Kamis, November 30, 2006

Alhamdulillah, Mbah Google Emang Baik!

Ilmu kalau dialirkan ke orang lain, ternyata ada juga yang mengalir ke diri kita ya? Saya yang baru dapat Google Adsense Selasa lalu, dikejutkan oleh suksesnya teman saya dengan Adsense itu. Malah, sudah duluan pula dia dapat dolarnya.

''Barusan tadi aku pasang. Udah dapat dolar,'' begitu SMSnya. Gila, pikir saya. Saya langsung klik ke login Google Adsense. Alhamdulillah, emang baik tuh Mbah Google mengalirkan uang. Tapi maaf pembaca, saya baru dapat 0,20 dolar AS. Berarti, kira-kira 20 sen duit sana ya?

Saya sampaikan kabar ini ke teman satu kantor,eh dia langsung klik juga punyanya. Masih kosong. Tapi teman ini berpeluang paling besar dibanding saya. Blognya saja sudah banyak yang klik. ''Mengapa tak dari dulu ya, dapat Google Adsense ini?'' begitu katanya.

Itulah gunanya ilmu. Teman yang ngajarin saya, perlu keluar duit Rp6,4 juta untuk seminarnya. Saya hanya perlu membayar biaya warnet empat jam pertemuan Rp25.000 plus fotokopian hasil seminar Rp6,4 juta itu.

Tapi seperti yang saya rasakan, ketika ilmu yang saya kasihkan (sebenarnya hanya inspirasi saja pada teman yang dapat 4 dolar itu), telah mengalir pula 0,20 dolar ke saya. Apalagi, kalau saya makin pintar ya?

Makanya, untuk yang banyak bertanya pada saya tentang internet marketing, mohon maaf saya tak bisa jelaskan dengan detail. Saya sendiri saja belajar. Tapi Insya Allah, seberapa yang saya dapatkan, akan saya curahkan di blog ini.

Saya hanya selalu ingat pesan mentor saya Budi Santoso hanya ini; Niat, Action dan Komitmen. Kalau punya niat tapi tak ada action (ini termasuk ragu-ragu transfer duit, lho), la mana ilmu dapat. Sekolah mahal, bos! Dan berkomitmen memang harus. Bisa-bisa loyo juga, lihatlah yang saya dapat hanya 0,20 dolar kan?

Tapi bagi saya ini sudah alhamdulillah. Wong modalnya, baru keluar Rp25 ribu kan? Kalau teman yang sudah dapat 4 dolar dalam sehari itu, dia sudah banyak menghabiskan dana sekolah untuk jadi webmaster. Dia memang jagonya online. Tapi ilmu Google Adsense itu, terinsiprasi saya yang berani pakai English pas-pasan untuk merayu Mbah Google. Hi...hii....

Selengkapnya...

Rabu, November 29, 2006

Mencari Sistem Emosi

Hari ini saya banyak marahnya. Pagi buka komputer, ketahuan omset lagi turun. Bukan karena ekonomi Batam lagi sepi, atau tanggal tua untuk beberapa karyawan pabrik. Melainkan, karena penjaga kios saya sepertinya rada malas.

Ada enam jam dia meninggalkan kios, dan itu tak bisa dibohonginya. Sayang ya, maunya saat dia ninggalkan kios, ada sistem yang langsung meng-sms ke saya. Ini tahunya, malah keesokan harinya.

Tapi diselengi sewot dan emosian itu, Kabag Pemasaran tempat saya masih TDB, Mulyadi datang. Melaporkan data-data penitipan koran kami kini terus meningkat lakunya. Tapi dia juga yang melaporkan kecurigaan, jangan-jangan koran ini justru dikasih ke anak-anak asongan, bukan dititip di kedai-kedai sekitar perumahan yang menjamur di Batam ini.

Siangnya, karyawan saya yang lain (yang ini usaha untuk persiapan TDA) melaporkan ada yang marah tak dikirimi deposit pulsa. Saya jawab, dia dulu transfer ke kita, baru kita yang kirimi dia deposit. Eh, saya oke kan juga dikirimi. Ketika karyawan saya datang ke sana, eh malah, orangnya tak ada. Khawatirlah saya soal duit itu.

Saya emosian bercampur buruk sangka, saya tarik lagi tuh deposit pulsa. Tapi baru beberapa menit ditarik, si karyawan SMS. ''Duit sudah di tangan.'' Sedetik kemudian saya kirimi lagi, dengan menghapus tanda minus dan menambah angka 1. Kalau tetap dikirimi angka sama, sistem menolak. Jadilah saya rugi 1 perak.

Saya terkadang berpikir, mengapa emosi saya tak bisa mengikuti sistem saja? Saat level masalahnya begini, emosi segini. Sama seperti sistem yang dipakai saat memantau omset itu atau menarik duit pulsa tersebut. Ngawurkah pikiran saya ini?

''Yah, nenek kepengin makan ayam penyet.'' Istri saya SMS. Ini lagi bikin kesal! Sudah jelas mertua saya mau datang, eh istri masukkan mobilnya pula ke bengkel. Kasihan dong, si nenek belum bisa jalan-jalan juga mengelilingi Batam (biasanya istri saya langsung yang nyetir, saya tak bisa. Lagipula sibuk kerja TDB, hi..hi..). Masak pindah tidur saja dari Jakarta sana, setelah sebelumnya beliau di Palembang dan rumahnya di Kisaran.

Tapi saya ingat AA Gym, bukan masalah yang bikin pusing, tapi bagaimana cara menyikapinya. Saya mesti belajar terus nih.***

Selengkapnya...

Selasa, November 28, 2006

Merayu Mbah Google dengan ''English'' Pas-pasan

(Email untuk Teman-teman TDA Batam)

Alhamdulillah, Selasa pagi ini pas pula tanggal gajian, saya dah dapat email dari Google tentang disetujuinya Google Adsense. Ingat teman-teman, kalau suratnya di awal kata, pakai Congratulation, itu tandanya disetujui. Hi..hi...

Saya langsung aktifkan tuh. Semula pada blog yang kita bikin sama-sama saat di Gracia.Net itu. Lalu saya aktifkan ke blog saya pribadi, http://ade-syahlan.blogspot.com. Berhasil cing! Meskipun untuk meletakkan Google Search, Advertising dan Logo Recomendation, saya harus panggil tuh, karyawan saya.

Di lantai 8 Graha Pena, hari ini saya buat kehebohan. Mereka yang katanya jago-jago bikin blog, kini saya ajarkan bagaimana ''merayu'' Mbah Google. Tapi kalau untuk urusan ''kontruksi blog'', eh, maaf, mereka yang ajarkan saya.

Selamat ber-action untuk teman-teman TDA Batam yang lain (sukses juga untuk Pak Wahyudi yang bersamaan waktunya dengan saya terima surat dari Mbah Google). Ternyata si Mbah bisa diakali dengan English pas-pasan dan comot sana-sini artikel dari situs lain (kliklah, http://easymoney-batam.blogspot.com) Tapi untuk anak saya, harus bisa English, minimal seperti Pak Budi Santoso (mentor yang ngajarkan kami merayu si Mbah).

He..he...he..ternyata, dunia ini bisa tampak terang dengan bahasa, ya? Tak sabar nih nunggu 10 Dolar AS pertama!

Selengkapnya...

Senin, November 20, 2006

Fenomena Rony Yuzirman dan Joko Susilo di Internet Marketing

Apa yang saya lakukan saat baru pertama kali sampai di ruangan kantor? Saya hidupkan komputer, tersambung dengan internet dan saya buka http://www.roniyuzirman.blogspot.com/ yang kini juga bisa diakses di http://www.roniyuzirman.com.

Saya mendapat pencerahan di website ini. Cara berpikirnya, sama dengan cara berpikir saya memandang sesuatu, terutama soal seminar-seminar marketing yang diikutinya. Tapi yang mencerahkan itu, Roni punya ''lompatan'' pikiran ke depan yang disederhanakan dengan bahasa yang pas untuk saya, yang awam ini.

Malahan, kini dia ingin blognya tadi, ''manggaleh'' pula. Di blognya, sudah diungkapnya soal dunia internet marketing menggiurkan. Terkesan dia ingin, blognya juga segera menjadi mesin uang. Padahal Roni juga punya website usaha, http://www.manetvision.com. Dia pindahkan, rukonya di Tanah Abang, ke dalam rumahnya untuk grosiran baju muslim.

Lain lagi Joko Susilo. Saya sempat ''anggap remeh'' dengan websitenya http://www.formulabisnis.com/index.php?id=aderiau. Apalagi website ini banyak dirilis oleh teman-teman ke email saya dan masuk spam. Tapi setelah saya klik benar-benar, hebat kali ilmunya bagaimana membuat website yang menghasilkan uang. Hingga tulisan ini saya buat, saya sudah sampai di halaman 93 dari e-booknya yang berjudul ''Sistem Mesin Uang Otomatis''.

Bahasanya sangat sederhana. Joko selalu mengistilahkan dengan gaya bercakap-cakap. Saya jadi tersindir, karena pernah niat bikin buku untuk dicetak, tapi hingga kini tak kesampaian. Tapi kini, saya menemukan ''media baru'', e-book juga bisa seperti buku benaran. Malah, kita akan lebih mudah menjualnya tanpa perlu melobi penerbit dan tanpa perlu berbagai royalti.

Kalau seperti kata teman baru saya di Batam, Budi Santoso yang sudah ikutan seminarnya para internet marketing dunia, Global Internet Summit (GIS) 13 November di Jakarta, sungguh menggiurkan profesi internet marketing ini (harga seminarnya Rp6,4 juta, wuih?!). Yang paling dahsyat itu ya seperti yang dilakukan Joko Susilo, telah mendapatkan Rp635 juta selama jadi internet marketer. Tapi malahan itu, masih kecil, karena levelnya rupiah. Ada yang menghasilkan dengan angka dolar AS untuk satu minggu saja. Malah seperti dikutip dari tulisan Roni, ''Bayangkan, Ewen Chia dalam 36 jam dapat 1,4 juta US dollar!''

Apa yang harus kita lakukan? Budi menyampaikan dua hal kepada saya. Niat dan action. Dia lakukan itu. Sukses, pernah dapat chek 100 dolar AS per bulan. Karenanya, saat berjumpa atau ber-sms dia selalu sampaikan dua hal tadi. Bagaimana dengan Anda? Haruskah dibiarkan ''dunia mudah internet'' begitu saja? ***

Selengkapnya...

Jumat, November 10, 2006

Minta Doa ke Purdie Chandra dan Robert Kiyosaki

Sebesar apa utang Anda? Wuih, kalau pertanyaan itu untuk saya, besar jawabannya. Tanpa sadar, tiga kartu kredit telah ''mencekik''. Padahal, kartu itu digunakan untuk beli tiket saat pulang kampung di hari Lebaran saja.

Lalu, saya juga punya utang yang memotong gaji. Istri saya, masam-masam wajahnya setiap tanggal 28. Ya, dipotong terus. Atau malah ada juga utang, yang tak memotong gaji langsung, tapi tetap saja jatah ke istri berkurang.

Tapi eiit, utang-utang saya bukan dikonsumsi begitu saja. Rata-rata semi bisnis. Misalnya utang ke Bank Syariah Mandiri (BSM) digunakan untuk renovasi rumah, dan sekarang rumah itu telah ada yang ngontrak. Lalu utang tanpa agunan di NISP yang dibelikan mobil, lalu BPKP mobil digunakan untuk ngutang ke BSM, kini telah lunas. Tinggal yang BSM aja. (pasti yang baca bingung, mutar-mutarnya kan?) Lalu, sedikit-sedikit dari ngutang ini, saya dan istri belajar bisnis. Kini ikutan, bisnis pulsa elektrik, meraup omset seperak seperak.

Nah sekarang, dan kebetulan tepat hari ini di Hari Pahlawan, kata karyawan Bank Mandiri, proses ngutang saya pun lagi diproses. Apa pula ini? Ya itu, semua utang-utang saya tersisa mau saya jadikan satu pintu. Katanya, Insya Allah bisa dapat kelebihan dana pula.

Apa kata istri saya? Walah mak, susah juga ngelobinya untuk ngutang yang ini. Saya jelaskan perlahan-lahan, eh, akhirnya oke. Malah, kini dia membayangkan bisa beli mobil satu lagi dari sisa kelebihan dana ngutang Mandiri itu. Bayangannya sih Kijang Innova yang bakal dibeli tunai. Kalau saya, bayangannya cuma Kijang Unser aja (yang bukan warga Batam, pasti bingung dengan Unser ini).

Tapi kami sudah sepakat, berapapun itu kelebihannya, akan digunakan untuk membeli aset yang bisa disewakan atau dirental. Maksudnya, agar aset itu mampu membiayai pembayaran utang ke Mandiri tadi.

Hi...hi....doakan ya!? Terutama untuk Pak Purdie Chandra dan Robert Kiyosaki, yang ''menjerumuskan'' saya ke ilmu ngutang-ngutang begini...

Selengkapnya...

Kamis, November 09, 2006

Malu pada Kebakaran

Apa rasanya kehilangan? Saya yang pernah kehilangan sepatu di masjid, lalu kios dimaling, tak ada apa-apanya dengan kehilangan yang dialami dua teman saya ini. Rumah, yang hangus terbakar.

Wak Hasan dan Tommy mengalami hal itu, Rabu (8/11). Serunya lagi, Tommy malah sempat memoto dulu rumahnya sebelum benar-benar habis terbakar. Lebih hebatnya lagi -- di mata saya -- keduanya pasrah dan ikhlas.

Saya jadi malu hati sendiri, yang justru sangat kehilangan dan sangat emosi saat sepatu kesayangan raib. Atau ketika tak kuasa datang ke kios, saat semua yang di kios lenyap. Padahal, bisa jadi barang-barang kesayangan saya yang hilang, ''berguna'' bagi yang mengambil. Minimal, bisa memberi makan atau untuk uang beli nasi yang mencuri. Sedangkan Hasan dan Tommy, api yang datang menghilangkan rumah mereka, tempat berteduh anak istrinya. Mereka jadi bagian 1.173 warga Batam yang tinggal di Baloi Persero kehilangan rumahnya, akibat kebakaran terbesar sepanjang 2006 itu.

Hmm...memang hidup, belajar terus. Termasuk belajar menyikapi kehilangan sesuatu.

Selengkapnya...