Resensi terpercaya untuk nonton film bagi saya dan istri adalah Majalah Tempo. Bila disebut bagus atau disinyalkan bagus, maka kami datang menonton. Bila disebut tidak bagus, malah disinyalkan dihujat, kami juga datang ke Bioskop 21 karena penasaran. Nah yang diresensi terakhir ini, yang kami datangi sore tadi. Hmm...komentar istri: biasa aja.
Saya bertanya itu malah justru saat sudah tiba di rumah pukul 18.30 WIB, berarti ada dua jam setelah usai menonton Quickie Express (QE). Pertanyaannya pun, adalah awal ide untuk menuliskan postingan ini. Saat dalam mobil yang membawa pulang, malah kami banyak terdiam (padahal nontonnya berdua saja tanpa anak). Tak seperti ketika nonton Nagabonar Jadi 2 atau Get Married. Heboh mengisahkan isi film itu lagi.
Memang ada tawa saat nonton aksi Tora (merankan Jojo), Aming (Marley) dan Lukman Sardi (Piktor) ditraining oleh manajemen Quickie Express (perusahaan penjual pizza) untuk menjadi gigolo, bukan pengantar pizza. Atau ketika ''burung'' Marley ''dimakan'' ikan hingga harus dibawa ke rumah sakit. Tapi dari keseluruhan film hingga akhir, terkesan tak ada yang bisa dibawa pulang seperti yang selalu ''dipesankan'' rekan saya, Hasan Aspahani bila menyebut film itu bagus atau tidak. Karenanya, bisa jadi, kami berdua terdiam dalam mobil menuju pulang.
Yang menjadi sesalan, mengapa karyawan atau manajemen Bioskop 21 Nagoya Hill tidak melarang anak-anak untuk masuk. Padahal, film ini disebutkan komedi dewasa untuk usia 16 tahun. Tapi, jika mau dilihat lagi, QE memang sudah banyak lembaga sensor bekerja. Malahan, yang ''dewasanya'', sama sekali tak ada untuk ukuran memperlihatkan belahan dada seperti yang dilakukan Dewi Persik di acara Empat Mata, yang live.
Tapi tentu ukuran dewasa dan tak pantas dilihat anak-anak berbeda tiap orang. Dan kami berdua pun senang, bisa nonton berdua saja dengan kedua anak dititip pada adik sepupu saya. Namun sayang, ya, itu tak ada keceriaan seperti seusai nonton Nagabonar Jadi 2 atau Get Married. Kami senyap, seperti ada penyesalan menikmati pizza yang mahal, tapi salah pilih karena tak tahu isi sebenarnya saat membaca menunya.
NB: Saat ini Nagabonar Jadi 2 dan Get Married masing-masing masuk 10 nominasi untuk peraih Piala Citra 2007 yang bakal digelar di Pekanbaru.
Minggu, Desember 09, 2007
Quickie Express: Pizza yang Biasa Aja
Sabtu, Desember 08, 2007
Ngeblog di Lucky Plaza
Sempat-sempatnya juga saya ngeblog sambil menemani istri dan anak shoping di Lucky Plaza, Batam. Ada konter speedy yang baru buka di plaza ini. Saya nyempatkan ngetes sendiri. he..he...
Pidato pembukaan pameran yang digelar Posmetro Batam pukul 14.30 WIB tadi di Mitra Mall teramat singkat. Istri pun nyindir. Tapi kegugupan telah hilang.
Mengapa Kalah Justru di Saat Bermain Bagus?
Hanya itu yang bisa saya ungkapkan untuk menanggapi hasil akhir timnas Indonesia versus Thailand. Kekalahan 1-2 sore kemarin, telah mendepak tim sepakbola Indonesia dari semifinal SEA Games 2007. Tragis, justru di saat Eka Ramdani dkk mampu memainkan sepak bola ala ''tango''.
Nasib jelekkah? Apa masih ada pengaruh tendangan Arif Suyono yang membentur tiang gawang saat jumpa Myanmar, masih membenarkan mitos, tim kita kalah? Padahal, Thailand juga kemarin ada tendangan bebasnya yang nyaris gol, juga mengenai tiang? Ataukah karena kita kehilangan tiga pemain utama karena cedera? Yakni, Immanuel Wanggai, Ricardo Salampessy dan Ardan Aras?
Entahlah. Saya juga sedih hingga pagi ini saat ngeblog ini. Tidur pun tak nyenyak, masih dibayangi mimpi merebut emas SEA Games seperti tahun 1991. Dan saat itu, tim tersebut pernah berujicoba di Pekanbaru melawan PSPS Pekanbaru. Saya berada di Stadion Hang Tuah ketika itu, menjadi anak gawang. Huu...merinding bulu kuduk.
Karena itu, nikmati sajalah bagaimana media cetak di Indonesia mengulas kegagalan tim asuhan Ivan Kolev tersebut seperti di bawah ini:
KOMPAS menuliskan ini:
Indonesia Gagal Total
Episode Terburuk Cabang Sepak Bola
Nakhon Ratchasima, Kompas - Kesebelasan Thailand yang mengandalkan semangat "yellow power" memastikan kegagalan gaya "tango" Indonesia pada ajang SEA Games 2007. Belajar sepak bola selama satu bulan ke Argentina nyatanya tak berguna bagi tim Merah-Putih yang harus tersingkir di babak penyisihan SEA Games setelah takluk 1-2 dari Thailand, Jumat (7/12).
Di Stadion Peringatan HUT Ke-80 Raja Bhumibol Adulyadej, Nakhon Ratchasima, Thailand memang satu kelas di atas tim asuhan Ivan Venkov Kolev. Dengan dukungan sekitar 20.000 penonton yang mayoritas berpakaian warna kuning, Thailand mengajari Indonesia bagaimana kearifan lokal bisa menjadi sangat berguna bagi mereka. Kuning, yang merupakan warna ulang tahun Raja, menjadi sumber inspirasi bagi para pemain tim Negara Gajah Putih tersebut.
Indonesia sebenarnya hanya membutuhkan hasil imbang pada laga ini. Akan tetapi, buruknya pertahanan dan lemahnya penyelesaian akhir mengakhiri mimpi Indonesia untuk meraih medali emas pertama sepak bola sejak tahun 1991.
* Tak pernah Kompas menulis sekeras ini. Sejak Nurdin Halid ''disuruh'' mengundurkan diri dari PSSI oleh FIFA, tapi Nurdin ogah-ogahan, Kompas selalu menulis ''nada keras'' untuk PSSI dan timnya.
JAWA POS menulis:
Indonesia Tamat
Kalah Selisih Gol dari Myanmar
NAKHON RATCHASIMA - Terkubur sudah ambisi Indonesia menembus final cabang sepak bola. Kekalahan 1-2 (1-2) dari Thailand dalam laga terakhir Grup A di His Masjesty The King 80th Birthday Anniversary membuat Merah Putih hanya mampu berada di posisi ketiga.
Sebenarnya, nilai yang dikumpulkan anak asuh Ivan Venkov Kolev itu sama dengan Myammar, yang duduk sebagai runner-up Grup A. Hanya, Myanmar, yang tadi malam menang telak 6-2 atas Kamboja, unggul dalam selisih gol. Indonesia dan Myanmar sama-sama mengoleksi nilai 4.
angle Jawa Pos yang lain:
Sabtu, 08 Des 2007,
Eka Bantah Kolev
Pelatih Ivan Kolev menyebut Indonesia gagal karena tim Merah Putih tak memiliki striker handal. Tapi, para pemain memberikan penilaian yang berbeda atas kegagalan mereka. Menurut, kapten timnas Eka Ramdani, kemenangan Thailand lebih disebabkan buruknya strategi yang dipilih pelatih asal Bulgaria tersebut.
Menurut pemain Persib Bandung tersebut, keputusan Kolev memasang dua gelandang serang merupakan blunder. "Selama ini, serangan kita memang sering dari sayap. Dan, itu mungkin sudah dibaca oleh tuan rumah," kata Eka.
Ketika Thailand sukses mematikan dua sayap Indonesia, Ian Kabes dan Arif Suyono, praktis serangan tim Merah Putih buntu. "Seharusnya ada variasi. Itu yang tak dilakukan oleh Kolev," tandasnya.
* Jawa Pos seperti biasa selalu menulis lebih ''emosional'', apalagi dibuat tidak dengan satu berita, tapi beberapa angel. Termasuk, satu angel lagi, pernyataan Kolev siap mengundurkan diri.
Hmm...kita nikmati saja kekalahan dan kegagalan ini...
NB: Jam 09.00 WIB ini rapat gabungan grup. Biasanya hanya rapat khusus tempat perusahaan saya bekerja saja digelar Sabtu. Ini rapat grup. Bosan juga sih. Tapi namanya prajurit...
NB: Jam 14.00 WIB, wow...membuka acara pameran properti dan mobil. Kayak pejabat saja. Ini yang selalu saya takuti; berpidato. Apa yang nak saya ucapkan nanti ya...?
Jumat, Desember 07, 2007
Beraninya AA Gym, Penakutnya Saya
Mau jatuh juga air mata saat bersama istri melihat penampilan AA Gym tadi malam di Kick Andy, Metro TV mulai pukul 22.10 WIB. Ini adalah penampilan perdananya dalam sebuah talk show setelah dihujat karena berpoligami. Tutur katanya masih runut dan santun. Apalagi saat mengungkapkan dua titik balik kehidupannya.
Titik balik pertama itu, saat beliau menyadari, bahwa adiknya yang cacat ternyata lebih dekat dengan Allah dan Nabi Muhammad ketimbang dirinya yang sehat. Titik balik kedua, ketika dia mengambil hikmah dari hujatan dan aksi-aksi yang berubah dari pengagumnya setelah berpoligami. Dan Aa Gym tetap pada pendiriannya bahwa berpoligami adalah keputusan yang tidak menyalahi agama dan prinsip hidupnya.
Menjawab soal bisnisnya yang juga terguncang, AA Gym juga memberikan analisa yang benar secara teori ekonomi dan manajemen. '' ''Sejak awal saya juga merasakan semua kegiatan bisnis yang bertumpu pada pengultusan individu tidak akan sehat dan tidak akan bertahan lama,'' ujarnya.
Tapi kini, kata AA Gym, pengelola manajemen beberapa perusahaannya makin kreatif. Dicontohkannya MQ TV. Dulu sangat tergantung pada acara yang dia lakukan, sekarang membuat program-program lain, yang dinilainya mengeluarkan ide-ide yang selama ini terpendam. Ide-ide yang tanpa perlu ada dia di situ.
Sungguh berani AA Gym tampil malam itu. Berani mengungkapkan apa yang telah dilakoninya dalam hidup. Berani juga mengungkapkan realita, bahwa dirinya tetaplah manusia biasa. Dan satu hal yang paling berani, saat dia menyatakan ternyata ''tidak bahagia'' saat di masa tenarnya. Dia merasa kehidupannya bagaikan sebuah mesin yang sedang berjalan dan tidak bisa dihentikan. ''Saya begitu sibuk. Dari satu acara ke acara lain. Dari satu daerah ke daerah lain. Sudah seperti mesin. Tak bisa mengantar anak sekolah. Bahkan saya tak bisa menjumpai orang tua, untuk waktu yang saya suka.''
Lalu di mana penakutnya saya? Hmm...jangankan dibanding dengan kehidupan AA Gym, ''ditantang'' untuk mendiskusikan buku Quantum Ikhlas bersama pimpinan dan karyawan Rumah Zakat Batam saja, saya sudah menolak. Tapi, Insya Allah, saya berani mengambil hikmah apa yang diterima AA Gym. Kita harus mensyukuri apa yang kita punya dan bisa dilakukan saat ini dan tak perlu memandang dengki pada kesuksesan orang lain. ''Ingat teori cecak. Apakah cecak protes karena nyamuk punya sayap, sedangkan dia tidak?'' Hm....
Kamis, Desember 06, 2007
Brewok yang Dinanti
Hari kedua makan siang di pinggir jalan. Kali ini makin enak nasi bungkusnya. Dan juga dapat meraup aspirasi bagus dari pengecer koran Posmetro Batam yang ada di persimpangan jalan Rosedale.
''Pokoknya, Brewok yang dinanti pembaca, Pak. Aku tak mau koran lain, tak ada Brewok nya. Begitu kata pembeli,'' itu ucapan yang meluncur dari ibu (maaf saya lupa namanya, tapi ingat kisahnya yang jarinya putus karena diabetes). Beliau kemarin satu-satunya pengecer koran yang wanita di simpang itu. Ada satu lagi, tapi tidak datang.
Sitepu, si agen yang tentu saja bos dari para pengecer di persimpangan tersebut, mengangguk setuju soal si Brewok. ''Apalagi kalau tahun depan memang tak jadi naik harga. Posmetro akan bersaing dengan koran lain,'' kilah bapak yang tinggal satu kakinya saja berfungsi normal itu.
Lahapan saya pada nasi bungkus (kali ini yang masak, tetangganya Soleh -- karyawan divisi pemasaran Posmetro) cepat. Ayam bakarnya maknyus. Belum lagi pedasnya cabe hijau yang oke. Sayurnya pun paduan toge dan wortel. Wow...jadinya, hujan yang masih membasahi Batam, dan makan di pangkalan ojek lagi (menghadap ruko Gelael), membikin pandangan pengendara mobil tertuju pada kami.
Mulyadi (ini manajer pemasaran), rupanya kali ini tak tahan pedas. ''Enak, enak bang. Tapi aku termakan cabenya yang pedas.''
''Begini yang kami tunggu pak. Meskipun tidak sebulan sekali.'' Sitepu mewakili aspirasi pasukannya.
Saya pun menunjuk ke depan, tepat di atas ruko Gelael, ada restoran KFC. ''Suatu saat kita semua makan di sana pak.'' Hm...
NB: Mak saya SMS, menceritakan kondisi Mekkah yang sudah ramai. Tapi dia tadi malam sudah langsung melakukan tawaf umrah. Jauh hotel mereka sekarang dari masjid, katanya. Dan saya pun membalas SMS-nya dengan mengisahkan, baru saja makan siang dengan pengecer koran.
NB: Saat mengetik postingan ini, dimulai pukul 12.35 WIB, setelah balik ke kantor dan solat Zuhur. Perut terasa sesak kekenyangan.
NB: Oh ya, ada yang lupa. Pengecer itu juga minta si Brewok tampil juga di koran terbitan Minggu.
Mengapa Tatik Menang, Rini Kalah?
Sama-sama perempuan dalam satu ajang pemilihan. Yang satu, Pemilihan Walikota Tanjungpinang periode 2007-2011. Nama lengkapknya Dra Hj Suryatati Manan. Yang satu, dalam Asian Idol untuk Pilihan Indonesia. Namanya Rini. Tapi mengapa Rini kalah, Tatik menang?
Kemarin dari hasil quick quont LSI, Tatik sudah dinyatakan menang 84,22 persen. Mungkin ini yang pertama di Indonesia, rekor kemenangan yang mencapai angka segitu. Sehingga tiga pasangan kandidat lain, terdepak habis, tanpa ''bebunyi''. Tapi mengapa begitu hebatnya Tatik, yang malah, ''isunya'' tanpa diduetkan dengan Edward Musali pun malah bisa menang?
Ya, bagi saya, jawabannya mudah saja. Tatik sudah lama di Tanjungpinang. Baik masih bergelar kota administratit maupun sudah Kota sekarang. Apalagi dia walikota sebelumnya, yang dipilih saat oleh DPRD. Dan sekarang, untuk pertama kali pula dipilih melalui Pilkada. Proses yang membuat Tatik, lebih cepat dikenal, ketimbang untuk pasangan lain.
Namun di sebalik itu, kita tak boleh lupa, bahwa kemenangan Tatik tetap saja diawali oleh ''kesusahan'' berbungkus ''penghinaan'' terhadap dirinya. Baik yang menyangkut soal dia Melayu atau tidak atau hal-hal lain. Dan sudah jadi kebiasaan di Indonesia, orang yang ''dilemahkan'' maka akan mendapat simpati.
Satu hal lagi yang terpenting, jangan lupakan pula suara ibu-ibu. Nah, di sinilah kelebihan Tatik. Figurnya yang lemah lembut tapi tegar (suaminya belum setahun meninggal dunia) telah membuat ibu-ibu di Tanjungpinang, apalagi kaum perempuan terus bersimpati padanya.
Simpati yang berkepanjangan inilah, yang saya kira belum dimiliki Rini Idol. Memang dia menang Indonesian Idol 2007 pada Juli lalu, yang malah seharusnya mendongkrak popularitasnya ketika bersaing untuk menjadi pilihan Indonesia ke Asian Idol. Tapi nyatanya tidak. Malah, Mike, Indonesia Idol 2005 yang menang melalui SMS.
Emangnya simpati pada Rini tidak bisa diteruskan dari Juli 2007 ke Desember 2007 hanya lima bulan, sedangkan Mike dua tahun? Rini yang tampil sepekan lalu, agak beda. Cara berpakaiannya sudah mirip penyanyi AS, Beyonce, yang seksi sekali. Seksi yang dewasa. Saya sudah ngomong sama istri,''bahaya tuh pakaian Rini. Bisa-bisa tak menang seperti dulu ada cewek yang tampil di AFI.''
Nah sekarang terbuktikan? Malah perolehan suara Rini yang langsung drop, padahal dewan juri selalu memujinya, kecuali saat berlagak seperti Beyonce itu. Ihsan yang saat 2006, orang simpati karena ''kesederhanaannya'', tapi sekarang kaya, telah merubah rasa simpati itu. Sedangkan Rini, seharusnya bisa dipertahankannya, ternyata tidak.
Lalu mengapa Delon tetap bisa bersaing di dua besar. Ya itu, karena masih saja dewan juri ''merendahkannya'' (dan memang, kalau Delon menang, maka kita dimakan peserta negara lain). Tapi itulah Indonesia, akhirnya memilih yang aman. Tetap terjaga konsistensi figurnya (termasuk cara berpakaian), ya, akhirnya memilih Mike.
Lantas, seandainya saat ini digelar pemilihan Presiden, yakinkah Anda Megawati akan menang? Saya kira tetap SBY. Karena Megawati sudah tak kalem lagi, dan agak ''menyerang'' SBY. Dan saat diserang SBY tetap kalem, maka ibu-ibu pun tetap memilih dia.
Walah....memangnya yang ikutan pilkada, pilpres dan Indonesian Idol hanya ibu-ibu? Perlu diteliti juga pendapat saya ini...sile..
Rabu, Desember 05, 2007
Menjemput Aspirasi dengan Makan Nasi
Alhamdulillah, barusan selesai makan siang bersama 20-an pengecer koran Posmetro Batam di Simpang Jam. Di tengah hujan deras, di bawah tenda (dekat pangkalan ojek) yang bocor, nikmat juga nasi bungkusnya dan terjemput juga aspirasi mereka.
Nasi bungkusnya dimasak oleh istri si Agen Amat yang menguasai Simpang Jam. Sebenarnya saya usulkan nasi dipesan di RM Salero Basamo saja. Tapi tak apalah, dari pada tak dapat omset pula istri si Amat. Ternyata enak juga. Lauknya rendang dengan sayur tumis buncis campur wortel. Mak nyus..
Sayang, hujan agak merubah bentuk acara. Rencana, makannya di tengah jalur hijau dan di bawah pohon (benar-benar di simpang jalan utama di Batam itu). Saya sudah mengkhayalkannya jauh hari (dan bisa jadi bakal banyak SMS masuk ke HP saya, karena akan banyak dilihat teman-teman). Nyatanya, harus dipindah ke dekat pangkalan ojek di mana istri si Amat berjualan. Dan saya makannya, tepat di meja yang biasa mereka buat untuk main domino...
Apa aspirasi yang bisa didapat? Hmm...mereka minta diberi baju seperti yang saya dan tim Pemasaran Posmetro pakai. Tidak lagi baju kaos. Selain ada juga yang minta dikasih kamera, agar mereka bisa bantu wartawan Posmetro memotret kejadian di simpang itu. Dan mereka pun bersyukur, Posmetro tak jadi naik harga dari seribu perak menjadi Rp1.500 di tahun 2008 nanti (tentu saja ada aspirasi lain, tapi rahasia perusahaan dong...)
Jawaban saya? Hmm...itu tugas Mulyadi (manajer pemasaran Posmetro) untuk hitung-hitungan dengan biaya. Mungkin bisa dicarikan sponsor untuk baju. Sedangkan kamera, entar dulu deh...
''Hoi...kata Ketua..., kita makan seperti ini sebulan sekali.'' Saya tersenyum mendengarnya dan tanpa komentar. Tapi Insya Allah, kalau laba Posmetro makin besar, mengapa tidak.
Tapi yang paling saya syukuri, ada nada resolusi atau afirmasi positif dari si Amat untuk menghadapi 2008. ''Itu dulu. Sekarang lain, kita sudah berubah.'' Begitu katanya. Kalimat yang mengingatkan pada bagaimana ''penguasa koran'' Simpang Jam terdahulu yang tak pandai pandai mengelola duit dan membina pengecernya. Apalagi, sang mantan ''penguasa'' itu, adalah ayahnya yang sekarang sudah balik ke Medan sana.
Selasa, Desember 04, 2007
Kena Tiang Pertanda Kalah?
Mitos yang selalu saya pegang dalam mengamati pertandingan bola, akhirnya kena juga ke timnas Indonesia. Saya dari dulu tetap yakin, jika ada salah satu tim sudah nyaris mencetak gol tapi kena tiang gawang dan bola keluar, maka alamat tim itu kalah. Timnas tak kalah, tapi bakal susah menghadapi Thailand, 7 Desember mendatang.
Anda yang pecinta bola Indonesia, pasti tahu apa cerita saya ini. Ya tentu saja perjuangan timnas Indonesia untuk meraih emas SEA GAMES. Nilai 4 yang didapat, 3 saat menang atas Kamboja 3-1 dan nilai 1 karena ditahan imbang Myanmar tadi sore, sangat sulit untuk mencoba mengalahkan tuan rumah tiga hari lagi.
Padahal jika menang dengan satu gol saja, termasuk yang kena tiang itu oleh Arif Suyono (lihat foto) di menit ke-30, langkah Indonesia ke semifinal tak ada lagi yang bisa menahan. Bahkan saat jumpa Thailand kita bisa menurunkan pemain cadangan saja. (saat postingan ini diketik, Thailand lagi bertarung dengan Kamboja dan diyakini menang).
Lalu soal kena tiang bagaimana? Saya lupa data-data partai-partai penting yang kena tumbal tiang itu. Tapi selalu terekam di alam bawah sadar saya, tim yang begituan sering kalah. Jadi, saat timnas kita tidak kalah juga tidak menang, ya, alhamdulillah.
Bagaimana menghadapi Thailand nanti? Hmm...rasa nasionalisme saya yakin menang. Namun rasa keyakinan saya pada teknis bola juga yakin timnas kita menang. Asal, semangat juang Eka Ramdani dkk ada. Dan kembali sadar bahwa kita bermain bola lebih layak bola-bola datar dari kaki ke kaki bukan bola lambung. Dengan gaya itulah timnas senior bisa mengalahkan Bahrain dan merepotkan Korsel dan Arab Saudi waktu Piala Asia lalu.
Semoga, timnas kita tak akan kalah atau gagal, hanya karena kesialan kena tiang. Bisa jadi, tim yang selalu kalah karena urusan kena tiang itu, adalah tim yang frustasi saja dan itu tidak berlaku untuk timnas sekarang...
Dalam Timbunan Afirmasi, Resolusi dan NLP
Ada teman yang memiliki blog friendster telah menuliskan resolusinya untuk 2008 dengan unik. Salah satunya, akan bangun lebih pagi dan tidak untuk tidur lagi. Saya mau menuliskan apa pula?
Mungkin saya terlalu banyak malah. Bahkan, sering ''bingung'' sendiri. Karena di sesi pelatihan motivasi usaha, trainernya menanyakan usdah NLP? Sudah declration? Atau di saat mempraktekkan buku Quantum Ikhlas akan ditunjukkan afirmasi. Lalu, saat nonton infotainment, maka para artis itu menyebutkan resolusi dirinya menghadapi 2008.
Tapi sebenarnya saya tak bingung sangat sih dengan bejibun nama untuk pengharapan di 2008 itu. Nah, itulah kesimpulan saya. Cuma yang bingung itu, mana yang nak dulu diutamakan?
Kalau dalam sesi pelatihan motivasi usaha (biasanya saya sebut lagi kuliah, jika ada yang nelpon tapi tak saya angkat, namun saya kirimkan sms ''lagi kuliah, ada apa?''), sering ditanyakan sudah berapa kali jalankan NLP. Ada yang mengaku lima kali sehari sesuai jadwal solat. Ada yang mengaku satu kali saja, sebelum tidur. Ada juga yang mengaku, kadang lakukan kadang tidak.
Tapi untuk saya (dan telah dapat 20 point dalam sesi kuliah itu) adalah, pengakuan saya karena telah berhasil menerapkan NLP. Yakni, sudah berani bawa mobil sendiri dan anak saya menyenangi sekolah. Yang berani bawa mobil sendiri (setelah mengalami 2 kali kecelakaan), sambil mendengarkan lagu Pikirkan Boleh (lagu milik Malaysia, tapi bukan diakui milik saya ya) dan selalu mengucapkan ini baik dalam hati maupun agak keras ''saya bisa bawa mobil, saya bisa bawa mobil''. Cukup sukses, karena tak berdesir lagi terasa darah ke kepala saat mengendarai mobil kesayangan keluarga saya. Tapi baru bisa mobil otomatis, yang manual belum ya...
Sedangkan NLP untuk anak saya yang bungsu, karena Juli 2007 lalu dia agak malas sekolah di TK A (karena tak ditunggu ibunya lagi). Setiap mau tidur malam, dia mengucapkan ini ''Saya senang sekolah, saya senang sekolah. Yes...yess'' Pakai acara mengepal tangannya juga. Sukses, dia ingin sekolah terus. Tapi sempat agak malas lagi, karena 10 hari tak sekolah karena mengunjungi neneknya di Kisaran, Sumatera Utara yang mau naik haji. Tapi lalu menyebutkan kalimat yang tadi, bangkit lagi semangatnya.
Eiits....jadinya setelah nuliskan ini, saya ketemu pula jawaban apa itu afirmasi, resolusi dan NLP. Selain pengharapan kita yang lebih baik, juga sebenarnya, perubahan sikap dan tingkah kita. Tapi....he...he...saya belum memutuskan apa afirmasi, resolusi dan NLP utama saya di 2008 nanti.
Apa bangun lebih subuh, lalu ngeblog atau malah seperti sekarang ini, bangun agak subuh tapi tidur lagi sambil nonton TV menjelang mobil jemputan kantor datang?
NB: Mak saya yang naik haji, rencananya hari Rabu besok bergerak menuju Mekkah. Dari SMSnya dikabarkan, Madinah makin padat saja. Oh ya, sepertinya teman satu kamarnya lagi rindu orang tuanya, hingga kepikiran untuk membelikan kursi kecil bulat yang bisa dilipat. Saya ditugaskan mencari kursi itu di Batam. Pernah saya lihat ada di Hypermart. Tapi kayaknya itu kursi untuk mancing. Atau ada yang bisa bantu, saya bisa beli di mana?
