Jangan berprasangka negatif dengan judul di atas terhadap saya. Mentang-mentang ini hari kedua saya membujang (lihat tulisan di bawah), bukanlah saya ''berniat'' untuk menduakan istri. Ini pengalaman pribadi dua ''teman kolega'' saya.
Keduanya sama persis. Sama-sama merasakan dan mengaku banyak bohongnya pada istri dan orang lain. Teman pertama, saya kenal pertengahan 2006 lalu. Semangatnya beristri dua, sungguh saya kagum. Saya kagumnya malah, karena dia seperti sudah kaya atau mendekati kaya.
Seminar kelas dunia, pernah diikutinya. Bayangkan saja, seminar internet marketing yang sekali ikut saja Rp6 jutaan, belum lagi beli CD dan bukunya (agar makin pintar) dia mampu. Terbayang oleh saya, berarti gajinya atau pendapatannya lebih Rp10 juta per bulan, dan tanpa ada utang di bank.
Tapi itulah, saya tahu dia beristri dua, ketika janjinya pada saya untuk membayar utang yang ''hanya'' Rp3 juta, sudah molor dan nyaris mendekati satu tahun. Baru dua bulan terakhir ini mulai dicicilnya. Entah bagaimana saat dia mengucapkannya pada saya, ''pengakuan'' beristri dua itu.
Pantas saja, saya jadi teringat anaknya. Kok masih kecil-kecil ya, sedangkan dia lebih tua pada saya. Semula saya kira telat menikah. Rupanya punya dua istri.
Tanpa menyebutkan pun pada saya, kalau suami beristri dua, lebih banyak bohongnya, saya sudah tahu dari tindakan-tindakannya pada saya. He..he...he..
Lalu teman kedua, baru saya kenal sebulanan ini. Kebetulan dia dan saya, sama-sama ikutan komunitas calon pengusaha di Batam. Dan kebetulan, saya pimpinan proyek yang akan kami kerjakan, dan teman ini salah satu anggota tim saya. Yang ini, memang pantas benar saya panggil bapak. Karena usianya sudah kepala lima.
Mungkin karena sudah tua itu, si bapak, lebih ''jujur'' pada saya. ''Saya beristri dua pak. Tapi yang tua di Jawa, sudah ada yang saya tinggal. Ada kedai untuk dia. Sekarang saya dengan istri muda di Batam ini.''
Saya ingat-ingat lupa, apa istri tua sudah dicerai atau belum. ''Susah pak, saya jadi banyak bohongnya..'' Kata itu yang saya ingat, dan meyakinkan saya, si bapak ini memang jujur.
Si bapak juga, sangat terbuka menceritakan kesulitan keuangannya. Dia ''termakan'' uang panas (istilah dia sendiri) karena percaya pada orang, yang selalu rutin beli barangnya, tapi kemudian kini ngadat pembayarannya.
Dari pengalaman kedua teman itulah, saya terkadang sudah ''berprasangka negatif'' saat ada orang yang dengan sangat ''tulus'' ingin pinjam uang atau berbisnis. Ditambah lagi, jika orang itu beristri dua. Jadinya, saya selalu ''kasihan'' pada orang lain yang mungkin benar-benar tulus minjam dan ngajak bisnis di hari berikutnya, padahal belum tentu mereka beristri dua.
Eh, ngomong-ngomong, apa kabarnya ya AA Gym? Sejak beristri dua, bulan Ramadhan tahun ini, kita tak lihat dia di satu televisi nasional pun ya?
Ah, sudahlah, tak urus orang lain. Tapi yang pasti, tak ada istri juga repot ya, seperti dua hari ini saya lakoni. Malas kali rasanya bikin teh, masak mie untuk sarapan pagi. Belum lagi nanti untuk makan siang (saya selalu pulang untuk makan siang), bosan juga makan masakan Padang terus. He..he..he..**
Jumat, November 09, 2007
Beristri Dua Banyak Bohongnya?
Kamis, November 08, 2007
10 Hari Menjadi Bujangan
Ssssttt...bukan berarti saya ditinggal istri bercerai. Melainkan, anak istri saya siang tadi menuju Kisaran, Sumatera Utara. Pagi tadi Batavia yang membawa mereka telah meninggalkan Batam pukul 10.30 dan mendarat di Medan 11.30. Dan saat tulisan ini mulai diketik, istri saya sms ''Udah di stasiun kereta. Jam 2.30 berangkat.''
Tak jadi pulang kampung saat Lebaran, justru dilakukan sekarang. Maklum, mertua saya yang bermukim di Kisaran, mau naik haji 17 November nanti. Jadi, bakal ada banyak acara di tempat kelahiran anak sulung saya itu. Selain syukuran, tentu mereka saling kangen-kangenan, karena semua anak mertua yang merantau, pulang.
Nah, saya yang bujang ini, bagaimana makannya nanti? He..he..pulang dari Bandara tadi, saya singgah dulu ke RM Usaha Baru, karena jam masih 11.10, saya beli nasi bungkus aja. Lauknya, gulai ikan salai. Dah lama, tak menikmati ini sejak puasa lalu. Belum lagi istri saya bertanya, saya sudah SMS kan menu makan siang saya.
Lalu malamnya bagaimana? Wah, di sekitar kediaman saya, banyak alternatif. Apalagi, sekarang saya sudah bisa bawa mobil sendiri, ditambah lagi, ada motor pula. Enak lho pakai motor keliling komplek mencari makanan atau belanja di supermarket!
Tapi satu hal yang pasti, saya tentu saja kesepian. Tak lagi ''dimarahi'' istri karena malas bantu dia beres-beres rumah, atau cuci piring (maklum, kami tak punya pembantu). Atau tak ada lagi, kalah saing berebut nonton TV, karena sinetron Si Entong lebih disenangi dua anak saya. Atau juga, dan ini yang paling bakal saya rindukan, rengekan dua gadis kecil saya itu, ketika minta digendong atau minta diajak keliling komplek naik motor. Wow...
Tak apalah...saya tahan membujang hingga 18 November nanti (10 hari ya). Saya bakal isi dengan kembali membaca buku-buku yang tak sempat saya buka, karena sibuk dan ''ributnya'' suasana rumah. Buku Ustad Yusuf Mansyur, Mencari Tuhan yang Hilang belum tuntas dibaca. Juga novel bos saya, Rida K Liamsi yang berjudul Bulang Cahaya. Oh ya, kalau sempat, sebenarnya lebih bagus saya membaca buku-buku tentang mendongeng, agar nanti saat dua gadis kecil saya balik, saya punya cerita dongeng yang baru dan cara saya membawakannya lebih ekpresif. Ada yang bisa bantu? ***
Rabu, November 07, 2007
Cara Berpikir, Ngertikah?
Wow, beberapa hari ini saya menemukan cara berpikir orang lain yang berbeda. Sebenarnya sih, sudah sering saya hadapi mereka. Tapi yang saya tak habis pikir (benarkah kalimat ini ya?), mengapa mereka bisa berpikir begitu ya? Aneh!
Yang pertama, karyawan satu-satunya yang tersisa dari bisnis pribadi saya. Dia ini, kalau diajari sesuatu dan saya berhadapan langsung padanya, maka, angguk-angguk kepalanya bukan main. Tapi ketika dilepas, maka dia akan bekerja sesuai alur yang dia rasa, itu sudah oke. Padahal, nanti dia akan tetap menemui cara ''salah jalan'' yang sama. Dan itu dilakukannya berulang kali.
Misalnya, kita siang atau sore hari orang setor duit padanya, dia tidak langsung setor ke ATM Setoran Tunai BCA. Alasannya, udah kesorean, atau dia merasa dirinya capek. Dan keesokan paginya, dia justru tak bisa datang ke bank atau ke ATM Setoran Tunai itu, gara-gara hari hujan, anaknya sakit, atau istrinya lambat mempersiapkan diri hingga lambat pula datang ke kantor. Padahal, duit itu, berguna untuk memutar roda bisnis kami (hiii...hi...)
Seperti hari ini, dia mengalami motor mogok. Sekarang, saat tulisan ini dibuat, dia lagi memegang uang sejumlah Rp1.060.000 duit setoran agen pulsa yang nitip padanya. Ya, tentu saja, deposit pulsa tak akan bisa terkirim kepada agen-agen itu, wong duitnya belum masuk bank. Coba seandainya sore kemarin, dia sempatkan diri ke BCA Jodoh, dan moga-moga ATM Setoran Tunai tak macet, maka selamatlah semua bisnis dia dan agen pulsanya.
Uniknya, si dia ini, masih belum tahu pelajaran apa yang dia dapat tentang hal tersebut. Tak ngerti saya, bagaimana otaknya berpikir. Padahal kan mudah saja, jangan menunda-nunda pekerjaan atau berpikir, ah kerjakan besok saja. Sampai tulisan ini dibuat, dia belum ngerti juga.
Yang lain, yang masih tak saya pahami cara berpikirnya adalah, salah satu kolega saya di grup tempat saya bekerja. Selasa lalu, kami rapat gabungan. Saya sudah didorong-dorong manajer lain untuk menyanggah pendapatnya. Tapi saya tak mau, karena saya merasa aneh dengan cara berpikirnya, yang justru ''tak ada masalah pada diri dan perusahaannya'' (maaf, saya tak bisa sebutkan apa, ini rahasia perusahaan). Padahal, semua orang menganggap ada masalah. Dan ketika kita kasih solusi, dia malah langsung ''menolak'', dan dia sendiri, tak tahu apa solusisnya.
Akhirnya ketika sampai giliran saya presentasi mengenai perusahaan saya (maksudnya yang saya pimpin, yang masih diamanahkan pada saya), baru saya menyindir cara berpikirnya. Itu sudah terjadi berulang kali. Dan saya juga tahu di luar rapat pun, cara berpikirnya aneh. Tapi uniknya, saya juga bisa kagum padanya, karena ''bisnis luarnya'' yang agak mirip-mirip MLM, cukup hebat. Mungkin, teman ini layak berbisnis untuk dirinya sendiri, dan tidak berbisnis dengan memimpin perusahaan orang lain. He..he...he...
Tapi bagaimanapun, ada sisi menariknya juga bagi saya menghadapi hal-hal tersebut tiap hari. Ternyata, kita manusia sangat tidak sempurna. Ketidaksempurnaan kita itu, ternyata ada dibagian yang justru membedakan kita dengan mahluk lain, hewan dan tumbuhan. Apa itu? Ya, salah satunya pikiran tadi. Ngertikah ya? Saya rasa saya juga belum, karena saya merasa belum memanfaatkan benar pikiran saya, yang kata para ahli, otak manusia sebenarnya lebih hebat dari komputer manapun.
Selasa, November 06, 2007
Saya Menikmati Kekayaan Asman Abnur, Tapi...
Masyarakat Batam, saya rasa masih banyak mengingat nama ini, Asman Abnur. Pernah jadi Wakil Walikota Batam sekitar tahun 2003, lalu kemudian ''mengundurkan'' diri untuk maju sebagai anggota DPR RI. Kini posisinya, Wakil Ketua Komisi XI DPR asal Fraksi PAN. Bahkan dia pun di DPR menjadi Ketua Panitia Kerja (Panja) Badan Usaha Milik Negara (BUMN. (ketik nama dia di Google, akan banyak Anda temukan berita tentang dirinya)
Apa kaitannya dengan saya ya? He..he...saya pernah mengirimkan surat pengunduran diri juga padanya. Saya tak bersedia menjadi pengurus organisasi sepak bola, PS Batam. Sebenarnya tak tepat mengundurkan diri, belum dilantik, saya sudah tak bersedia kok. Itu kira-kira tahun 2002 atau 2003 ya? Saya tak mau jadi pengurus bola, agar kesenangan saya menjadi ''pengamat'' tetap terjaga. Jadi, setakatnya, saya tak pernah akrab dengan beliau, kecuali pernah diajak makan siang oleh Socrates (kini Pemimpin Umum Batam Pos) di Hotel Harmoni dan jumpa dia di sana. Saat itu, Asman belum jadi ''apa-apa'' untuk urusan birokrasi. Masih pengusaha dan memimpin sebuah organisasi pengusaha.
Seterusnya, saya bahkan tak ''sempat'' mencicipi ruang kerjanya di Kantor Walikota Batam. Saya hanya berpapasan sebentar dan menyalaminya ketika dia menyambangi ruangan Walikota Nyat Kadir. Ini sekitar tahun 2003 mungkin. Selanjutnya, yang saya tahu kisahnya, makin ''mantap'' di DPR RI sana.
Tapi hari Minggu lalu (4/11), saya benar-benar menikmati seperti apa kekayaan Asman. Pagi itu, bersama dua gadis cilik saya, kami mencuci mobil. ''Cucinya ke SPBU depan Tiban Center saja. Bilang, cuci body dan kolong. Sekitar 25 ribu duitnya,'' kata istri saya.
Rifa, gadis saya paling kecil ternyata sudah tahu ke arah mana masuk SPBU dan langsung menuju konter cucian mobilnya. Wow, ternyata sungguh luas SPBU yang diberi nama Vitka Point ini. Pernah sih, saya ngisi bensin (ada dua kali mungkin, maklum saya baru berani bawa mobil lagi), tapi saya baru kali ini menuju konter cucian mobilnya.
''Cuci kolong dan body,'' kata saya, kepada petugas yang langsung menyambut.
''Berapa?'' tanya saya.
''Cuci body sepuluh ribu, kolong delapan belas ribu. Semua 28 ribu.''
''Naik ya.'' Sang petugas hanya balas senyum seperti tidak mengiyakan.
Rifa sudah tahu ke mana ruang tunggu berada. Ada kantinnya. Bau ikan goreng, sudah menyambut. Terlirik pula nasi goreng yang sudah siap disajikan. Lalu ada juga mie instant yang masih terbungkus. Jadi ingat omongan istri,''sekalian nanti, Taya sarapan mie goreng. Cuma lima ribu.''
Taya, si gendut sulung saya, mengangguk pasti saat disebut mau pesan mie goreng. Tapi saya tak memesan minuman. Sudah bawa botol Aqua dari rumah. Pelanggan lain sudah memesan mie rebus dengan minuman kaleng dan teh obeng. Ada yang asyik baca Batam Pos (eh, koran saya Posmetro tak ada), main game di HP dan ada yang melihat mobilnya dicuci dari balik kaca dengan sesekali tersentak karena arah air mengena kaca (tapi tentu saja tak kena tubuhnya).
Dari minyak premium, pertamax dan solar, bisnis Pak Asman ini sudah pasti untung pikir saya. Lalu tambah cucian mobil, lalu jual makanan. Eh, bunga-bunga yang menjadi taman indah di SPBU ini apa dijual juga ya? Saya tak bertanya. Tapi rasanya bisa jadi ya, karena ada pengurus khusus tamannya.
Lalu saya jadi ingat pada manajer umum saya. Katanya, perusahaan kami langganan bensin di tempat pak Asman juga. Selain di Tiban (yang baru), di Sei Panas, ada juga satu SPBU satu grup ini. Jadi, supir kantor, bisa ngisi di mana aja, di antara 2 SPBU itu. Asal bawa kuponnya (tapi untuk mobil pribadi saya, tak dapat lho).
Saya juga ingat, pernah makan di Rumah Makan Sederhana, lalu warung Bakso Inno. Semua itu, punya Asman juga. Atau beli obat, pernah juga di apotiknya (kalau tak salah bernama Vitka juga). Ini kalau tak salah lagi, ada dua. Di samping RM Sederhana (penuin) satu, dan satu lagi di Nagoya.
Juga, saat istri saya mau beli emas. Toko Mas Bandar Baru yang didatangi. Baik yang di Jodoh dekat Hotel Pelangi atau komplek Tanjungpantun. Malah ada yang baru di Mega Mall. He..he..sesekali saya juga pernah tukar dolar di Bandar Baru money changernya, yang biasa satu tempat dengan toko emas itu.
Wah...wah..., baru saat menikmati mie goreng bertiga di cucian mobil ini, saya merasa ingat semua nikmat yang saya dapatkan dari kekayaan Asman (tapi saya tetap harus keluar duit membayarnya lho!). Saya berharap, tugas Asman di DPR benar-benar pula memikirkan rakyatnya. Terutama rakyat Batam, yang telah ''memperkaya'' dirinya dengan menikmati semua kekayaan dan bisnisnya. Apalagi, zaman FTZ setelah ketuk palu, belum-belum juga action. Dan anehnya, suara Asman tak pernah terdengar sama sekali untuk itu. Kecuali foto-fotonya digandeng dengan pengurus partai PAN Batam, bertebaran mengucapkan selamat Ramadhan dan Idul Fitri di jalan-jalan.
Maaf pak, saya tak perlu lagi mengirimkan surat untuk keluh kesah saya seperti ''zaman PS Batam dulu''. Tapi cukup di blog ini ya? Bapak sudah dapat jatah laptop anggota dewan kan? ***
NB: Pita, teman chatingnya saya meralat nama toko di shoutbox. Yang betul Banda Baru, bukan Bandar Baru. Terima kasih. Dan NB ini sekaligus ralatnya ya..Maaf...
Jumat, November 02, 2007
Doa untuk Uang Kertas Rp1.500
Entah wawasan saya kurang tentang buku, maka keluarlah pendapat ini; tak ada sama sekali buku tentang manajemen koran, atau marketing koran ya? Anda yang pernah melihatnya dan bahkan membacanya, tolong beritahu saya.
Saya tetap beranggapan, belum banyak pakar manajemen dan pakar marketing yang faham dunia bisnis koran. Padahal, ini dunia sangat menarik, karena bisa menarik ribuan tenaga kerja (sektor informal). Bahkan mereka, bisa jadi lebih kaya, ketimbang pekerja kantoran di bisnis koran itu.
Ya, saya beberapa hari ini sudah mencari ide baru menghadapi awal tahun 2008. Diperkirakan, harga cetak koran bakal naik. Bisa jadi, harga jual koran yang saya tangani sekarang ini (Posmetro Batam), tidak bisa lagi seribu perak, tapi menjadi seribu lima ratus (Rp1.500). Bila itu terjadi, kami sudah memprediksi pula, berapa penurunan jumlah lakunya.
Lantas bagaimana untuk mengatasinya? Tentu saja yang hal ''biasa'', kembali melihat pada diri kami sendiri. Benarkah koran ini isinya sudah memuaskan pembaca? Benarkah, judul-judulnya sudah membuat mata orang terbelalak sehingga ada niat untuk membeli, lalu merogoh kantongnya? Atau malah, koran ini sudah kebanyakan iklan, karena banyak sekali iklan proyek pelelangan?
Tapi ide yang luar ''biasa'' adalah; bagaimana kami semua berdoa agar para pemimpin Bank Indonesia terbuka hatinya untuk membuat uang pecahan kertas Rp1.500. Jadi, saat pembeli koran kami (kebanyakan di lampu merah), tak perlu ragu repot dengan uang kembalian. Cukup satu lembar Rp1.500, maka dia sudah menikmati koran kami. Kami beranggap, itu akan lebih mudah, ketimbang dia menyerahkan dua lembar uang seribuan, yang bisa-bisa tak dikembalikan lima ratus peraknya, karena keburu lampu sudah hijau. Malahan, kami menganggap, jika ada pecahan Rp1.500, maka kita semua, akan merasa, itulah uang pecahan kertas yang terendah saat ini di Indonesia (maaf, jika di tempat Anda masih ada uang kertas 100 perak ya?).
Terkabulkah itu? Dalam sejarah BI mencetak uang, rasanya tak ada pecahan yang angka keduanya selain 0. Semuanya seperti ini, 100, 500, 1000, 5.000, 10.000, 20.000, 50.000 dan 100.000. Angka yang terlewati adalah 150, 550, 1.500 dan seterusnya...
Jadi, kami tetap harus instropeksi ke dalam saja, namun doa kami tetap, terbukalah hati pemimpin BI pada uang pecahan kertas Rp1.500.
Kamis, November 01, 2007
Lebih Sayang Cucu, Apa Anak?
Sudah dua hari ini, ibu saya berhasil bertemu dua cucu perempuannya. Saat Lebaran lalu, kami tak pulang ke Pekanbaru. Kini dia malah datang ke Batam, sambil mengantar cucu laki-lakinya (anak dari adik saya). Padahal, tanggal 25 November nanti, ibu bakal ke Batam lagi untuk masuk Asrama Haji dan keesokan harinya, menuju Madinah.
Terkadang saya dan istri juga kasihan lihat mamak (saya memanggilnya begitu). Mengapa tidak, sudah lama menantikan cucu, eh malah ketiga cucunya berada di Batam. Padahal juga, dia sangat sayang pada anak-anak. Malah, anak-anak sekitar rumahnya, sering dititip ke rumahnya. Hingga, beliau banyak anak asuh. Eh, ketika cucu sendiri telah ada, jauh di rantau.
Makanya, bila dia lagi aktif di Posyandu, dan mengurus anak-anak orang lain, dia ingat cucunya. Atau ketika PIN berlangsung, dia ingat cucunya. Ketika lagi makan mie, dia ingat cucunya Taya, yang sangat hobi mie. Ketika bersama ayah lagi nonton acara si Bolang di Trans7, dia ingat juga pada Taya dan Rifa, yang menyenangi acara petualangan anak-anak itu.
Karena itu pula, pagi tadi, dia bersikeras ingin mengantar kedua anak saya sekolah. Pengalaman yang jarang didapatnya. Meski hari hujan, dia tak mau diantar pakai motor. Cukup jalan kaki. Eh, si anak saya pun keenakan. Terkesan seperti bangga, diantar neneknya sekolah.
''Mamak tak mau ke mana-mana, datang ke Batam kali ini. Mamak, mau ngantar cucu sekolah, tidur bersama. Itu aja,'' katanya.
Dia sudah kepikiran, akan saya bawa ke mall atau ke tempat makan di Sembulang, yang suasana pantai dalam alamnya yang romantis. Dan tentu saja, saya sudah kepikiran itu. Karenanya, sampai tanggal 3 November nanti, saya harus lebih cepat ''out'' dari kantor untuk ''membahagiakan'' orang tua. Karena kami juga sudah mulai terasa, bagaimana dua anak gadis kami lebih sering main di luar rumah, pada saat kami sedang santai di rumah. Ada rasa sepi, yang mungkin tak seberapa dibanding ibu saya.
Jadinya, apakah lebih sayang cucu apa anak? Ini tak usah dicari jawablah. Kita rasakan saja masing-masing.
Rabu, Oktober 31, 2007
Mundurlah, Bang Nurdin!
Maaf, judul di atas terinspirasi tulisan di Kompas hari ini, ''Memang, Tak Ada Tempat Untuk Kriminal.'' Tulisan Anton Sanjaya itu, mengingatkan kepada Ketua Umum PSSI untuk patuh pada Peraturan FIFA, bahwa yang terlibat kriminal tak boleh jadi Ketua Umum PSSI. ''Daripada Indonesia terus dipermalukan di arena pergaulan sepak bola internasional, memang lebih baik Nurdin Halid sukarela mundur. Malu kita bang!'' Itulah alinea terakhir tulisan Anton.
Hari ini, Kompas memang sangat spesial ''membela'' PSSI. Tulisan Anton itu ada di halaman olahraga, tapi ada berita lain pula di halaman utama (belum tentu halaman 1, karena saya masih baca Kompas yang edisi online ya?!). Judulnya ini, ''Tiada Lagi Celah Bagi Nurdin Halid di PSSI''. Seingat saya, kalau Kompas sudah ''bersuara'', maka ''jadilah''. Artinya, respon berita selanjutnya, maka Nurdin Halid bakal segera lengser. Baik oleh kesadaran dia sendiri (seperti saat mundur dari DPR), atau memang oleh desakan Musyawarah Luar Biasa.
Hmm...jadi teringat masa ''muda'' kalau sudah menyangkut berita olahraga ini. Saat saya memulai karir sebagai reporter olahraga Riau Pos di Pekanbaru tahun 1992. Saat saya, menjadi satu-satunya reporter yang setiap sore meliput sepak bola di Pekanbaru. Baik yang ukuran kelas kampung (karena di lapangan kampung) atau yang bermain di Stadion Hang Tuah (sekarang stadion ini sudah ''almarhum'' menjadi taman kota). Bahkan, meski nama saya tak ada dalam panitia kompetisi PSPS Pekanbaru, tapi saya ikut mengangkat meja, membantu membawa toa dan ''memberi semangat'' kepada Pak Saleh (instruktur pertandingan), agar tetap ''senang hati'' menggelar kompetisi.
Karenanya, saya jadi tahu, siapa saja personal-personal yang memang ''gila bola'' atau ''menggilai'' di balik bola. Karenanya juga, saya jadi bisa menangkis opini orang tentang personal-personal yang dianggapnya tak becus ngurus sepak bola. Karenanya juga, saya jadi tahu, siapa pejabat-pejabat yang benar-benar ''sepenuh hati'' mengurus bola.
Bahkan, saya juga jadi tahu, bagaimana sikap luar dalam pemain bola. Dan saya juga jadi tahu, bahwa bila saya datang ke Stadion Hang Tuah, menyaksikan anak PSPS latihan, maka, anak-anak itu akan sungguh-sungguh berlatih. Karena, walau pun saya berada di tribun stadion ''mengota'' dengan fans PSPS sambil makan buah semangka, tapi keesokan harinya, bisa saya bikin beritanya, siapa-siapa saja yang pantas jadi pemain cadangan dan inti. Karena bisa saya lihat di tribun, dengan ''mengaduk-aduk'' komentar fans yang ada di tribun itu.
Kini sudah ''jauh'' tujuh tahun, saya dari aroma PSPS karena sudah ''dimutasi'' ke Batam. Bahkan, bisa jadi sudah jauh sepuluh tahun (karena tentu saja tak terus jadi reporter olahraga), tapi ''darah'' bola itu tetap ada saja. Saya selalu rindu berita PSPS. Setiap pagi saat masuk kantor, yang pertama saya lakukan, browsing di internet dengan mengklik RiauPos.com untuk cari berita PSPS. Atau malah, saya cari website suporternya. Setiap hari, rutin. Tapi berita PSPS makin jarang (kabarnya, setelah era saya, tak ada lagi yang benar-benar serius jadi reporter olahraga di Riau Pos). Kalau dulu, ada tak ada pertandingan, berita PSPS bisa saya bikin dua atau tiga setiap harinya.
Lalu karena sudah ''berkurang'' tadi, maka berita tentang sepakbola nasional menjadi ''menu'' saya. Dari dulu memang. Tapi kini makin kuat, setelah berita PSPS menghilang. Bahkan tabloid Bola yang sejak awal terbit dilanggankan papa saya, yang saya baca paling dulu hanyalah halaman Ole Nasional! nya. Selebihnya sambil lalu saja. Karenanya jua, saya jadi makin paham. siapa itu sebenarnya Nurdin Halid.
Saya jadi tahu tuh, dia ''gila bola'' benaran, atau ''menggilai'' di balik itu. Pemahaman saya pun pada dia, sama persis dengan pemahaman saya bagaimana bergaul dengan ''orang-orang bola'' dulu di era 92-96 itu. Tapi seperti kata Anton, ''tak ada tempat untuk kriminal'' apalagi itu sudah aturan di FIFA, makanya, saya juga menganjurkan Bang Nurdin, untuk mengundurkan diri saja. Bagaimanapun, banyak orang tetap akan menghargai niat baiknya memajukan sepakbola bangsa. Mundurlah, bang, untuk kemajuan sepakbola negeri kita!
Rabu, Oktober 24, 2007
Apa Sih Kerjaan Ayah Taya?
Kalau ditanya kerja, saat masih bujangan hingga sudah menikah punya dua gadis kecil, jawabannya selalu didahului senyuman.
Saat saya dan saudara sepupu saya tinggal tak jauh dari kantor tempat saya bekerja, ada kejadian lucu. Tetangga rumah menyangka, saya kerja Satpam. Karena sering pulang hingga dinihari jam dua pagi. ''Banyak yang tanya, De, kau kerja apa,'' kata Syaf, adik sepupu saya.
Lalu saat menikah, dan kemudian menetap di Batam, tetangga juga tak tahu apa pekerjaan ayah Taya? (itu nama anak saya). Lalu setelah dia baca koran, dan ada nama saya tertulis di boks pengurus Batam Pos dan Posmetro Batam barulah mereka tahu. ''Rupanya ayah Taya, ....''
Tapi anehnya, selain banyak tetangga yang tahu, ada juga yang belum tahu. Apa tak pernah baca koran ya? Ketahuannya saat Lebaran lalu. ''Ayah Taya kerja di mana? Bagian apa?''
Saya jawab saja. ''Sekarang di Posmetro, bagian usahanya.'' Yang nanya bertanya lagi. ''O...bukan wartawannya ya...?''
Yang paling enak, kalau yang bertanya itu, lagi chating. Seperti sore ini, ada yang bertanya apa pekerjaan saya. Dia pantas bertanya begitu, karena dia seorang karyawan perusahaan forex, siapa tahu mungkin saya cocok jadi nasabahnya. Jawaban mudah saya, ya, suruh klik saja www.posmetrobatam.com dan carilah nama saya di sana.
Lantas apa komentarnya; seperti di bawah ini, tapi sudah saya edit kok.
D..S: kudu hormat neh ama bpk dir...
D... S: *gak lg2 pake gw lu dah...*
Belum sempat saya menjelaskan, bahwa di kantor saya justru lebih banyak dipanggil ''abang'' ketimbang bapak, chating sudah ditutup.
Senin, Oktober 22, 2007
Walah...Dapat Kartu Kredit Lagi
Hari ini kerja lagi dengan lebih banyak waktu di kantor. Maklum, ini resmi kerja hari pertama setelah Lebaran, jika ikut aturan pemerintah. Tapi sebenarnya, saya sudah mulai resmi masuk kerja lagi sejak tanggal 18 Oktober. Namun seusai makan siang yang biasa dilakukan di rumah, saya tak pernah datang lagi. Tapi hari ini, setelah makan siang dengan ayam masak kecap, saya balik lagi ke kantor.
Nah, saat baru duduk di kursi dengan suara AC yang masih belum bisa dikecilkan, telah datang pula setumpuk petunjuk tentang kartu kredit Mandiri. Kali ini pakai nama Kartu Mandiri Titanium. Saya pikir, bakal dapat pagu kredit hingga Rp50 juta, nyatanya masih bermain di Rp10 juta juga.
Terkesan saya sombong ya? Tentu saja, karena saya sudah punya kartu Mandiri lainnya yang berlogo Visa dengan pagu Rp10 juta juga. Lalu ada juga kartu kredit yang pertama kali saya dapatkan, yakni dari Bank Riau, tempat saya menabung sejak SMP. Itulah bank yang pertama kali mempercayai saya punya kartu kredit, karena justru sebelumnya ditolak melulu. Lalu ada Kartu Kredit Niaga, dan yang paling besar pagunya Kartu Kredit HSBC Rp12.500.000.
Jadi, hari ini kartu kredit saya sudah lima. Terus terang saya sudah bosan. Karena empat kartu kredit yang sebelumnya saja, masih terus memburu tagihannya. Ada yang karena saya pakai untuk membayar tiket pulang kampung -- tapi setelah balik ke Batam, tidak saya lunasi segera, padahal duitnya ada. Ada juga karena kenekatan saya, untuk dipergunakan berbisnis dan sekarang tinggal saya bayar tagihan bulanannya, sementara bisnisnya sudah tutup.
Tapi tak apalah. Saat orang percaya memberikan pinjaman uang kepada kita, berarti kredibilitas kita terjagakan? Tapi untuk kartu kredit yang terakhir ini, mungkin saya perlu pikir panjang registrasinya. Namun melihat buku petunjuknya, banyak tempat-tempat yang bisa saya minum dan makan gratis di berbagai bandaranya, ngiler juga.
Eh...walah...di tahun 2007 ini pula, saya jarang diajak bos keliling Indonesia. Padahal hari-hari ini, ada teman yang bisa ''berwisata'' di Makassar. He..he...seandainya...


