Jumat, November 30, 2007

Blog Mempercepat Solusi dan Silaturahmi

Sore ini dapat ''jalan komunikasi'' yang beda, tapi puncanya sama, yakni blog. Pertama surat beramplop putih dan berperangko budaya Papua tapi stempelnya, saya yakin bukan dari Papua. Kedua, chatingan dari seseorang mantan murid SMP yang pernah saya ajari jurnalistik tujuh tahun lalu.

Yang surat, bisalah disebut surat kaleng. Tanpa ada alamat pengirim. Baik di amplop maupun di pengantar suratnya. Hanya tertulis ''sedare sekampong''. Tapi lampiran surat itu ada empat lembar. Isinya, soal postingan saya di blog ini tentang Speedy saya yang kena petir. Ternyata postingan ini jadi pembicaraan ''hangat'' di Telkom Riau Kepulauan (Rikep). Dikirim melalui ke berbagai email seluruh karyawan Telkom di Kepulauan Riau ini (setidaknya itu menurut info isi surat kaleng). ''Kalau bapak mau tahu, email ini terbaca oleh seluruh pegawai Telkom di Provinsi Kepri ini. Ratusan jumlahnya pak.''

Salah satu yang menanggapi postingan itu, menurut si pengirim surat kaleng, terkesan penghinaan terhadap saya. Saya sadurkan sedikit isi email itu; ''Menurut saya pelangan jenis ini gak usah diurus!!! Ini jenis pelanggan cari GRATISAN!!...''

Kalau saya baca dan masukkan ke hati, sebenarnya miris juga. Tapi mungkin yang nulis, belum baca betul seperti apa isi postingan saya itu (klik ini). Karena, saya tidak menyebutkan Speedy (keseluruhannya) mengecewakan, tapi khusus Speedy saya saja. Saya juga tidak minta modem saya diganti. Satu hal lagi paling penting, saya juga tidak bawa nama instansi tempat saya bekerja. Saya berkesimpulan, persepsi negatif saja yang membuat emailnya berisikan yang di atas tadi, dan juga kalimat ini; ''...tapi masih mental gratisan.''

Tapi tak apalah, Speedy saya sudah oke lagi kok. Ternyata silaturahmi yang bikinnya mendapatkan solusi yang oke lagi (klik ini). Dan bisa jadi juga, silaturahmi itu yang bakal menyelamatkan omset Telkom Batam, seminimalnya 200 ribuan dari pemakaian Speedy saya, dan pemakaian minimal 100 ribu telepon rumah saya. He..he...

***
Yang chatingan dengan mantan murid SMP, ini berawal dari dia menanggapi isi postingan blog saya tentang Melayu. Lalu berlanjut pada tanggapan yang terakhir, soal postingan saya tetap di Batam. Dari sinilah, dia mengingatkan, bahwa pernah ikutan pelatihan jurnalistik di SMP 9 Batuaji, yang salah satu pembicaranya saya. ''Jadi ingat, 5W 1 H,'' katanya.

Lebih senang lagi, ilmu yang diajarkan saat saya gugup berdiri di depan anak-anak SMP itu, ternyata ada juga melekat pada dia. Ya, tentu saja, karena dia ternyata orang yang senang belajar otodidak. Saya kutipkan salah satu kalimatnya saat chating dengan saya, yang saya simpan dengan senang hati. ''saya kan cuma tamatan sma ...bang...'' Sungguh berbeda dengan kalimat yang menanggapi postingan soal Speedy, padahal sudah S2. Hi...hi....


NB: Eiiitss...aline terakhir kata pengantar surat kaleng berisi ini: ''Silakan bapak telaah bahasa....(tak usah saya tulis namalah) ini, silakan tuntut secara hukum, yaitu perbuatan tidak menyenangkan, penghinaan dengan mengekspos kepada umum ...'' Jawaban saya: hmmm...kalau memperpanjang silaturahmi, tak usah ditanggapi, tapi diresapi saja...hi..hi...

NB: Saya juga sudah tahu wajah yang menulis email tanggapan soal Speedy saya itu. Lengkap dengan alamat dan telepon rumahnya, juga jabatannya. Mbah Google yang beritahu. Tapi mau saya apakan ya? He..he...


NB: Hingga postingan ini terakhir ditulis, saya belum dapat SMS lagi dari mak yang sekarang berada di Madinah. Semoga lagi khusuk beribadah. Amien!

Selengkapnya...

Kamis, November 29, 2007

Alhamdulillah, Insya Allah Tetap di Batam

Akhirnya, selesai juga rapat akhir tahun di tempat grup saya bekerja saat ini. Langsung deh, ngeblog. Alhamdulillah, dan Insya Allah sepertinya saya dan keluarga bakal tetap di Batam, tidak dipindah ke kota lain.

Setiap akhir tahun, saya dan istri selalu berpikir (bisa dianggap berdoa), semoga Allah menunjukkan pilihan terbaik kepada bos saya, ke mana saya tahun baru nanti bertugas. Dari sinyal yang diberikan dalam rapat barusan, di mana proyeksi kami yang diterima, berarti, bisa jadi, saya tak dipindah.

Tahun depan, tepatnya 10 Februari 2008, tepat delapan tahun di Batam. Kota ini seakan sudah melekat pada diri saya. Sudah mulai berani ''membanggakan''-nya. Meski kadang-kadang, untuk hal-hal tertentu saya tetap bangga Pekanbaru, tempat saya dibesarkan. Misalnya, hingga saat ini saya belum menemukan nasi goreng rasa Padang yang enak di sini. Kalau di Pekanbaru, jangan ditanya, banyak.

Tapi kalau untuk mall, saya bangga dengan Batam dengan Nagoya Hill-nya. Jadi, ketika mak saya bilang, Mall SKA di Pekanbaru lebih besar dari Nagoya Hill, saya protes.

Eh, bangganya kok menyangkut hal-hal itu ya?

Balik ke soal rapat tadi. Sepertinya, saya harus merubah diri. Yakni, semangat untuk ''beraksi'' jangan hanya ada saat ''diceramahi'' oleh bos dalam meeting itu. Tapi terus ada hingga berhari-hari nanti. Mungkin ini sala satu resolusi yang akan saya bikin untuk menyambut 2008. Hmm...

NB: Mak masih bisa SMS soal kondisnya di Madinah. ''br plg uhtd mau ke nabawi solad zuhur. 29-11-200 14:52'' Kata ''uhtd'' saya tak ngerti.

Selengkapnya...

Rabu, November 28, 2007

Hmm...Bukan Saya yang Naik Haji Duluan

''alhamdulillah mamak bisa dak pakai jeket td enak de dimesjid kemaren mamak nampak itot mamak panggil krnya orang lain kt teman mamak mau naik aji itot tu blg itot ya.'' 28-11-2007 10:44
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Maaf, masih laporan tentang mak saya yang lagi naik haji. SMS di atas tadi, sepertinya bakal ''pertanda'' haji ''abidin'' saya bakal lama (Itot dimaksud, adik laki-laki saya yang kini jadi PNS di Dinas Kependudukan Kota Batam. Apalagi, memang kalau di kantor saya, diutamakan yang usia 40 tahun. Sedangkan saya masih 36. Hmm...apakah harus pakai biaya sendiri ya?

Pada kata ''dak pakai jeket'', maksudnya beliau bisa tak pakai jaket tadi. Ini sesudah saya SMS, saya pantau di internet, suhu di Madinah telah mencapai 17 derajat celsius. Alhamdulillah.

''mamak br plg solat makan nasi goreng 2 real kopi 1 real salam buat papa dan semuanya kami mau ziarah.'' 28-11-2007 10:35

Cara mak saya menuliskan mata uang Riyal, real saja. Berarti murah dong ya, nasi goreng. Karena 1 Riyal itu saat saya beli Rp2.650. Berarti nasi goreng hanya Rp5.300. Hmm...mahal nasi goreng dekat Tiban McDermott langganan saya, Rp8.000. Ssst...tapi yang itu pakai petai. Hmm...nasi goreng yang dimakan mak, pakai petai gak ya?

''mamak mau kemesjid nabawi kl ada kabar yg kurang baik jgn bilang mamak. kawan mamak sekamar ayahnya meninggal nangis terus dia.'' 28-11-2007 06:46

Begitulah mak saya. Insya Allah dia memang ingin tak banyak berpikir lagi selain beribadah. Dan juga selalu belajar membayangkan yang indah-indah saja agar tetap fokus dan ikhlas. Sebab, dia selalu sukses, apa yang dia pikir sering terjadi. Maka, dia tak mau berpikir yang negatif, tapi yang positif saja. Ketika dia berpikir, ingin dapat menantu yang bukan orang kampung kelahirannya dan kelahiran saya, dapat. Ketika ingin dapat cucu yang gendut, dapat. Ketika ingin cucu yang kulitnya putih agar berubah keturunan, dapat. Ketika ingin cucu laki-laki, dapat. Berarti, soal naik haji tadi, adik saya yang duluan ya?

NB: Untuk yang mau mantau keluarganya yang naik haji, bisa diklik http://www.depag.go.id atau kolom info haji di detik.com Mereka lebih update dibanding www.informasihaji.com

NB: Waktu jam SMS mak saya yang tertulis di atas, itu waktu WIB. Waktu Arab Saudi, kurangi aja 4 jam.

Selengkapnya...

Selasa, November 27, 2007

Alhamdulillah, Mak Sudah Sampai di Madinah

Hmm..jadi juga nunggu pesawat Saudi Arabia Airlines (SV 5119) menerbangkan mak kami, dan 449 jamaah lainnya dari Kloter 10 Embarkasi Batam (BTH) malam tadi pukul 21.10 WIB (molor dari jadwal semula 19.20 WIB). Sayang, saya dan adik tak bisa lagi masuk ke ruang keberangkatan, meski saya juga punya ID Card Bandara.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
''Yang kode Z aja tak bisa masuk,'' kata petugas Ditpam OB Bandara Hang Nadim pada saya. Kode ID Card saya RA, saya malas baca keterangan di balik card itu.

Nyesal juga nanya ke beliau, jadi tak bisa melihat calon jamaah haji. Karena, seharusnya pura-pura saja saya dan adik laki-laki saya masuk untuk melihat penumpang Merpati yang menuju Bandung. Malam tadi untuk penerbangan umum, tinggal Merpati ke Bandung itu saja pukul 19.20 WIB. Dan kami juga sudah tahu, untuk haji, ruang tunggunya di Gate 7.

Tapi saat kami tanya ke petugas Informasi (berpakaian dinas pegawai Dishub), katanya percuma juga masuk. ''Gate 7, tertutup tembok. Tak kelihatan juga kok,'' jelasnya kepada keluarga lain yang juga datang malam tadi.

Syukur Alhamdulillah, mak akhirnya sudah sampai di Madinah pukul 02.00 dinihari tadi waktu setempat. Saya yang duluan SMS menanyakan keberadaan beliau. Lalu dibalasnya. Dia juga mengingatkan untuk beritahu adik perempuan saya yang berada di Pekanbaru, informai itu. Karena, adik perempuan saya tak bisa dihubungi (bisa jadi, setingan nomor Hpnya bukan pakai +62 ya..?. Kalau direply kan mungkin beda ya).

NB: Sebenarnya ini malas ditulis. Heran, saat pesawat delay itu, para pejabat panitia haji Batam datangnya ke Bandara Hang Nadim sekitar pukul 20.00 WIB. Saya dan adik saya curiga, orang ini, memang sudah tahu kayaknya pesawat delay. Kasihan mak dan teman-temannya harus sudah siap-siap di Asrama Haji pukul 16.00 WIB dan meninggalkan asrama 17.45 WIB, tapi terbang akhirnya pukul 21.10 tidak 19.20 WIB.

NB: Dapat info dari teman reporter koran lain yang bertugas di posko haji; mengapa pesawat mak saya delay, karena ada item pesawat yang tidak berfungsi dengan baik. Hmm...syukurlah, udah sampai dengan selamat meski delay.

Selengkapnya...

Senin, November 26, 2007

Sepatu Bolong dan Kemandirian

Wow...lain pula rasanya tak ngeblog sehari saja. Kemarin sibuk sekali. Niat lihat mak yang baru tiba di Bandara Hang Nadim dengan membawa keponakan juga, tak sempat lagi. Karena berburu sepatu, di saat mall dan toko belum merata buka.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini pengalaman menarik dari mak saya yang mau naik haji. Baru berangkat dari Pekanbaru ke Batam saja, sepatunya sudah bolong. ''Untung masih di bandara Pekanbaru, jadi mak langsung beritahu.''

Untung juga bagi saya dan istri, masih bisa berburu di pagi Minggu itu. Semula toko sepatu Bata di depan Gelael Baloi buka saat kami sampai di sana jam 9.30 WIb. Tapi saat dicari yang nomor 5 sesuai pesanan mak, karyawannya seperti malas bongkar. Mungkin karena baru dalam tahap renovasi toko sepatu itu. Dia nyarankan ke outlet Bata di DC Mall. Alhamdulillah ternyata sudah bisa dan berjumpa dengan size no. 5. ''Mamak sudah di pesawat.'' Ini sms masuk jam 9.59 WIB.

Lalu memburu pula ke Bandara Hang Nadim. Ternyata pas selang satu menit kami sampai. Mak juga sudah berada di ruang kedatangan. Sepatunya bukan hanya bolong, tapi juga sudah copot dari lemnya. Ganti sepatu pun dilakukan di ruang kedatangan itu. Saya bisa masuk karena ada ID Card yang telah lama diurus kantor untuk bisa masuk Bandara.

''Kaki mamak memang lain. Besar,'' kata adik bungsu saya yang ada di Batam, yang dia, anak dan istrinya tak sempat lagi kami bawa ke Bandara Hang Nadim.

''Itulah, mamak hanya baru pakai sepatu itu dua kali. Belinya di panitia tempat mamak manasik.'' Adik perempuan saya, yang di Pekanbaru memberi komentar.

Saya dan adik laki-laki saya sudah tahu sifat mak. Beliau tak mau merepotkan. Beliau terbiasa mandiri. Karenanya, ketika sore hari sekitar jam 16.00 WIB kami berkunjung ke Asrama Haji Batam Center, kami tanyakan lagi soal sepatu. Akhirnya, mak ''menyerah'' dan menyatakan,''kalau pakai kaus kaki agak sempit. Bolehlah, beli lagi yang nomor 6.''

Jadi ingat, komentar temannya mak saat berganti sepatu di Hang Nadim. ''Kalau sempit sebut saja kak. Kan kita masih ada satu hari lebih di Batam ini.''

Yang nomor 6, kami cari sesudah pulang dari Asrama Haji itu. Untung, masih ada satu. Itu pun sempat terselip, hingga menyusahkan karyawan outlet Bata di DC Mall mencarinya. Dan paginya, saya serahkan lagi ke mak, ditemani anak sulung saya.

Cas baterai udah ada? Tak beli kacamata hitam? Baju dingin sudah ada?

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu harus ditanyakan. Bisa jadi ada yang terlupa. Tapi Insya Allah mak saya sudah oke untuk berangkat ke Madinah pukul 19.20 WIB nanti.***

NB: Papa (sebutan untuk ayah kami) sudah tiba di Batam, Sabtu. Meski sudah terbebas stroke dan kelihatan normal, tapi beliau mengaku kepalanya masih pusing. Kami ini anggap hal lumrah, karena beliau sangat berat untuk berpisah dengan istrinya. Untuk waktu tiga hari saat mak ke Batam aja, papa sudah sangat ''susah hati'', apalagi 40 hari begini.

NB: Jengkolnya ternyata direndang. Istri saya ngomel sedikit karena WC bau. Padahal, dia makan juga tuh jengkol....

Selengkapnya...

Sabtu, November 24, 2007

Jengkol Cegah Diabetes?

''Jangan masak lagi. Mamak kirimkan goreng jengkol.''

Telepon pagi tadi berdering. Yang ngangkat istri. Dan kalimat di atas yang didapat dari mertuanya (tentu saja ibu saya). Hmm...jengkol...
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Itulah mamak (sapaan kami untuk ibu). Sering menyebut tak akan kirim apa-apa lagi. Eh tetap saja dikirim. Siang nanti 12.40 WIB dengan pesawat Lion Air, papa kami akan datang dari Pekanbaru ke Batam. Nah, di situlah mamak nitipkan gorengan jengkol.

Kedatangan papa ke Batam, karena selama mamak saya naik haji, papa ''menetap'' di Batam dulu. Maklum, dua anaknya berada di sini. Sedangkan adik perempuan saya yang di Pekanbaru, tentu bisa kerepotan karena harus membagi waktu untuk bekerja.

Papa juga sudah tak terlalu fit seperti saat masih aktif. Setahun setelah pensiun di tahun 1998, beliau kena stroke. Tapi hanya sempat empat hari menginap di RS Awal Bross Pekanbaru, beliau dapat mengatasi stroke itu. Tentu saja tak bisa se fit dulunya. Namun, jika turun dari pesawat di Hang Nadim (sudah berkali-kali ke Batam), beliau tak mau dibantu kursi roda, tapi dikuatkan dirinya untuk berjalan.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kembali ke topik jengkol. Di sela ngisi postingan ini saya search ke google dan ketik kata jengkol. Wuih...banyak blog yang menuliskannya. Juga ada dari wikipedia. Dan ini yang unik, katanya jengkol bisa mencegah penyakit diabetes. Ini kalimat wikipedia itu; Jengkol diketahui dapat mencegah diabetes dan bersifat diuretik dan baik untuk kesehatan jantung. Tanaman jengkol diperkirakan juga mempunyai kemampuan menyerap air tanah yang tinggi sehingga bermanfaat dalam konservasi air di suatu tempat.

Sayang, saya belum menemukan penjelasan lanjut soal mencegah diabetes itu. Ini, udah keburu mau ninggalkan kantor. Dan segera ke Bandara Hang Nadim. Wuih...jengkol...wuih, bakal terhindar saya yang gendut ini dari diabetes. Amin!

Selengkapnya...

Jumat, November 23, 2007

Orang Bodoh Berpayung, yang Bertanggungjawab

Inggris gagal ke putaran final Euro 2008 setelah dikalahkan Kroasia di kandang sendiri kemarin 2-3. Saya sedih, saya termasuk yang berharap timnas Inggris bisa bangkit. Karena kesedihan itu, saya kumpulkan beberapa petikan berita ini. Berita yang semuanya menyudutkan pelatih Steve McClaren.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Ada yang sampai menyebutnya, orang bodoh yang memegang payung. Tapi di satu sisi, saya juga harus menyatakan, dia orang yang bertanggungjawab.

Fakta-fakta karena Tindakan McClaren:
* "Hasil ini benar-benar menyakitkan. Kami kalah di saat begitu tingginya harapan yang diberikan suporter Inggris. Kami membuat mereka down. Saya tahu apa yang mereka rasakan saat ini karena kami juga merasakan hal serupa. Saya bertanggung jawab atas ini semua," kata McClaren usai pertandingan seperti dilansir AFP.

* Mantan pelatih Middlesbrough itu memang harus bertanggung jawab. Sebab, ketika melakoni partai hidup mati, McClaren malah membuat blunder. Di antaranya, memainkan kiper Scott Carson. Padahal, dia belum pernah memperkuat Timnas Inggris di kompetisi resmi. Dan juga baru memainkan Beckham di babak kedua.

* Mereka yang berada di wilayah Inggris Raya juga kecewa berat. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit karena tak satu pun wakil Inggris Raya yang mampu merebut tiket ke putaran final Euro 2008. Wales dan Skotlandia terlebih dahulu gagal. Harapan yang tersisa hanya pada Inggris dan Irlandia Utara. Sayang, keduanya juga gagal. Irlandia Utara di laga pemungkas Grup F menyerah 0-1 dari tuan rumah Spanyol kemarin.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kata Media:
* The Sun, tabloid harian dengan oplah terbesar, menampilkan foto bola kempes yang teronggok di dekat trotoar pada halaman depan. Tidak ada kata di halaman headline itu; sesuatu yang sangat jarang dilakukan.

* Harian The Guardian, di halaman olahraga menurunkan judul hopeless, hapless, helpless, yang bisa diartikan tidak ada harapan, tidak beruntung, tidak berdaya.

* Daily Mail dengan sarkastis menampilkan foto Manajer Steve McClaren dengan judul the wally with brolly atau orang bodoh yang memegang payung. Di foto ini memang terlihat McClaren sedang memegang payung di pinggir lapangan.

Selengkapnya...

Kamis, November 22, 2007

Dapat Juga Pecahan 1 Riyal

Alhamdulillah, angin baik datang terus. Magrib kemarin, Speedy sudah oke. Pagi ini 08.08 WIB dapat juga uang pecahan 1 Riyal. Lumayan lagi, 100 lembar. Plus 3 lembar pecahan 5 Riyal. Nilai rupiahnya, Rp305.000, dengan kurs Rp2.650 per 1 Riyal. Adalah Bank BNI Kampung Utama, Batam, tempat penukarannya.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
''Beritahu temannya pak, di sini aja tukarnya. Kurs kami lebih murah,'' kata seorang karyawan BNI, sebelah meja karyawan yang melayani saya.

Sedangkan yang melayani saya langsung, Pak Hedo, bertanya; ''kapan berangkatnya pak?''

Dua pertanyaan yang mengarah kepada saya yang dikira mau naik haji. Setelah saya jelaskan uang Riyal itu untuk ibu saya, baru keduanya manggut. Tapi saya senang juga, ini adalah doa dari orang lain untuk saya. Berarti kapan ya?

Mengapa harus 1 Riyal? Ini pertanyaan Hedo. Saya jawab, itu tips dari teman-teman ibu saya, teman-teman ibu mertua (telah duluan berangkat 17 November lalu) dan teman-teman istri saya alias tetangga kami. Katanya, itu mempermudah membeli sesuatu (maaf, ini bukan untuk oleh-oleh ya?). Juga untuk bersedekah. Kabarnya, di tanah suci nanti, bakal banyak pengemis di mana-mana (tapi bukan berarti, sedekahnya hanya 1 Riyal ya).

Ibu sudah saya kontak. Dia sebenarnya di Pekanbaru sana sudah dapat Riyal juga, tapi pecahan besar. Persiapan terakhir lainnya juga sudah oke. Termasuk sepatu kets. Katanya, dia beli merk Bata. Minggu 25 November nanti, dia bakal terbang ke Batam dan masuk Asrama Haji, Batam Center. Lalu keesokan harinya, menuju tanah suci (entah ke mana ini, Madinah atau Mekah, saya belum tanya).

Sedangkan saat di kantor dan sambil ngeblog ini, saya merapikan uang Riyal. Ternyata banyak yang sudah lusuh. Yang terkesan baru, saya letakkan di atas. Kok gitu uangnya, kata istri via telepon. ''Ya, iyalah, uang Riyal di Batam ini kan nunggu orang pulang haji baru bertukar atau suami buk Eli pulang ke Batam,'' kata saya.

Suami buk Eli itu, tetangga kami, yang bekerja di Arab sana (bukan TKI biasa ya, ini TKI yang kerjanya berteknologi tinggi). Pulangnya tiga bulan sekali. Dia pakai sistem kerja, 3 bulan kerja, 1 bulan libur. Kabarnya, puluhan juta selalu dia kirim ke istrinya dan juga dibawa pulang. Ssst....puluhan juta itu, Rupiah atau Riyal ya?

NB: Berita terbaru: Haji ''abidin'' yang di DPR terancam dicoret tuh oleh Ketua DPR-nya. Wakil Ketua DPR A. Muhaimin Iskandar mengatakan, pimpinan DPR merasa malu karena Tim Pengawas Haji dijadikan "kendaraan tumpangan" untuk naik haji. "Kesannya jadi seperti agen travel saja," kata Muhaimin kemarin (22/11) seperti diterbitkan Jawa Pos

Selengkapnya...

Haji ''Abidin'' yang Dinanti

Ini tak ada terkait sama sekali dengan bos PT Sat Nusa. ''Abidin'' di sini, singkatan atas biaya dinas. Saya menunggu ini untuk dapat ke tanah suci, saat banyak yang bertanya, kapan. Apalagi beberapa hari ini sibuk bantu persiapan ibu yang bakal berangkat 26 November nanti.

Nah, di saat lagi susah cari mata uang Riyal pecahan kecil 1 Riyal, ada pula berita makin banyak saja anggota DPR kita pakai haji ''abidin''. Yang seharusnya hanya 20 orang, tahun ini membengkak menjadi 43 orang. Yang seharusnya biayanya hanya Rp874 juta, jadi membengkak ...(kalikan saja sendiri ya, jika dobel tambahannya).

Uniknya, tim itu membengkak karena masuk juga keluarga mereka. Berapa riyal mereka dapatkan itu ya? Mudahkah mereka mendapatkan riyal pecahan 1 riyal? Tak susah seperti saya, yang hanya ditugaskan ibu mencari pecahan 1 riyal senilai Rp300.000 saja?

Kalau abang kapan lagi? Hm...terngiang lagi pertanyaan itu, yang tanpa disadari sudah makin banyak dan bertubi-tubi. Adakah giliran saya dapat segera dari kantor? Rasanya meskipun nanti dapat ''abidin'', saya tetap harus punya uang lebih. Karena banyak acara-acara yang akan dibuat. Belum lagi, jika mengajak istri pula berangkat. Mana ada yang pernah dapat haji ''abidin'' dari kantor grup saya, ditambah dengan biaya untuk istri.

Jadi kapan? Saya tetap menanti.***


NB: Terima kasih Telkom, speedy saya sudah oke, jadi bisa mulai ngeblog subuh seperti postingan ini (dari jam 5 sampai jam 6.20). Jadi, saat saya berburu riyal pecahan 1 riyal pagi ini dan bisa saja terlambat ke kantor, tidak akan pusing lagi untuk konsisten mengisi blog ini.

NB: Mengapa pecahan 1 riyal? Ini tips dari yang sudah pernah berangkat haji. Katanya, agar memudahkan dalam berbelanja (bukan untuk belanja oleh-oleh ya) dan membayar sesuatu di sana nantinya (yang ini saya tak paham betul, karena belum naik haji..he..he...).

Selengkapnya...