Mencari Sistem Emosi ~ sebuah blog yang tahu diri

Rabu, November 29, 2006

Mencari Sistem Emosi

Hari ini saya banyak marahnya. Pagi buka komputer, ketahuan omset lagi turun. Bukan karena ekonomi Batam lagi sepi, atau tanggal tua untuk beberapa karyawan pabrik. Melainkan, karena penjaga kios saya sepertinya rada malas.

Ada enam jam dia meninggalkan kios, dan itu tak bisa dibohonginya. Sayang ya, maunya saat dia ninggalkan kios, ada sistem yang langsung meng-sms ke saya. Ini tahunya, malah keesokan harinya.

Tapi diselengi sewot dan emosian itu, Kabag Pemasaran tempat saya masih TDB, Mulyadi datang. Melaporkan data-data penitipan koran kami kini terus meningkat lakunya. Tapi dia juga yang melaporkan kecurigaan, jangan-jangan koran ini justru dikasih ke anak-anak asongan, bukan dititip di kedai-kedai sekitar perumahan yang menjamur di Batam ini.

Siangnya, karyawan saya yang lain (yang ini usaha untuk persiapan TDA) melaporkan ada yang marah tak dikirimi deposit pulsa. Saya jawab, dia dulu transfer ke kita, baru kita yang kirimi dia deposit. Eh, saya oke kan juga dikirimi. Ketika karyawan saya datang ke sana, eh malah, orangnya tak ada. Khawatirlah saya soal duit itu.

Saya emosian bercampur buruk sangka, saya tarik lagi tuh deposit pulsa. Tapi baru beberapa menit ditarik, si karyawan SMS. ''Duit sudah di tangan.'' Sedetik kemudian saya kirimi lagi, dengan menghapus tanda minus dan menambah angka 1. Kalau tetap dikirimi angka sama, sistem menolak. Jadilah saya rugi 1 perak.

Saya terkadang berpikir, mengapa emosi saya tak bisa mengikuti sistem saja? Saat level masalahnya begini, emosi segini. Sama seperti sistem yang dipakai saat memantau omset itu atau menarik duit pulsa tersebut. Ngawurkah pikiran saya ini?

''Yah, nenek kepengin makan ayam penyet.'' Istri saya SMS. Ini lagi bikin kesal! Sudah jelas mertua saya mau datang, eh istri masukkan mobilnya pula ke bengkel. Kasihan dong, si nenek belum bisa jalan-jalan juga mengelilingi Batam (biasanya istri saya langsung yang nyetir, saya tak bisa. Lagipula sibuk kerja TDB, hi..hi..). Masak pindah tidur saja dari Jakarta sana, setelah sebelumnya beliau di Palembang dan rumahnya di Kisaran.

Tapi saya ingat AA Gym, bukan masalah yang bikin pusing, tapi bagaimana cara menyikapinya. Saya mesti belajar terus nih.***

Tidak ada komentar: