Rabu, Oktober 31, 2007

Mundurlah, Bang Nurdin!

Maaf, judul di atas terinspirasi tulisan di Kompas hari ini, ''Memang, Tak Ada Tempat Untuk Kriminal.'' Tulisan Anton Sanjaya itu, mengingatkan kepada Ketua Umum PSSI untuk patuh pada Peraturan FIFA, bahwa yang terlibat kriminal tak boleh jadi Ketua Umum PSSI. ''Daripada Indonesia terus dipermalukan di arena pergaulan sepak bola internasional, memang lebih baik Nurdin Halid sukarela mundur. Malu kita bang!'' Itulah alinea terakhir tulisan Anton.

Hari ini, Kompas memang sangat spesial ''membela'' PSSI. Tulisan Anton itu ada di halaman olahraga, tapi ada berita lain pula di halaman utama (belum tentu halaman 1, karena saya masih baca Kompas yang edisi online ya?!). Judulnya ini, ''Tiada Lagi Celah Bagi Nurdin Halid di PSSI''. Seingat saya, kalau Kompas sudah ''bersuara'', maka ''jadilah''. Artinya, respon berita selanjutnya, maka Nurdin Halid bakal segera lengser. Baik oleh kesadaran dia sendiri (seperti saat mundur dari DPR), atau memang oleh desakan Musyawarah Luar Biasa.

Hmm...jadi teringat masa ''muda'' kalau sudah menyangkut berita olahraga ini. Saat saya memulai karir sebagai reporter olahraga Riau Pos di Pekanbaru tahun 1992. Saat saya, menjadi satu-satunya reporter yang setiap sore meliput sepak bola di Pekanbaru. Baik yang ukuran kelas kampung (karena di lapangan kampung) atau yang bermain di Stadion Hang Tuah (sekarang stadion ini sudah ''almarhum'' menjadi taman kota). Bahkan, meski nama saya tak ada dalam panitia kompetisi PSPS Pekanbaru, tapi saya ikut mengangkat meja, membantu membawa toa dan ''memberi semangat'' kepada Pak Saleh (instruktur pertandingan), agar tetap ''senang hati'' menggelar kompetisi.

Karenanya, saya jadi tahu, siapa saja personal-personal yang memang ''gila bola'' atau ''menggilai'' di balik bola. Karenanya juga, saya jadi bisa menangkis opini orang tentang personal-personal yang dianggapnya tak becus ngurus sepak bola. Karenanya juga, saya jadi tahu, siapa pejabat-pejabat yang benar-benar ''sepenuh hati'' mengurus bola.

Bahkan, saya juga jadi tahu, bagaimana sikap luar dalam pemain bola. Dan saya juga jadi tahu, bahwa bila saya datang ke Stadion Hang Tuah, menyaksikan anak PSPS latihan, maka, anak-anak itu akan sungguh-sungguh berlatih. Karena, walau pun saya berada di tribun stadion ''mengota'' dengan fans PSPS sambil makan buah semangka, tapi keesokan harinya, bisa saya bikin beritanya, siapa-siapa saja yang pantas jadi pemain cadangan dan inti. Karena bisa saya lihat di tribun, dengan ''mengaduk-aduk'' komentar fans yang ada di tribun itu.

Kini sudah ''jauh'' tujuh tahun, saya dari aroma PSPS karena sudah ''dimutasi'' ke Batam. Bahkan, bisa jadi sudah jauh sepuluh tahun (karena tentu saja tak terus jadi reporter olahraga), tapi ''darah'' bola itu tetap ada saja. Saya selalu rindu berita PSPS. Setiap pagi saat masuk kantor, yang pertama saya lakukan, browsing di internet dengan mengklik RiauPos.com untuk cari berita PSPS. Atau malah, saya cari website suporternya. Setiap hari, rutin. Tapi berita PSPS makin jarang (kabarnya, setelah era saya, tak ada lagi yang benar-benar serius jadi reporter olahraga di Riau Pos). Kalau dulu, ada tak ada pertandingan, berita PSPS bisa saya bikin dua atau tiga setiap harinya.

Lalu karena sudah ''berkurang'' tadi, maka berita tentang sepakbola nasional menjadi ''menu'' saya. Dari dulu memang. Tapi kini makin kuat, setelah berita PSPS menghilang. Bahkan tabloid Bola yang sejak awal terbit dilanggankan papa saya, yang saya baca paling dulu hanyalah halaman Ole Nasional! nya. Selebihnya sambil lalu saja. Karenanya jua, saya jadi makin paham. siapa itu sebenarnya Nurdin Halid.

Saya jadi tahu tuh, dia ''gila bola'' benaran, atau ''menggilai'' di balik itu. Pemahaman saya pun pada dia, sama persis dengan pemahaman saya bagaimana bergaul dengan ''orang-orang bola'' dulu di era 92-96 itu. Tapi seperti kata Anton, ''tak ada tempat untuk kriminal'' apalagi itu sudah aturan di FIFA, makanya, saya juga menganjurkan Bang Nurdin, untuk mengundurkan diri saja. Bagaimanapun, banyak orang tetap akan menghargai niat baiknya memajukan sepakbola bangsa. Mundurlah, bang, untuk kemajuan sepakbola negeri kita!

Selengkapnya...

Rabu, Oktober 24, 2007

Apa Sih Kerjaan Ayah Taya?

Kalau ditanya kerja, saat masih bujangan hingga sudah menikah punya dua gadis kecil, jawabannya selalu didahului senyuman.

Saat saya dan saudara sepupu saya tinggal tak jauh dari kantor tempat saya bekerja, ada kejadian lucu. Tetangga rumah menyangka, saya kerja Satpam. Karena sering pulang hingga dinihari jam dua pagi. ''Banyak yang tanya, De, kau kerja apa,'' kata Syaf, adik sepupu saya.

Lalu saat menikah, dan kemudian menetap di Batam, tetangga juga tak tahu apa pekerjaan ayah Taya? (itu nama anak saya). Lalu setelah dia baca koran, dan ada nama saya tertulis di boks pengurus Batam Pos dan Posmetro Batam barulah mereka tahu. ''Rupanya ayah Taya, ....''

Tapi anehnya, selain banyak tetangga yang tahu, ada juga yang belum tahu. Apa tak pernah baca koran ya? Ketahuannya saat Lebaran lalu. ''Ayah Taya kerja di mana? Bagian apa?''

Saya jawab saja. ''Sekarang di Posmetro, bagian usahanya.'' Yang nanya bertanya lagi. ''O...bukan wartawannya ya...?''

Yang paling enak, kalau yang bertanya itu, lagi chating. Seperti sore ini, ada yang bertanya apa pekerjaan saya. Dia pantas bertanya begitu, karena dia seorang karyawan perusahaan forex, siapa tahu mungkin saya cocok jadi nasabahnya. Jawaban mudah saya, ya, suruh klik saja www.posmetrobatam.com dan carilah nama saya di sana.

Lantas apa komentarnya; seperti di bawah ini, tapi sudah saya edit kok.
D..S: kudu hormat neh ama bpk dir...
D... S: *gak lg2 pake gw lu dah...*

Belum sempat saya menjelaskan, bahwa di kantor saya justru lebih banyak dipanggil ''abang'' ketimbang bapak, chating sudah ditutup.

Selengkapnya...

Senin, Oktober 22, 2007

Walah...Dapat Kartu Kredit Lagi

Hari ini kerja lagi dengan lebih banyak waktu di kantor. Maklum, ini resmi kerja hari pertama setelah Lebaran, jika ikut aturan pemerintah. Tapi sebenarnya, saya sudah mulai resmi masuk kerja lagi sejak tanggal 18 Oktober. Namun seusai makan siang yang biasa dilakukan di rumah, saya tak pernah datang lagi. Tapi hari ini, setelah makan siang dengan ayam masak kecap, saya balik lagi ke kantor.

Nah, saat baru duduk di kursi dengan suara AC yang masih belum bisa dikecilkan, telah datang pula setumpuk petunjuk tentang kartu kredit Mandiri. Kali ini pakai nama Kartu Mandiri Titanium. Saya pikir, bakal dapat pagu kredit hingga Rp50 juta, nyatanya masih bermain di Rp10 juta juga.

Terkesan saya sombong ya? Tentu saja, karena saya sudah punya kartu Mandiri lainnya yang berlogo Visa dengan pagu Rp10 juta juga. Lalu ada juga kartu kredit yang pertama kali saya dapatkan, yakni dari Bank Riau, tempat saya menabung sejak SMP. Itulah bank yang pertama kali mempercayai saya punya kartu kredit, karena justru sebelumnya ditolak melulu. Lalu ada Kartu Kredit Niaga, dan yang paling besar pagunya Kartu Kredit HSBC Rp12.500.000.

Jadi, hari ini kartu kredit saya sudah lima. Terus terang saya sudah bosan. Karena empat kartu kredit yang sebelumnya saja, masih terus memburu tagihannya. Ada yang karena saya pakai untuk membayar tiket pulang kampung -- tapi setelah balik ke Batam, tidak saya lunasi segera, padahal duitnya ada. Ada juga karena kenekatan saya, untuk dipergunakan berbisnis dan sekarang tinggal saya bayar tagihan bulanannya, sementara bisnisnya sudah tutup.

Tapi tak apalah. Saat orang percaya memberikan pinjaman uang kepada kita, berarti kredibilitas kita terjagakan? Tapi untuk kartu kredit yang terakhir ini, mungkin saya perlu pikir panjang registrasinya. Namun melihat buku petunjuknya, banyak tempat-tempat yang bisa saya minum dan makan gratis di berbagai bandaranya, ngiler juga.

Eh...walah...di tahun 2007 ini pula, saya jarang diajak bos keliling Indonesia. Padahal hari-hari ini, ada teman yang bisa ''berwisata'' di Makassar. He..he...seandainya...

Selengkapnya...

Selasa, Oktober 09, 2007

Coba Lebaran di Batam

''Open House dong bang. Sesekali Lebaran di Batam, bikin yang meriah''

Kalimat seperti itu, yang tak bisa tak, bikin saya dan istri berpikir. Benar juga! Sudah tujuh tahun di Batam, biasanya setiap Lebaran, pulang kampung. Kalau tak ke Kisaran (kampung istri), atau ke Pekanbaru (kampung saya). Sebenarnya, pernah juga sih, merasakan Lebaran di Batam, tapi hari pertama saja, selanjutnya kami terbang, karena telat dapat tiket pesawat.

Istri sudah sibuk jauh hari. Maklumlah, ini Lebaran pertama, yang kami benar-benar menerima tamu. Kan biasanya, yang datang, tamu orang tua, dan tentu saja mereka yang melayani. Sekarang ini, tamu kami berdua yang akan kami layani sendiri. Pembantu kami tak punya.

Belum lagi, kami masih ''setia'' tinggal di rumah yang masih bertipe 36. Mungkin, rumah tetangga sebelah yang kosong akan kami ''isi'' seandainya hujan menyerang Batam (tiap Lebaran, Batam hujan lho). Minimal garase tetangga, bisa dijadikan tempat berteduh.

Apa yang dimasak istri? Seperti kebanyakan rumah tangga Indonesia, tentu harus ada lontong sayur. Maaf, saya tak pernah nuntut ketupat. Karena saya tahu, itu berat kerjanya, dan saya rasa, sama saja enaknya dengan lontong. Apalagi lontongnya dibuat pakai daun pisang. Harum juga. Tambah enak lagi, karena istri saya tak perlu bikin lontong itu, cukup pesan sama tetangga belakang. He..he.. Dia tinggal masak gulai sayurnya saja.

Kabarnya juga, bakal ada rendang. Istri saya lumayan pintar masak rendang. Resep mertua, katanya (ya, ibu saya dong). Ibu dia sendiri, tak yakin anaknya bisa masak rendang. Maklum, istri saya bukan orang Minang atau Melayu. Dia bermarga Nasution, tapi ibunya ada keturunan Jawa.

Satu lagi rancangan istri, dia sudah pesan bakso untuk hidangan ''open house'' nanti. Jadi, bagi yang bosan lontong sayur, bisa coba bakso. Hi..hi...saya sebenarnya ragu, apa cocok bakso dihidangkan saat Lebaran ya...

Dan satu lagi rancangan saya, es krim. Sedangkan diincar, es krim mana yang pas untuk jadi hidangan penutup saat ''open house'' nanti.

Tapi pasti ada yang bertanya, tak adakah bikin kue? Istri saya tetap tak bikin, beli aja, dan sudah datang ke rumah beberapa hari lalu. Cuma, dia tetap saja masih khawatir, apa cukup ya? (maklum, ini kan Lebaran pertama bagi kami melayani tamu sendiri...)

Istri selalu khawatir itu, saya tidak. Yang saya khawatirkan, apakah ini benar-benar ''open house''? Karenanya, saya tak berani menyampaikan kepada karyawan, bisa tidak saya memenuhi permintaan mereka. Yang saya jawab hanya ini. ''Kalau mau datang ke rumah aku, Lebaran pertama. Hari kedua, tak tahu aku entah ke mana. Jangan, jangan pulang kampung pula...''

He...he...(takut, makanannya justru tak habis, kan mubazir).

Selengkapnya...

Sabtu, September 15, 2007

Semangat Ngeblog, Semangat Adsense

Tetap saja harus mengejar uang ya? Hari ini, dengan malu hati saya ngeblog lagi. Mohon maaf, jika semangat lagi setelah melihat pendapatan di Google Adsense yang ternyata masih aktif. Meski hanya 4,65 dolar AS, tapi alhamdulillah, ternyata masih ada. Saya pikir malah sudah diblokir.

Lebih termotivasi lagi, ternyata saat pagi tadi saya melihat blog ini, iklannya ternyata komersil. Bukan iklannya si Bill Clinton dengan minta bantuan sebagai donatur untuk yayasannya. Eh, tapi siang tadi, justru iklan si Bill lagi muncu.

Terkadang, tiba lagi datangnya menyesal mengapa dahulu tak serius belajar bahasa Inggris. Karena tampaknya si mbah Google, tetap saja menginginkan blog yang diisi iklan komersil, adala yang bermaterikan bahasa Inggris.

Hu..hu...dalam kondisi kedinginan menahan AC yang kebesaran di ruangan kerja saya yang kecil ini, saya ngeblog lagi. Tadi berkali-kali sig in, tak bisa. Bisa jadi, materi tulisan ini pun, berkali-kali dipublish untuk bisa tampil Anda baca. Hu...hu....

Selengkapnya...

Rabu, Juli 18, 2007

Membangun Fanatisme Kepri

(Berkaca dari Gebrakan SBY-JK di Piala Asia 2007)


''Pak, tolong bantu perizinan tiga pemain yang karyawan OB agar mereka bisa membela PS Batam. Kabarnya, mereka susah dapat izin lagi. Selangkah lagi, kita masuk Divisi I Liga Indonesia, Pak.''

Insya Allah, persis seperti itu SMS yang saya kirim ke Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan pertengahan tahun 2006. Saat itu, tim Persatuan Sepak bola (PS) Batam sudah nyaris masuk ke Divisi I Liga Indonesia. Cukup satu kali menang saja saat bermain di Tembilahan, Riau, maka masyarakat Batam dan seluruh Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bakal menyaksikan tim-tim hebat seperti PSMS, Persija, Persib, Persebaya, Arema dan lain-lain bertanding di Stadion Tumenggung Abdul Djamal tahun 2007 ini. Karena apa? Karena PS Batam sudah sah, ikutan Copa Indonesia (gabungan tim Divisi Utama dan I) selain sekedar Liga Indonesia.

Tapi apa yang terjadi, tiga pemain PS OB (Syahlan sang kapten, Suyet dan Kedi) tak bisa sama sekali ikut ke Tembilahan. Padahal, tiga pemain utama itu telah gilang gemilang membawa harum nama PS Batam di Lhokseumawe dan Palembang di babak penyisihan. Tak tahu saya, apa yang terjadi mengapa mereka tak bisa sehari saja lagi, izin tak kerja untuk mengejar satu kemenangan super penting menghadapi PSLS Lhokseumawe atau Persih Tembilahan. Yang saya tahu, saya diminta juga untuk ‘’berjuang’’ oleh Kabag Humas Pemko Batam, Guntur Sakti waktu itu. ''Coba jugalah Ade sampaikan pada Pak Wali.'' Yang saya tahu, justru tim dari kota kecil PSLS dan Persih, benar-benar bermain di Liga Indonesia dan Copa Indonesia tahun ini.

Hilang sudah mimpi saya, menyaksikan Ahmad Dahlan, dan atau Gubernur Kepri Ismeth Abdullah melambaikan tangannya kepada pemain dan seluruh penonton yang membanjiri Stadion Tumenggung ketika PS Batam berlaga dengan tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia. Hilang sudah mimpi saya, ketika ribuan orang datang menjadi turis bola di Batam, dan menggerakan sektor ekonomi kecil yang menyangkut industri bola seperti pedagang kaki lima yang menjual makanan, kostum, ikat kepala, dan pernik-pernik bola lain. Hilang sudah mimpi saya, ketika seluruh warga Batam, benar-benar bangga dengan kotanya, dan menjadikan buah bibir pembicaraan dengan orang lain, tentang tim sepak bolanya (mirip seperti warga Amerika bangga dengan klub basket kotanya). Bukan buah bibir, tentang ''hanya'' jembatan Barelang atau tentang yang ''negatif'' soal kehidupan malam.

Setahun sudah berlalu, saya yang penggemar bola, justru datang ke stadion untuk menyaksikan kehebatan orang lain bermain saja. Tanpa ada sorak-sorai penyemangat untuk tim sendiri. Saya malah menyaksikan, kita lebih bangga menggelar turnamen-turnamen tak resmi dan tak akan rutin, seperti baru-baru ini mendatangkan tim Pelita Jaya. Tim yang mencukur malu, tim-tim ''cabutan'' yang disiapkan panitia. Malah, sesudah itu, kita pun dengan bangga berfoto ria dengan bintang masa lalunya, Fandi Ahmad.

Kita datang ke stadion dengan niat lain, menyaksikan ke bintangan orang lain, tanpa bisa berharap bintang kita sendiri punya semangat menyaingi. Itu bukan hanya terjadi di sepak bola. Malah, juga terjadi di olahraga lain, utamanya bulu tangkis. Kita bangga sekali menyaksikan Taufik Hidayat bertanding di Sport Hall, sedangkan bintang kita sendiri, entah di mana adanya.
****
Tapi syukurlah, saya kembali punya mimpi. Adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK), membuka celahan mimpi itu. Sepekan ini, kita kembali dilarutkan dalam semangat fanatisme membela Merah-Putih. Setelah Merah-Putih ''ditantang'' semangatnya oleh bendera lain di Ambon dan Papua, ternyata ratusan ribu orang di Stadion Gelora Bung Karno, dan ratusan juta lagi di televisi, bisa bangkit fanatisme oleh timnas sepak bola kita saat berlaga di Piala Asia 2007. Dan fanatisme itu makin menggelegak, ketika JK mendatangi pemain yang berlatih, dan SBY menyaksikan langsung saat timnas menantang Arab Saudi.

Belum pernah ada hingga 20 tahun terakhir ini, tepuk tangan sambil berdiri dilakukan ratusan ribu penonton saat timnas justru kalah 1-2 atas Arab Saudi, Sabtu malam (14/7) itu. Bertungkus lumus yang diperlihatkan Bambang Pamungkas dkk, yang dibantu ratusan ribu suporter yang ingin marwah negerinya bangkit, seperti memperlihatkan kembali pada diri kita masing-masing, bahwa olahraga bisa membangkitkan kebanggaan berbangsa dan negara.

Lalu lihat pula, saat SBY mengirimkan protes tertulis berkop Garuda kepada AFC soal mengapa wasitnya justru dari jazirah Arab juga. Seterusnya keesokan paginya, ratusan suporter berdemo ke hotel tempat menginapnya pengurus AFC. Sekali lagi, ini membuktikan, tak mudah untuk menyatakan, tak ada lagi rasa nasionalis rakyat pada negerinya. Suporter itu telah melupakan atribut klubnya, menyatukan logo dan benderanya menjadi Garuda dan Merah-Putih, setelah di kompetisi Liga Indonesia menegakkan logo dan bendera klub masing-masing.

Lantas, bisakah kita berharap, kita di Provinsi Kepri, sebagai provinsi termuda, bisa cepat segera punya alat untuk ''menyatukan'' kita? Lalu dari tim itu, kita juga bisa menyumbang pemain untuk timnas? Tidak lagi sekedar menyebut, satu di antara pemain cadangan timnas saat ini ada nama Legimin, mantan dari PS Batam? Seperti kebanggan yang dimiliki oleh Riau dengan PSPS Pekanbaru-nya, Sumatera Utara dengan PSMS Medan-nya, Sumsel dengan Sriwijaya FC-nya, Jawa Barat dengan Persib-nya, Jatim dengan Persebaya-nya -- malah mereka punya lagi tim-tim bola lain di daerah tingkat II masing-masing.

Sungguh sangat bisa! Malah, tak sekedar berharap dari PS Batam pun bisa. Tinggal ''kemauan'' dari pemimpin kita saja. Memang, jalan termudah tetap mendahulukan PS Batam, karena tim ini masih bercokol di Divisi II Liga Indonesia. Selain itu, para pemain dari Batam, adalah juara Porda Kepri 2007 lalu. Malah, mereka juga pernah juara Porda saat kita masih ''bersatu'' dengan Provinsi Riau. Beda dengan tim-tim kota lain di Kepri yang masih perlu mencari juara Kepri dulu, baru bersaing dengan kota-kota lain dari daratan Sumatera.

Dan siapa yang paling bertanggungjawab untuk itu? Maaf, saya tinggal main tunjuk saja, kepada dua tokoh sentral untuk itu, yakni Ismeth Abdullah selaku Gubernur Kepri dan Ahmad Dahlan, sebagai Wali Kota Batam. Lebih hebat lagi, Ismeth juga Ketua Umum KONI Kepri dan Ahmad Dahlan, malah langsung jadi Ketua Umum Pengda PSSI Batam yang langsung menaungi PS Batam.
***
Maaf, sebelum mimpi saya jadi nyata satu atau dua tahun lagi, marilah bersama SBY dan JK dan seluruh rakyat Indonesia, kita menyaksikan Bambang Pamungkas dkk bertarung dengan Korsel malam ini. Semoga semangat mereka, semangat kita juga untuk meraih mimpi inspirasi membangun fanatisme Kepri.

*)ade adran syahlan, mantan reporter olahraga Riau Pos 1992-1996, kini pemimpin umum Posmetro Batam. (tulisan ini terbit di Batam Pos, 18 Juli 2007)

Selengkapnya...

Rabu, April 18, 2007

Malu Tapi Ada Mau

Sungguh, malu juga ''dipuja-puja''. Apalagi menyangkut kesuksesan. Kemarin itu terjadi. Di milist EU, saya disebut-sebut oleh ''bos'' di bisnis pulsa saya.

Dengan kerendahan hati, saya mohon maaf bila, yang tertulis, tidak banyak terjadi seperti sebenarnya. Saya masih harus berjuang. Karena usaha yang saya rintis bangun-jatuh-bangun. Dan saya juga tetap masih ''setia'' berkhidmad di Posmetro Batam.

Tapi setelah saya konfirmasi, ternyata maksud Bos Eddy Azzy adalah, agar yang lain termotivasi alias action. Apalagi di milist EU sekarang banyak sekali terjadi ''perseteruan'' tentang bisnis beromset 1 miliar. Inilah kutipannya email itu;


Cimahi,Tuesday, April 17, 2007,11:35 AM
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Dears, priyo,

Alhamdulillah mas Priyo
gmana kabarynya.

MasBhukin adalah sahabat kami, tp sekarang kmana yaa?

Pak Ade adalah salah satu dari Ribuam Mitra dan Partner kami di
Indonesia beliau berada di Batam dan yang SUkses dalam WAKTU SINGKAT.
Walau baru 4-5 Bulan, beliau sudah eudun tenan.
Beliau adalah pemimpin Redaksi di BatamPos.
saya salut sama beliau, walau udah jadi PimRed mau jualan pulsa.
karena TerProvokasi sama Pak Roni temen2 TDA.

Singkat cerita pak Ade udah mau Pensiun dari Koran BATAMPOSnya.
dia mau serius di Pulsa, sebenernya bukan bisnis di Pulsanya.
Tapi jaringan yg timbul, serta efek yg di timbulkan.

Dalam waktu singkat pak Ade mendapat Kucuran dana dan Investor, berkat
Rekening Tabungan yang sangat Dahsyat.
Hingga di percaya Bank MAndiri mendapat dana Segar Rp 200 -300 Jt
tanpa neko2.. (tuk jelasnya bisa tanya pada beliau)

Dalam waktu 3 Bulan pak Ade sudah mempunyai, SAlon, Barber Shop, Toko
HP, dan sekarang mau buka REFILL center ktanya.

Dan saat ini dia Sedang ke Malaysia karena ada Investor yg akan
menanamkan Modal da usahanya ke Dia.. Hebat kan.

Jadi benar apa Pak Ade bilang, jangan angap Remeh Margin 100 Rupiah.
Saya berani adu deh saya bisnis yg lain.

Pokonya cashflownya bikin Orang2 Bank bikin sakit kepala. :D
Tidak percaya silahkan buktikan sendiri.

sekaranga Pak Ade telah akan menjadi Milyuner bener :D
dia menjadi pembicara, dan mentor2...
hehehhehe... .hebat hebat.

Betul kata MasPio (Magick Ink)
Bahwa kita ini bukan KADAL Lagi tapi udah jadi DINOSAURUS yang byk
membuat mereka yg di KADALIN jadi KOMODO.

Karena kami disini menjadikan partner/mitra kita sebagai Entreupreneur
dan bukan sebagai PEDAGANG.

Pokonya saya bersyukur kalo banyak mitra2 kami yang merasa
PUAS...PUASSS. .. PUASSSSS...dan nggak NDESO lagi.

Mereka jadi JUTAWAN kami jadi Milyuner
Mereka jadi Milyuner kami jadi apa yaaa....:D

Maaf saya hanya :
"jaskidingjasforlaf tiadamaksudtukme lecekan"
(sorry mas FAUZAN saya kopi....)
:D

Tuesday, April 17, 2007, 10:45:09 AM, you wrote:
ph> wah ini y namanya berbagi ... kalo dapat rejeki mesti banyak diceritakan ... tapi kalo gagal juga jangan malu2 u berbagi ... banyak temen banyak rejeki ...

ph> saya punya temen, masbukhin pradana, y udah berbisnis pulsa dan laundry dengan omzet miliaran ... pastinya dia bukan anak orang kaya ... dia cerita tiap bulan beban hidupnya udah 45 jt dan 2
ph> bulan lagi pengennya 70 jt per bulan karena dia mau beli rumah 1 milyar lebih ...

ph> memang butuh orang2 bermental baja untuk jadi entrepreneur ... y penting kita berniat jadi orang baik y bermanfaat bagi orang lain ...

ph> selamat u pak eddy dan pak ade ...

ph> pak eddy ... panel neon makin inovatif ya ...

ph> priyo

ph> Winoto wrote:
ph> pak adam bisa sharing gimana mendapatkan harga murah untuk bisa main di
ph> grosir ? terima kasih.
>> setuju sekali, bisnis 1 miliar untuk pulsa. Saya
>> pemain pulsa baru, sebulannya sudah nyaris 500 juta.
>> Ayo buktikan bersama...
>>
>> Ade Adran Syahlan
>> Webtron Pulsa Harapan
>> www.batamhot. com

Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

Wasalamu 'alaikum Wr. Wb.
--
Best regards,
Eddy,JPG Technology Inc.
Website : http://warungbaroka h.com
EU : Angkatan 10

Selengkapnya...

Sabtu, April 07, 2007

Cara Berpikir

Senang juga bekerja di dunia jurnalistik. Apalagi sudah diamanahkan ngurus usaha. Selain dapat pengalaman baru, ''memikirkan'' gaji karyawan, juga dapat banyak berjumpa klien atau calon klien. Bukan lagi sekedar nara sumber.

Karena perjumpaan itu pula, cara berpikir saya pun mulai beda. Dulu, ''teramat'' setia untuk tidak ''melirik'' punya bisnis. Sekarang sudah belajar-belajar (tapi tetap konsen juga ke kerja, lho). Dulu, selalu tak pede, ketemu orang yang lebih ''tinggi''. Sekarang biasa saja. Dulu tak pede, punya sifat-sifat pribadi aneh, sekrang biasa juga. Orang lain, sama saja dengan saya. Begitu, pikiran saya!

Enak juga mengetahui sifat pribadi saya, ternyata juga dimiliki orang yang lebih oke, dan punya jabatan lebih tinggi atau lebih sukses dibanding saya. Atau, juga tahu sifat yang saya ''idolakan'' cara berpikirnya, punya sifat-sifat yang sama dengan saya.

Tapi terkadang juga kecewa, banyak teman-teman yang telah banyak makan asam garam kehidupan, cara berpikirnya aneh menurut saya. Lebih memikirkan diri sendiri. Tak mau tahu juga cara berpikir orang lain.

Selengkapnya...

Selasa, April 03, 2007

Nagabonar versus Mr Bean

Udah lama saya tak menangis dan sekaligus juga bisa tertawa saat nonton film. Sabtu 31 Maret lalu itu terjadi. Ini gara-gara si Nagabonar Jadi 2.

Film sekuel lanjutan dari Nagobonar yang meraih Piala Citra sebagai film terbaik 1987, benar-benar mentertawakan diri kita sendiri. Bagaimana kita ''lupa'' soal nasionalisme hingga patung Jenderal Soedirman harus terus hormat pada mobil-mobil beroda empat, tapi tidak untuk beroda tiga seperti becak yang dilarang masuk.

Bagaimana pula kita ''lupa'' pada persoalan kepandaian mengaji, saat anak kita, kita suruh ke TPA, padahal diri sendiri tak bisa mengaji. Atau bagaimana pula kita baru tahu arti cinta pada istri, setelah justru dia mati. Atau bagaimana penting pula, kita pandai atau tidak pandai mengungkapkan cinta?

Ada semua pada Nagabonar Jadi 2. Bahkan, kita juga disindir, mau gak kita tim sepak bola Indonesia menang di tingkat dunia, sedangkan kita sendiri menggusur lapangan bola?

Tapi sebelum nonton, saya dan keluarga telah ''disindir''. Lebih banyak yang nonton Mr Bean rupanya. Malah, film Mr Bean Holiday itu diputar lebih cepat beberapa menit di teater 1. Sedangkan Nagabonar harus benar-benar tepat waktu diputar, karena ternyata masih menunggu penonton. Ketika kami masuk, eh tak sampai separuh.

Tapi syukurlah, keesokan harinya ternyata makin banyak yang nonton Nagabonar Jadi 2, ketika giliran kami sekeluarga nonton Mr Bean. Alhamdulillah, ternyata lebih baik Nagabonar, karena Mr Bean, saya hanya bisa tertawa. Tidak bisa membawa kita menangis sekaligus seperti nonton Nagabonar Jadi 2.

Ada sesuatu yang dibawa pulang, itulah film terbaik, begitu kata Hasan Aspahani, kolega saya. Sesuatu itu apa? Ya, nonton sendiri aja dah.***

Selengkapnya...