Senin, Mei 29, 2006

Kebutuhan Untung, Keinginan Rugi

‘’AQS 1:1-7 BAT 6/8 Ibnu Umar ra: Sabda Rasul: Bila seorg mati, sekiranya ia dr ahli surga, akan diperlihatkan surga kpdnya, bgt jg halnya ahli neraka (B/M)”

Bukannya nak memandai-mandai. Betul memang saya terima SMS demikian. Namun harus diakui, saya cari di inbox HP justru setelah Aa Gym menyampaikan tema seminarnya Berbisnis dengan Hati, Selasa malam (21/6) di Goodway Hotel, Batam. Tapi Aa Gym melukiskannya begini, memang hidup untuk cari untung. Buktinya, ada surga. Dan kerugian itu, neraka.

Baru kali ini saya ikut seminar benar-benar ‘’tersentuh” hati. Tak terkecuali seminar Hermawan Kertajaya atau Kafi Kurnia misalnya. Namun yang ini sangat dalam menusuk. Apatah lagi, untuk pertama kali ditemani istri ikut seminar. Meski handphone sering diintip, siapa tahu ada SMS masuk, karena anak di rumah lagi proses penyembuhan demamnya.

Istri saya mengangguk di antara kantuk saat Aa Gym mulai beraksi dari pukul 20.10 hingga 22.00 WIB tanpa sorbannya. Atau terkadang berusaha tersenyum pada saya, untuk reaksi atas ucapan Aa Gym. Sekian kecil persen, pernah saya coba, tapi tak konsisten. Semua 300 peserta, kelihatannya juga begitu. Ada pencerahan. Tapi ketika sampai di bawah, di parkiran, hati saya nyaris menggerutu, karena ragu, supir sudah ada menunggu atau belum.

Padahal, Aa Gym selalu ingatkan, berbisnis atau beraktifitas apa saja jangan dahulukan prasangka negatif. Bila pun memang negatif hasilnya, jadikan itu pengalaman untuk berani terus maju. ‘’Kita mah waktu bayi saat belajar jalan, dan jatuh, terus kita coba lagi. Kita gak pernah mikir, gua jatuh melulu nih. Emang gak bakat pandai jalan kali ya? Gak gitu kan?”
***

Saya jadi ingat pengalaman terbaru dengan istri. Hati kami sama juga belum bersih sesaat tiba dari Singapura, sesudah ‘’tertumbuk” hati kecantol pada HP smart phone. Saya sekedar iseng bertanya akhirnya membeli karena si penjual di Lucky Plaza, Orchard Road itu pandai bahasa Melayu. Tanpa sadar hari itu kurs rupiah terus merosot, padahal dibeli dengan rasa kemurahan. Eh, sesampai di Batam, was-was. Ini HP palsu bukan ya, karena payah membuka covernya. Jangan-jangan memory card 128 MB yang ditambah, tak dimasukkan.

Wuih, ternyata tidak. Malah kini, pembelian HP itu jadi rekomendasi beberapa teman. ‘’Katanya suka ‘hang’. Bner? Trus indikator batere ga da, apa full or not ktka charge.” Ini SMS dari kolega sejati saya. Jawabannya pun bernada promosi. Tapi sungguh fantastis dan menyentak hati balasannya pula. ‘’Sip pak. Thx sarannya. Sy kuatir beli utk jor2an, ntar org2 duplikasi sy. Yah, tggung jwb moral. Tp skrg dah needs, bkn wants lg. Ok pak. Thx”

Baru saya menyadari pelajaran ekonomi di SMP dahulu. Needs atau kebutuhan dan wants, keinginan terkadang kita tak mendudukkannya dalam porsi yang pas. Kita lebih mengedepankan keinginan, hingga barang yang sebenarnya tak perlu, kita paksa beli. Kita bahkan terus mengikuti ritme produsen, yang membuat barangnya berseri-seri. Padahal dengan barang lama, fungsi utamanya sama saja. Dan ternyata, hanya fungsi itu yang pandai kita gunakan, meski serinya sudah tinggi sekalipun.

Itu juga gambaran lain dari seminar Aa Gym tersebut. Karenanya kata beliau, berbisnis harus bisa dinikmati proses dan hasilnya. Wajar-wajar saja menanggapi permasalahan prosesnya, tapi wajar-wajar juga menikmati hasilnya. Bukan malah sukses berbisnis hingga kaya, tapi dilarang menikmati nasi karena kena diabetes, tak boleh makan durian tersebab asam urat dan tak bisa makan daging karena takut kolesterol, meski punya bisnis restoran.

Untuk proses, saya jadi ingat pantun yang dikirim via SMS. ‘’Berbelalai bukan hanya gajah, berbisa bukan hanya ular, bila memang banyak masalah, kenapa tidak tukar.” Ini teman yang ingin tukar pikiran pemecahan masalah, dengan bermain bowling. Tapi hingga tulisan ini diketik, belum terlaksana juga. Kalau Aa Gym mengajarkan, bisnis itu jaringan. Makanya, saya pegang teguh, jaringan saya satu ini, meski dia selalu kecewa, gagal terus ngajak main bowling. Namun saran-saran teknisnya, sungguh menguntungkan ‘’daya tukar” otak kiri dan kanan saya.
***

‘’60-40 untuk m rizal pakis.” Ibu saya yang SMS kondisi pertama seusai Pilkada Bupati Indragiri Hulu (Inhu), Riau, 11 Juni lalu. Tapi malam harinya saya dapat kiriman lagi. ‘’Alhamdulillah, untuk sementara beberapa TPS, Thamsir unggul 60%.” Kali ini dari teman wartawan sebuah majalah Jakarta, yang lagi meliput di kabupaten kampung saya tersebut. Teman satu ini terus memberi info. Hingga akhirnya, semua tahu Thamsir unggul. Calon yang hanya didukung tiga partai (PPP, PBR, Persatuan Daerah) mengalahkan calon yang didukung banyak partai, dan partai besar pula lagi (PAN, PKB, PKPI, Demokrat, PBB, Golkar).

‘’Yang di kampung dah menang yang di hati awak tu. Di batam ni, siapa pula awak pegang? Ismeth atau Nyat?” Tak kuasa saya jawab SMS begituan, apalagi satu pasangan lagi tak disebut. Kiriman SMS Alquran seluler ini bisa mewakili, ‘’AQS 1:1-7 BAT 6/9 Abu Hurairah ra: Sabda Rasul : Adakalanya seorg ucapkn 1 kalimat dpt sbbkan tergelincir ke Neraka yg jrk/dlmnya antara timur & bart(B/M)”

Mungkin rasional pikiran hanya begini, kebutuhan kita apa, keinginan kita apa. Tinggal pilih. Kebutuhan untung, atau keinginan rugi. Atau bisa jadi, di saat kebutuhan kita pilih, kita rangkum juga keinginan agar tak merugi. Bukan sebaliknya, keinginan kita paksakan jadi kebutuhan.

Dah cukup? Bila tak, nikmati saja pantun ini. Tapi bersihkan hati, karena ini bukan kiriman anak Melayu, tapi Tionghoa yang telah lama bermukim di sini. ‘’Tengah hari sudah mendung, tengah malam tak bermimpi, tawa dan tangis tak terbendung, melihat seorang coba unjuk gigi.” *** (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, Minggu, 26-Juni-2005, 21:21:18 180 Klik)

Selengkapnya...

Bermain Terima Kasih

“Terima kasih atas partisipasi Anda dan pesan Anda telah kami terima.
Ttd. Presiden Republik Indonesia.”
SMS ini saya terima pukul 17.59 WIB, Rabu (15/6). Sesaat setelah mengirim pesan kepada Presiden SBY melalui 9949. Padahal nomor empat angka itu baru diumumkan sekitar jam 8 malam.

Siapa tak bangga bisa ber-SMS dengan presidennya? Cepat dibalas pula, meski itu sudah otomatis. Setidaknya lebih lumayan daripada nomor sebelumnya 0811109949 yang sampai heng. Namun yang jadi pertanyaan kita, mampukah SBY memantaunya? Atau dia bisa menggunakan lagi HP smart phone-nya untuk online dengan pusat 9949 tersebut?

“Tingkatkan terus saldo Tabungan... anda dan menangkan Grand Prize 4 rumah @ 1 milyar serta hadiah Tabungan total 10 Milyar.Penarikan undian I : Agustus’05 Ini bagian dari SMS terima kasih dari salah satu bank. Saya heran juga. Mereka lancar kirim ini, tapi tidak untuk saldo rekening yang justru saya tanyakan. Meracau SMS bankingnya.

Atau ada juga SMS seperti berikut, ‘’ikuti seminar bersama AA Gym pd tanggal 21 Juni 2005,iklan selengkapnya baca Batam Pos hari ini di hal 27,hubungi saya u antar ticket Anda. Terima kasih.” Tak tahu si pengirim SMS saya orang Batam Pos juge?
Atau ada juga SMS terima kasih berbau penipuan. ‘’Plgn yth:No. Ponsel anda mdpt-kan GRAND PRIZE 10 TAHUN TELKOMSEL u/ ket. Hubungi PT.TELKOMSEL 021-926-61479, 021-928-96155 Pengirim: 777” Padahal yang ngirim 0812.

Dan terkadang ada juga yang mengejutkan istri, bendahara rumah tangga saya. ‘’Pelanggan Yth Angsuran anda di FIF ke 25, Rp.528,000 no kontrak 219000298403 akan jatuh tempo 08-05-2005. Mohon abaikan jika sudah membayar. Terimakasih.” Padahal sudah lunas dan BPKB sudah di tangan. Motornya sendiri malah tak ada di rumah lagi karena dipakai adik yang PNS, eh muncul juga SMS tagihan, meski diakhiri terima kasih.

Tapi suatu saat, saya yang harus berterima kasih karena berada di zaman SMS. Ada seorang pimpinan perusahaan yang telah mendapat award sebuah majalah Jakarta lebih banyak berhubungan via SMS dengan saya, termasuk deal bisnis. Terakhir dia kirimkan ini,”sehubungan dgn arahan dr Poltabes Barelang dan ..., maka rncna Pameran ... ditunda stlah Kampanye dan Pilkada pd akhir juli, surat akan km smpaikan. Tq.” Tq, bahasa prokem terima kasih. Bisa juga gunakan, tx.

Huh, akhirnya ujung tulisan ini berakhir dengan benang merah kata Pilkada. Saya membayangkan akan banyak berterima kasih bila teman-teman mengirimi saya SMS hasil suara di TPS mereka mencoblos. Jadinya, saya punya cara cepat sendiri menghitung rangkuman keseluruhan Provinsi Kepri ini. Bisakah?

‘’Jangan suka main api. Kata nenek jangan ganggu saudara yg pendidikan tinggi. Kata Datuk ini semua bisa berubah dengan sekelip mata.” Saya berterima kasih pada SMS yang salah kirim ini – diakui sendiri oleh si pengirim—, yang punya arti banyak untuk 30 Juni nanti. Balasannya,”tx. smsnya bisa jadi ide kolom saya.” ***. (Batam Pos dan www.harianbatampos.com, Minggu, 19-Juni-2005, 20:45:11 246 Klik)

Selengkapnya...

Lepas dari Kaki Tangan

Lepas dari Kaki Tangan

Pertaruhan hidup, memerlukan petualangan. Jika tidak terasa hambar. Entah dimana saya dapatkan kata-kata itu. Uniknya, terngiang terus.

JADI berpikir keras pula untuk mengingat penemuan kalimat tersebut. Apa di WC umum di Pelabuhan Punggur yang kotor? Atau di tangga turun salah satu ruko di Windsor tempat sepupu saya pernah tinggal? Atau malah di WC kantor lama Batam Pos?

Namun yang jelas, ini sangat serius. Terlebih gara-gara SMS berikut. “Gak pa2 pjm. bnyk yg lakukan termsuk...” Maaf saya tak sebut nama tokohnya. Ternyata berkat duit pinjaman dia memiliki ratusan unit usaha di seluruh Indonesia.

Atau juga berjumpa banyak teman usahawan yang jatuh bangun berbisnis. ‘’Aku pernah jth di pku. skrng usahku perlhn2 bangkit.” Ini teman kuliah yang sekarang bermukim di Tanjungpinang kirim SMS.

Walah... mungkin dari teman satu ini saya dapat kalimat di atas tadi. Dia berani berpetualang bekerja tidak menjadi kaki tangan orang karena istrinya pegawai negeri. Yang mampu menutupi pendapatan keluarga. Malah guru pula yang tak berapa lama jadi kepala sekolah.

Eh tunggu! Atau malah dari Yessy Mustamu, pelatih PS Batam. Karena saking sering diskusi, apa justru saya masuk dalam petualangan hidupnya? Bayangkan saja, siapa yang tak salut dengan potensi besar mantan pemain nasional tapi mau-maunya melatih di Batam yang dunia bolanya belum semaju industri manufakturnya. Dan bisa kita ukur pula, berapa gaji yang didapat.

‘’Siapkn saja CV-nya.” Saya dilihatkan SMS tersebut, langsung dari Hp Yessy. Itu SMS tawaran dari klub divisi utama Liga Indonesia, Sriwijaya FC. Yang saya bangga, saya jadi orang pertama tahu. Dan bisa jadi, di sinilah jiwa petualang itu merasuk.

Sayang, niat petualangan saya tertumbuk pada dua wajah, termasuk saat mengetik kolom ini. Wajah yang selalu memperlihatkan wajah saya sendiri karena mirip. Wajah yang salah satunya suka memegang udel saat minum susu. Atau wajah yang ratunya makan mie.

‘’Udhlah. dikau dah kaya. punya bini punya dua anak. aplg nak bertualang.” Tak bisa tidak, saya merenungi SMS yang ini. Apatah lagi beliau salah satu mentor saya. Saya tahu persis bagaimana kehidupannya jatuh bangun. Dan kini dia juga menikmati dalam posisi yang jauh lebih aman. Terlebih lagi bila kandidat yang didukungnya, jadi pada 30 Juni nanti.

‘’Abu Mas’ud Al Ansyari ra: Sabda Nabi: Bila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya krn Allah, maka nafkah tsb bernilai sedekah (B/M)” Dah, inilah yang jadi pengerem berpetualang itu. Sedekah, memang mengajarkan kelapangan hati. Eh, tentu ada yang bertanya, apa sih yang mau ditualangkan? Hmm…saya ingin lepas dari rutinitas sekarang. Menuju puncak bukit yang tinggi. Menyepi untuk jadi penulis benaran.Tanpa memikirkan pendapatan untuk anak istri. Tapi saya bisa menemani mereka sepanjang hari, dalam bagian-bagian pemberi inspirasi. Atau tetap dalam rutinis kerja seperti sekarang, tapi tidak dalam bagian kaki tangan.
‘’Balairung banyak ratu, ratu tambatan para raja, mendukung bukan untuk merayu, memang begitulah adanya.” Teman yang punya usaha berteknologi tinggi berpantun SMS.

‘’De, aku skrng ikut tim sukses…” Akhirnya kawan di Tanjungpinang itu berpetualang lagi dalam kancah politik. Saya tetap begini! Menanti keberanian dari dukungan banyak teman.*** (Batam Pos, Minggu 12 Juni 2005, SMS Hati)

Selengkapnya...

Pindah

‘’SAYA bisa ke ktr bpk skrng? Di Jodoh atau Btmctr?” Saya terima SMS ini Jumat (26/5) saat teman-teman di Batam Pos sudah berangsur-angsur mengangkat komputer masing-masing untuk pindah. Gedung Graha Pena berlantai 10 telah menanti. Era ruko ditinggalkan.

Kini saat menulis kolom ini, saya telah berada di salah satu sudut gedung perkantoran tertinggi di Batam itu. Bukan mengetik dengan PC Pentium III lagi melainkan sebuah handphone communicator. He… ruangan kerja saya belum siap. Terkadang, saya tulis di Masjid Raya seusai sholat yang jaraknya hanya sepenggal lemparan dari Graha Pena.

‘’Bpk biknin acr di Graha Pena spy orng tahu, BP dah pindah.” SMS bernada perhatian itu muncul lagi. Yang lainnya juga begitu. ‘’Aman di gedung baru?”
Hmm… teman-teman sungguh perhatian. Tapi ada juga yang SMS mendebarkan. ‘’Meja, kursi & apa saja yang tinggal di Jodoh, sumbangkanlah ke pesantren n panti asuhan.” Jawaban yang ini, perlu keputusan tingkat tinggi.

Namun dari hati yang paling dalam, saya justru berdebar pada diri sendiri. Bisakah pindah kantor ini menghilangkan kebiasaan buruk saya, ingin selalu ke kantor dengan bersandal? Atau bagaimana nanti buang air besar, karena saya tak suka WC duduk? Dan paling penting, bisakah sekat-sekat ruangan setengah badan, tak menyekat bersosialisasi?

Tapi itu semua, bisa jadi hanya ‘’ketakutan” yang tak beralasan. Lima tahun lalu, bahkan saya berani pindah ke Batam dari Pekanbaru saat usia perkawinan empat bulan dan istri sedang mengandung tiga bulan. Tak ada fasilitas modern seperti saat ini. Malah saya ke kantor harus naik taksi ketengan karena Batam Pos yang kopnya berwarna merah saat itu (sekarang Posmetro Batam) tak punya aset mobil. Itu malah lebih memacu untuk maju hingga bisa pula pindah ke ruko sendiri di Baloi Point tahun 2002.

Lebih hebat lagi setahun kemudian. Batam Pos merah berganti nama dengan Posmetro Batam. Sebaliknya nama Batam Pos dipakaikan sebagai pengganti Sijori Pos. Pindah yang ini dinilai banyak pengamat membahayakan. Kenyataannya malah beda. Kini Posmetro dan Batam Pos bersatu dalam gedung milik mereka sendiri.

Namun sebuah SMS datang lagi mengingatkan. ‘’Moga-moga tak ada kesan angkuh dg gedung hebat itu.” Nada SMS yang sama dengan perkataan langsung beberapa orang yang saya temui. Sungguh, yang ini memang mencemaskan. Tapi saya diingatkan pula oleh kiriman SMS Alquran seluler. ‘’Abu Hurairah ra: Sabda Rasul: Perumpamaan org mukmin spt tanaman yg slalu diterpa angin, bgt jg org mukmin senantiasa terima cobaan.” Bagi saya pribadi, pindah ke gedung baru juga cobaan.

‘’Dah pasti payah jumpe awak tu. Kite bebual di Bebek Bali saje ye.” Alamak, harus berpindah pula selera dari masakan Padang. Padahal, dah dicatat hotline rumah makan yang dekat di mata saat ditatap dari lantai 7, calon sudut bilik saya. (Batam Pos, Minggu 5 Juni 2005, SMS Hati)

Selengkapnya...

Kalah dan Menang

‘’Perlu tuah satu psngn lg berkunjung ke batampos. Baru bisa rebut kemenangan ketiga.” Saya tersenyum geli baca SMS ini, Rabu (25/5). Dua kali kemenangan tim sepak bola Batam Pos di hari yang sama, Minggu (22/5) – pagi hari menang atas PKS, malamnya menggasak Panasonic — tak berhasil diulang dua hari berikutnya ketika jumpa Irbia. Kami terhempas di pertandingan resmi sepakbola indoor (futsal), dalam cucuran penyesalan yang dalam. Jangankan berusaha untuk menang dengan golden goal lagi, menyamakan kedudukan saja sulit. Kalah 5-8 pun diratapi.

‘’Saya begadang semalam bang.” Pahlawan kemenangan kami di partai sebelumnya, membuka kartunya. ‘’Saya yang harus kiper dan sejak awal main pertama.” Motor tim ini pula yang menyesal. Kami pulang malam itu, dengan kepala tertunduk.

Dini harinya, sebagian dari kami merasakan kepedihan yang menerpa AC Milan. Paolo Maldini dkk dirajah hatinya oleh tiga gol spektakuler Liverpool. Hanya dalam enam menit, keunggulan 3-0 berubah jadi 3-3 dan memaksa adu penalti. Pemain Inggris yang biasanya takut dengan drama ini, seperti mendapat angin segar setelah lama terkubur dalam 45 menit pertama.

‘’Kire2 siape menang dini hari nanti. The Red’s atau Milan. Bos pegang klub mane?” Tentu saja untuk jawaban SMS dari Karimun ini, saya jadi bangga, karena pegang Liverpool. Alasannya sederhana, tersebab banyak yang jagokan Milan, dah Liverpool aja. Padahal, saat Milan sudah unggul 3-0 di babak pertama, saya matikan TV dan tidur. Saya sudah punya kesimpulan, sama nasib Liverpool dengan tim Batam Pos, sudah susah menyamakan kedudukan. Baru jam delapan pagi, saya baru tahu kenyataan berbalik karena ada SMS masuk dari BSLsoccer yang menyebutkan justru Liverpool juara Piala Champion 2005.

‘’Jgn anggap remeh siapa saja. Jgn anggap enteng satu psgn lg. Mrk kuda hitam. Peta sudah berubh. Kemnangan blm di dpn mata.” Lagi-lagi teman yang tak hobi bola tersebut kirimkan SMS. Tapi kalimatnya mengkait-kaitkan dengan keunggulan awal Milan 3-0 tapi akhirnya kalah dengan situasi yang bakal terjadi 30 Juni nanti dalam Pilkada Provinsi Kepri. Saya tersenyum geli, tapi mengamini.

***
Kamis malam (26/5) saya mendapatkan pencerahan lagi soal kalah dan menang. Seorang pakar marketing muda, Ippho Santosa mengajak saya mendampingi dia dalam seminar Marketing with Love di Universitas Internasional Batam (UIB). Saya dapat kemenangan, bukan hanya karena isi buku Ippho, juga dari animo besar pesertanya. Semula diprediksi 150 peserta, ternyata jadi 230.

Persepsi saya salah selama ini, tentang siapa mahasiswa UIB. Wuih ternyata muda-muda, malah kebanyakan ABG. Saya fikir kalangan karyawan yang sudah berumur. ‘’Hebat nih, seminarnya. Mhsswanya jg oke. Ternyata bayar.” Di sela-sela Ippho berinteraksi dengan audiensnya, saya menerima SMS tersebut. Ada peserta di belakang, yang kenal saya rupanya.

Lebih hebat lagi, ada mahasiswa yang ‘’protes” pelayanan Batam Pos. Saya yang jarang-jarang jadi pembicara seminar, ‘’diingatkan” Ippho, jawab sesudah seminar secara pribadi untuk mahasiswa yang bertanya terlalu teknis tersebut.

Selain itu, saya dapat satu kritik baru. Ternyata budaya buka email belum terpelihara baik pada teman-teman kantor saya. Hingga materi iklan yang sudah terkirim, tak sesuai dengan yang dicetak gara-gara email tak dibuka. ‘’Ooo… jadi yang harus dilakukan, saat berkirim email, dan ingin cepat dilihat si penerima, harus beritahu dengan SMS-an, ya pak,” tutur dosen UIB yang agak bingung dengan budaya tersebut.

Padahal juga, budaya email demikian masuk dalam wilayah kesalahan saya. Seorang pakar IT Batam mengingatkan hal tersebut. Email saya selama ini, ternyata gratisan. Dan kata beliau, itu mengganggu citra saya dan institusi Batam Pos. Walah, saya terperangah!
Saya tak merasa kalah dengan kritik tersebut. Saya merasa menang. Karena saya tahu realita lapangan seperti apa. Dan untuk persoalan email pribadi pun sudah diubah. Eh, ngomong-ngomong, tahu tak dua pasangan di awal pembuka kolom ini dengan realita lapangan seperti apa? Ssst…kok pasangan ketiga tak ditanya, ya?*** (pernah diterbitkan Batam Pos, Minggu 29 Mei 2005 di SMS Hati)

Selengkapnya...

Manusia Meniru

Selalu banyak yang bertanya, dari mana dapat gaya menulis seperti sekarang? Itulah yang bikin pusing. Padahal pertanyaan yang saya inginkan, mengapa itu yang ditulis, apa alasannya? Atau hal-hal lain tentang isi tulisan. Ini tak, tapi mengapa gayanya begitu.

‘’Maaf saya awam tentang tulis menulis. Tlsn abang bgs. Tp alinea pertamanya, kok bisa gt gayanya?” Salah satu bunyi SMS yang menanggapi alinea pertama pekan lalu yang memakai kata maaf di awal kalimatnya. Kalau kemudian saya bisa berkomunikasi langsung dengan sipenanya, maka panjanglah jawabannya. Sama persis, bila saya ngobral kata tentang sepak bola.

Sejak SMP saya sangat menyenangi tulisan Sumohardi Marsis. Beliau pengamat olahraga dan khususnya bola yang brilian menurut saya. Lalu saya juga jatuh cinta dengan tulisannya Sindhunata. Tapi bukan filosofi, melainkan tentang catatan sepakbolanya. Dan kemudian saya juga mengagumi hingga terngiler-ngiler dengan isi tulisan Bondan Winarno. Bukan soal investigasi Busangnya, tapi kolom Jalan Sutra-nya yang bercerita tentang makanan.

Jadi, bisa dibayangkan sendiri seperti apa pengalaman ‘’batin” saya untuk menulis. Belum lagi, saya punya kebiasaan menyimak lagu dengan syair yang dalam bukan sekedar musik. Seperti dua pekan ini, acara Eklusif di Trans TV mampu memadukan benang-benang syaraf saya untuk merenungi apa yang hendak ditulis saat ini. Pekan pertama, karya Yovie Widianto yang ditampilkan. Lalu pekan selanjutnya, lagu-lagu KLA Project. Selama dua pekan itu, serasa, Trans TV memanjakan orang-orang seusia saya, berkepala tiga.

Lagu Yovie yang saya setuju diterjemahkan ‘’membunuh hati”, maka lagu-lagu KLA ‘’meneguhkan hati”. Bayangkan saja, lagu Yovie berjudul Surat, melukiskan bagaimana tanpa dibaca pun dia yakin, surat itu sudah diketahui isinya oleh yang dituju. Lalu lagu Tak Bisa ke Lain Hati-nya KLA, menegaskan keyakinan diri untuk setia. Satu percaya sama orang, satu percaya diri sendiri setia.

Tapi saya juga suka lagu-lagunya Melly Goeslaw. Anda yang duluan jatuh cinta dengan lagunya Ada Apa dengan Cinta, akan terperangah dengan lagu ciptaan Melly untuk grup Potret. Itu lagu, selalu melukiskan yang aneh.

Berterus terang soal mendua, alias selingkuh malah ada.
Karena ‘’pencampuran” seperti itulah, jadinya seperti begini gaya tulisan saya. Belum lagi kalau saya gambarkan saya penyenang cerpennya Taufik Ikram Jamil, mantan wartawan senior Kompas. Bahkan saking senangnya dengan dia, saya banyak meniru gayanya bila membuat feature. Anda sudah nikmati hal itu berkali-kali di kolom ini, khususnya untuk alinea pertama.

Uniknya, saya tetap tak bisa melupakan ‘’ajaran formal” untuk nama-nama seperti Taufik Muntasir, Kazzaini KS hingga Rida K Liamsi yang saya kagumi tajuk rencananya. Dan tentu saja nama satu lagi, Mosthamir Thalib, peraih Adinegoro, sebuah award untuk wartawan terbaik se-Indonesia. Bagi saya, Mosthamir mirip Melly, suka ‘’selingkuh”.

Lengkap sudahkan apa yang saya punya? Latar belakang pendukungnya banyak. Namun saya meramunya, dan dengan tetap mencoba gaya sendiri. Tersebab itu, saya yakin dengan prinsip ini, yang kita lakukan semua saat ini, adalah meniru. Hebatnya banyak orang dengan berbagai ide, terus terang saya anggap juga meniru.

Karena saking yakinnya, saya sarankan pada banyak teman. Sayangnya, seorang teman yang sekarang diberi amanah tinggi di Pekanbaru, dan dipaksa untuk mencari kiat-kiat memajukan usahanya, tak mau memakai pilihan meniru saya. ‘’Bukan menirulah bpk si A itu. Kan dia mmg sering jalan ke LN. Jd terbuka inspirasinya.”
Saya tersenyum saja dengan SMS demikian. Kalimat yang justru meneguhkan, ada unsur peniruan. Dan rasanya sah saja meniru, apalagi itu baik dan tidak menyangkut hak paten milik orang. Memodifikasi dengan situasi dan kondisi sendiri itu lebih hebat lagi, asal jangan tak lari dengan peraturan yang ada.

Malah dalam sholat pun kita diminta meniru caranya Nabi Muhammad. Tak terkecuali seperti isi kiriman SMS ini. Abu Humaid Saidi: Aku ingat sholat Rosul ketika ruku diletakkan tapak tangan di atas lutut dan diratakan punggungnya (Bukhari). Karenanya, saya sangat ‘’terkejut” ada yang berani memodifikasi sholat tak sesuai aturan.

Ada niat ingin meniru sesuai aturan yang dimodifikasi, tapi tak berani melakukan, juga tak ada apa-apanya. Berani meniru, action, siap untuk dicaci maki, itulah yang hebat dihadapi. Contohnya saat ini ada yang mudah. Lihatlah, sebuah media cetak Jakarta, dari sebesar koran biasa, kini ukurannya tabloid. Ukuran koran harian di Eropa dan Amerika sana. Meniru juga! Berhasilkah dampak tiruannya? Tunggu saja! (pernah diterbitakan di Batam Pos di kolom SMS Hati, 2005)

Selengkapnya...

Bualan Arogan

Maaf pembaca, kali ini yang Anda baca bak buku harian saja. Saya terbiasa lain sendiri. Tak terkecuali punya pendapat beda dan visi berbeda memandang sesuatu. Bahkan ibu, bapak, adik atau istri saya pun sering tak sefaham.

Dulu saat SMP, saya sendiri yang bila ditraktir teman yang berpunya, tak beli rokok. Yang saya minta hanya roti. Ketika mau daftar ke SMTA, banyak yang pilih SMA favorit, saya justru pilih SMEA. Padahal, Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya, bisa masuk sekolah favorit mana saja.

Ketika banyak teman-teman SMEA saya langsung cari kerja, saya beranikan ikut UMPTN. Menjawab pertanyaan fisika dan kimia yang justru tak pernah saya pelajari lagi, eh, saya lulus juga ke fakultas ekonomi.
Tak terkecuali saat memilih karir. Tanpa ‘’sengaja” saya jatuh ke jurnalistik. Tak ada dalam sejarah keluarga saya profesi itu. Bahkan saya survei seisi kampung kelahiran saya, sayalah orang pertama jadi wartawan.

Orang lain pilih jadi wartawan perkotaan dan ekonomi, saya sendiri pilih reporter olahraga. Padahal, saya sudah kuliah semester lima jurusan manajemen saat itu. Saya jadi aneh sendiri, yang sangat asyik dengan dunia itu. Teman-teman ‘’bergelimpangan” souvenir dari pengusaha, saya hanya dapat baju kaos. Malah terkadang, teman wartawan ekonomi yang dapat baju kaos karena dia ikut jumpa pers di hotel, eh, tiba meliput event itu, saya yang reporter olahraga bertungkus lumus dengan terik matahari dan debu.

Sama juga dengan ‘’pilihan” gaya hidup sekarang. Teman-teman yang ‘’berkuasa” punya usaha sampingan. Saya hanya makan gaji tok. Makanya, malah kerabat sering menyentil. Yang lain punya ini, kok masih yang itu. Atau, percuma punya jabatan tinggi, tapi adik dan sanak famili banyak yang nganggur. Bahkan hingga 13 tahun lebih saya meniti karir, adik kandung saya masih jadi pengangguran.

‘’Bang, besok ada arisan kampung di tj uma, rumah bang bujang. Datang yo?” SMS ini serasa menyesak di hati, di tengah keramaian, saya merasa sunyi. Tak pandai saya membagi waktu lagi. Terkadang, bila acara itu tepat di hari libur atau minggu, tak tega hati nak memaksa supir lepaskan off-nya. Itulah, kekurangan saya, tak pandai nyetir sendiri!

Tapi terkadang, dengan gaya lain sendiri tersebut, banyak hikmahnya. Salah satunya, saya mudah menghadapi ‘’lawan” dengan strategi bisu. Karena saya memang tak bereaksi apa-apa melawan. Saya tahankan diri, larut dalam keyakinan akan ada yang membantu saya dalam bisu tersebut. Ada pakar yang nyelutuk, gaya itu mirip Mahatma Ghandi.

Entahlah, yang jelas saya bukan pengagum Ghandi, melainkan kagum dengan pernyataaan big bos saya. ‘’Pemimpin yang baik, ketika diberi batu, batu itu dipolesnya jadi mutiara.” Mungkin karena terus dikasih ‘’batu”, dan memberikan ‘’kesempatan” pada ‘’batu” berkreasi dan beropini dengan bebas lalu akhirnya hebat, ‘’batu” itulah yang jadi penolong saya.

Tersebab itulah, makanya saya selalu menjadi yakin dengan kenyataan ‘’batu” tadi. ‘’Beruntunglah awak tu, sudah dipercaya dengan amanah seperti sekarang ini.” SMS ini, jadi salah satu bagian, yang membuat saya arogan bahkan pongah. Belum lagi, ada peramal ulung kelas satu negeri ini pernah ramalkan saya demikian,”Kamu ini adalah orang yang selalu beruntung. Ada saja yang bantu. Ada dewa penolong di belakangmu yang tiap hari mengikuti.”

Siapa yang tak mulai berdebar hatinya, bila yang mengucapkan itu orang kelas wahid? Sempat pegang tangan. Lihat mata, lihat hidung saya. ‘’Lebih pantas kalau pakai kacamata,” timpalnya pula.

Di lain waktu, saya berjumpa dengan pengusaha nomor satu kota Batam. Ucapan pertamanya pada saya, sama persis dengan peramal tersebut. ‘’Ada orang yang siap menolong kamu terus. Ada sesuatu di belakang punggungmu. Apalagi hidung kamu, pembawa keberuntungan. Bakal sejahtera kamu.”

Karenanya, ketika omongan orang-orang tersebut satu persatu menjadi nyata, maka aroganlah saya. Di tahun 2004 arogan itu mencapai puncaknya, hingga berani mengambil keputusan yang tak terpikir oleh orang sama sekali. Apalagi itu menyangkut menjatuhkan harga diri institusi dan teman-teman saya sendiri. Tapi saya lakukan. Lalu, akhirnya tersadar. Saya langsung membuat surat pernyataan siap mundur untuk mempertanggungjawabkannya kepada big bos.

Tapi apa lacur, ya, seperti dewa keberuntungan selalu mengikuti, eh, justru saya makin melambung. Sayang, lambungan itu, kembali membuat arogan. Beberapa kesalahan vital dilakukan lagi, dan kini saya harus menikmati kembali debaran hati yang berdegup kencang. Adakah keberuntungan?

Anehnya, saya tetap bisa makan enak, tidur pun nyenyak. Mungkin karena yakin, kesalahan itu karena ketololan bukan mau mengakal-akali agar dapat komisi atau persenan. Mungkin juga, karena saya mudah percaya pada siapa saja, dan kalau sudah begitu, saya tak bertanya kanan kiri lagi. Bila pikiran seperti ini, terus terang, saya memang belum lepas dari sifat arogan.

Mungkin saya harus meneguhkan diri untuk bersabar agar lepas dari arogan. Tersebab itu, saya terbiasa membayar tagihan telepon, listrik, air, HP atau KPR sendiri. Saya belajar sabar berantri. ‘’Sy ga pnah ngantri lho pak… hehe. Ada staf bank yg urusin. Bpk jg hrsnya gt. Apalg mrk tau status bpk.”

Saya balas SMS tersebut dengan menyatakan, belajar jadi orang biasa. Biasa sabar menanti giliran nomor antri dipanggil agar terbiasa ketika aliran roda ke bawah, tidak di atas saja, saya siap. Membiasakan belajar seperti kiriman SMS berikut: ‘’Sabda Rosul: Orang mukmin bila mendapat kesenangan ia bersyukur, bila ditimpa musibah ia bersabar.”

Maaf pembaca, sepertinya Anda harus terbiasa tidak mencerna dengan serius bualan-bualan saya ini. Maaf! (pernah diterbitkan Batam Pos dalam kolom SMS Hati di hari Minggu 2005)

Selengkapnya...

Berkawan Ragam

Saya termasuk orang paling beruntung. Asli Melayu, punya logat Minang dan beristri orang Sumatera Utara. Jadi, bila dibawa ke mana-mana, bisa dimanfaatkan semua. Setidaknya untuk mengawali percakapan.

‘’Abang ini istrinya orang Kisaran, marganya Nasution.’’ Begitu suatu kali, saat saya diperkenalkan dengan pengecer dan agen koran yang berasal dari Sumatera Utara. Di lain waktu pula, si teman akan ngomong begini saat berkumpul dengan mereka yang berasa dari Sumatera Barat, ‘’Abang ini dari Pekanbaru, pandai juga bahasa Padang.’’

Meski saya sama sekali tak ngerti bahasa Batak ataupun Mandailing – begitu juga istri, karena lebih banyak ‘’darah jawanya’’ -- saya pura-pura ngerti saja. Tapi untuk bahasa Minang, kalau bukan yang halusnya saya paham. Betapa tidak, tetangga sekeliling di Pekanbaru mereka semua isinya. Bahkan kalau mereka panen padi di Payakumbuh, maka beras kami pun berubah itu karena mendapat kiriman oleh-oleh juga.

Jadi di mana Melayu saya? Itulah yang jadi soal, saya sangat susah becakap Melayu bila tak ada ‘’lawan’’ yang benar-benar Melayu. Tapi di Batam, saya punya satu mentor yang mengembalikan Melayu saya. Walau demikian, saya selalu ‘’memaksakan’’ harus tak sepaham dengannya, utamanya cara memandang dari sisi marketing.

‘’Sy sdh tanya bbrp agen ttng kmkn ada mjlh di btm. Jwbnya, kalau yg itu jg nerbitkn sama aja isinya, btknya saja beda. Bgt salah satu jwbn mrk.’’ Ini bukan dia yang SMS, justru saya. Terus terang saya berharap dibalas dengan SMS juga. Nyatanya tidak. Dikirim sore hari, dijawab setelah waktu Isya, perlisan. Kali ini, ngobrol kami tak terlalu panjang. Hingga tak perlu memenatkan tangan dan memanaskan telinga yang kabarnya bisa merusak urat syaraf .

Uniknya, justru pertemanan kami makin akrab, justru tidak pada kami ‘’berseteru’’ karena membuat produk sama dan harus dijual dengan gaya marketing sama. Ada apa? Entahlah. Yang pasti saya tetap mengaguminya. Karena itu, gaya hidup saya pun seperti mulai mengikuti dirinya. Salah satunya, beristri bukan orang Melayu. Kalau saya dapat sesama Sumatera, dia Jawa.

‘’Kang ade, adakah marwah anak negeri hilang krn sepiring nasi saat makan siang, sbg pendatang saya melihat rasa memiliki marwah yg tlh luntur. Maaf ya kang!’’ Saya jadi kepikiran dengan SMS ini. Jangan-jangan nama saya identik dengan orang Sunda, karena itu dipanggil kang. Diantara prediksi, saya balas SMS-nya, Insya Allah saya tidak.

Lalu dibalas lagi,’’Kang ade, saat saya ngobrol dng …bbrp waktu lalu, saya katakan …’’ Maaf, saya tak sebutkan isi titik-titik tersebut, karena menyangkut nama sfat khusus pejabat tinggi negeri ini. Yang jadi fokus saya, sungguh bahagia juga akhirnya dipanggil kang. Tegasnya, ada ‘’naturalisasi’’ pada diri saya. Meski saya terkadang, ‘’loyo’’ hati juga dipanggil mas di beberapa tempat. Tapi akhirnya mau tak mau, semuanya – kang, mas atau pakde -- jadi sesuatu yang sama saja dengan panggilan abang.

‘’Mas Jun ulang tahun. Yang SMS tadi, Andi.’’ Andi keponakan saya di Pekanbaru. Mas Jun, ipar saya. Dari kiriman SMS ibu saya itu, tanpa terasa, memang wajar saya terbiasa dengan kata-kata mas, karena sudah 13 tahun saya menyebutnya.



****



‘’Udah diterima bukunya?’’ Walah mak, saya jadi malu sendiri dengan pengirim SMS ini. Betapa tidak, dia justru lebih duluan baca buku ESQ Power karangan Ary Ginanjar Agustian ketimbang saya yang muslim. Lebih parah lagi, saya perlu waktu satu bulan untuk menyelesaikan ke halaman terakhir.

Dan seperti yang ditulis di buku tersebut, justru bukan orang muslim yang telah banyak menerapkan ilmu ESQ. Terakhir ini juga saya baru tahu, si pengirim SMS tadi setiap musim haji, dua karyawannya diberangkatkan dengan biaya perusahaan. Pakai sistem undian, kocok kertas. Siapa yang keluar namanya, dialah yang berangkat. Meskipun karyawan tersebut, agak ‘’nakal’’ dan ada pula yang baru saja frustasi, putus cinta. Hebatnya, dampaknya sepulang haji, luar biasa. Alim semua!

‘’Bekawan, bekawan juge, tp hrs hati-hati.’’ Banyak yang menasehati saya seperti itu. Di Batam saya menemukan banyak keberagaman. Di Batam saya menemukan seluruh warga nusantara dari Sabang hingga Merauke. Di Batam saya juga banyak menarik pelajaran tak terhingga, termasuk seperti SMS kiriman Alquran Seluler ini: ‘’Abu Hurairah ra: Sabda Rasul: Lihatlah org yg dibawahmu & jgn lht yang di atasmu, agar kamu tidak remehkan nikmat yg Allah berikan pdmu (M)’’ (pernah diterbitakan di Batam Pos di kolom SMS Hati, 2005)

Selengkapnya...

Pedasnya Ayam Penyet Ria

Mohon maaf, kali ini banyak berbau promosi! Tersebab, saya masih hanya ‘’bisa makan nasi’’. Saat di Singapura berdua istri 23 April lalu, tak terbayangkan susah mendapatkannya, meski di restoran milik bangsa sendiri.

‘’Slmat bulan madu kedua. Jgn lupa jln ke esplanade stlah capek dari Bugis.’’ Gara-gara petunjuk SMS inilah yang bikin penat badan, sekaligus lapar. Betapa tidak, berkali-kali keliling di kaki lima Kampung Bugis. Cuci mata melihat barang-barang yang dijual warga Singapura. Dari pakaian, peralatan dapur hingga ramal rajah tangan. Dan paling unik bagi saya, ada tukang jual obat. Persis yang biasa saya lihat di depan BCA Jodoh, bawa ular segala. Lebih kerennya, si pembual obatnya, wanita.

‘’Di dpn Seiyu, Bugis Jungtion setelah menikmati air mancur yang lompatannya tak terduga, ada Wisma Al Sagoff. Hati-hati, supir taksi bnyk tak tahu tempat ini. Nah nikmatilah sajian masakan asli Indonesia, Es Teler 77 di serambinya.’’ Ini petunjuk lain, bukan dari SMS melainkan sebuah blog di laman maya yang saya buka. Sengaja khusus diprint dan dibawa ke mana-mana selama di negeri pulau itu.

Perut mulai melilit, saat jam di HP menunjukkan pukul 09.45, yang berarti jam 10.45 waktu Singapura. Kepingin ganjal perut sebelum makan siang, maklum di Batam kepagian sarapannya. Kok aneh, Es Teler 77 banyak bahasa Mandarinnya? Kok ada kata Taiwan, bukan Indonesia? Nyaris menikmati makanan tak halal, hanya karena terkecoh sisa tenda Es Teler 77 masih dipakai pengelola baru restoran. Terlebih lagi saat mau pesan menu, pelayan dan bosnya sama sekali tak ngerti bahasa Indonesia.

‘’Jgn lupa jg ke Lucky Plaza. Naik ke lt 4, belok kiri. Di situ ada Ayam Penyet Ria. Bila beruntung Anda berjumpa pemiliknya Edy Wijaya.’’ Ini petunjuk lain yang memang kami incar, untuk makan siang. Tepat jarum jam istri menunjukkan pukul 10.30 berarti 11.30, kami sampai. Pintunya terbuka setengah. ‘’Jam 12 buka,’’ ujar seorang berwajah melayu. ‘’Jam 12 Singapur atau Batam?’’ tanya saya iseng. Dia tersenyum.

Kami pun pergi, tapi saya sempat melirik, kok sudah ada beberapa orang duduk di dalam restoran itu? Saya yang yakin orang Singapura dan seluruh orang bekerja di sini akan disiplin waktu. Maka tepat pukul 12 sana, kami beranjak kembali dari lantai 1 ke lantai 4. Alamak, tepat pukul 12.05 tiba, seluruh tempat duduk telah terisi semua. Siapa mereka? Rata-rata yang satu fery dengan kami saat berangkat pukul 07.40 pakai Penguin dari Sekupang!

Semuanya memburu nasi! Tampak orang antri ke meja kasir, saya dan istri juga antri. Padahal kami bingung, dari mana mereka dapat secarik kertas bertuliskan menu dan menandai dengan pensil, lalu membayar ke kasir yang saya tahu kemudian dialah Eddy. Pak Eddy, tahu kami bingung diberikannya secarik kertas. Istri saya menandai dua porsi ayam penyet, satu es teler dan satu es campur. Pecel lele yang saya minta ternyata tak ada. ‘’Lele tak ada, yang ada bawal. Semua 15 dolar,’’ jawab Eddy.

‘’Tempat duduknya mana? Jadi udah bayar berdiri?’’ kata saya lugu. Walah, rupanya harus dapat tempat duduk dulu, baru ambil kertas berisi menu dan pesan. Tapi untung, keluguan itu yang bikin Eddy carikan kami meja. Meja yang berbeda dengan yang lain karena bukan dari kayu melainkan aluminium tampaknya. ‘’Tak ada meja lagi. Yang mana,’’ kata karyawannya Eddy yang pertama kali mengingatkan buka jam 12.

Entah dicari di mana, jumpa juga. ‘’Ini namanya meja istimewa. Tak ada nomor, jadi pakai kode AA saja,’’ ucap Eddy sambil membersihkannya dan meninggalkan meja kasir, di mana yang lain antri. Saya jadi menyesal lihat Eddy begitu ramah, mengapa tak 11.30 tadi kami masuk saja, dan saya tentu bisa wawancara?

Jadilah saya berdua istri menikmati ayam penyet. Nasi di piring terpisah. Ayam penyet, tahu, tempe, lalapan kol dan timun di piring kayu. Wuih…ternyata sambalnya pedas sekali, namun nikmat. Dan kami tertawa berdua sambil menyeka mata dan hidung. Mentertawakan diri sendiri. Banyak bertebaran Ayam Penyet Ria di Batam bahkan sampai buka cabang di Tiban tak jauh dari rumah – hingga tutup – belum satu pun kami datangi. Justru di negeri orang diburu. Dan kami menikmatinya, disamping sudut meteran listik berwarna merah – mungkin travo—yang kabel-kabelnya tampak, dengan tas yang tetap saya sandang.

Dalam usapan kepedasan, kami harus meninggalkan tempat segera. Banyak yang antri dan ‘’ngincar’’ meja kami sejak dilayani spesial oleh Eddy. Kulit dan mata mereka tak sama dengan saya yang hitam. Putih dan bermata sipit. Bahasa pun bukan melayu atau Indonesia. Ternyata, penikmat Ayam Penyet Ria dari kalangan lain juga. Saya bangga jadi orang Indonesia!

Meski kebanggaan itu baru tersadari ‘’agak luntur’’ karena mata uang kita hari itu sudah mulai melemah. Saya yang selalu mengalikan dolar singapura dengan 5.500 bahkan 5.400 ternyata sudah 5.700 hingga 6.000. Bahkan di dalam papan penunjuk kurs di money changer yang ada di Harbort Front, kurs rupiah diletakkan paling bawah. Padahal, fery yang berlabuh di sana justru lebih banyak Batam-Singapura pulang pergi yang notabene orang Indonesia, atau setidaknya bertransaksi rupiah.

***

‘’…marwah n harga diri org sulsel sangatlah tinggi, habibi dilengserkan lsg demo, org melayu? Jng kan dibela, maju pun malah mau digembosin!…’’ SMS ini saya terima 26 April 2005 pukul 08:29;03. Tak saya tanggapi segera. Saya menduga, ini terkait dengan omongan Syarwan Hamid: Putra Daerah Harga Mati, Titik! Yang terbit 24 April 2005 di Batam Pos, dan sedikit-sedikitnya terkait dengan kebanggaan saya dengan Ayam Penyet Ria.

Saya yakin, belajar dari Ayam Penyet Ria, sedikit demi sedikit, melayu akan bangkit dengan keunikan ‘’kepedasannya’’. Persis, bak zaman dahulu, ketika Hang Tuah, Hang Jebat hingga Hang Nadim menguasai Bintan, Malaka, Singapura dan Batam. Dan ingat, Ayam Penyet Ria besar terlebih dahulu di Batam, baru merayap ke Jakarta dan Singapura. Sejarah biasanya berputar dan terkadang kita menyadari kehebatan bangsa sendiri di negeri orang! (pernah diterbitkan di Batam Pos dalam rubrik SMS Hati)

Selengkapnya...