krisis akan mudah dilewati rakyat Indonesia. Di Kisaran yang ibukota Kabupaten Asahan itu, harga BBM tinggi disiasati dengan naik sepeda motor. Saat bersilaturahmi di hari Lebaran, motor mendominasi jalan. Berkonvoi-konvoi. Hingga mopen pun jadi kosong melompong.

Bahkan sebelum Lebaran, arus mudik dari Medan menuju Kisaran dan Tanjungbalai Asahan atau sebaliknya, dipenuhi sepeda motor. Saya bisa menyaksikan dengan mudah karena teras rumah mertua, hanya berjarak lima meter dari jalan lintas Sumatera itu.

Tak kena krisiskah rakyat kita? Nyatanya tidak. Mereka banyak akal. Naik bus mudik mahal, diganti kereta api. Naik angkot mahal, ambil kredit motor dan ke mana pergi lebih hemat. Daripada kena Rp12 ribu pulang pergi (pp) untuk ke kota dari rumah mertua, lebih bagus beli bensin seliter Rp 5 ribu (eceran di jalan), tak akan habis seharian mengunjungi sanak famili. Bisa terangkut sekalian istri dan dua anak saya. Yang lain malah, bisa terbawa tiga dan empat anak, tentu ada yang digendong karena masih bayi.

‘’Aman minyak tanah di Batam? Kalau di Sumut ini, banyak yang pakai kayu, hingga tak terlalu antri di pangkalan.’’ Yang ini sindiran serius, supir taksi yang mengantar kami dari Bandara Polonia ke Kisaran. ‘’Kapal kami di Tanjungbalai sekarang lebih banyak pakai minyak tanah, bang.’’ Adik ipar saya mengungkapkan pula akal lain. Dia bekerja di pembuatan kapal kayu.

Lalu cerita berlanjut dengan tak ada mafia lagi - rupanya penyeludupan kayu dan gula maksudnya - hingga cerita musnahnya judi togel. Ujung-ujungnya tersebutlah nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan gebrakan Kapolri baru.

Jadi apa bahan obrolan saya? Tentu soal duluan saya tahu angka persis naiknya harga BBM satu minggu sebelum diumumkan 1 Oktober 2005. Tersebab, saya sudah berjumpa Wapres Jusuf Kalla bersama teman-teman lain se-Jawa Pos Grup (pernah diungkapkan dalam tulisan sebelumnya).

Cerita pun jadi ngelantur pada ‘’harumnya’’ Golkar (bosnya JK juga kan?) yang akhirnya ‘’berkuasa’’ lagi di Kabupaten Asahan dengan mempertahankan kursi bupati. Dan saya menemukan tanda tangan orang JK sekaligus Golkar di sebuah masjid. Masjid itu dalam lingkungan usaha Bakrie Grup. Tentu Anda tahu siapa yang saya maksud, terkait Menko Ekuin, Aburizal Bakrie. Tapi yang neken ibundanya tahun 1988. Nama masjidnya pun unik, Al-Bakr. Kata pengurusnya, masjid ini pernah jadi yang terbaik di Sumatera Utara.

Malah saya menemukan baju Golkar yang bertuliskan lengkap nama Ir Aburizal Bakrie dipakai masyarakat sana. Meski sebenarnya tak ada kait mengait langsung dengan pencoblosaan caleg karena saat pemilu dulu, Aburizal bukan berada di daerah pemilihan sana. Ini yang menggelitik mata saya. Di saat para pakar dan pendemo di sana mengkritik Aburizal, di sini namanya justru sangat harum.

Bahkan perusahaan Bakrie Sumatera Plantation (BSP) di mana mertua dan abang-kakak ipar saya bekerja, masih bisa tetap memberikan kebahagian Lebaran yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Ada keyboard (hiburan musik) tiap malam. Lapangan golf yang boleh dipakai untuk menggelar tikar dan makan siang bersama. Dan terpenting THR masih selalu dibarengi dengan pemberian bonus. Jadi karyawan BSP menyambut ..hari kemenangan dengan tiga bulan gaji. Satu THR, dua bonus. Siapa yang kena krisis?

Lantas di mana Presiden SBY dibicarakan? ‘’Inilah perubahan yang dijanjikan SBY. Kabarnya, lepas Lebaran ini mau bikin bensin jadi 7 ribu. Mau sama persis dengan Singapura. Berapa lagi ongkos mopen dibuat?’’ Ini kekesalan supir mopen yang kami tumpangi. ‘’Mau tahu singkatan baru SBY-JK? Senang Bikin Yayangnya Jalan Kaki’’ Saya tersenyum geli pada SMS ini dengan kata ‘’Yayang”-nya. Jadi ingat lagu setiap Idul Fitri.

‘’Selamat para pemimpin, rakyat makmur terjamin.’’
Siapa yang dipilih, siapa yang dimakmurkan (disayang?). Kata ini saya tiru dari anak saya, ketika dia minta dibikinkan mie goreng tapi ditolak ibunya. Dibalasnya pula, ‘’siapa yang minta, siapa yang makan’’. Jadi yang memilih, selalu menderita? Ya, kalau tak kita sendiri berusaha mengubah nasib kita! (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 13-November-2005, 08:40:00 202 Klik

Selengkapnya...

Perjalanan Bertanya

‘’Anas ra: Kami pernah tempuh perjalanan jauh bersama Rasul di bulan Ramadan. Orang yang berpuasa & yang berbuka dlm rombongan tidak saling mencela.”

MAAF pembaca, saya mengetengahkan alinea pembuka dengan SMS soal perjalanan. Saat Anda membaca tulisan ini, saya Insya Allah sudah tak berada dalam lingkup peredaran Batam Pos. Saya telah pulang kampung. Ikut arus mudik di Kisaran, Sumatera Utara, kampung istri.

Yang saya risau berada di sana, soal sinyal handphone yang sudah bisa bagus ditangkap, kayaknya akan dirasakan. Bisa jadi, banyak di antara Anda akan mencoba untuk meng-SMS saya. Saya kini telah berada dalam lingkungan yang sebenarnya ingin saya dambakan tanpa gangguan krang kring HP. Namun sayang, teknologi telah memasuki seluruh pelosok kota yang tiga jam perjalanan dari Medan ini.

Tapi Anda jangan mengira, tulisan ini dibuat saat saya berada di sana. Bukan, tulisan ini diketik malah jauh sebelum saya dan keluarga berangkat. Pengandaian akan banyak dipakai dan terasa dalam denyut tulisan.
Kami semua telah membayangkan akan berburu kereta api dari Medan. Lalu berebut naik mopen (metrotrans kata orang Batam). Atau malah bisa jadi, naik motor bertarung dengan bus-bus cepat lintas Sumatera yang lewat di depan rumah ibu mertua saya.

Saya telah membayangkan, kini giliran anak kedua (2 tahun 7 bulan) yang akan bertanya mengapa setiap turun dari mopen harus membayar. Sama persis seperti yang ditanya anak pertama (5 tahun 3 bulan), saat dua tahun lalu kami berlebaran di Pekanbaru. ‘’Sama om Lamsir, Udin dan Tomy tak bayar. Kok di sini bayar?” Saya yakin itu akan ditanyakan si kecil. Kalau tak terucap, pasti matanya menanyakan hal itu.

Tentu saja dia akan bertanya, mengapa kami harus berdesak-desakan dengan penumpang lain. Mengapa tak seperti di Batam, saat hanya kami sekeluarga saja yang ada di mobil milik kantor. Dan yang paling penting bagi si kecil, mengapa mobilnya tak ber-AC. Mengapa harus dibuka terus kacanya hingga rambutnya berterbangan ditiup angin?

Wuih, hal-hal seperti itu saya harap didapat kedua buah hati. Ada pertanyaan-pertanyaan mengapa begini, begitu? Malah bukan hanya pertanyaan soal mengapa harus naik pesawat, lalu kereta api, seterusnya mopen, dan motor, tapi mengapa banyak sekali saudara sepupunya? Mengapa ibunya juga kok banyak? Dan mengapa juga, ibunya kok mirip dengan ibu lain yang dia panggil? Yang terakhir maklum pembaca, istri saya kembar!

Atau juga pertanyaan lain yang tak kalah penting, mengapa nenek Kisaran tak ada datuk, kok nenek Pekanbaru masih ada datuk? Malah bisa lebih dahsyat lagi, kok nenek Kisaran merokok seusai makan? Untuk malam hari, kok banyak nyamuk di rumah nenek? Bunyi apa itu? Kodok? Kok kamar tidurnya gak ada AC?

Kami akan membiarkan kedua buah hati kami dalam lingkup beda. Tahun lalu kami berlebaran di tengah perpaduan suasana kampung dan teknologi tinggi di sepanjang Malaysia. Kami biarkan mereka bertanya-tanya sendiri.
Lantas bagi saya berdua istri apa? Tentu mudik kali ini jadi cara pengabdian kami. Menghadirkan cucu-cucu yang degil ke hadapan neneknya. Meriuhkan lagi rumah yang sepi dari suara anak-anak untuk mengeluarkan senyum dan menghapus rindunya. Dan tentu saja kata maaf atas semuanya itu.

Namun saya dan istri punya kegemaran sama, kami mengincar makanan khas Kisaran. Namanya Mieso Bacok. Itu mirip seperti bakso tapi tak pakai bakso yang bulat-bulat. Diganti dengan suir-suir ayam, yang sengaja dibacok dengan pisau besar seperti parang. Miriplah dengan soto. Tapi kuahnya rasa lain. Apalagi ini dipanaskan di tungku menggunakan arang. ‘’Kapan janji makan pempek pak raden di batam centre? Saya harus memendam lama untuk menjawab SMS ini. Hmm… (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 30-Oktober-2005, 229 Klik)

Selengkapnya...

Malu Hati

‘’Apa kabar, De. Sehat? Bagaimana pekerjaannya? Masih kuat bersafari ramadan?”

BARU kali ini, saya merasakan betul manfaat SMS bernada seperti di atas. Biasanya saya anggap angin lalu saja. Utamanya tentang sehat. Setelah dua hari sempat sakit dan tak berpuasa karenanya, kata sehat dari SMS itu terasa jadi doa. Amien!

Tersebab itu pulalah, tulisan saya pekan lalu mungkin jadi ‘’aneh” bagi yang terus mengikuti alur beberapa pekan sebelumnya. Maaf pembaca, judul ‘’Ayahku Badut” pekan lalu itu telah terbit pada 8 Februari 2004 di Posmetro Batam. Saya terpaksa mengulang terbit lagi, karena pikiran saya tak mampu lagi berkompromi dengan kondisi tubuh yang menurun.

Namun uniknya, respon yang masuk sungguh banyak. Saya jadi malu hati sendiri dinasehati berbagai petatah petitih soal anak. Malah ada juga pembaca menyangka, saya ini sebenarnya ‘’pelarian” saja dari apa yang diberikan Tuhan. Atau juga ada yang menyelutuk, tak bisakah menulis yang lain saja dari luar kehidupan saya. Yang terakhir, mungkin susah saya hindari. Inilah ciri khas. Hm…

‘’Aku doakan lima tahun lagi dah bisa jadi caleg. Salut untuk safari ramadannya.” Ih, ini juga bikin malu hati. Tak ada niat acara safari Ramadan Batam Pos untuk target menjadi caleg. Wuih, jauh dari relung hati. Tapi mau tak mau, SMS itu ‘’termakan” hati juga. Karena itu, saya tak menghadirinya tiap malam. Dibuat bergiliran dari awak Batam Pos terutama redaksi.

Malah, masing-masing kami menemukan perjalanan batin yang berbeda-beda. Ada yang teringat saat masih di kampung sering tampil di mimbar masjid, grogi kini saat tampil. Atau ada juga yang tak pernah pegang mikropon di masjid sama sekali, mulai ‘’nagih” untuk kapan lagi tampil. Atau saya sendiri, yang paling tak bisa berpidato di depan umum, kabarnya, jadi pidato saya yang paling singkat dibanding teman-teman lainnya. Terlebih lagi seusai pidato, untuk pertama kali pula dalam hidup saya, sholat tarawih dan witirnya 23 rakaat.

Kami semua diajar malu hati, tak ada apa-apanya tanpa masyarakat pembaca. Karenanya wartawan harus terjun ke masyarakatnya. Menerima keluh kesah soal air, listrik bahkan BBM. Ini tentu saja kami dapatkan setelah diskusi seusai tarawih. Dan itu akan jadi perenungan dalam lagi untuk tahun depan. ‘’Bila perlu tiap malam dua masjid, bang!”.

Saya merenungi dalam hati soal dua masjid tiap malam itu. Tersebab, satu masjid tiap malam saja selama 25 hari, terus terang sudah ngos-ngosan. Baik biaya maupun tenaganya. Apalagi dua malam. Dan malah, rasanya safari Ramadan Batam Pos lah yang terlama dibanding tim safari lain.
***

‘’Benar juga tuh tulisan tentang harga bensin 4.500.” Ini juga SMS yang bikin malu hati. Mengingatkan saya tulisan tentang perjumpaan dengan Wapres Jusuf Kalla yang terbit sebelum harga BBM naik 1 Oktober. Saya makin malu hati karena tahu, tukang bakso langganan saya terlambat saya beritahu. Hingga dia tak bisa menyetok minyak tanah. Lalu saya yang tak bisa makan baksonya hingga jelang Ramadan tiba.

Baru hari kedelapan Ramadan dia jualan. Bakso yang gerobaknya diberi nama Juventus itu pun, membuat saya malu hati. Tersebab, ingin ‘’menolong” malah saya yang tak tertolong untuk mampu menahan perut dari kelebihan beban. Besok, dua harinya saya tumbang karena dehidrasi menyusul sering buang air. Terasa nikmat ketika SMS begini datang dalam tahap penyembuhan termasuk saat menulis ini. ‘’Gimana, dah sehatkan? Kapan THR diterima? Kapan teman dibagi?” (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu 23-Oktober-2005, 349 Klik)

Selengkapnya...

Ayahku Badut

APA rasanya punya dua gadis kecil, sulung usia 5 tahun tiga bulan dan si kecil 2 tahun 7 bulan? Lucu dan membuat kita digelari “ayahku badut”.

Itu yang saya alami. Sama saja rasanya, dapat anak lelaki atau perempuan. Tiap malam juga bisa smackdown. Sungguh, saya beda pandangan dengan mereka yang tetap menginginkan sepasang. Enak ya, De, dapat anak perempuan. Aku ingin perempuan, yang dapat laki-laki terus.

Tersenyum geli baca sms yang diterima 10 bulan lalu. Padahal yang saya dapat justru tetap sama dengan pertama, perempuan. Tak jua sepasang. Saya hanya tersentuh menyangkut perempuan atau lelaki ketika solat jumat saja. Bila datang bisa membawa anak lelakinya ikut ke masjid, saya tidak. Bahkan saat solat Idul Adha lalu, berpisah dengan sulung, karena dia harus berada di shaf perempuan.

Kembali ke ayah badut, dalam buku Menjadi Ayah yang Sukses, memang harus itu yang terjadi. Kata pengarangnya, Adil Fathi Abdullah yang mengutip banyak hadis, seorang ayah mesti serba bisa. Termasuk juga bisa puisi, prosa dan lain-lain yang sifatnya menghibur. Cuma tak di tegaskannya saja jadi badut.

Saya sendiri merasa tak lucu, apalagi di depan 80 karyawan yang lebih dua pertiga waktu harus dipikirkan.Kadang, “memaksa” wibawa, padahal ingin apa adanya. Makanya, kini sangat tak ingin terlalu dekat dengan 80 karyawan itu diluar jam kantor. Termasuk untuk acara keluarga yang digelar kantor. Lebih menikmati liburan dengan yang lain saja. Bayangkan saja, acara liburan harus tetap wibawa?

Tapi sungguh senang digelari anak sendiri, badut. Ayah kayak badut. Ayah tak boleh ke Lombok lagi. Nanti capek. “Si sulung saya, menyampaikan hal itu dengan merengut suatu ketika. Tapi disaat lain, dia akan mendatangi badutnya untuk merebahkan kepalanya dilengan sang badut, lalu tertidur pulas. Begitu setiap malam.
De, tak usah perpanjang kontrak aku. Aku mau bawa anakku berobat ke Surabaya. Kalau diperpanjang nantimemberatkan perusahaan.

Penyelesaian yang bagus bagi saya. Angka 80 telah berkurang1. Selesai juga program menghapus KKN, karena karyawan ini adalh teman satu kuliah. Tapi juga sedih. Dia kini harus memasrahkan diri untuk benar-benar jadi ayah badut bagi anaknya yang autis. Ia harus bisa mendampinginya bukan sekedar kata setiap hari, melainkan setiap detik. Siap jadi badut, yang ikhlas bergembira meski hati sendiri sedih. Pertengahan Februari ini harus ternang dari Tanjungpinang menuju Surabayayang kabarnya punya klinik autis terbaik di Indonesia.

Saat tulisan ini dibuat, terus terang air mata ingin keluar. Membayangkan hanya janji yang bisa diberikan ketika bermaksud mencarikan buku tentang autis di Gramedia Batam. Apatah lagi membayangkan perjuangan menjadi ayah badut pada anak yang susah ditebak emosinyatersebut. Beda dengan saya, yang bisa benar-benar dianggap dan berprilaku seperti badut oleh dua buah hati – apalagi perut saya yang makin tambun – hingga terkadang capek sendiri.

Sungguh hebat, si teman dari tanjungpinang itu berjuang demi anaknya. Tak ada apa-apanya dengan saya yang hanyabisa bersikukuh di hati, melaksanakan SMS kiriman alquran seluler ini: Rosulullah bersabda: Warisan bagi Allah Azza wajalla dari hambaNya yang beriman adalah putra-putri yang sholeh (beriman pada Nya) (Aththahawi). Persepsi saya, ternyata, Allah tak membedakan laki-laki dan perempuan, punya kesempatan sama! Dia hanya menginginkan kita menjadikannya anak yang sholeh. Entah dengan cara kita jadi badut, atau tidak. Terserah!*** (pernah terbit di Posmetro Batam, dan Batam Pos , www.harianbatampos.com, Minggu 17-Oktober-2005, 402 Klik)

Selengkapnya...

Puasa Berprasangka

”Untuk sikap & kata yg tak terjaga, hati yg buruk sangka, dg ikhlas kami mohon maaf. Marhaban ya Ramadan.”

Beruntunglah saya yang huruf awal nama, ‘’A”. Betapa tidak, dalam daftar di HP berbagai teman tentu nama saya secara otomatis ditempatkan teratas. Dari orang yang semula tak niat untuk meng-SMS khusus Ramadan, jadi teringat. Karenanya SMS seperti di atas terasa sangat menyesakkan daya tampung HP saya.

Maaf, saya membalasnya lambat sekali. Padahal ada yang sudah mengiriminya tiga hari jelang Ramadan. Balasannya malah beberapa detik jelang dimulainya imsak pertama.

Uniknya, dari puluhan SMS Ramadan yang masuk tersebut, rata-rata isinya terkait dengan hati. ‘’…izinkan kedua tangan bersimpuh maaf utk lisan yg tak terjaga, janji yg terabaikan, hati yg berprasangka & sikap yg pernah menyakitkan…” Ini contoh lainnya.

Hati yang berprasangka? Mengapa selalu begitu? Sepertinya telah dalam masuk dalam relung-relung raga kita. Hingga bukan hanya dalam hidup bertetangga, dunia kerja hingga ke negara. Kita selalu dalam lingkup hati berprasangka. Konotasinya tetap jelek. Curiga, bahkan untuk kebaikan sekalipun.

Meski tayangan televisi telah menampilkan sinetron azab sebelum kubur lalu diselipi berbagai petuah tokoh kondang, tetap saja kita lebih berprasangka negatif. Bahkan, kita juga banyak mengikuti seminar-seminar motivasi, tetap saja prasangka selalu kita ke depankan yang negatifnya.

Padahal hidup lebih banyak nikmat dengan energi positif. Contoh terdekatnya, bagaimana tetap berbahagia dalam ketinggian harga BBM. Kan masih banyak teman-teman kita yang dapat kompensasi Rp100.000 per bulan? Bayangkan, bisa jadi seumur-umur mereka belum pernah dapat uang pemerintah dan mengambilnya di kantor pos pula. Ada yang malah dijadikan modal usaha.

Atau ada yang bisa mempropaganda untuk gaya hidup emat energi. Naik sepeda ke kantor seperti yang dilakukan beberapa tokoh di nusantara termasuk Batam, misalnya. Bukankah itu juga cara berprasangka positif untuk menterjemahkan sesuatu yang negatif?
***

Alhamdulillah, kita sudah dipertemukan lagi dalam atmosfer untuk berprasangka positif, Ramadan. Bayangkan saja, tidurnya orang berpuasa saja ibadah apalagi seluruh sikapnya yang tetap dialiri ion-ion positif.
Seterusnya kita akan merasa sangat kecil sekali, apalagi hanya untuk menyembunyikan secuil prasangka negatif di hati. ‘’Krn sungguh, Ia mengetahui apa yg rahasia dan apa yg lbh tersembunyi. (QA.20:7)”.

Dan saya pun, juga kita semua diingatkan oleh SMS yang dikutip dari hadis nabi berikut ini. ‘’Abu Hurairah: Sabda Rasul: Allah berfirman: Semua amal ibadah anak Adam utk dirinya kecuali puasa, ia utkKU dan Akulah yg membalasnya (M).”

Tafsiran saya, kita diwajibkan untuk berprasangka positif pada hitungan-hitungan Allah terhadap puasa kita. Semoga sebulan, akan mempositifkan kita untuk 11 bulan berikutnya. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 9-Oktober-2005, 248 Klik)

Selengkapnya...

Peluang Intuisi Kesabaran

‘’Bakal seru! The Pesimist sees the difficulty at every opportunity. The optimist sees the opportunity at every difficulty.”

SAAT bersama teman-teman se-Jawa Pos Grup jumpa Wapres Jusuf Kalla (JK) 24 September lalu pukul 19.30 WIB, hati saya sebenarnya bangga bercampur miris. Bayangkan saja, saya bisa makan dan minum dalam piring dan gelas yang berlambangkan garuda dan tertulis ‘’Istana Wakil Presiden RI”. Ingin rasanya membawa pulang. Tapi di sisi lain, siapa yang tak tergetar hati ketika mendengar bensin bakal jadi Rp4.500 per liter?

Jadi, celutukan saya siang harinya saat masih di Batam dalam acara keluarga Batam Pos, saya akan menjumpai JK dengan membawa misi penurunan harga BBM, hanya gombal belaka. Saat JK meyakinkan kami semua BBM bakal naik sedemikian tingginya, terutama saya, sudah kekenyangan menikmati sop konro. Lalu ada ikan bakar yang pakai sambal terasi, dan lalapan potongan mangga muda. Belum lagi ikan teri yang didatangkan khusus dari Makassar sana. Tak kuasa lagi untuk bertanya, tak bisakah tak naik?

Belum lagi ditambah argumen-argumen JK yang ‘’memaksa” pikiran rasional kita mengangguk sendiri. Membenarkan apa yang dilontarkannya. Sungguh, JK jadi kombinasi seorang Wapres dan pedagang. Makanya, ketika cara berpikir itu dan analisanya soal BBM saya lemparkan ke seorang teman, maka jawabannya, SMS di atas tadi. Yang intinya; di mana ada kesulitan di situ ada peluang.

***
Rasanya kita memang memasuki lagi masa krismon. Namun krismon yang kita tetap banyak mendatangi mall-mall. Yang kita mungkin hanya sebentar ikutan dalam gaya penghematan. Bisa jadi hanya satu dua hari saja kita berhemat lampu, tak menghidupkan AC, atau ada yang berani coba-coba ‘’turun” dari mobil pribadi ke umum.

Seterusnya nanti, kita akan terbiasa. Biasa dengan harga BBM yang baru ini, dan biasa juga dengan dampak-dampaknya terhadap harga-harga kebutuhan kita yang lain. Selanjutnya secara tak kita sadari pula, kita menganggap – tentu suatu saat—harga-harga itu justru lebih murah. Itu terjadi ketika pemerintah lagi-lagi akan menaikkan BBM.

‘’Dalam bisnis seringkali Anda tdk punya waktu berpikir. Pekerjaan rumah banyak sekali. Anda harus mengandalkan intuisi yg bersih hambatan dari pikiran Anda.” Saya terima SMS ini, empat hari setelah jumpa JK. Kiriman dari ESQ reminder. Intuisi apalagi nak kita lakukan dengan harga BBM seperti itu? Yang tak kuat membeli minyak tanah, mungkin intuisinya bakal langsung mencari kayu bakar? Atau yang biasanya naik motor bakal membuat gerakan, separuh jalan ke kantor pakai motor, separuh lagi jalan kaki? Atau malam hari tak usah hidup listrik, tak usah nonton tv, langsung tidur saja?

Rasanya terserah, persepsi kita menemukan intuisi itu. Namun mungkin yang paling hebat tetaplah intuisi pedagang. Mungkin akan keluar alat penghemat bensin bagi motor dan mobil? Juga makin canggih, alat penyetel hemat listrik? Atau ditemukan ramuan pengganti cabe, tapi harganya jauh lebih murah?
***

Mengapa dinaikkan? Kita sebagai pengkonsumsi sebenarnya tak peduli alasan apa. Tapi naiknya kebutuhan primer, bagaimanapun pasti menyesakkan.

Namun mendengar JK menyebut angka-angka rasional perbandingan jumlah penduduk dengan pemakaian energi, lalu diceroki pula jumlah energi minyak dan gas kita ternyata tak milik kita sepenuhnya, maka peninglah kepala. Belum lagi ditambah, oknum pengelola minyak kita sedemikian korupnya.

Pening kepala itu, sudah diungkapkan banyak orang di berbagai tempat dengan mendemo. Tak terkecuali, momen pengumuman 1 Oktober dinilai kurang tepat. Beberapa hari kemudian puasa Ramadhan pula. Apa nak tega? ‘’Demo paling-paling sebulan, apalagi BBM-nya belum naik, demonya udah duluan.

Lalu tanggal 4 atau 5 udah puasa. Masak puasa tak bisa menahan sabar?” Hmm…untuk menghemat energi, saya tak akan merevisi tulisan ini pada 1 Oktober, cukup hingga 30 September 2005 pukul 08.57 WIB walau batas waktunya masih ada. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 02-Oktober-2005, 211 Klik)

Selengkapnya...

Bekerja Keras untuk Siapa?

‘’Hai manusia! Kau sungguh bekerja keras menuju Tuhanmu dan kau akan bertemu dengan-Nya (QS. 84:6)”

SUDAH tiga hari Minggu saya punya kegiatan lain. Kuliah lagi. Tapi tak nak meraih gelar S-2 atau S-3. Melainkan sesuatu motivasi. Karenanya, ketika salah masuk ruangan di Hotel Nagoya Plaza, saya jadi tersenyum sendiri. Tertulis di pintunya Kuliah S-2 Univ. Boedi Utomo Surabaya. Sedangkan kuliah yang saya ikuti ini, tak berijazah dan bergelar sama sekali.

Setiap sesi kuliah, bulu kuduk saya berdiri. Terlebih pada pekan kedua. Betapa tidak, ternyata dosennya teman saat mahasiswa dahulu. Dia menceritakan bagaimana setiap hari keluar dari rumah untuk pergi kerja, pukul lima subuh. Pulang kerja dan sampai ke rumah pukul sembilan malam. Waktu dalam perjalanan dari kantor ke rumah bolak-balik, habis lima jam. Karena, dia tinggal di Cisalak, Bogor tapi kerja di Cikarang, Bekasi. Macet yang jadi penghalang.

‘’Kalau orang tua lain bisa melihat pertumbuhan anaknya dari tingginya, saya justru dari panjangnya. Saat pergi kerja, anak masih tidur. Ketika saya sampai di rumah, anak juga tidur. Saya pandangi anak saya. O…udah segini panjangnya.” Teman itu memperagakan panjang dengan merentang tangannya. Senyumnya hanya sedikit, tapi yang mendengarkan tertawa ngakak. ‘’Kata orang, ketika bangun pagi kita dibangunkan ayam berkokok. Kalau saya beda, saya yang membangunkan ayam. Bayangkan saja, kalau keluar rumah jam lima subuh, jam berapa saya bangun mempersiapkan diri?”

Tapi berkat kerja keras, teman ini justru jadi orang hebat. Setiap Sabtu saat kantornya libur, dia belanja mainan anak-anak di Pasar Pagi Jakarta. Dibawanya ke Cisalak menggunakan kereta api. Lalu bersama istrinya, dia melabeli harga untuk dipajang di toko milik mereka. Dan di hari Minggu-nya, dia menemani istrinya menjaga toko yang selalu ramai di hari libur itu. Begitu terus lebih kurang dua tahun. Saat tokonya di tahun 2003 sudah berjumlah empat, dia baru memberanikan diri resign. Meninggalkan jabatan sebagai manajer keuangan. Meski itu ditentang banyak keluarganya.

‘’Diurus sambilan saja bisa punya empat toko, apalagi diurus serius.” Begitu prinsipnya. Dan terkesan dia malah menyesal mengapa lambat sekali memutuskan resign. Dua tahun setelah keluar kerja, jumlah tokonya hingga saat dia memberikan kuliah pada saya, sudah 36 unit tersebar di Pulau Jawa. Dan akan terus ditambahnya.
Hari-harinya bagaimana? Ketika saya menelponnya jam 9.30 WIB, dia masih di rumah. Menikmati hidup. Masih sempat mengantar anak sekolah, lalu pulang ke rumah mengulang baca koran sambil minum teh, dan jelang siang jemput anak sekolah lagi. Nyaris persis seperti gaya hidup konsultan kepemimpinan Gde Prama yang ketika orang pagi-pagi pergi kerja, dia asyik memancing.

Bagaimana bisnisnya dijalankan? Ke-36 tokonya tetap buka, tanpa dia harus mati-matian lagi mengawasinya. Dia sudah punya sistem kerja dan pendelegasian tugas yang jelas dengan karyawannya. Kalau ada janji ketemu rekanan, dia hanya mau di atas jam 12. Sesudah sholat Zuhur dan sekaligus menghindari macet Jakarta. ‘’Kalau pagi-pagi saya keluar rumah, ntar disebut karyawan lagi.”

Betapa tak berdiri bulu kuduk saya mendengar itu semua. Saat masih kuliah semester lima di jurusan manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Riau tahun 1992, saya sudah bekerja. Dia yang di jurusan akuntansi mungkin baru jelang-jelang akhir, saat mulai jadi asisten dosen. Saya terus dalam grup yang sama hingga tamat kuliah. Tahun 2000 saya merantau ke Batam.

Dia merantau ke Jakarta. Saya masih dalam grup yang sama di 2005. Dia akhirnya punya kerajaan sendiri. Dan akan terus membangun visinya punya mall yang isinya mainan anak-anak semua.

Tapi gayanya masih sama, sederhana dan sangat bersahaja. Belahan rambut yang di tepi dan badan yang tetap ramping. Saya makin gendut, dan tak gesit.
Dan hmm…dia sudah bisa banyak membantu orang. Bayangkan saja, kalau tiap tokonya perlu lima orang karyawan saja. Betapa banyak doa, akan diucapkan untuk dirinya. Sedekahnya pun jauh lebih banyak ketimbang saat masih mengukur panjang anaknya. Sama dengan Purdie Chandra yang jadi mentornya, dia juga mempunyai selera humor sama. ‘’Saat di pintu surga. Para kiai akan mempersilakan lebih dahulu pengusaha yang masuk.

Tersebab, pengusahalah yang menyumbang paling banyak pada masjid dan pondok pesantren.”
Kalimat dia yang juga bernada humor menurut versi saya seperti berikut. ‘’Kalau mati-matian bekerja di perusahaan orang, pekerjaan itu tak bisa diwariskan. Termasuk juga jadi pegawai negeri di zaman ini. Tapi kalau usaha, bisakan?” Tapi saya tetap harus merenungi lebih dalam tentang bekerja keras dan mati-matian. Terlebih lagi ada kiriman SMS seperti di atas tadi dan berikut ini. ‘’Napoleon Hill berkata: Peliharalah wawasan Anda seakan-akan itu anak2 jiwa Anda; rancangan utk pencapaian akhir Anda ‘’. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 25-September-2005, 350 Klik)

Selengkapnya...

Natuna, Kelapa Muda dan Ikan Salai

‘Pak, sblm ke Natuna, udah diproteksi family economic value-nya? Krn kapal terbang akhir2 ini byk yg bermasalah.”

PEMBACA setia mengingatkan via SMS pukul 17.30 WIB, Minggu,11 September 2005. Memang, dalam tulisan hari itu, saya menyebut berencana ke Ranai, ibukota Kabupaten Natuna. Dan bersama doa-doa lain yang tentu saja bukan sekedar SMS, telah menyelamatkan saya pergi 12 September dan kembalinya ke Batam empat hari kemudian.

Peristiwa jatuh dan banyaknya eror pesawat saban hari di bulan September memang membuat was-was. Apalagi yang dinaiki Fokker 50 milik Riau Airlines (RAL). Untuk pertama kali, saya naik pesawat menggunakan baling-baling. Tapi nyatanya, tak seperti banyak dibayangkan. Justru take off dan landing terlihat lebih mudah. Cuma saja memang harus ditambah banyak selipan doa dari bibir dan hati.

‘’Natuna seperti apa? Ada prospek bisnis yang tampak?” SMS seperti itu masuk dalam rentang waktu yang telat saat si pengirim menekan tuts HP-nya. Maklum, sinyal masih hilang timbul di sana. Lantas apa jawabannya? Bisnis, rasanya tetap ada saja di manapun. Tapi yang paling hebat sepertinya property atau minimal berdagang bahan bangunan. Betapa tidak, rumah PNS yang setingkat kepala bagian (Kabag) saja sudah seperti, malahan melebihi rumah-rumah di Dutamas atau Sukajadi, Batam.
‘’Seperti rumah tuan Takur,” kata Tarmizi, salah satu wartawan yang ikut ke sana. Tarmizi yang dikenal dengan Rumahitam-nya itu memang penggemar berat film-film Bollywood. Jadi dia tahu persis, megahnya rumah-rumah di film India tersebut.

Anda bisa bayangkan. Bahan bangunan saja didatangkan dari Pontianak, Kalimantan Barat. Atau pun kalau tidak, dari Tanjungpinang. Bayangkan jauhnya jarak. Kalau dari Tanjungpinang saja pakai kapal perlu waktu satu hari satu malam. Berapa besar ongkos bahan bangunan? Lalu rumahnya, sama persis dengan rumah pengusaha di Batam, berapa pula total biayanya?

Lebih hebat lagi dari Batam, rumah para Kabag itu bukan berderet-deret seperti rumah di Batam. Tapi saling terpisah. Malah ada yang halamannya saja, mendekati besarnya lapangan sepakbola. Namun jangan berprasangka negatif dulu. Bisa saja mereka begitu karena sebelum Natuna jadi kabupaten di tahun 2000, harga tanah hanya Rp5.000 per meter. Sekarang sudah mencapai Rp100.000 hingga 200.000 per meter. Atau ada juga pegawai negeri yang nyambi jadi peternak hingga memiliki ratusan kambing dan sapi. Atau bisa jadi, banyak yang memiliki kebun cengkeh.

Lalu Anda bayangkan juga, saat para pegawai itu di tahun 2000 hingga 2001 pergi ke kantor jalan kaki semua. Termasuk Kabag hingga kepala dinas. Maklum, belum dapat motor dinas. Dan saat kami datang, para Kabag sudah sekitar setahun lebih menggunakan mobil dinas baru. Kelihatannya lebih banyak Daihatsu Taruna. Saya merasa lain masuk di dalamnya. Karena sejak lima tahun di Batam, tak pernah ada Taruna yang saya naiki. Apalagi menaiki mobil yang benar-benar baru, karena di Batam dipenuhi second.

Apa yang saya gambarkan ini, yakinlah, mirip seperti Batam dahulu, saat tak ‘’dikenal”. Ketika banyak pegawai negeri takut dikirim ke sini di awal tahun 80-an hingga 90-an, termasuk bapak saya. Begitu juga hal sama dengan pegawai negeri di Natuna. Ada kecemasan semula. Tapi lambat laun, mereka menemukan seperti yang dialami di Batam. Ada rezeki lain yang akan menghampiri. Bahkan, bisa jadi keenakan di sana selamanya. Seperti salah satu famili saya yang bahkan mendapatkan suami orang sana hingga tak pernah lagi pulang kampung.

Tapi bakal majukah Natuna seperti yang akan dialami Batam? Rasanya ya. Ladang gas saja belum maksimal dieksploitasi. Tanah yang luas, masih bisa ditanami apa saja dan jadi tempat bangunan apa saja. Pantainya yang indah, bisa disanding dengan lapangan golf, resort dan lain-lain atraksi untuk menarik wisatawan. Dan lebih hebatnya lagi, ada gunung.

Baru kali ini saya temukan gambar-gambar kita saat diajari guru SD dulu gunung berdekatan dengan pantai, laut dan lahan pertanian bisa sekalian ada. Gunung Ranai menjulang yang puncaknya diselimuti asap putih. Pantai Tanjung yang putih bersih jauh lebih putih dari semua pantai di Bali apalagi Pattaya di Bangkok dengan ribuan pohon kelapa mengelilingi. Lalu lautnya biru dengan pemandangan laut lepas Cina Selatan, atau ada pulau terluar yang seperti ibu hamil lagi tiduran, Pulau Senua.

Sungguh indah! Sayang, nak minum air kelapa muda susahnya bukan main. Padahal di restoran tersebut, kelapa ada di atas kepala kita. Alasannya, karena tak ada yang manjat. Atau memang, kunjungan wisatawan jarang, sedangkan rata-rata penduduk sudah punya pohon kelapa sendiri, jadi air kelapa muda bukan minuman favorit seperti di Batam?

‘’Kalau banyak bawa ikan salai, kirim ke Pekanbaru.” Ini SMS dari ibu saya. Kalau tak dipesan di hari kedua kami berada di sana, ikan salai tak bisa kami bawa. Ternyata, tak ada spontanitas untuk terus berproduksi dan menjadikan ikan salai dari laut – biasanya ikan salai dari ikan air tawar — sebagai salah satu oleh-oleh bagi tamu.

Majunya Natuna kelak, sejahtera jugakah rakyatnya? Sepertinya, harus ada yang mengkreasikan kelapa dan ikan salai tadi sebagai pemicu contohnya. Ini tugas berat bagi Bupati Hamid Rizal untuk mencarinya. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 18-September-2005, 293 Klik)

Selengkapnya...

Jangan Melupakan Diri Sendiri

‘’Udah ketemu bahan tulisan pak? Apa temanya lagi? Adakah isi curhat lagi? Sesekali tulis dong soal PS Batam, BBM atau valas”

SAYA benar-benar buntu. Saya membayangkan banyak hal yang akan terjadi minggu depannya – Insya Allah saya ke Pulau Natuna— yang diyakini mantap untuk bahan tulisan. Tapi deadline minggu ini bukan minggu depan. SMS pemicu inspirasi agar jari mengetik juga tak muncul. Jadi benar-benar membuat saya ‘’mati”.

‘’Selamat atas peresmian Graha Pena Batam yang sangat membanggakan itu. Kami ni apalah di Pekanbaru, tak ada lagi yang dibanggakan. PSPS pun dah keok.” Atau SMS ini saja jadi bahan dasar pijakan saya. Waduh, tak semua orang ngerti bola. Tak semua tahu apa itu PSPS Pekanbaru. Meski itu klub bola terkaya di Indonesia. Yang telah dipastikan harus tereliminasi dari divisi utama ke divisi I.

‘’Bang, bagaimana itu. PSPS kok bisa degradasi.” Walah, mirip lagi SMS-nya. Soal bola juga. Si pengirim ingin menggelitik saya berkomentar. Tapi tuts-tuts keybord handphone tetap tak saya tekan. Tak mampu, bak ‘’mati rasa”.

Saya hanya membayangkan saat sejak tahun 1991 ketika Riau Pos mulai terbit, saya mampu mengisi kolom halaman 1-nya mengulas PSPS yang kala itu masih di divisi II Riau bukan nasional. Saya gambarkan, membeli Maradona pun sanggup bagi Riau yang kaya minyak, apalagi untuk sekedar mengontrak pemain terbaik di Indonesia agar bisa lolos ke jajaran elit sepakbola nasional. Karena tulisan itu, malah jadi ditarik sebagai reporter olahraga Riau Pos. Hingga PSPS akhirnya ke Divisi Utama sejak 1999, saya sudah tak reporter lagi, meningkat karir hingga posisi saat ini.

Jadi, yang tahu saya mengawali karir jurnalistik dengan liputan PSPS, merekalah yang kemudian mengirimkan dua SMS di atas. Di banyak pertemuan yang tahu dengan hal tersebut, saya juga dipertanyakan. Sebaliknya, saat saya berjumpa dengan Walikota Pekanbaru, Herman Abdullah pada acara peresmian Graha Pena Batam, 28 Agustus lalu, soal PSPS juga saya tanya ke beliau.
Jawabannya, sungguh mengejutkan hati. Juga tak pantas saya eksposkan, karena bisa disalah tafsirkan bagi yang tak mengerti. Kapasitas saya bertanya pun bukan wawancara. Saya pendam dalam hati. Tapi saya puas, karena mendapatkan jawaban dari Ketua Umum langsung tim tersebut.

Saya membayangkan, betapa sedihnya mereka yang dulu merintis PSPS untuk merangkak ke divisi utama. Bahkan mantan Ketua Umum itu pun sempat juga berkunjung ke Batam dalam kapasitasnya sebagai pejabat salah satu departemen pemerintahan SBY, Agustus lalu. Sayang saya tak bisa menemuinya. Karena tahu pun dia di Batam, itu pun setelah baca koran. Mungkin akan terpuas hati saya, bila tahu apa opininya tentang tragedi yang menimpa PSPS.

Namun saya berkesimpulan, apapun yang terjadi saat ini, sepertinya mempertahankan memang lebih sulit dari merebut. Mempertahankan ada koneksitas dengan histori. Ada beban tanggungjawab moral kepada pendahulu. Mempertahankan ada juga dampak psikologis pada budaya yang diterapkan. Mempertahankan juga punya konsekuensi dana dan tenaga lebih besar. Ini terjadi di banyak hal kehidupan, bukan hanya sepakbola.

Selain itu satu hal yang selalu diajarkan bos saya, mungkin pantas direnungkan. Jangan lupakan historis tempat kita bekerja sekarang. Terutama orang-orang pendahulunya. Jangan hilangkan semua jasa-jasanya dalam memori arsip kita, apalagi perilaku kita yang hingga kini masih dipercaya untuk mempertahankan apa yang telah diperjuangkannya.

Itu penghormatan kita kepada mereka. Tapi mereka dari mana semua dan mahluk siapa? Karena itu lebih pantas lagi direnungkan kiriman SMS firman Allah ini. Kalau tidak kita akan benar-benar mati dalam tanda petik, sedangkan deadline kematian sebenarnya memang sudah dekat pada usia kita masing-masing. ‘’Dan janganlah kamu seperti orang2 yg lupa kpd Allah, lalu Allah menjdkan mrk lupa kpd diri mrk sendiri. (QS.59:19).” . (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, kolom SMS Hati, Minggu, 11-September-2005, 295 Klik)

Selengkapnya...